TPNPB: Hentikan Pembahasan Otsus dan Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri Bagi Papua

0
758
TPNPB Ndugama berpose dengan helm, rompi anti peluru dan amunisi yang dirampas dari militer Indonesia. (foto awak media TPNPB untuk Suara Papua)

MAJALAHWEKO, JAYAPURA – Pimpinan Militer Tentara Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap III Ndugama menegaskan agar pemerintah pusat maupun pemerintah di Tanah Papua segera hentikan pembahasan Otsus untuk dilanjutkan dan berikan hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua. Karena kontrak politik antara Papua dan Jakarta sudah selesai dengan Otsus yang sudah jalan selama 20 tahun di Papua.

Pernyataan ini disampaikan Brigjend Egianus Kogeya, Panglima Kodap III TPNPB Ndugama melalui surat elektronik yang diterima suarapapua.com pada Senin (27/7/2020) malam.

Pada 26 Juli 2020, dirinya bersama seluruh pimpinan manajemen TPNPB Kodap III Ndugama telah melakukan pertemuan tentang Otsus bagi Papua yang diatur lewat UU No. 21 tahun 2001.

Dia menjelaskan, Otsus adalah tawaran Jakarta sebagai gula-gula politik untuk menghentikan perjuangan orang Papua. Dimana pada Kongres II Rakyat Papua pada tahun 2000, rakyat Papua telah memutuskan untuk merdeka dan lepas dari penjajahan Indonesia.

Perjuangan yang sedang dilakukan TPNPB Ndugama dan seluruh rakyat Papua adalah untuk menentukan nasib sendiri. Perjuangan lewat jalur militer dimulai pada tahun 1996 dengan protes yang dilakukan oleh Jenderal Kelly Kwallyk, Jenderal Daniel Yudas Lokbere, Jenderal Silas Ellmin Kogeya, Jenderal Daud Yiginap Lokbere, Jenderal Titus Murib, Jenderal Goliat Tabuni DKk hingga saat ini.

“Mereka melakukan protes kepada pemerintah Indonesia dan melakukan penyanderaan di Mapnduma pada tahun 1995. Salah satu yang disandera saat itu adalah staf PBB. Mereka juga protes Jakarta dengan melakukan memotong pipa di areal freeport di Tembagapura,” jelas Egianus.

Hasil protes dari perjuangan TPN-OPM tersebut, kata dia, ditanggapi oleh elit politik daerah Papua dan mendorong Otsus sebagai solusi atas protes-protes yang dilakukan TPN-OPM dan rakyat Papua.

“Otonomi khusus sudah jalan selama 20 tahun. Hasilnya bukan membangun rakyat Papua dan tanah Papua, tetapi justru menambah masalah yang tidak pernah diselesaikan oleh Jakarta,” katanya.

Masalah-masalah yang menurutnya bertambah dan tidak pernah selesai selain pelanggaran HAM adalah Otsus telah berhasil menambah distrik, kabupaten, desa dan provinsi dengan tujuan untuk mempersempit ruang gerak TPN-OPM.

“Tetapi itu juga tidak berhasil. Kami masih ada dan masih eksis untuk berjuang. Kami generasi muda sudah ambil alih perjuangan,” tegasnya.

Perjuangan Mulia dan Kudus

Egianus menegaskan lagi, bahwa perjuangan OPM-TPNPB adalah perjuangan mulia dan kudus. “Kami sedang bekerja keras untuk merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua Barat yang pernah dihancurkan Indonesia, Amerika, PBB dan Belanda untuk kepentingan ekonomi,” tegasnya.

Menurutnya, perjuangan mulia rakyat Papua tersebut selalu dimanfaatkan elit politik dan birokrat Papua. Lahirnya Otsus juga merupakan bagian dari perjuangan rakyat Papua yang dimanfaatkan. Hasilnya, kata dia, tidak ada perubahan yang signifikan di Tanah Papua.

“Pemerintah Indonesia selalu paksakan diri untuk pertahankan Papua di Indonesia. Ribuan manusia Papua dari berbagai pelosok Tanah Papua telah menjadi korban Jakarta lewat aparatnya untuk ekspolitasi Papua,” kata Egianus.

