Rasisme dan Ketidakadilan: Para Monyet Mencari Ilmu di rumah Manusia tetapi Manusia Mencari Makan di Rumah Kawanan Monyet

0
409

Rasisme dan Ketidakadilan: Para Monyet Mencari Ilmu di rumah Manusia tetapi Manusia Mencari Makan di Rumah Kawanan Monyet

Oleh Dr. Socratez S.Yoman,MA

Lengendaris pesepak bola asal Papua, Boaz Theofilus Erwin Solossa menyikapi perilaku rasisme dan ketidakadilan Indonesia dengan memberikan saran ini.

” Lebih terhormat mana? Monyet cari ilmu di rumah manusia atau manusia cari makan di rumah monyet?” (Sumber: WE Online: Senin, 19 Agustus 2019).

Apa yang diungkapan Boaz Solosaa sudah merupakan mewakili pikiran dan perasaan orang asli Papua yang menjadi korban RASISME dan KETIDAKADILAN yang dilakukan Indonesia selama 58 tahun sejak 1961.

Adapun sebuah lagu yang dikarang oleh anak-anak muda Papua yang menyayat hati. “Papua bukan pelaku rasisme. Papua korban rasisme. Tapi, kau (kamu) bilang makar.”

Jadi, peristiwa RASISME yang terjadi pada 15-17 Agustus 2019 di Semarang, Malang dan Jogyakarta yang dilakukan oleh organisasi massa radikal seperti: Front Pembela Islam (FPI), Pemuda Pancasila (PP), anggota TNI dan Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI (FKPP) ini MEMBUKA MATA kita semua, bahwa akar persoalan di West Papua ialah RASISME dan KETIDAKADILAN.

Pemerintah Indonesia, TNI-Polri dengan kuat dan ketat menyembunyikan akar persoalan Papua, yaitu RASISME dan KETIDAKADILAN dibalik pandangan politik. Karena pemerintah dan TNI-Polri merasa nyaman dalam wilayah politik. Mereka perlakukan orang asli Papua dengan seenaknya dan sesuka hati karena dari pandangan mereka OAP bukan manusia, tetapi disetarakan dengan hewan.

Pemerintah dan TNI-Polri selama ini merasa aman. Karena akar masalah Papua, yaitu RASISME dan KETIDAKADILAN disembunyikan secara licik dan cerdik. Cara menyembunyikannya dengan menciptakan mitos-mitos dan stigma-stigma negatif dan sangat politis, yaitu orang asli Papua di-OPM-kan, di-Makar-kan, di-separatis-kan, di-monyet-kan, di-KKB-kan.”

Pemerintah dan TNI-Polri selama ini juga merasa aman karena mereka berhasil meyakinkan rakyat Indonesia dengan kebohongan dan berita hoax yang diciptakannya, yaitu orang asli Papua itu anggota OPM, Separatis, Makar, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang melawan NKRI.

Akhirnya tembok dan tirani kebohongan atau berita-berita hoax penguasa Indonesia dan TNI-Polri yang menahun dan kekerasan terpanjang dalam sejarah Asia ini benar-benar diruntuhkan. Jadi, sekarang menjadi terang-benderang untuk para pembaca tentang akar persoalan Papua.

Akar masalah Papua adalah RASISME DAN KETIDAKADILAN tetapi bukan Makar, Separatis, OPM dan KKB. Dari sumber malasah RASISME dan KETIDAKADILAN ini mempunyai empat anak. Empat anak dari RASISME dan KETIDAKADIKAN itu sudah ditemukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebagai berikut:

1. Sejarah dan status politik integrasi Papua ke dalam wilayah Indonesia. 2. Kekerasan dan pelanggaran berat HAM yang dilakukan negara selama 58 tahun.

3. Masalah masalah marjinalisasi efek diskriminatif terhadap orang asli Papua akibat pembangunan ekonomi, konflik politik, dan migrasi massal ke Papua sejak 1970. Untuk menjawab masalah ini, kebijakan afirmatif rekognisi perlu dikembangkan untuk pemberdayaan orang asli Papua. Inti dari akar masalah ketiga ialah diskriminasi dan marjinalisasi orang Papua di atas tanah sendiri.

4. Kegagalan pembangunan terutama di bidang pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Untuk itu diperlukan semacam paradigima baru pembangunan yang berfokus pada perbaikan pelayanan publik demi kesejahteraan orang asli Papua di kapung-kampung.

