Paniai Berdarah, LMA Desak Pemerintah Belum Tanggapi 4 Siswa Korban Penembakan

0
1262

Photo Ilustrasi Siswa Penembakan-(Boas/MW)

MAJALAHWEKO, NABIRE – Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Paniai Yohanes Yogi meminta keprihatinan atas jatuhnya korban tewas akibat Penembakan kepada 4 siswa pada tahun 2014 lalu di Paniai, (08/12/2014) lima tahun lalu. Dia pun mendesak pemerintah segera menangani dan mentuntas tragedi penembakan Paniai berdarah itu.

“Memesankan kepada semua pihak, khususnya pemangku amanat baik pemerintah maupun wakil rakyat, agar segera tuntaskan dengan penuh kesadaran akan kewajiban dan tanggung jawab,” kata Yogi lewat telepon Saluler, Sabtu, (07/12/2019) kepada Media ini.

Unjuk rasa pada saat itu bukan berujung untuk ditembaki. Massa hanya meminta untuk fasilitas umum. Massa juga saat itu datang untuk meminta keterangan, bukan mereka datang untuk korbam. Namun hingga saat ini 4 orang korban belum tuntas.

Yogi mengatakan, sekelompok warga datangi di kantor Polsek Paniai Timur untuk meminta keterangan atas kelakuan TNI/POLRI kepada anak muda kelurahan Ipakiye, Distrik Paniai Timur yang telah dipukul hingga dirusakan Posko Natal. Insiden saat itu memicu oleh Tni/Polri karena mereka memukul anak-anak yang ada dalam posko Natal di lokasi Ipakiye, dan saat itu memprotes ketidakadilan di Polsek tapi warga itu jadi korban Penembakan.

Selain, Ketika dihubungi Mantan DPRD Benny Yogi, dia mengatakan gerakan tersebut seharusnya bisa diatasi dan diantisipasi sejak awal dengan menindak cepat dan tegas insiden di Ipakiye. Dia pun menyesalkan respons warga, karena 4 siswa korban tak selasaikan oleh penegakan hukum yang dinilainya lamban dan tidak adil ini.

Menurut Benny, negara sama saja tak hadir membela rakyat jika kondisi tersebut terus berlangsung hingga 4 orang korban tak tuntas. Negara juga gagal menjalankan amanat konstitusi, serta berperilaku tidak adil menghadapi Penembakan unjuk rasa yang sebenarnya dijamin dalam demokrasi.

“Pemerintah terjebak ke dalam sikap otoriter dan represif yang hanya akan mengundang perlawanan rakyat yang tidak semestinya,” kata dia.

Ditambahkan Yohanes Yogi itu bahwa, berpandangan negara harus menghindari sikap otoriter dan harus tuntaskan Penembakan itu. Jangan Negara merasa benar sehingga merasa berhak bertindak represif terhadap warganya, atau membiarkan warganya saling bertikai di lapangan.

“Hindari perasaan benar sendiri bahwa negara boleh dan bisa berbuat apa saja, baik ‘membunuh rakyatnya’ atau ‘membiarkan rakyatnya dibunuh oleh sesama. Namun seharusnya harus tanggung jawab, kami tahu bahwa negara Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa’,” pungkas Yohanes Yogi Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) di Kabupaten Paniai. (Yobo/Pog). 

Pewarta   :  Boas Yoni M. Yogi
Editor       :  –

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here