Saya Orang Lani Bukan Orang Indonesia

0
70

MAJALAHWEKO, JAYAPURA- Oleh Ap Ndumma Nagawan Owaganak (Dr. Socratez S.Yoman). “Saya Orang Lani Bukan Orang indonesia”

1. PENDAHULUAN

Jangan memaksa saya. Jangan memaksa saya menjadi seperti orang lain. Jangan memaksa saya percaya ideologi orang asing. Jangan memaksa saya percaya pada sejarah orang lain. Jangan memaksa saya untuk mengikuti gaya hidup orang lain. Jangan memaksa saya untuk mengikuti norma-norma hidup orang asing. Jangan memaksa saya untuk menerima, mengakui dan menghormati pada pahlawan orang lain. Jangan memaksa saya untuk menyembah pada simbol-simbol bangsa asing. Jangan paksa saya untuk tunduk pada otoritas orang asing.

KARENA: “SAYA ORANG LANI. SAYA AP NDUMMA NAGAWAN OWAGANAK. Saya Ap Nggok. Saya Ap Mage. Saya Ap Eginwarak. Saya Ap Nawerak/Nawiwarak. Saya Ap Nawiwunde. An Ap Nggirulek.”

 

Apa artinya ini semua? Saya orang berdaulat sejak dulu. Saya orang merdeka sejak dulu. Saya orang independen sejak dulu. Saya orang otonom sejak dulu. Saya orang mempunyai kuasa atas hidup, tanah dan rakyat serta bangsa saya sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Siapa yang mengganggu kami terus menerus ini? Siapa yang mengusik kami terus menerus ini? Siapa yang merendahkan dan meremehkan kedaulatan dan martabat kami ini?

Tulisan saya ini merupakan protes keras saya kepada penguasa asing Indonesia yang menduduki, menjajah, menindas, membantai bangsa saya dan juga merampok, menjarah kekayaan sumber daya alam bangsa saya selama 58 tahun sejak tahun 1961.

Penguasa Indonesia, aparat keamanan TNI-Polri dan seluruh rakyat Indonesia dimana saja Anda berada, termasuk yang berada di atas Tanah Leluhur kami di Tanah Melanesia, West Papua. Selama ini Anda semua salah menilai kami dan juga berdosa memperlakukan kami seperti hewan dan binatang buruan. Anda merendahkan martabat kami. Anda semua tidak sadar bahwa Anda semua bangsa kolonial yang merampas dan menghancurkan kedaulatan dan kemerdekaan atas hidup dan tanah leluhur kami.

 

2. SAYA DARI BANGSA YANG MERDEKA DAN BERDAULAT PENUH SEBELUM INDONESIA MERDEKA PADA 17 AGUSTUS 1945

Suku Lani yang menggunakan bahasa Lani adalah suku terbesar di Papua, yang hidup, tinggal/mendiami dan bermukim berabad-abad di Pegunungan West Papua di bagian Barat dari Lembah Balim. Wilayah yang didiami pemilik dan pengguna bahasa Lani meliputi: Piramit, Makki, Tiom, Kelila, Bokondini, Karubaga, Mamit, Kanggime, Ilu, Mulia, Nduga, Kuyawagi, Sinak dan Ilaga.

Kata “Lani” akan memiliki arti yang jelas, lebih dalam dan luas, jika ditambah dengan kata “Ap” berarti menjadi Ap Lani yang mengandung makna, yaitu: “Orang-orang Otonom, mandiri, independen dan berdaulat penuh.”

Dalam buku: Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri” (Yoman, 2010, hal. 92) penulis menjelaskan sebagai berikut:

Kata Ap Lani artinya: ” orang-orang independen, orang-orang yang memiliki otonomi luas, orang-orang yang merdeka, yang tidak diatur oleh siapapun. Mereka adalah orang-orang yang selalu hidup dalam kesadaran tinggi bahwa mereka memiliki kehidupan, mereka mempunyai bahasa, mereka mempunyai sejarah, mereka mempunyai tanah, mereka mempunyai gunung, mereka mempunyai hutan, mereka mempunyai sungai, mereka mempunyai dusun yang jelas, mereka mempunyai garis keturunan yang jelas, mereka mempunyai kepercayaan yang jelas, mereka mempunyai kemampuan untuk mengatur, dan mengurus apa saja, mereka tidak pernah pindah-pindah tempat, mereka hidup tertib dan teratur, mereka mempunyai segala-galanya.”

