Review Buku “Mereka yang Melayani dengan Kasih”

0
118
Buku Mereka yang Melayani dengan Kasih

Judul : Mereka yang Melayani dengan Kasih

Penulis : Dr. Socratez Sofyan Yoman

Editor : Rhoma

Penerbit : Quantum

Tahun Terbit : Cetakan pertama, Mei 2017

Ketebalan : viii + 252 halaman

Dimensi : 14 cm x 21 cm

ISBN  : 978 – 602 – 60475 – 6 – 4

*A. Pendahuluan*

Buku ini dibuka dengan kata pengantar oleh penulis yang berisi penjelasan alasan buku ditulis. Buku ini mengabadikan sejarah lahirnya Gereja Baptis di Tanah Papua hingga pertumbuhan gereja dari masa para misionaris hingga saat ini.

Pemilihan judul:  “Mereka yang Melayani dengan Kasih” didasarkan pada dinamika pertumbuhan Gereja Baptis itu sendiri yang dipenuhi dengan orang – orang yang berkomitmen penuh pada pekerjaan Tuhan. Untuk mengenang karya dan pelayanan mereka, buku ini diberikan judul : “Mereka Yang Melayani Dengan Kasih”.

Demikian kalimat penutup penulis dalam mengakhiri Kata Pengantar. Buku ini terdiri dari 8 bab di mana masing – masing bab mengisahkan tentang tokoh – tokoh pendiri Gereja Baptis Papua.

Seperti kata Romo Mangunwijaya, tokoh sejarah dan pahlawan sejati harus kita temukan kembali diantara kaum rakyat biasa yang sehari-hari, yang barangkali kecil dalam harta maupun kuasa, namun besar dalam kesetiaanya demi kehidupan.

Buku ini membangkitkan kembali tokoh – tokoh pelaku sejarah dalam perkembangan Gereja Baptis Papua. Mereka adalah orang – orang biasa yang Tuhan pakai untuk mendobrak dan mengukir sejarah baru.

Baca Juga: Surat Protes Terbuka Kedua Kepada Pemerintah Republik Indonesia tentang Pemekaran Provinsi-Provinsi Boneka Indonesia di Tanahnya Orang Melanesia di West Papua

*B. Tokoh-Tokoh Penting Gereja Baptis Papua*

*1. Ketulusan dan Kegigihan Charles Craig*

Bab pertama mengisahkan tentang Charles Craig yang merupakan utusan Injil misi dari Australian Baptist Missionary Society (ABMS). Kisah Charles Craig ditulis secara detail dari kelahiran, pernikahan, pertobatan, panggilan pelayanan, hingga kegiatan misi yang dikerjakan, khususnya di wilayah Papua Barat.

Kesan kuat yang dimunculkan penulis tentang Charles Craig adalah kegigihan dan ketulusannya dalam menolong dan mempersiapkan orang – orang suku Lani menuju kemandirian gereja. Kegigihannya terlihat dari ketahanan terhadap medan yang berat pada masa itu dalam mengerjakan pelayanan misi dan pergumulan tersirat tentang kehidupan keluarga di ladang misi.

Pada 4 Januari 1957, Charles terbang dari Sentani ke Tiom, sedangkan keluarganya baru menyusul 13 hari kemudian.  …Pamela dan kedua anak mereka yang masih kecil baru menyusul ke Tiom pada 17 Januari 1957_. (hlm. 6)

Penegasan penulis pada kalimat kedua anak mereka yang masih kecil memberi gambaran jelas bahwa tidak mudah membawa isteri dan anak, apalagi masih kecil pada medan yang begitu sulit. Jelas ini menunjukkan kegigihan dari Charles Craig dan keluarga. Kegigihan Charles Craig yang dijabarkan penulis juga dibenarkan oleh Don Everts. Dalam bukunya Go and Do. Secara gambling dia mengatakan “…mereka (para misionaris) mengingatkan saya bahwa Yesus tidak hanya Juru Selamat saya yang kudus, tetapi juga Tuhan saya yang GIGIH).

Baca Juga: Orang Asli Papua tidak Saling Mendukung Lebih Jahat dari Senjata

Ketulusan misionaris asal Selandia Baru ini terlihat dari beragam usaha yang dilakukan untuk menolong orang – orang Suku Lani memahami Injil. Salah satunya membuka sekolah buta huruf serta sekolah Alkitab Bahasa Lani. Hal ini dilakukan dengan tujuan membangun manusia (orang Lani) secara menyeluruh tanpa meniadakan jati diri suku Lani. Segala usaha tersebut dilakukan dengan pendekatan bahasa, budaya, dan kearifan lokal yang dimiliki suku setempat.

