PEMERINTAH INDONESIA PANIK: PENGUASA INDONESIA MEMELIHARA RASISME, MEMPRODUKSI HOAX DAN MEMPROVOKASI ORANG ASLI PAPUA

0
401
Foto Gembala Dr. Socratez S. Yoman

Realitas

PEMERINTAH INDONESIA PANIK: PENGUASA INDONESIA MEMELIHARA RASISME, MEMPRODUKSI HOAX DAN MEMPROVOKASI ORANG ASLI PAPUA

Oleh Dr. Socratez S.Yoman,MA

Pertanyaan penulis ialah mengapa Indonesia panik? Apakah benar penguasa Indonesia memelihara rasisme, produksi hoax dan provokasi terhadap orang asli Papua untuk menciptakan konflik besar-besaran di West Papua dari Sorong-Merauke?

Analisa penulis bahwa penguasa Indonesia sedang panik. Karena, para penguasa Indonesia selalu menggampangkan masalah dengan mengandalkan kekuatan TNI-Polri, kekuatan finansial, kekuatan para diplomat, kekuatan media massa yang dikontrol negara dengan berita-berita hoax yang disajikan terus-menerus yang dapat mempengaruhi opini rakyat Indonesia dan kekuatan para peneliti serta akademisi.

Singkatnya ialah penguasa Indonesia gagal dalam diplomasi internasional di kawasan Negara-Negara Pasifik. Sementara United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) memenangkan diplomasi. Penguasa Indonesia juga gagal meyakinkan anggota Negara-Negara Afrika, Carabia dan Pasifik (ACP) dan lagi-lagi ULMWP didukung oleh 79 Negara anggota ACP pada 10 Desember 2019 di Nairobi, Kenya.

Sebelumnya, penguasa Indonesia tidak berhasil menggagalkan ULMWP menjadi Observer (Peninjau) dalam Grup anggota Negara-negara Melanesia (MSG) pada KTT MSG pada 26 Juli 2015 di Honiara Solomon Islands.

Kemenangan gemilang yang diraih oleh ULMWP di MSG, PIF dan ACP berdasarkan dengan beberapa alasan prinsip, yaitu: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sudah merumuskan 4 akar persoalan. (1)Kontroversi sejarah dan status politik integrasi Papua ke dalam wilayah Indonesia yang masih bermasalah; (2) Kekerasan dan pelanggaran berat HAM yang dilakukan negara selama 58 tahun; (3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang Papua di tanah sendiri; (4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat.

Ada beberapa siasat penguasa Indonesia membuat kepanikan dan provokasi orang asli Papua akibat kegagalan diplomasi internasional di tingkat kawasan MSG, PIF, ACP. Penulis mencatat siasat provokasi sebagai berikut..

1. Penangkapan Buchtar Tabuni (Deklarator dan Wakil Ketua II ULMWP), 17 Tahun. 2. Agus Kossay (Ketua Umum KNPB) 15 Tahun. 3. Steven Itlay (Ketua KNPB Timika) 15 Tahun. 4. Ales Gobay (Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa USTJ) 10 Tahun. 5. Fery Gombo (Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa UNCEN) 10 tahun. 6. Irwanus uropmabin (Mahasiswa) 5 Tahun. 7. Hengky Hilapok (Mahasiswa) 5 tahun.

Proses penangkapan tanpa membuktikan keterlibatan 7 orang, pemindahan dari West Papua ke Balikpapan, Kalimantan tanpa diketahui keluarga dan tuntutan dari pokok masalah rasisme ke makar dan tuntutan hukuman 17 tahun, 10 tahun dan 5 tahun adalah siasat penguasa untuk provokasi seluruh rakyat Papua.

2. Pada 18 September 2019, sebanyak 61 Tokoh dari Tabi dibawa ke Jakarta pertemuan dengan presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo dan meminta provinsi baru, provinsi Tabi. Tim ini menamakan diri orang-orang cinta damai dan disampaikan di RRI Jayapura pada 30 Agustus 2019 dan menyalahkan kelompok dari wilayah tertentu di West Papua. Ini siasat lain dari penguasa untuk provokasi dan mengadu-domba (devide et impera) antar orang asli Papua.