Dia menambahkan, Indonesia sudah tidak bisa tipu-tipu lagi. Papua sudah menjadi isu internasional. Perjuangan Papua Merdeka juga bukan hanya TPNPB-OPM di hutan, namun seluruh rakyat Papua Barat telah bangkit bersama KNPB di seluruh pelosok Papua.

Sikap TPNPB Ndugama Soal Otsus

Dengan mencermati berbagai persoalan yang tidak pernah berakhir selama 20 tahun di Tanah Papua, dan berbagai persoalan yang terjadi sejak Papua dianeksasikan ke Indonesia, orang Papua selalu dan tetapi menjadi korban.

Untuk itu, TPNPB Kodap III Ndugama meminta agar Jakarta, pemerintah, DPR dan MRP di Tanah Papua segera hentikan pembahasan Otsus Jilid II. Karena meskipun ada Otsus, tidak pernah menjamin keamaman, keselamatan dan kehidupan yang baik untuk orang Papua di Tanah Papua.

“Orang Papua masih jadi korban dari aparat keamanan Indonesia di Tanah Papua. Orang Papua mengungsi dari kampung dan daerah mereka karena aparat Indonesia hadir untuk meneror dan membunuh masyarakat sipil kami yang tidak berdosa,” tegas Egianus lagi.

Egianus meminta agar elit Jakarta dan Papua tidak memanfaatkan penderitaan rakyat Papua. Dia juga meminta agar tidak mengatasnamakan orang Papua untuk kepentingan kroni dan perutnya sendiri.

“Kami berjuang dengan dasar perjuangan yang sudah ditanamkan oleh orang tua kami. Air mata, nyawa dan keringat orang tua kami jangan dimanfaatkan untuk kepentingan siapa pun. Karena perjuangan orang tua kami dan perjuangan kami adalah dengan tujuan untuk mengembalikan kemerdekaan yang pernah dirampas Indonesia.”

“Saat ini kami sedang angkat senjata dan berperang dengan TNI – Polri Indonesia selama 1,7 tahun. Ini perlu dipahami masyarakat Papua dari Sorong sampai Samarai dan internasional,” ujarnya.

Pernyataan Sikap TPNPB Kodap III Ndugama

TPNPB Kodap III Ndugama seruhkan kepada sleuruh komponen rakyat West Papua dan pemerintah Indonesia bahwa, Otsus telah gagal selama 20 tahun di Papua. Pemerintah provinsi Papua dan Papua Barat segera menolak Otsus Jilid II buatan Indonesia. Karena Otsus jilid II adalah kontrak politik antara Jakarta dan Papua yang sudah basi dan akan habis tahun depan.
Pemerintah provinsi Papua dan Papua Barat segera hentikan proses pembahasan Otsus Jilid II untuk kepentingan pribadi atas nama perjuangan TPNPB dan rakyat Papua yang sedang berjuang dengan air mata dan darah.

Pimpinan TPNPB Kodap III Ndugama meminta pemerintah kab. Mimika hentikan pembahasan Otsus Jilid II dan segera menolak Otsus Jilid II.
Pimpinan TPNPB Kodap III Nduga terus memantau situasi di daerah Papua. Kalau ada satu kabupaten menerima Otsus Jilid II, maka TPNPB Ndugama dan 33 Kodap di Tanah Papua akan keliling untuk melakuan operasi sapu rata dan siapa pun yang membela NKRI adalah musu utama kami, agar perjuangan kami tetapi berjalan baik dan murni.

Demi nama Allah yang hidup, pencipta langit dan bumi, dan demi nama dan darah tulang belulang yang telah gugur dalam perjuangan pembebesan nasional antara lain, Jenderal Kelik Kwallyk, Jenderal Daniel Yudas Kogeya, Jenderal Ellmin Kogeya dan seluruh rakyat Papua telah berkoban untuk revolusi perjuangan Papua mereka kami menolak Otsus Jilid II untuk 20 tahun ke depan.

TPNPB saat ini perang dengan Indonesia, tujuannya adalah untjuk kemerdekaan bangsa Papua Barat. Agar orang Papua merdeka dan menentukan nasib mereka.

Seluruh rakyat Papua dari Sorong – Samarai, pasukan TPNPB yang tersebar di 33 Kodap segera bangkit bersama rakyat untuk mendukung TPNPB yang sedang berperang dan KNPB yang sedang bergerilya di dalam kota.

 

________________________________
Sumber: SUARA PAPUA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here