Surat Terbuka: Tidak Ada Tanah Kosong di Lanny Jaya dan Penolakan Pembangunan Kodim Baru di Distrik Mokoni Kabupaten Lanny Jaya

0
417

 

Surat Terbuka:

Perihal:
1. Tidak Ada Tanah Kosong di Lanny Jaya; dan
2. Penolakan Pembangunan Kodim Baru di Distrik Mokoni-Kab. Lanny Jaya

Kepada Yang Terkasih,
1. Bupati Kabupaten Lanny Jaya; dan 2.Ketua dan Anggota DPR Kabupaten Lanny Jaya

Di TIOM.

Shalom!

TUHAN Allah berkata: ” Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku” (Imamat 25:23).

Bupati Lanny Jaya dan Ketua bersama Anggota DPR Lanny Jaya belajar kepada wakil bupati Timika.

Wakil bupati Mimika, Johanes Rettop menegaskan: “Tanpa hutan dan tanah orang Papua tidak bisa hidup, karena itu tanah dan hutan merupakan sumber kehidupan bagi orang Papua….Jangan kita hidup dari jual tanah,tapi bagaimana kita hidup dari mengolah tanah yang kita miliki” (SAPA Mimika, Jumat, 6 Maret 2020).

Bupati Lanny Jaya dan Ketua bersama anggota dengarkan suara kenabian Uskup Keuskupan Timika alm. Mgr. John Philipus Saklil, Pr, pernah menyatakan: “Rakyat Papua bisa hidup tanpa uang, tapi mereka tidak bisa hidup tanpa tanah.”

Bupati Lanny Jaya dan Ketua bersama anggota jangan mencabut rakyat Lanny Jaya dari AKAR kehidupan mereka. Lebih khusus suku Morip-Tabuni hidup di Gininggame, Popome dan Gume selama berabad-abad sebagai tanah milik dan ahli waris mereka.

Sekarang ada nama baru Distrik Mokoni, nama yang membawa musibah dan malapetaka. Nama yang merusak masyarakat adat dan menghancurkan masa depan anak cucu ke depan dengan mau merampok tanah rakyat atas pembangunan.

Karena, FILOSOFI HIDUP ORANG LANI, MORIP-TABUNI di MOKONI, TANAH ADALAH KEHIDUPAN KAMI. Tanah sebagai kekayaan dan warisan sangat berharga dalam hidup orang Lani. Tanah sebagai sumber hidup orang Lani. Tanah sebagai Mama orang Lani. Tanah sebagai roh orang Lani. Tanah sebagai investasi dan modal hidup anak dan cucu Orang Lani. Karena itu, tidak ada alasan untuk jual tanah atau serahkan tanah kepada siapapun, alasan apapun dan kepentingan apapun.

Menjual tanah berarti kita menyerahkan dan mengantungkan hidup kita di tangan orang-orang pendatang. Menjual tanah betarti kita menanam kemiskinan dan kemelaratan seumur hidup. Menjual tanah berarti kita menghancurkan masa depan anak dan cucu kami. Menjual tanah berarti kita membunuh masa depan anak dan cucu kami.

Bupati Lanny Jaya dan Ketua DPR bersama anggota JANGAN melawan Firman TUHAN ini. Dengarlah!

TUHAN Allah sampaikan kepada Adam di Taman Eden dan kepada suku Lani dan juga Morip-Tabuni, bahwa Adam, orang Lani dan Morip-Tabuni harus memelihara dan mengusahakan taman ini/tanah ini BUKAN jual kepada orang lain atau serahkan kepada TNI-Polri.

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” ( Kejadian 2:15).

Yang terhormat bupati dan Ketua DPR bersama anggota, Anda semua adalah orang-orang asli Papua suku Lani. Anda tahu, bahwa biasanya terjadi perang besar-besaran karena tiga substansi masalah, yaitu: TANAH, PEREMPUAN dan BABI.

Akhir dari surat ini, ada dua catatan penting, yaitu:

1. Saya mau sampaikan pesan penting yang disampaikan bapak Regi Murip pada 18 Maret 2020 di Mokoni di depan Dandim 1702 Wamena, Kapolres Lanny Jaya, Sekda Lanny Jaya.