Pendekatan ¬People Oriented yang digunakan Charles Craig dapat dibilang berhasil. 9 tahun setelah beliau menetap dan hidup bersama orang-orang suku Lani, muncullah ketua sinode Gereja Baptis Papua yang pertama, Garetuan Kogoya yang dibahas pada bab kedua.

*2. Injil yang Mengubahkan (Garetuan Kogoya dan Wurubanggup Kogoya)*

Geretuans Kogoya menjadi Ketua sinode Gereja Baptis Papua pertama yang dipilih pada konferensi pertama pula di Yaneme, Makki, Jayawijaya ( sekarang kab. Lanny Jaya)  pada tanggal 13 – 14 Desember 1966.

Sedangkan Wurubanggup Kogoya adalah ketua sinode kedua Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua yang terpilih pada konferensi di Kulu – Kulu.

Kehidupan Geretuan dan Wurubanggup Kogoya dibahas secara berurutan dalam bab dua dan bab tiga secara detail. Kelahiran, latar bekakang keluarga, kehidupan sebelum bertobat, proses pertobatan, panggilan pelayanan, dipilih sebagai ketua sinode pertama, kiprah pelayanan, hingga akhir hidup.

Kehidupan sebelum bertobat dan proses pertobatan sepertinya menjadi headline dari dua tokoh ini. Semuanya dibahas secara apik dan dramatis oleh penulis melalui goresan kalimat sederhana.

Baca Juga: George saa: Akar Rumput Orang Papua tidak Minta Pemekaran lalu Kenapa Negara atau Elit Papua mau Paksakan?

Adapun Geretuans dan Wurubanggup Kogoya merupakan petarung handal dan suka berperang sebelum bertobat. Keduanya menjalani kehidupan sebagai laki – laki suku Lani pada umumnya, seperti rambutnya panjang, diminyaki dengan gemuk babi dicampur arang. Perjumpaan keduanya dengan Injil mengubah semuanya. Proses pertobatan keduanya yang dramatis membuat mereka tunduk pada kuasa Injil dan memberi diri bagi pekerjaan Tuhan. Injil itu kekuatan Allah. Injil itu mengubahkan.

*3. Daya Juang  yang Tinggi  dalam Belajar ( Lawortaganit Kogoya dan Mililuk Kogoya)*

Lawortaganit Kogoya merupakan ketua sinode gereja baptis Papua ketiga sedangkan Mililuk Kogoya merupakan ketua sinode Gereja Baptis Papua keempat. Keduanya memiliki kemiripan dalam kisah pertobatan, yaitu sama – sama belajar langsung dari para misionaris.

Kerinduan untuk belajar dan terlibat langsung dalam kegiatan – kegiatan yang dilakukan para misionaris menjadi awal pertobatan dari keduanya. Mililuk Kogoya bahkan menjadi pembantu di rumah Charles Craig agar dapat belajar sesuatu dari misionaris tersebut. Ia menerima dan menjalani dengan kerelaan hati. Demikian penulis menggambarkan kesediaan Mililuk untuk tinggal bersama Charles Craig. Sedangkan Lawortaganit membantu misionaris membuat lapangan terbang.

Kesempatan belajar selalu dimanfaatkan kedua tokoh ini dengan baik. Daya juang mereka dalam belajar harus menjadi panutan bagi seluruh anak – anak Papua.

Baca Juga: Otsus Akan Berakhir Tinggal Satu Tahun Lagi, Apakah Kita Sudah Siap?

  1. Warna Baru dalam Kepemimpinan Gereja Baptis Papua (Pdt. Joseph K. Karetji)*

Karetji merupakan satu – satunya orang non Papua yang pernah memimpin Gereja Baptis Papua. Beliau adalah ketua sinode Gereja Baptis Papua kelima. Kepemimpinan beliau terbilang cukup lama, 15 tahun. Banyak terobosan yang beliau lakukan, diantaranya memindahkan kantor Pusat Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Irian Jaya dari pedalaman Tiom ke Jayapura, mendaftarkan Gereja Baptis Irian Jaya ke Departemen Agama RI, dan mendirikan STT Baptis Irian Jaya. Meskipun ada beberapa idenya yang ditentang oleh sebagian orang, tetapi kehadiran Joseph Karetji ikut memberi kemajuan bagi gereja Baptis di tanah Papua.

