Mengapa Telinga Pemerintah Indonesia Menjadi Tuli Atas Suara Rakyat Papua

0
801
Photo Pribadi penulis. Demi keadilan dan perdamaian untuk Tanah Papua. (Ist: M. Yogi/MW)

Oleh M. Yogi

Pemahaman pemerintah Indonesia melalui aparat keamanan Tni/Polri dan rakyat indonesia pada umumnya tentang masalah papua untuk melihat selama ini memang tidak konsisten terhadap orang Papua. Pdt Elly Doirebo S, that’s, MM wakil ketua Sinode Am gereja injil di Tanah Papua menuturkan bahwa, pemerintah Indonesia harus membuka kacamata jakarta untuk melihat papua.

Dan Ia mengatakan juga, rakyat Papua harus juga memakai kacamata untuk melihat papua itu sendiri dengan tepat jika indonesia tidak memakai kacamata jakarta untuk melihat masalah Papua.” Selama ini memang terjadi dan berlangsung bahwa indonesia melihat masalah Papua dengan cara pandang jakarta itu sendiri bukan diinginkan oleh masyarakat Papua.

Pemerintah dan rakyat indonesia selalu menyatakan secara hukum bahwa, Papua adalah bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI, mengkhianat Negara akan ditumpas habiskan oleh kaum tertentu. Tetapi Indonesia tetap saja menggugat pendudukan oleh penjajahan pemerintah indonesia atas Tanah Papua melalui demonstrasi, diplomasi, dll.

Banyak kata komentar di kalangan media, pemerintah Indonesia dan aparat keamanan Indonesia jangan menipu dan jangan pura-pura kepada masyarakat Papua dengan alasan yang Ombilin, karena sebenarnya sudah tahu bahwa Indonesia telah gagal untuk melihat orang Papua dengan sejarah dengan berbeda di atas Tanah Rakyat Papua sendiri.

Suara kenabia disampaikan melalui uskup Dr. Desmon tutu, seorang uskup Gereja Angel dari Afrika Selatan dalam menyikapi keprihatinannya terhadap kelangsungan hidup dan masa depan penduduk Orang Asli Papua sebagai.

“Orang-Orang Papua’ telah dikhianati Hak-hak dasar mereka, termasuk hak dasar untuk menentukan nasib sendiri. Teriakan mereka untuk keadilan dan kebebasan ditelan jatuh pada telinga-telinga tuli di jakarta, saya akan bersama mereka dalam dosa saya tentang kebutuhan mereka,” katanya dalam tulisan.

Sedangkan uskup Dr. Sephania Can We Talk dari Namibia sejak berkunjung ke Papua, ia pernah mengatakan bahwa, “Selama ini saya berusaha untuk memahami dan mengerti tentang situasi umat Tuhan di Tanah Papua ini. Sekarang, Saya telah melihat langsung bahkan mengalami sendiri betapa beratnya penderitaan yang dialami oleh Orang Asli Papua (OAP) disini”.

Walaupun ada keprihatinan mendalam tentang situasi kemanusiaan dan ketidakadilan yang menakutkan saat itu dan sedang terus terjadi di tanah Papua Ini terhadap penduduk asli, pemerintah Indonesia dan aparat keamanan tidak mempunyai kepekaan hati nurani, sehingga sepertinya mereka sudah tuli dan buta.

 

Penulis : M Yogi
Editor : Boas/MW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here