Seorang pastor Katolik bernama Amandus Rahadat, Pr dengan iman yang teguh dan kokoh dapat menyampaikan Firman TUHAN yang hidup dan Injil kekuatan Allah yang menyatakan kebenaran Allah dan menyelamatkan umat manusia dengan suara kenabian yang terukur dapat mengentarkan, menyadarkan dan mengugah serta mengetuk hati kita semua. Pesan Ilahi itu disampaikan kepada kita semua pada Minggu, 21 Juni 2020 dengan pokok sebagai berikut:

“Saya melayani di Tanah Papua selama 36 Tahun. Saya tidak melayani monyet. Saya melayani manusia orang asli Papua.”

1. Persoalan RASISME. Kasus Surabaya, 16 Agustus 2019, mahasiswa Papua diteriaki monyet. Kalau benar, orang Papua itu monyet, maka konsekwensi logisnya apa? Konsekwensi ujaran rasisme ini sangat dahsyat. Saya mendapat isi face book seorang anak Papua. Maka umat pendatang tidak tersinggung. “Kalau monyet cari ilmu di Jawa, di Sumatra, di Kalimantan, di Sulawesi dan di Ambon. Tetapi, manusia Jawa, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Maluku cari makan di tempat atau rumah monyet. Orang waras pasti malu. Nila setitik merusak susu sebelangga.”

2. Pemerintah Indonesia dari pusat sampai kedaerah mengeluarkan uang banyak untuk pembangunan di Papua. Apakah pemerintah membangun jalan untuk monyet, pendidikan untuk monyet, kesehatan untuk monyet? Pemerintah harus selesaikan kasus rasisme, ketidakadilan yang alami orang asli Papua selama ini.

3. Pihak polisi dan tentara. Saya pastor Amandus mau sampaikan. Di Papua terlalu banyak anggota tentara polisi, segala perlengkapan yang hebat-hebat. Seluruh perlengkapan itu untuk jaga monyet-monyet. Jangan tersinggung. Kalau Anda katakan, kami tidak jaga monyet. Kalau begitu, apa sikap tentara dan polisi terhadap orang yang menyebut orang Papua monyet itu? Tangkap dan adili dan hukum untuk keadilan.

4. Pihak agama. Saya tidak berbicara gereja-gereja Protestan. Pastor-Pastor, Suster-suster sejak zaman Belanda sampai di era Indonesia, luar biasa jumlah banyak datang di Papua. Apakah petugas gereja melayani monyet. Saya sendiri menjadi pastor 36 tahun sampai rambut putih di Papua. Saya sendiri tidak pernah melayani monyet, tetapi saya melayani manusia di Papua. Saya sangat sedih, kalau disebut orang Papua monyet, 36 tahun saya tidak melayani monyet. Sebutan monyet menurut kamu, tetapi bukan menurut TUHAN. Saya sebagai pastor penjaga gawang moral, yaitu keadilan, kasih, kedamaian dan martabat kemanusiaan serta kebenaran Ilahi dari TUHAN Yesus Kristus.

5. Tarakhir, anak-anak cucu guru perintis tahun 1920an dan 1930an. Apakah waktu orang tuamu datang pertama kali di Tanah Papua bertemu dengan monyet-monyet dan mengajar monyet-monyet? Kalau tidak, anak-anak dan cucu perintis, jangan diam, buat sesuatu buat saudara-saudaramu di Papua. Kok, gereja ada hanya bekerja untuk melayani monyet? Anak-anak dan cucu para perintis, mengapa kita selama ini diam?

Mendegar dari khotbah sahabat saya, pastor Amandus, penulis sebagai Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP) mengutip khotbah Pastor Amandus Rahadat, karena Firman yang hidup dan Firman Tuhan sungguh-sungguh menjawab realitas. Ini khotbah yang luar biasa. Khotbah yang menyadarkan kita semua. Injil Tuhan Yesus yang benar-benar hadir dalam dunia realitas.

Saran penulis, kutipan ini belum lengkap. Para pembaca dapat akses melalui vidio yang sudah menjadi viral khotbah ini.

Membaca dari tulisan ini, pemerintah dan TNI-Polri tidak selamanya bersandiwara dengan mitos dan stigma makar, separatis dan lain-lain. Karena, akar masalah Papua sudah jelas, yaitu RASISME dan KETIDAKADILAN yang melahirkan empat akar persoalan yang telah dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Contoh DISKRIMINASI RASIAL dan KETIDAKADILAN yang dilakukan pemerintah Indonesia terbukti GAM di Aceh dijadikan sebagai mitra dialog damai yang setara yang dimediasi pihak ketiga di Helsinki pada 15 Agustus 2005. Di Aceh diberikan kesempatan bentuk partai lokal dan diijinkan untuk kibarkan bendera Gerakan Aceh Merdeka.

