Monyet tidak boleh Paksakan tinggal Bersama Manusia

0
262
Foto Saat aksi demo Mahasiswa protes Rasisme

Oleh: Marius Goo

Orang Papua sudah distigma secara jelas dan nyata monyet pada tanggal 16 – 18 Agustus di asrama Papua Surabaya, Jawa Timur oleh organisasi masyarakat [Ormas] reaksioner dan militer gabungan TNI dan Polri. Stigma bahwa orang Papua monyet bukan dugaan, bukan juga sebatas isu, tapi secara nyata disaksikan oleh hampir semua manusia di dunia. Stigma bahwa orang Papua monyet disebarkan dalam bentuk video langsung dan disaksikan oleh semua manusia dunia. Bahkan video itu dibagikan berkali-kali melalui semua aplikasi media.

Beberapa hari berikutnya, militer melarang untuk membagikan dikatakan bahwa video itu hoax. Larangan pemerintah untuk membagikan video rasis terhadap orang Papua itu dilanjutkan dengan menghapus foto atau video yang memviralkan orang Papua monyet. Karena semua yang berkaitan dengan stigma monyet baik video, foto maupun dalam bentuk tulisan, pemerintah merasa telah meredam isu rasis tersebut hingga di akar-akar rakyat Papua.

Apalagi untuk meredam isu tersebut pemerintah mulai mengembangkan berita-berita lain sebagai pengalihan isu. Salah satunya aksi-aksi penolakan rasis dari rakyat dinilai anarkis, karena itu dimulai satu era di mana melanjutkan penangkapan aktivis Papua. Pemerintah melarang untuk orang Papua melakukan demo menolak rasis. Pelarangan tersebut peniyaan pemerintah atas stigma orang Papua monyet. Pemerintah menginginkan orang Papua menerima secara mentah, seutuhnya bahwa orang Papua itu monyet, seolah-olah orang Papua itu benar-benar monyet. Karena pemerintah Indonesia mengiakan bahwa orang Papua monyet, maka monyet tak pantas tinggal dengan manusia yang merasa lebih super dari manusia lain.

Monyet tak layak dipaksakan tinggal dengan manusia

Stigma orang Indonesia atas Papua masih membekas dalam tubuh manusia Papua, entah siapa pun dia. Semua orang Papua adalah monyet dan stigma itu didukung pwnuh oleh pemerintah pusat.

Dalam isu stigma Papua masih menjadi luka bagi rakyat Papua, di asrama yang sama dilempari dua karung ular berjenis piton, satu kerung berisi satu ekor ular karung lainnya berisi dua ekor ular.

Ada apa dengan ular yang dilemparkan ke dalam asrama? Untuk apa ular itu dilemparkan ke dalam asrama. Bukankah bagian dari stigma bahwa orang Papua itu binatang? Atau mengirim ular piton itu untuk menghabiskan mahasiswa Papua karena ular berjenis berbisa?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengundang setiap dan semua manusia Papua merefleksikan kemanusiaan. Melihat dirinya sebagai manusia yang setara dengan manusia yang lain. Ketika Indonesia melihat orang Papua bukan manusia, yakni monyet apakah orang Papua harus mempertahankan mati-matian tinggal bersama rasis, intimidasi dan teror? Orang Papua yang menyadari dirinya bukan monyet akan beraksi untuk mengungkapkan kemanusiaan yang sama di dunia. Menyatakan bahwa dirinya manusia. Stigma orang Papua monyet akan berhenti jika orang Papua berpisah dari manusia Indonesia yang merasa super manusia di muka bumi.

Stigma orang Papua monyet bukan hanya di sampaikan kepada orang Papua, melainkan kepada semua manusia di dunia yang berambut keriting dan berkulit hitam di mana pun berada. Karena itu, aksi penolakan pun tidak hanya dilakukan  oleh orang Papua melainkan juga oleh semua orang di dunia yang memiliki keprihatinan pada kemanusiaan  terlebih sesama ras melanesia.

Isu perjuangan orang Papua saat ini adalah menolak rasis terhadap rakyat Papua hingga tuntas dan berjuang untuk tidak teralienasi oleh isu-isu murahan yang hendak dialihkan. Keberhasilan perjuangan rasis adalah ketika orang   Papua menyatakan diri tak pantas tinggal bersama manusia Indonesia yang menganggap diri manusia super. (*)

*). Penulis adalah mahasiswa pascasarjana SekolahTinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang, Jawa Timur

_______________

Sumber: WAGADEI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here