*5. Seorang Pemimpin yang Rendah Hati (Andreas Yanengga)*

Kisah Andreas Yanengga, ketua sinode keenam Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua memiliki catatan yang sangat detail dari penulis. Cerita hidup Andreas Yanengga yang disajikan secara detail ini menunjukkan ikatan batin yang kuat antara penulis (Socratez Sofyan Yoman) dan Andreas Yanengga.

Dalam buku riwayat hidupnya, Andreas Yanengga menulis “Saya berterima kasih kepada Tuhan, walaupun saya dibilang pemimpin bodoh tetapi dibalik kepemimpinan saya, Tuhan telah mengorbitkan pemimpin besar seperti Pak Socratez Sofyan Yoman”.

Andreas Yanengga menjadi ketua sinode Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua selama tiga periode. Dalam menjalankan tanggungjawabnya sebagai pimpinan umum Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papus, Andreas Yanengga selalu ditemani oleh Socratez Sofyan Yoman. Beliau tak malu jika dirinya dikoreksi oleh Socratez dalam hal berbahasa Indonesia.

Justru dalam sebuah kesempatan, beliau memberikan pengakuan mengejutkan “ Socratez Sofyan Yoman adalah guru saya”. Kerendahan hati yang dimiliki Andreas Yanengga untuk belajar dari orang lain, siapupun itu, memang sudah terpupuk sejak masih kecil. Tidak mudah menemukan seorang pemimpin besar dengan kerendahan hati yang begitu dalam.

Baca Juga: Banyak Kunjungan tetapi tidak Menyentuh dan Menyelesaikan akar Persoalan Papua

*6.  Merobek Kebisuan Sejarah di Tanah Papua Barat (Socratez Sofyan Yoman)*

Bab delapan menceritakan estafet kepemimpinan berikutnya, dari Andreas Yanengga ke Socratez Sofyan Yoman. Socratez dikenal sebagai pemimpin yang tegas terkesan keras, dan tidak kompromi dengan yang tidak benar, tidak pernah takut kepada siapapun kalau sudah berdiri  pada posisi yang benar dan tokoh apa adanya.

Bab ini merupakan sebuah auto biografi yang ditulis dengan menggunakan kata ganti orang pertama tunggal. Karena bab ini merupakan sebuah auto biografi, setiap alur ceritanya terkesan lebih hidup. Perasaan pembaca dapat dikawinkan dengan setiap permainan kalimat yang digunakan penulis. Selain itu, analisa yang dalam dari setiap peristiwa juga digoreskan penulis dalam tiap lembar dengan sangat apik dan terstuktur.

Bab 8 merupakan kunci penting dalam membuka semua kebisuan sejarah yang terjadi di tanah Papua Barat. Pada masa kepemimpinan Socratez Sofyan Yoman, Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua secara konsisten menyuarakan ketidakadilan yang terjadi di tanah Papua oleh pemerintah Indonesia. Jika pada tokoh – tokoh sebelumnya Socratez lebih membuka kiprah mereka dalam mengembangkan arah pelayanan Gereja Baptis Papua, pada bab ini, Socratez mulai menggaungkan peran Gereja Baptis Papua dalam melawan berbagai bentuk rasisme pemerintah Indonesia terhadap orang – orang Melanesia di tanah Papua. Setiap peristiwa yang menegangkan ditulis secara gamblang. Pembaca pasti ikut merinding.

Sebaliknya, setiap peristiwa yang mengharukan ditulis secara dramatis dan tidak muluk-muluk. Pembaca pasti ikut merasakan kepedihannya. Buku seolah menjadi pisau tajam yang siap merobek kebisuan Papua terhadap segala bentuk penindasan. Melalui buku ini, Papua seolah-olah sedang berteriak dengan keras, menentang sedangkan bentuk tindakan penindasan dan pembantaian. Dengan tegas Socratez mengatakan “Gereja tidak boleh berada di wilayah abu-abu dan menonton dan juga tidak boleh acuh tak acuh ketika umat Tuhan dibantai seperti hewan di bumi ini, terutama orang asli Papua pemilik negeri dan tanah ini.”

Baca Juga: Peneliti LIPI: Jokowi Berkali-kali Kunjungan tapi Tak Selesaikan Masalah

Langkah yang diambil Socratez Sofyan Yoman sebagai ketua umum Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua dalam menyuarakan ketidakadilan di tanah Papua, merupakan bukti kedewasaan Gereja Baptis. Jika dibandingkan dengan kisah para tokoh pendahulu, Gereja Baptis sudah mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan. Seorang anak kecil tidak akan berani protes. Orang yang dewasa akan berani dan lantang menentang sesuatu yang tidak benar. Dalam hal ini, Gereja Baptis Papua sudah melakukan hal tersebut. Gereja Baptis Papua juga menjadi contoh bagi – bagi gereja-gereja lain di tanah Papua untuk ikut bersuara bagi ketidakadilan dan penindasan. Karena gereja Tuhan tidak boleh berada dalam wilayah abu – abu. Gereja tidak boleh bersembunyi di balik selimut.