Sementara rakyat dan bangsa West Papua ditempatkan sebagai musuh oleh pemerintah dan TNI,-Polri dengan sikap RASISME dan KETIDAKADILAN yang berlindung dibalik mitos-mitos dan stigma makar dan separaris serta KKB. Pada saat bendera Bintang Kejora dikibarkan rakyat langsung ditembak mati dan dihukum 10 sampai 15 tahun.

Contoh terbaru. Kelompok Paguyuban Nusantara dan Barisan Merah Putih yang menewaskan orang asli Papua belum ditangkap dan diadili. Nama-nama korban tewas antara lain: Marselino Samon (15 tahun) pelajar SMP Kelas 3 pada 29 Agustus 2019; Evert Mofu (21 tahun), penjaga gudang kontainer pada 29 Agustus 2019; Maikel Kareth (21 tahun) mahasiswa Uncen pada 31 Agustus 2019; Oktovianus Mote (21 tahun) mahasiswa STIKOM Muhamadiah pada 30 Agustus 2019.

Sementara 7 orang Buchtar Tabuni dan kawan-kawan yang menjadi korban RASISME dan KETIDAKADILAN ditangkap, diadili dan dihukum 17 tahun, 10 tahun dan 5 tahun dengan pasal makar. Persoalan RASISME dan KETIDAKADILAN dipolitikan.

Korban penembakan 5 siswa pada 8 Desember 2014 sampai saat ini belum jelas penyelesaiannya. Nama-nama korban 1. Yulianus Yeimo (17), 2. Apinus Gobai (16), 3. Simon Degei (17), 4. Alpius You (18 ). 5. Abia Gobay (17). Pelakunya Gabungan TNI AD dan Polri (Timsus Yonif 753, Anggota Koramil Paniai Timur, Kopasus, Brimob Polda Papua dan anggota Polres Paniai serta PASKHAS/TNI AU). (Sumber: Laporan Indikasi Pelanggaran Berat HAM Kasus Paniai 8 Desember 2014, John NR Gobai).

Para penjahat, pembunuh dan kriminal pemerintah dan aparat keamanan TNI-Polri melakukan tindakan RASISME dan KETIDAKADILAN terhadap penduduk asli Papua. Karena pandangan pemerintah dan aparat keamanan Indonesia, bahwa orang asli Papua itu tidak lebih dari hewan atau binatang. Jadi, ditembak mati tidak masalah bagi pemerintah Indonesia dan aparat keamanan TNI-Polri

..Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia…” “…Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” ( Prof. Franz Magnis-Suseno: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme: 2015, hal. 255).

Penulis juga heran, para pemimpin rasis dan yang tidak adil ini selalu memanipulasi ayat-ayat Firman Tuhan yang ada dalam Alkitab sebagai pembenaran untuk menyembunyikan kekejaman, kejahatan dan kekerasan yang dilalukannya. Mereka mencari-cari ayat tentang kasih, kedamaian, dan kerendahan hati. Pemerintah Indonesia dan TNI-Polri, jangan lupa, Iblis juga lebih pintar memilih ayat-ayat Firman untuk mencobai Tuhan Yesus. (lihat Matius 4:1-11).

“Enyalah Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:10).

Sekarang saatnya, “Black Lives Matter. Papua Lives Matter.” Karena itu, RASISME DAN KETIDAKADILAN harus dan segera diselesaikan berdasarkan 4 akar persoalan yang sudah dirumuskan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Maka jalan penyelesaian RASISME dan KETIDAKADILAN secara bermartabat ialah Pemerintah Republik Indonesia duduk setara dengan United Liberation Movement for West Papua untuk dialog damai tanpa syarat dimediasi pihak ketiga dan ditempat yang netral seperti contoh GAM Aceh dengan pemerintah Indonesia di Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Karena, ULMWP sudah didukung oleh Negara-Negara berdaulat seperti: Negara-negara Forum Kepulauan Pasifik (PIF) dan Negara-Negara Afrika, Karabia, Pasifik (ACP).

Dan juga, dialog damai yang setara antara RI-ULMWP tanpa syarat dimediasi pihak ketiga ditempat netral didukung penuh oleh Dewan Gereja Papua (WPCC), Konferensi Gereja-Gereja Pasifik (PCC) dan Dewan Gereja Dunia (WCC). ULMWP diakui dan diterima sebagai lembaga politik resmi milik rakyat dan bangsa West Papua. Dan Benny Wenda diakui dan dihormati sebagai Ketua resmi ULMWP.

Ita Wakhu Purom, Senin, 22 Juni 2020.

____________
Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota: Konferensi Gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota : Baptist World Alliance (BWA)
__________

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here