EXODUS NDUGA – “PESAN REVOLUSI ARINA ELOPERE KETIKA MASIH DI PENJARAH”

0
297
Ket Foto Ariana Elopere

JAYAPURA, MAJALAHWEKO- EXODUS NDUGA – “PESAN ARINA ELOPERE KETIKA MASIH DI PENJARAH”

Arina Elopere ialah salah satu dari enam aktivis lain yang didakwa makar karena protes anti-rasialisme dan membawa atribut Bintang Kejora di depan Istana Merdeka pada Agustus 2019. Mereka divonis 8-9 bulan penjara pada 24 April 2020.

Arina Elopere, salah satu tahanan politik Papua di Indonesia yang sangat berani untuk mengungkapkan kebenaran atas tuduan makar dan kriminalisasi yang dilakukan oleh Negara Indonesia pada orang Papua ketika melakukan aksi anti protes atas watak Rasialis Aparatus Negara dengan sebutan Monyet (Rasis) di Asrama Papua Surabaya, pada 15 -17 Agustus 2019.

Nama lengkapnya, Arina Elopere Wenebita Gwijangge. Dia kelahiran Kali Yigi, Kabupaten Nduga, 20 tahun lalu, pada Mei 1999. Dulunya, Distrik Yigi bagian dari Kabupaten Jayawijaya—ibu kota Wamena—tapi, pada 2008, dijadikan wilayah pemekaran Kabupaten Nduga dengan ibu kota Kenyam.

Arina merupakan salah satu Mahasiswa Papua di Jakarta, disana dia kuliah di Sekolah Tinggi Theologi Jaffray—sebuah perguruan Evangelical-Reformed milik Gereja Kemah Injil Indonesia. Mereka memberikan beasiswa dan mendidik mahasiswa dari berbagai denominasi gereja di Indonesia.

Sesungguhnya Ariana Elopere tidak bersalah sesuai dakwaan yang diterpah kepadanya, dia hanyalah salah satu korban kriminalisasi Aparat Keamanan Negara Indonesia, yang dengan sengaja menangkapnya sebagai bentuk pengendalian situasi RASIS yang terjadi pada Orang Papua sehingga pengendalian politik Negara tidak terciup watak kejahatan Rasis Aparatusnya di mata dunia.

Arina yang ditahan bersama keenam TAPOL PAPUA lainnya di Jakarta kini sudah dibebaskan pada Selasa 27 Mei 2020. Dan di saat dalam penjara, ada beberapa perkataan Ariana yang sangat menyentuh hati Orang Papua dan seluruh rakyat tertindas di Indonesia ialah “… Kita harus berani bicara soal kebenaran.”

Pada 22 Februari 2020, ketika sidang dibuka saat itu, Arina Gwijangge diberi kesempatan bicara di pengadilan. Dia pidato singkat terkait ujaran Rasisme Surabaya Negara Indonesia lewat Aparatus Negara pada saat itu, ia berbicara dengan Tema singkat yakni “Mama Papua”.

Isi Pidato singkatnya:

“Kami, mama-mama Papua, tidak pernah melahirkan monyet. Monyet tempat tinggalnya di hutan. Kami tidak pernah melahirkan tikus, tikus adanya di lingkungan rumah, tak pernah berada di tempat manusia. Kami tidak pernah melahirkan namanya binatang.”

“Kami, mama-mama Papua, melahirkan melalui rahimnya, orang-orang yang hebat, sama dengan orang lain, manusia sama seperti orang lain.”

Isi dari pidato singkat Arina diatas, sangat menyentuh hati Orang Papua dan membawa semangat perlawanan bagi Rakyat Papua untuk terus berjuang merebut Pembebasan Bangsa Papua yang masih di tindas Sistem Kolonialisme Indonesia dan Kapitalis-Imperialis Global.

Dan di dalam penjara, Arina juga berpesan pada saat persidangan di bulan April lalu, katanya “Perempuan punya kemampuan, perempuan mampu bersaing, perempuan itu kuat. Sebagai perempuan, kita harus berani bicara soal kebenaran.”

“Saya berjuang dari dalam penjara dan harapan saya, perempuan Papua lainnya harus berjuang dari luar demi kebenaran”, tegas Arina di terakhir pesannya.

Dari balik tulisan ini, semoga kita mendapat amanat revolusioner dari jiwa dan spirit Perlawanan Pembebasan Bangsa Papua Barat dibalik pesannya Comrade Arina Elopere ketika masih berada di penjara Negara Indonesia saat itu.

Wasalam!

Hidup Comrade “Arina Elopere Wenebita Gwijangge”
Hidup Perempuan-Perempuan Papua yang Melawan

~ Rilisan Comrade Y. Tabuni
(Ketua Posko Exodus Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se – Indonesia)

#Exodus_Nduga_Bersuara 🌻
#LawanDiskriminasiRasisme
#WestPapuaQuotes #TapolPapua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here