Jumpa Pers: Mahasiswa dan Pelajar Exodus Kabupaten Mimika: Menuntut 12 Poin Berdasarkan Kejadian di Kota Timika

0
402

MAJALAHWEKO, MIMIKA – Jumpa Pers, Mahasiswa dan Pelajar Exodus Kabupaten Mimika, ini ada 12 Poin Penolakannya, Menuntut 12 Poin Berdasarkan kejadian di Kota Timika West Papua:

  1. Kami menolak dan mengecam dengan tegas tindakan tuduhan “PROVOKATOR” yang dilakukan oleh kepolisian Negara Republik Indonesia kepada Pelajar dan Mahasiswa eksodus di kota Timika.
  2. Buka seluas-luasnya akses jurnalis asing (internasional )ke seluruh wilayah Papua!
  3. Segera buka ruang demokrasi seluas-luasnya diseluruh tanah Papua!
  4. Kami mahasiswa dan pelajar eksodus menolak dan mengecam dengan tegas kepada oknum/ pihak ke-3 (tiga) yang mengatasnamakan kami (mahasiswa dan pelajar eksodus) untuk membuat kegiatan dalam bentuk apapun dikota Timika.
  5. Kami menolak dengan tegas kepada media-media lokal di Kabupaten Mimika yang mempublikasikan informasih tanpa se-pengetahuan dan mengatasnamakan kami mahasiswa-pelajar eksosdus mimika.
  6. Kami menolak dengan tegas intervensi aparat militer dalam kegiatan publik masyarakat lokal di kabupaten mimika.
  7. Kami Mahasiswa dan Pelajar eksodus menolak segalah macam bentuk tawaran dari PEMDA, PTFI, LPMAK dan atau lembaga manapun menyangkut kepulangan kami kembali ke kota studi masing-masing.
  8. Kami meminta kepada bupati kabupaten mimika agar dapat menarik kembali pernyataan “TEMBAK MATI PENDEMO ANARKIS”
  9. Pemerintah kabupaten mimika segera bertanggung jawab atas korban keracunan yang dialami oleh orang asli papua (OAP) di kota Timika.
  10. Kami meminta dengan tegas segerah hentikan pengiriman aparat militer berlebihan dan segera tarik kembali militer organik serta non organik dari seluruh wilayah Papua.
  11. Segera bebaskan aktivis pro demokrasi tanpa syarat.
  12. Kami mahasiswa dan pelajar Kabupaten Mimika meminta dengan tegas, segera copot kapolres mimika dari jabatannya karena telah melanggar nilai budaya dan agama.

Mimika, 24 Oktober 2019

Kata PROVOKATOR terhadap kami Mahasiswa dan Pelajar eksodus Kabupaten Mimika diucapkan oleh beberapa oknum elit Amungsa dan TNI/POLRI di beberapa kegiatan Mahasiswa dan Pelajar eksodus serta Orang tua di kota Timika. Kami mengecam dan menolak pernyataan tersebut karena kata yang dilontarkan tersebut adalah tidak sesuai dengan fakta kami menyuarakan aspirasi serta tuntutan kepada masyarakat Kabupaten Mimika. Contoh:

  1. Saat Pertemuan antara Orang tua peserta beasiswa LPMAK bersama Peserta dan LPMAK pada 08 September 2019
  2. Saat Pertemuan antara Orang tua peserta beasiswa LPMAK bersama Peserta dan LPMAK pada 10 September 2019
  3. Saat kegiatan acara adat di depan kantor lembaga adat (LEMASA) pada 19 September 2019
  4. Saat demo pelajar di depan kantor LPMAK II di jalan Kebun Sirih pada 10 September 2019

Tuntutan kami terhadap pion 11 terkait pempebasan aktivis pro demokrasi adalah berdasarkan pada UUD 45 pasal 28E ayat 3 dan UU NO.9 tahun 1998. Adapun daftar tahanan pro demokrasi yang ditahan :

  1. Agus Kossay (Ketua Umum KNPB)
  2. Buktar Tabuni (Ketua PNWP)
  3. Steven Itlay (Keyua KNPB TIMIKA)
  4. Ferry Kombo (BEM UNCEN)
  5. Alex Gobai (BEM USTJ)
  6. Hengky Hilapok (Mahasiswa)
  7. Irvanus Urupbamin (Mahasiswa)

Tuntutan kami pada poin ke-3 adalah pembatasan peliputan berita dan informasi terkait permasalahan HAM, DISKRIMINASI, PEMBUNGKAMAN RUANG DEMOKRASI dan lain-lain terhadap Jurnalis asing di Papua.

Kami menuntut poin 12 berdasarkan kejadian di kota Timika yakni Kapolres Mimika serta anggotanya membubarkan kegiatan acara Bakar Batu oleh Mahasiswa dan Pelajar eksodus secara paksa, hal ini membuktikan bahwa Kapolres Mimika telah melanggar norma adat dan norma agama serta merendahkan secara tidak hormat adat budaya orang Papua. Acara bakar batu ini digelar di depan kantor Lembaga Adat Suku Amungme pada Kamis, 19 September 2019.

UUD 1945 tentang 38 tugas dan fungsi TNI POLRI menjelaskan poin 9. Pada hari sabtu 05/10/2019 : Pukul 14:50 WIT saya tiba di kwamki lama, saat tiba di rumah saya melihat 4 orang ( Ibu saya, istri, dan kedua adik saya) terbaring sekarat di ruang tamu.

Saya mengantar keluarga saya ke RSMM, saat tiba di Rumah Sakit istri saya meninggal pada malam itu juga. Kemudian setelah 2 hari pada hari senin 07/10/2019 Saya mengantar Ibu saya ke RSMM karena sejak saat itu dia selalu muntah darah dan pada malam itu juga Ibu saya juga meninggal. Dua adik saya ( Ferry Hagabal, 10 thn ) dan ( Freedy Hagabal, 12 thn ) sembuh setelah dirawat 2 hari di RSMM. Jadi 2 orang yang menjadi korban dalam kasus keracunan malam itu (Hadelina Hagabal dan Gerentasia Hagabal).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here