Tanah Papua tidak seperti di Suriah yang mudah Dikambinghitamkan!

0
113
Foto: Saat Demo Damai di Papua

Oleh: Nomen Douw

Pada hari Jumat, 29 Agustus 2019 orang asli Papua [OAP] turun mengecam rasisme dan memprotes terhadap Negara Republik Indonesia adanya ujaran rasisme dan koneksi internet yang dihentikan di wilayah Papua, kota jantung Papua macet. Rusuhpun terjadi, organisasi masyarakat [ormas] reaksioner dari Non Papua yang menyebutkan diri mereka Panguyuban Nusantara ikut menyerang masa aksi dari Entrop hingga Jayapura Kota.

Pada Kamis, [5/9/2019] di Jakarta, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, mengatakan; “Sebagai catatan, terdapat kelompok lain yang berafiliasi dengan ISIS telah menyerukan jihad di tanah Papua,”kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. [cnnindonesia.com].

Negara Islam Irak dan Syam juga dikenal dengan nama Negara Islam Irak dan Suriah, Negara Islam Irak dan asy-Syam, Daesh, atau Negara Islam, adalah kelompok militan ekstremis.Kelompok ini dipimpin oleh dan didominasi oleh anggota Arab Sunni dari Irak dan Suriah.

Kejahatan Islamic State of Iraq and Syiria [ISIS] sangat tidak manusiawi, mereka muda membunuh sesame manusia dengan cara menembak mati,  pengkal kepala, menggantung dan membakar hidup-hidup.

Mereka menyerang dengan kolok dan senjata. Tidak tahu kelompok tersebut dapat senjata dari mana. Yang pastinya mereka datang dengan keamanan dan menyerang masa aksi. Banyak warga asli Papua di Jayapura terluka berat, bahkan meninggal dunia. Saat pulang dari aksi, massa dipalang di berbagai lokasi jalan dan mengalami penyiksaan keras dari Panguyuban Nusantara.

Salah satunya, Pdt. Daud Auwe dan anggota jemaatnya mengalami bacokan di sekujubur tubuh, diantara kepala dan dan sekitarnya. 40 lebih warga Papua mengalami luka berat. Asrama Nayak II di Kamkey Jayapura di serang Ormas reaksioner yang sama pada malam hari, dan mahasiswa mengalami luka bacokan dan patah tulang. Maikel Kareth ditembak mati oleh Ormas yang mengenakan senjata api di kos tidurnya.

Sekarang pertanyaanya adalah Ormas yang menamakan Panguyuban Nusantara ini berasal darimana? Kenapa mereka berani membunuh? Siapa di belakang mereka? Kejahatan tidak manusiawi ini tidak mungkin dilakukan oleh non Papua yang telah lama hidup dengan orang asli Papua. Apakah mereka adalah teroris Indonesia yang punya jaringan ISIS? Entahlah!

Mari kita simak lagi pernyataan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, ia menyebut; “kelompok yang terafiliasi dengan ISIS di Papua ini teridentifikasi dari Jamaah Ansharut Daulah [JAD]”.

JAD adalah sebuah kelompok militan Indonesia yang dilaporkan memiliki kaitan dengan pengeboman Bom Bali 2002 dan Surabaya pada tahun 2018. Negara Islam Irak dan Suriah telah mengklaim bahwa mereka bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. JAD adalah ISIS di Indonesia, jika saja mereka ada dalam kerusuhan di Jayapura lalu menyerang masa aksi dari masyarakat Papua, siap dibalik mereka?

Banyak selentingan yang menyebut bahwa sesungguhnya gerakan radikal ISIS atau dikenal pula sebagai Islamic State of Iraq and The Levant (ISIL), merupakan “boneka” ciptaan Amerika. Tapi jika ISIS sudah sampai di Papua. Melalui jalan mana mereka datang? Siapa dibalik mereka? Apakah buatan Amerika ataukah Indonesia?

Salah seorang penudingnya adalah mantan staf National Security Agency (NSA) atau Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat, Edward Snowden. Menurut dia, selain Amerika, dua negara lain yang bertanggungjawab terkait ISIS adalah Inggris dan Israel.

Pernyataan Snowden yang telah membongkar banyak “rahasia dunia” menyangkut isu politik, ekonomi, dan keamanan tingkat tinggi, sedikit banyak menggoyahkan keyakinan pihak-pihak yang selama ini “meyakini betul” bahwa ISIS adalah gerakan yang berkaitpaut erat dengan agama.

Jangan buat Tanah Papua seperti di Timur Tengah demi politik global. Papua tanah damai, inflasi militer Indonesia membuat banyak kecamatan muncul dari lapisan masyarakat di Papua adalah sikap perlawanan. Orang Papua akan kalah jika hatinya di sentuh dengan kata bukan peluru senjata api.tapi untuk kesempatan ini sepertinya Negara sudah terlambat. Orang Papua akan terus sakit karena sebagian penduduk besar telah tiada diujung mulut senapan api.

Tanah Papua bukan seperti di Suriah yang mudah dikambinghitamkan. Berhentilah bermain politik skala global di Papua demi PT. Freeport dan SDA lainnya. TPN/OPM murni memperjuangkan hak politik bangsa West Papua. Jangan ciptakan ISIS baru di Papua untuk menghalangi perjuangan suci bagi kemerdekaan bangsa rumpung Melanesia, West Papua.

Sejarah Papua kedalam Indonesia adalah sejarah yang ciderai karena kepentingan Amerika dan antek-anteknya. Ada dua kemungkinan jika ISIS di Papua benar adanya. Pertama, kepentingan apa yang ingin Amerika bangun di Papua dan yang kedua adalah Amerika ingin jadikan konflik Papua sebagai kelinci sebagai alat politik kepada Indonesia adanya negosiasi saham PT.Freeport yang tidak relevan menurut korporat Amerika.

Orang Papua hari ini tidak berkepentingan apapun dengan negara asing diatas tanah Papua. Jika dilihat dari teori antropologi, membunuh manusia yang berbeda bukan budaya nenek moyang orang Papua. Sehingga, jangan menuduh orang Papua terafiliasi dengan teroris. Isu teroris sudah menjadi isu internasional, orang Papua tidak disana sebab yang orang Papua mengetahui hanyalah hidup bebas di atas tanah air Papua.

Kapanpun orang asli Papua tidak akan pernah menjadi ISIS, selain orang Papua melawan ISIS dan melawan terus negara yang mengkolonisasi dan diskriminasi rasial. Agama orang Papua tidak pernah ber radikalisme. Agama orang Papua seutuhnya mencintai keberadaan damai sejahtera untuk semua umat manusia yang menyembah Tuhan dengan cara yang berbeda-beda.

*) Penulis adalah jurnalis wagadei.com, tinggal di Papua

_______________

Sumber: WAGADEI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here