 

Seperti Pastor Frans Lieshout, OFM mengakui:

“Saya sendiripun belajar banyak dari manusia Balim yang begitu manusiawi. Saya masih mengingat masyarakat Balim seperti kami alami waktu pertama datang di daerah ini. Kami diterima dengan baik dan ramah, tetapi mereka tidak memerlukan sesuatu dari kami, karena mereka sudah memiliki segala sesuatu yang mereka butuhkan itu. Mereka nampaknya sehat dan bahagia, …Kami menjadi kagum waktu melihat bagaimana masyarakat Balim hidup dalam harmoni…dan semangat kebersamaan dan persatuan…saling bersalaman dalam acara suka dan duka…” ( Sumber: Kebudayaan Suku Hubula Lembah Balim-Papua, 2019, hal. 85-86).

Sumber ini dikutip pandangan seorang misionaris yang hidup lama dengan orang gunung, khusus orang Balim. Tetapi apa yang disampaikam Pastor Frans sudah merupakan representasi nilai luhur dan ilahi dalam peradaban hidup orang-orang Lani juga.

3. Orang Lani dan Perang

Dalam perang orang Lani ada norma-norma yang harus ditaati oleh kedua kelompok yang bertikai atau berperang.

Dilarang membunuh anak-anak. Dilarang membunuh perempuan. Dilarang membunuh orang tua dan juga orang lumpuh. Dilarang membunuh pemimpin. Dilarang mengambil mengambil barang-barang di medan perang sebagai barang jarahan. Dilarang memperkosa perempuan di medan perang.

Membunuh musuh harus dengan alasan yang jelas. Jangan membunuh orang tanpa dasar dan alasan yang jelas kuat. Dalam.membunuh musuh jangan hancurkan muka, kepala, jangan potong leher, potong kaki dan tangan manusia yang dibunuh. Jangan keluarkan isi perut orang yang dibunuh. Jangan membunuh orang dari bagian belakang. Manusia dibunuh dibagian dada/lambung.

Setelah manusia dibunuh mayatnya dilarang keras buang dijurang. Dilarang disembunyikan ditempat tersembunyi. Orang yang dibunuh dilarang dibuat telanjang. Dilarang meletakkan mayatnya terlentang. Mayat orang yang dibunuh diatur posisi tidur menyamping kanan atau kiri, tetapi dilarang biarkan terlentang muka ke arah langit atau muka ke arah tanah.

Setelah dibunuh pihak pembunuh berkwajiban sampaikan informasi kepada keluarga korban. Supaya keluarga korban datang mengambil jenazah dan berkabung dan mengabukannya (membakarnya).

Akibat dari melanggar norma-norma perang tadi, para atau pihak pelaku mengalami musibah kutuk dan murka turun-temurun. Keturunan mereka tidak pernah selamat karena darah orang yang dibunuh itu menentut balasan.

Biasanya, musibah dan malapetaka itu berhenti ketika para pelaku kejahatan mengaku bersalah, minta maaf dan minta pengampunan dari keluarga korban.

 

Dilarang membunuh dan wajib lindungi pemimpin kedua pihak yang sedang berperang dan bermusuhan karena pemimpin adalah simbol pelindung dan perdamaian. Kalau pemimpin dibunuh berarti kehancuran dan malapetaka bagi rakyat kedua belah pihak yang sedang berperang.

Keyakinan, nilai luhur dan ilahi orang Lani bahwa pemimpin adalah NDUMMA sebagai pemegang kebenaran, keadilan, kasih, kejujuran, pengharapan, pembawa angin sejuk, kenyamanan, ketenangan dan harmoni hidup. Karena itu, pemimpin sebagai Ndumma harus dilindungi, dijaga dan dihormati. Kalau orang menggamggu Ndumma berarti mengganggu seluruh penduduk orang Lani.