*C. Mereka yang Melayani dengan Kasih : Suatu Tamparan Keras bagi Pemerintah Indonesia*

Secara umum, buku ini memang berisi tentang sejarah berdiri dan berkembangnya Gereja Baptis Papua. Namun jika ditelusur lebih dalam, buku ini juga ditulis untuk menyindir pemerintah Indonesia yang sejak dulu sudah melakukan kekerasan, pembantain, dan penindasan terhadap ras Melanesia di tanah Papua.

Dimulai dari kisah Charles Craig, pendekatan misionaris secara people oriented ini berbeda dengan pendekatan program oriented yang sedang dikembangkan pemerintah Indonesia di tanah Papua.

Para Misionaris menghargai orang-orang suku Lani sebagai manusia utuh yang juga memiliki kapasitas. Mereka memperlengkapi, melatih, mengevaluasi, hingga mempercayakan sepenuhnya pelayanan kepada orang-orang suku Lani. Apa yang sedang dilakukan pemerintah Indonesia saat ini jauh berbeda dengan apa yang pernah diwariskan oleh para misionaris. Jika para misionaris datang ke Papua, perang dan segala bentuk kekerasan mulai hilang. Kedatangan Indonesia ke Papua justru menimbulkan perang dan kekerasan.

Kisah tokoh – tokoh selanjutnya, menunjukkan kapasitas orang Papua yang haus untuk belajar.

Kisah para pemimpin gereja Baptis Papua ini mematahkan stigma orang – orang Indonesia pada umumnya yang mengatakan orang Papua bodoh dan terbelakang. Buktinya, kehadiran Misionaris membangkitkan mutiara – mutiara hitam yang selama ini tersembunyi. Mereka dapat belajar dan menyesuaikan diri, bahkan bisa memimpin banyak orang. Daya juang dalam belajar yang dimiliki oleh para tokoh pemimpin gereja Baptis Papua menunjukkan etos kerja dan ketekunan orang Papua dalam mengerjakan sesuatu ketika dipercaya sepenuhnya.

Selanjutnya, melalui kisah para tokoh sejarah ini juga, kita dapat melihat kekuatan Injil yang bergerak dan mengubahkan peradaban hidup orang Papua. Ini bukan sesuatu yang main – main dan tidak dapat digantikan dengan falsafah negara manapun. Dari hal ini kita bisa melihat bahwa ternyata bukan uang menggerakkan peradaban Papua, justru Injil yang adalah kekuatan Allah itu yang menggerakkan Papua menjadi bangsa yang maju.

*D. Kelebihan, Kekurangan Buku, Rekomendasi bagi Segala Usia.*

Salah satu kelebihan dari buku ini adalah penulis menggunakan sumber primer, baik melalui buku maupun wawancara langsung. Selain itu, penulis juga merupakan salah satu pelaku sejarah sehingga beberapa peristiwa penting dapat diceritakan secara detail. Selain itu, kalimat yang digunakan mudah dipahami dan tidak ada unsur ambiguitas, sehingga buku ini dapat dibaca oleh semua usia. (Siswa saya kelas VI SD, sudah selesai membaca buku ini)

Kekurangan buku ini terletak pada beberapa kesalahan pengetikan serta beberapa informasi yang agak terbalik (?) atau mungkin karena salah pengetikan. Contoh, pada Bab 8 Socratez Sofyan Yoman disebut sebagai Ketua Umum Persekutuan Gereja – Gereja Baptis Papua keenam, padahal di bab sebelumnya, Andreas Yanengga juga disebut sebagai Ketua Umum Persekutuan Gereja – Gereja Baptis Papua keenam.

Baca Juga: Pidato Veronica koman, Terima Kasih Atas Penghargaan Ini

Selebihnya, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh segala usia. Mulai dari anak SD hingga kalangan professional. Buku ini tidak hanya berisi informasi sejarah Gereja Baptis Papua, tetapi juga kondisi krisis kemanusiaan yang terjadi sejak dulu hingga saat ini di Papua. Kita, sebagai gereja yang sesungguhnya tidak boleh berada dalam wilayah abu – abu. Setiap bentuk tindakan penindasan dan rasisme yang merendahkan martabat manusia harus kita lawan.

_____________________

Wamena, 4 November 2019 

Kezia Moanley

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here