3. Isu pemekaran tiga provinsi: Papua Selatan, Papua Tengah, Pengungan Tengah yang dikembangkan oleh penguasa. Isu ini menimbulkan perbedaan pendapat yang tajam antar para elit Papua dengan rakyat West Papua yang menolak pemekaran.

2. Pemerintah Indonesia evaluasi Otonomi Khusus dan mempersiapkan draft Otsus jilid II tanpa melibatkan rakyat West Papua dan juga tidak melihat latar belakang sejarah lahirnya Otonomi Khusus tahun 2001.

3. Pertemuan tertutup 14 pemimpin Paguyuban dari West Papua dengan presiden RI, Ir. Joko Widodo pada 15 Oktober 2019. Seperti Dr. Manzur sampaikan: “Kita meminta kepada bapak presiden, bapak Joko Widodo, bahwa ke depan tidak ada lagi kerusuhan seperti ini di Papua. Soal menyampaikan aksi unjukrasa itu hak dan kewajiban rakyat dijamin oleh undang-undang, tapi kita mencegah korban seperti terjadi di Wamena dan Jayapura tidak ada lagi korban jiwa, di Papua dan Papua Barat.”

Paguyuban Sulawesi Selatan, Paguyuban Jawa-Madura, Paguyuban Kawanua juga mengusulkan pemekaran 7 wilayah adat Papua. Jurubicara Paguyuban warga pendatang menyatakan: “Kalau bagus itu bagi tujuh pemekaran sekalian, kalau satu-dua saja nanti iri” (Sumber, CNN Indonesia, 15 Oktober 2020).

4. Ada pembentukan Barisan Merah Putih dan Kelompok Nusantara yang menghadapi orang asli Papua. Para pelaku kriminal yang menewaskan orang asli Papua belum ditangkap dan diadili. Nama-nama korban tewas antara lain: Marselino Samon (15 tahun) pelajar SMP Kelas 3 pada 29 Agustus 2019; Evert Mofu (21 tahun), penjaga gudang kontainer pada 29 Agustus 2019; Maikel Kareth (21 tahun) mahasiswa Uncen pada 31 Agustus 2019; Oktovianus Mote (21 tahun) mahasiswa STIKOM Muhamadiah pada 30 Agustus 2019.

5. Pernyataan provokatif dari Ketua Lintas Paguyuban Nusantara Provinsi Papua, Saudara Haji JunaedibRahim. “Lintas Paguyuban Nusantara Provinsi Papua menyatakan sikap tegas menolak berbagai upaya untuk membebaskan tanpa syarat tujuh orang  tersangka otak kerusuhan dan pelaku  makar tahun 2019 yang saat ini sedang dalam proses hukum apabila akhirnya dinyatakan terbukti bersalah. Selain itu, Lintas  Paguyuban Nusantara meminta penegak hukum benar-benar membedakan istilah tahanan politik dengan perilaku kriminal, pembuat kerusuhan dan  pelaku makar.”

“Pada kesempatan konperensi pers  Lintas Paguyuban Nusantara yang bertemakan “Melawan Lupa” membeberkan kembali  serangkaian  peristiwa  kekerasan melawan hukum dan bertentangan dengan  hak asasi manusia yang terjadi antara lain pada 29 Agustus 2019 dimana terjadi penyerangan, pembakaran, pengusiran dan pembunuhan keji di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya. Pada 23 September 2019 terjadi peristiwa kekerasan di Ilaga, Kabupaten  Puncak dan pada 25 September terjadi  pembakaran pasar di Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang serta tragedi kemanusian lainnya.”

Pertanyaan yang perlu dijawab oleh Lintas Paguyuban Nusantara ialah Siapa yang sebenarnya merancang (design) berbagai kerusuhan di West Papua yang sudah diuraikan dengan baik oleh Ketua Lintas Paguyuban Nusantara Provinsi Papua, Saudara Haji Junaedi Rahim?

