ULMWP: Jakarta ambil banyak dari Papua tapi kasih sedikit untuk Papua

0
467
Markus Haluk

JAYAPURA, MAJALAHWEKONEWS – United Liberation Movement for West Papua atau ULMWP menyatakan pemerintah pusat di Jakarta tidak perlu terus menyebut Rp94,24 triliun dana yang telah mereka kucurkan selama 19 tahun pelaksanaan Otonomi Khusus Papua. Pemerintah pusat juga tidak perlu menjanjikan kelanjutan kucuran Dana Otonomi Khusus Papua demi membujuk rakyat Papua diam, karena nilai kontribusi PT Freeport Indonesia terhadap perekonomian Indonesia jauh lebih besar dari kucuran Dana Otonomi Khusus Papua.

Hal itu dinyatakan Direktur Eksekutif ULMWP, Markus Haluk kepada wartawan di Kota Jayapura, Selasa (28/7/2020). Haluk menyatakan, data yang diterima ULMWP menunjukkan nilai kucuran Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua lebih kecil dari nilai kontribusi PT Freeport Indonesia terhadap pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Haluk menilai pemerintah pusat di Jakarta mengambil banyak dari Papua, dan memberi sedikit untuk Papua, namun terus menyebut nilai kucuran Dana Otsus Papua. “[Selama] 20 tahun, kontribusi Freeport Indonesia kepada pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sekitar Rp295 triliun. Jadi, [selama] 20 tahun Rp200 triliun ke pusat, dan Rp90 triliun ke DKI, total Rp290 triliun. Sedangkan Dana Otsus dari pemerintah Indonesia Rp95 triliun,” kata Haluk.

Menurut Haluk, nilai itu belum menghitung kontribusi berbagai perusahaan tambang lain, maupun kontribusi perusahaan perikanan dan kelautan atau perusahaan perkebunan dan kehutanan yang beroperasi di Papua. “[Ada] hasil BP di [Kabupaten Teluk] Bintuni, [berbagai perusahaan] Hak Pengusahaan Hutan, kelapa sawit, ikan dan sekitar 3 ribu izin investasi baru selama Otsus Papua,” kata Haluk.

Juru bicara internasional Komite Nasional Papua Barat, Victor Yeimo dalam diskusi daring yang digelar Redaksi suarapapua.com pada Senin (27/7/2020) menilai pemberlakuan Otsus Papua merupakan bentuk politik ekonomi penjajah. Hal itu terlihat jika data anggaran Dana Otsus Papua diperbandingkan dengan nilai hasil eksploitasi sumber daya alam di Papua.

“Dana Otsus [nilainya sekitar] Rp90 triliun [dalam] 20 tahun. Freeport [saja, berkontribusi kepada [perekonomian] Rp200 triliun. [Itu] belum hitung hasil 240 perusahaan tambang, 80 perusahaan pembalakan hutan, dan hasil sumber daya alam lain yang dikuras,” ungkap Yeimo. (Pianus/MW)-Lansir dari Jubi.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here