Rusuh Wamena, Media dan Pemerintah Tidak Perna Ungkap Korban OAP

1
470
Salah satu Foto Korban tertembak peluru aparat di wamena Papua. Senin, 23 September 2019

MAJALAHWEKO, WAMENA – Masyarakat Kabupaten Jayawijaya menilai pemerintah dan media masa, hingga kini belum mengungkap korban Orang Asli Papua (OAP) akibat kerusuhan 23 september 2019 di Wamena, pengungsian akibat rusuh juga dialami orang Papua tapi Pemerintah dan media dinilai tidak adil dalam pemberitaannya.

“hemat saya, dari berita ke berita sejak tanggal 23 sampai sekarang itu pemerintah tidak boleh kasih keluarkan berita itu dari sisi sebelah saja, keluarkan juga dari sisi sebelah (korban OAP) supaya sama-sama kita puas” Ungkap Ayub Wuka, Warga Jayawijaya, kepada Noken Wene di Wamena, 18/10/19.

Sebab kata Ayub, sejak kerusuhan 23 september hingga kini, pemerintah melalui media lokal hingga media nasional tidak perna mempublikasikan korban orang asli papua, baik korban nyawa maupun harta benda yang dialami.

Baca Juga: Ternyata di Wamena, Aktivitas Pendidikan dan Perekonomian Masih Lumpuh , Ini Permintaan Orang Tua Wali

“jangan ambil berita hanya berat sebelah, sehingga masyarakat yang jadi korban juga dari tembakan-tembakan menjadi tidak perna puas” Ujar Ayub.

Akibat dari tidak perna puas, kata Ayub Wuka, bisa saja satu kali kelak dendaman itu bisa diungkapkan secara langsung maupun tidak langsung.

‘jadi semua yang terjadi ini bukan direncanakan tapi karena ada kesempatan. Karena apa, karena media dan pemerintah ini tidak perna adil, bukan saja pas rusuh tapi itu sejak lama, pemerintah ini tidak serius dengan orang Papua” ungkapnya.

Dikatakan, Jika pemerintah menginginkan perdamaian yang sesungguhnya dan tidak ada lagi kerusuhan serupa di kemudian hari, maka pemerintah harus berlaku adil untuk semua hal baik untuk orang Papua maupun non Papua.

Baca Juga: Komnas HAM Temukan 10 Warga Papua Tewas dalam Kerusuhan Wamena, di Luar 33 Orang yang Dicatat Aparat

“supaya masyarakat juga puas, bahwa masalah mereka juga di tangani oleh pihak berwajib, jadi tindakan anarkis supaya kita hentikan sama-sama, tapi kalo hanya mereka (non OAP) saja diselidiki baik-baik sementara korban-korban orang Papua di abaikan sama saja pemerintah sendiri pelihara masalah ini. Jadi kalo bole anak-anak putra daerah yang mati karena peluru ini segera cek dan buka supaya keluarga korban ini juga puas” saran Ayub.

Ale Asso, seorang warga Wamena lainnya mengatakan, ada banyak orang Papua yang juga jadi korban dari rusuh 23 september lalu di Wamena tapi sampai saat ini didiamkan.

“adik saya kita baru bakar kemarin, dia kena puluru di perutnya. Trus banyak orang Papua juga korban tapi seolah-olah kita ini semua disama ratakan sebagai pelaku jadi biar suda” Ujar Ale kepada Noken Wene beberapa waktu lalu.

Sementara itu, pada 18 Oktober Komnas HAM RI merilis, sedikitnya 10 orang Papua tewas dalam kerusuhan Wamena dan tidak terdata di pihak terkait.

Baca Juga: ULMWP Pastikan Tak Ada Mobilisasi Massa Pada Peristiwa Wamena

“Terakhir kami dapatkan informasi lagi yang cukup kredibel, tetapi ini harus dikonfirmasi lagi, ada 10 orang lagi yang diduga tewas di luar 33 orang yang dicatat pihak keamanan di Wamena. Kami sudah sampaikan penemuan ini ke TNI dan Polri di Papua,” ujar ujar ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dikutip kompas.com, Jakarta.

Sumber: nokenwene.com

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here