Para pendatang sebagai pemukim di Tanah West Papua perlu tahu dan sadar bahwa kesuruhan di Papua ini hal baru, cara baru, metode baru dan siasat baru bagi orang asli Papua. Karena, orang asli Papua sejak leluhur dan nenek moyang selalu jaga dan pelihara Tanah Papua sebagai rumah dan mama mereka dengan penuh keharmonisan dan kedamaian.

6. Penguasa menciptakan berita Hoax.
Sahabat-Sahabat yang terkasih, melalui narasi ini, saya menyampaikan tanggapan tentang pernyataan Kapolri di Metro TV Papua menanggapi demonstrasi damai di berbagai kota di Papua pada Agustus-September 2019 pada dasarnya menentang sikap RASISME yang terjadi pada 15-17 Agustus 2019 di Semarang, Malang dan Jogyakarta yang dilakukan oleh organisasi massa radikal seperti: Front Pembela Islam (FPI), Pemuda Pancasila (PP), Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI (FKPP) dan didukung oleh aparat keamanan.

Berita Hoax yang diproduksi penguasa melalui Kapolri yang disampaikan dalam upaya menggelapkan dan membelokkan akar persoalan RASISME sebagai berikut:

“Jadi apa yang terjadi saat ini dan di luar, itu semua yang disign (dirancang) oleh kelompok yang ada di sini. Dan itu saya kejar. Kita sudah tahu nama-namanya. Kami akan tegakkan hukum sama mereka. Karena sebagian mereka terus bermain seperti ini.

Ya, mengorbankan masyarakat ke depan berbenturan dan mereka-mereka bermain tangan bersih, tidak, kita tahu. Ini akan terus terjadi, kalau kita tidak akan bergerak keras, tegas, menegakkan hukum dengan cara-cara hukum pada mereka. Kami akan, tolong dicatat itu,teman-teman.

ULMWP dan KNPB bertanggungjawab atas insiden. Saya akan kejar mereka. Dan mereka juga produksi hoax-hoax itu.

Teman-teman wartawan di Papua faham. Benny Wenda main. Ya, mereka ini mau mengejar apa? Mengejar dalam rangka tanggal 9 September itu ada rapat Komisi HAM di Jenewa. Jadi bikin rusuh supaya ada suara.

Tanggal 9, tanggal 23, 24 September ada Sidang Majelis Umum PBB. Di situ nanti semua negara-negara bisa menyampaikan pandangan-pandangannya. Tapi tidak ada agenda mengenai Papua. Tapi sengaja bola dilempar.

Ada bebarapa unsur internal. Ya, beberapa, ada satu, dua negara didekati untuk supaya nanti angkat isu itu supaya bikin rusuh di sini.

Tapi kasihan, mengorbankan masyarakat. Nanti Tuhan yang membalasnya. Ya, ingat! Pembakaran, adanya korban, adanya meninggal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan yang Mahakuasa. Itu. Tujuannya itu. Tidak ada yang lain. Siapa yang bermain? Benny Wenda.”

7. Mulut dan tangan Paguyuban atau orang-orang pendatang sebagai pemukim ini dipinjam dan digunakan oleh Negara untuk melawan penduduk asli Papua. Karena, selama ini penguasa Negara dan aparat TNI-Polri ditekan oleh solidaritas dari berbagai negara menekan Indonesia supaya mempertanggungjawabkan pelanggaran berat HAM yang dilakukan Negara selama lima dekade lebih. Pada saat demonstrasi, pemerintah, terutama aparat keamanan TNI-Pori merampas semua alat-alat yang ditangan orang asli Papua, tetapi, sebaliknya orang-orang pendatang: Barisan Merah Putih, Paguyuban dan Milisi Nusantara dibiarkan membawa parang dan alat-alat tajam lain untuk menghadapi Orang Asli Papua yang sudah berada tangan kosong.