 

Kedua belah pihak juga berdamai dengan cara yang unik dan bersahabat, walaupun bermusuhan. Karena pada dasarnya orang-orang Papua pada umumnya dan orang Lani lebih khusus, orang-orang paling jujur, tulus, tidak berpura-pura dan munafik. Mereka orang-orang mencintai KEDAMAIAN dan PERSAUDARAAN. Mereka berdamai dengan makan bersama dengan menyembelih beberapa ekor babi. Mereka saling bertukaran ternak babi yang mereka miliki. Adapun daun pisang yang diatasnya diletakkan daun ubi adalah simbol perdamaian antar orang Lani yang sedang berperang. Orang-orang Lani adalah bangsa Melanesia yang sangat unik ada di planet ini. Aku bangga karena aku orang Lani, aku orang gunung, aku orang Papua, aku orang Melanesia. Aku bukan orang Indonesia dan saya bukan bangsa Indonesia.

 

Harapan penulis supaya bagian topik ini menyadarkan orang-orang yang menganggap dan mengaku dirinya manusia beradab tapi perilaku tidak beradab dan biadab selama ini terhadap rakyat dan bangsa West Papua.

4. Orang Lani dan Kreatifitasnya

Contoh lain ialah orang Lani membangun dan membuat pagar kebun dan honai/rumah dengan bahan-bahan bangunan yang berkualitas baik. Kayu dan tali biasanya bahan-bahan khusus yang kuat supaya pagar itu berdiri kokoh untuk melindungi rumah dan juga kebun.

Orang Lani juga berkebun secara teratur di tanah yang baik dan subur untuk menanam ubi-ubian dan sayur-sayuran.

Dr. George Junus Aditjondro mengakui: “…para petani di Lembah Baliem misalnya, memiliki budaya pertanian ubi-ubian yang tergolong paling canggih di dunia, hasil inovasi dan adaptasi selama 400 tahun tanpa bantuan sepotong logam” (Cahaya Bintang Kejora, 2000, hal. 50).

Suku Lani juga dengan kreatif menciptakan api. Suku Lani dengan cerdas dan inovatif membuat jembatan gantung permanen. Para wanita Lani juga dengan keahlian dan kepandaian membuat noken untuk membesarkan anak-anak dan juga mengisi bahan makanan dan kebutuhan lain.

 

Yang jelas dan pasti, suku Lani ialah bangsa yang bedaulat penuh dari turun-temurun dan tidak pernah diduduki dan diatur oleh suku lain. Tidak ada orang asing yang mengajarkan untuk melakukan dan mengerjakan yang sudah disebutkan tadi. Suku Lani adalah bangsa mempunyai kehidupan dan mempunyai segala-galanya.

Penulis dengan jujur sampaikan bahwa tulisan ini tidak sempurna. Tapi, lebih baik tulis yang tidak sempurna daripada tidak berbuat apa-apa untuk melindungi bangsaku yang dianggap tidak bermartabat dan tidak berbudaya oleh para kolonial Indonesia yang RASIS yang menduduki, menjajah dan menindas bangsaku atas nama NKRI.

Sudah saatnya nilai-nilai luhur dan ilahi yang dimatikan itu dihidupkan kembali. Dengan tepat Pastor Frans Leishout mengatakan: ” Pagar sudah rusak. Honai sudah hancur. Noken sudah rabik. Perahu sudah bocor.” Artinya semua nilai-nilai luhur budaya warisan leluhur yang merupakan bendungan hidup orang Asli Melanesia di Papua sudah dihancurkan secara sistematis oleh penguasa kolonial Indonesia selama 58 tahun sejak tahun 1961.

Doa dan harapan saya, artikel ini menyadarkan rakyat dan bangsa West Papua dari Sorong-Merauke yang diduduki dan dijajah bangsa kolonial Firaun dan Goliat moderen Indonesia. Sudah saatnya untuk berkata JUJUR & BENAR.

Ita Wakhu Purom, Minggu, 17 November 2019

Editor: Pianus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here