Regi Murip menawarkan solusi kepada bupati Lanny Jaya dan Dandim 1702 sebagai berikut:

“Kalau bupati dan Dandim mau bangun Kodim baru di distrik Mokoni, tolong carikan lokasi tanah yang sama seperti tanah kami ini. Tolong buatkan rumah, kebun untuk rakyat yang ada di Gereja Guninggame, Kunia, dan Guneri dan pindahkan kami semua dan kamu ambil tanah ini. Kalau tidak ada, jangan cabut akar kehidupan kami dan juga jangan pisahkan kami dengan ibu/mama kami. Karena leluhur dan nenek moyang kami dapat wariskan kepada kami dan anak cucu sebagai kekayaan SANGAT berharga. Silahkan cari tempat lain. Di sini bukan tanah kosong. Di sini ada pemilik dan penghuni. Ini tanah komunal bukan tanah perorangan. JANGAN pisahkan kami dari MAMA/IBU kami.”

2. Kesalahan sangat fatal dilakukan bupati Lanny Jaya

Pak bupati dan Ketua DPR bersama anggotanya mau ciptakan konflik horizontal antar rakyat yang tolak dan menerima pembangunan markas Kodim baru di Mokoni. Sudah ada bara api, yaitu yang pro dan kontra. Tetapi, dengan gampang saja, bupati perintahkan Dandim 1702 untuk mengukur tanah milik rakyat.

Pak sekda Lanny Jaya, Letren Yigibalom mengatakan: “Kami datang bukan urus masalah tapi kami diperintahkan bupati untuk mengukur tanah.”

Ingat! Jangan lupa! Jangan mata buta. Jangan tuli. Dua mata untuk melihat keadaan rakyat. Dua telinga untuk mendegar suara rakyat. Jangan seperti tidak punya akal sehat, mata buta dan telinga tuli.

Di Guninggame, di Popome, di Gume, di Guneri, tidak ada tanah milik Yigibalom-Kogoya atau Yigibalom-Wanimbo dan juga tidak ada tanah pemerintah. Yang ada di sana, Tanah milik suku Morip-Tabuni selama berabad-abad dari turun-temurun.

Yang terkasih bupati dan Ketua DPR bersama anggota, tolong ingat Firman Tuhan dan perintah-Nya.

Dalam perintah TUHAN sangat jelas, yaitu taman Eden Papua ini bukan untuk dijual, bukan untuk Transmigrasi, bukan untuk bangun basis TNI/Polri dan bangunan lain-lain. Taman Eden di Papua diberikan TUHAN kepada Orang Asli Papua untuk USAHAKAN dan MEMELIHARA.

TUHAN memberikan kuasa, mandat dan tanggungjawab kepada kita supaya memelihara & mengusahakan: bangun rumah, buat kebun, buat kandang ternak babi, dll.

Kutuk, malapetaka, murka dari TUHAN Allah turun-temurun kepada orang-orang yang melanggar Firman TUHAN & dan jual Tanah.

Karena bagi orang yang menjual Tanah adalah orang yang tidak berhikmat dan tidak berakal budi. Orang yang menjual Tanah adalah orang tidak berilmu dan bodoh. Orang yang menjual Tanah adalah yang menciptakan kemiskinan pemanen untuk anak dan cucunya.

Orang menjual Tanah adalah orang yang menjadikan anak dan cucunya menjadi budak-budak dan pengemis abadi di atas tanah leluhur mereka. Orang yang menjual Tanah adalah orang yang tidak menghormati TUHAN dan leluhur/nenek moyangnya.

Orang yang menjual tanah mengantungkan hidup dan harapan semu/sia-sia kepada orang-orang pendatang. Orang yang menjual tanah adalah orang-orang yang menjual tulang belulang leluhur dan nenek moyangnya. Terkutuklah mereka yang menjual tanah.

Tanah adalah mama/ibu kita. Tanah adalah hidup kita. Tanah adalah kekayaan sangat berharga bagi anak dan cucu kita. Tanah adalah investasi dan tabungan dan kekayaan masa depan anak dan cucu kita.

Pesan saya kepada semua orang Lani yang sudah punya pendidikan. Kamu semua dan masing menjadi pagar untuk melindungi dan menjaga rakyat dan tanah adat dan milik mereka masing-masing.

“Rakyat Papua dan orang Lani bisa hidup tanpa uang, tapi mereka tidak bisa hidup tanpa tanah.”

“TIDAK ADA TANAH KOSONG DI LANNY JAYA.”

Doa dan harapan saya melalui surat singkat ini mendapat pencerahan bagi yang membacanya.

Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.

Ita Wakhu Purom, Sabtu, 21 Maret 2020

Badan Pelayan Pusat
Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua,

Presiden,
Dr. Socratez S.Yoman, MA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here