Jadi, petanyaan penulis ialah apakah orang-orang pendatang sebagai pemukim yang menamakan diri sebagai Paguyuban dan Barisan Merah Putih ini datang ke Tanah leluhur kami di West Papua untuk memperbaiki kehidupan ekonomi yang layak supaya keluarga dan anak cucu hidup dengan baik atau mau bergabung dengan TNI-Polri untuk menggannggu menyerang dan membunuh kami?

Dari uraian ini, penulis memberikan kesimpulan, bahwa penguasa Indonesia telah gagal diplomasi di negara-negara kawasan di MSG, PIF, ACP. Sepertinya penguasa Indonesia berada dalam keadaan panik. Karena ULMWP diterima dan didukung dari MSG, PIF dan ACP untuk memperjuangkan keadilan, perdamaian dan penyelesaian pelanggaran berat HAM yang dilakukan Negara selama 50 tahun lebih di West Papua serta penentuan nasib sendiri rakyat dan bangsa West Papua.

Karena ULMWP mendapat dukungan kuat dari negara-negara merdeka dan berdaulat yang terhimpun dalam MSG, PIF, ACP, maka pemerintah Indonesia tidak ada pilihan lain, salah satu jalan yang harus ditempuh ialah menciptakan kepanikan dan provokasi terhadap rakyat Papua, tujuannya untuk menciptakan konflik dalam skala besar dari Sorong-Merauke.

Bagi rakyat dan bangsa West Papua, dalam menghadapi tantangan ketidakadilan dan rasisme yang dilakukan Negara,TNI-Polri dan para Paguyuban atau pendatang sebagai pemukim ini harus dihadapi dengan jalan DAMAI. Tuhan Yesus mengajarkan kita semua. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).

Karena, rakyat Papua, lebih khusus orang asli West Papua punya hak untuk membela harkat dan martabat sebagai manusia. Kita tidak bisa membisu, diam dan takut ketika martabat kita diinjak-injak dengan perilaku rasisme yang sewenang-wenang. Rasisme harus dilawan. Kemanusiaan kita harus diperjuangkan. Keadilan dan kesamaan derajat harus diperjuangkan.

Mari, kita lawan ketidakadilan dan rasisme di Indonesia dengan jalan damai, cerdas dan bermartabat demi harmoni dan kedamaian untuk semua orang. Kita pasti menang karena kita berjuang bersama TUHAN dan bersama-sama dengan orang-orang beriman dan bernurani kemanusiaan serta berbudi luhur. Penguasa Indonesia, TNI-Polri, Kejaksaan/Pengadilan Indonesia, para Paguyuban belum meruntuhkan langit ke bumi, dan mereka juga belum mengganti bintang berubah menjadi bulan. Tidak ada yang ditakuti di bumi ini.

Kita jangan diprovokasi oleh orang-orang pemukim atau pendatang yang datang dengan misi memperbaiki taraf hidup ekonomi untuk istri dan anak cucu di atas Tanah Leluhur kami. Orang ini secara terang-terangan mendukung suburnya diskriminasi rasial, ketidakadilan dan berdansa-dansa, menari-nari di atas penderitaan umat Tuhan, tetesan darah dan cucuran air mata umat Tuhan di West Papua. Orang-orang ini tidak tahu terima kasih dan tidak menghargai orang asli Papua yang menerima mereka untuk hidup bersama di Tanah Melanesia ini.

Orang orang asli Papua perlu tahu bahwa diskriminasi ketidakdilan dan diskriminasi rasial ini terjadi karena pemerintah Indonesia ada kekuasaan. Seperti ada tertulis:

“….air mata orang-orang tertindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di pihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan” (Pengkhotbah 4:1).

‘Kalau engkau melihat dalam suatu daerah orang miskin ditindas dan dihukum serta keadilan diperkosa, janganlah heran akan perkara itu, karena pejabat tinggi yang satu mengawasi yang lain, begitu pula pejabat-pejabat-pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka” (Pengkhotbah 5:7).

Kutipan dua ayat firman Tuhan ini mengingatkan kita semua tentang realitas dan fakta yang dialami umat Tuhan di Tanah West Papua. Karena itu, marilah, kita bersama-sama mempelajari dan mengambil pelajaran penting tentang iman Daud kepada TUHAN dalam perang menghadapi raja Goliat yang angkuh dan lagi sombong.

Raja Filistin, Goliat datang dengan keangkuhan dan kesombongan menghadapi bangsa Israel. Goliat mempunyai pasukan dan pelengkapan perang yang dianggap sempurna. Orang Filistine itu berkata kepada Daud:

“Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?”. “…Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang.” ( 1 Sam. 17:43-44).

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu:

“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” (ay.45)

“Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhnu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah.” (ay.46).

” dan supaya segenap jemaat ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.” (ay.47).

Sebuah contoh nyata. Pada saat rakyat Afrika Selatan berjuang melawan penguasa Apartheid, ketidakadilan dan diskriminasi rasial, Archbishop Desmond Tutu ditanya wartawan.

Bagaimana organisasi Kristennya yang kecil dan memiliki tenaga serta dana yang minim, yakni Dewan Gereja Afrika, mampu mempertahankan suatu perjuangan tanpa kekerasan melawan ketidakadilan selama puluhan tahun?

Jawabnya: SALIB

Tutu melanjutkan: ” Alkitab menyampaikan seseorang untuk menyatakan bahwa Allah senantiasa berada dipihak yang lemah, yang tertindas, yang kecil, yang terhina, dan orang yang dianggap tidak penting serta diperlakukan tidak adil.

Oleh karena itulah, apapun yang terjadi, betapapun tangguhnya Indonesia dalam hukum, bidang militer ataupun bidang-bidang lain,yakinlah bahwa kemenangan di pihak orang-orang benar, orang-orang West Papua. Sekarang mungkin Indonesia berkuasa, namun ke depan Indonesia hanya tinggal dalam kenangan sejarah seperti kerajaan Romawi.

Doa dan harapan saya, pada saatnya atau suatu waktu, Tuhan memberkati Daud (bangsa West Papua) keluar sebagai pemenang tanpa senjata. Dan juga Tuhan menyadarkan Goliat (bangsa Indonesia) bahwa selama ini salah dan keliru.

“Engkau (Indonesia) mendatangi aku (Daud) dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku (Daud) mendatangi engkau (Indonesia) dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” (ay.45) ” … supaya segenap jemaat ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.” (ay.47).

Mari, kita percaya Tuhan Yesus Kristus dan laksanakan Firman-Nya dengan iman untuk mengalahkan kuasa dosa, kuasa Iblis dan kuasa raja Goliat Indonesia yang jahat, tidak adil dan sarat dengan diskriminasi rasial ini. Mari, kita berdiri seperti Daud untuk mengalahkah Goliat Indonesia dengan nama TUHAN Yesus Kristus. Mari, kita berdoa dan melangkah bersama Tuhan dan kuasa kebenaran-kebenaran dari Tuhan Yesus Kristus.

Anda Harus Memenangkan Pertandingan melawan RASISME dan KETIDAKADILAN ini dengan jalan DAMAI, DAMAI, DAMAI, DAN DAMAI. Karena, dalam DAMAI adalah kekuatan, ada solidaritas, ada banyak kawan, ada banyak sahabat, ada banyak teman. Ada banyak simpati dan dukungan. Karena, semua orang mau hidup dengan DAMAI. Kalau Anda mau keluar sebagai pemenang singkirkan kekerasan dan ketidakadilan dan berjuanglah dengan jalan sederhana, yaitu Jalan kekuatan DAMAI. Pasti Kuasa TUHAN menyertai Anda yang mencintai KEDAMAIAN dan KEADILAN.

Rakyat dan bangsa West Papua tidak berjuang sendiri. Tetapi, semangat dari “Black Lives Matter. West Papua Lives Matter” menjadi kekuatan kita untuk membela dan mempertahankan martabat kami sebagai manusia di atas Tanah leluhur kami.

Tuhan Yesus memberkati.

Ita Wakhu Purom, Jumat, 19 Juni 2020.

Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota: Konferensi Gereja Pasifik (PCC).
__________

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here