Krisis Kemerdekaan Bagi Manusia

0
413

imagepembungkamamBagi manusia, kebebasan yang paling mendasar adalah kebebasan untuk hidup. Sebagai manusia yang bermartabat yang memiliki hak urgen serta dibawa bersama mulai manusia bergerak dalam hidup, yang mana dalam agama kita kenal dengan sebutan (setelah Tuhan memberi nafas hidup).

Artinya kebebasan untuk hidup sudah diberikan oeh tuhan kepada setiap individu, kebebasan untuk hidup tidak didapat melalui proses hidup maupun tidak bersifat menempel. Sehingga kebebasan itu perlu kita jaga dan hormati sebagai salah satu bentuk yang sudah bersama kita sebelum segalanya kita dapatkan, contohnya status, pengalaman ,kisah dan lain sebagainya.

Sebelum lebih jauh membahas soal ini, saya perlu menyatakan dengan keras bahwa artikel ini saya tulis atas dasar kebebasan berpendapat serta mengemukakan pendapat dalam bentuk lisan maupun tulisan. Tidak mengatasnamakan organisasi ataupun komunitas manapun, apalagi mengatasnamakan ras,suku atau etnis. Jadi siapapun anda, tidak berhak membatasi saya dalam berbagai macam dalil maupun status.

Baca Juga: Menulis untuk Keabadian Masa Depan Anak dan Cucu Bangsa West Papua

Saya menulis artikel ini setelah saya sendiri menyaksikan PEMBATASAN RUANG GERAK Secara besar besaran dari segelintir orang yang merasa punya kuasa atas hak seseorang kepada seluruh manusia yang berada didalam 1 komunitas.

Dalil yang mereka pakai untuk menyatakan larangan adalah “siapapun dia jangan menulis” ketika saya mendengar akan hal itu, saya tersenyum simpul menanggapi hal tersebut, dalil kedua untuk memperkuat argumen mereka adalah jangan pernah ada orang yang menulis maupun berbicara akan soal tanah dan kejadian disana saat ini “demi menjaga keamanan serta agar tujuan bersama dapat cercapai”, Jika ada orang luar yang menanyakan akan hal-hal tersebut maka, “arahkan lansung ke arsama ataupun hubungi juru bicara”.

Dengan demikian secara datarnya situasi dan kondisi psikologis semua manusia yang berada dalam satu ras serta organisasi ini dapat saya sebut “menempuh perjalanan panjang melalui satu jalur

Disaat Keadaan/situasi mencekam di tanah asal serta isu-isu yang sedang tersebar, isu tersebut membuat seluruh jagat raga bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi disana.? Sedangkan untuk meperoleh kabar real (nyata) dari keadaan manusia dan alam sana, kita harus menelpon ( via seluler) ke kerabat maupun orang tua yang berada disana. Itupun di tempat tempat yang tidak dimatikan akses telepon (selulernya).

Karena sejak insiden demonstrasi di beberapa waktu lalu, petinggi-petinggi negara maupun kaki tangan negara melabeli  aksi tersebut dengan sebutan anarkis sehingga akses telepon (seluler) pun dimatikan dari Kementerian komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkoinfo RI).

Baca Juga: Kita harus Menggali, Menjelamatkan dan Menulis Sejarah Bangsa West Papua yang Digelapkan atau Dihilangkan oleh Kolonial Indonesia

Tidak terlepas dari masalah diatas, akses internet juga dimatikan diseluruh jagata raya Disana, dari kepala hingga-ekor pulau. Karena pemerintah menilai bahwa jika akses internet tersebut tidak dimatikan maka akan menimbulkan banyak informsi yang mengandung provokasi,hoax,memvitna dan berbagai macam hal lain.

Sedangkan alasan tersebut yang dipakai untuk memperkuat argumen basi diputuskannya akses internet tersebut sehingga pertanyaan diatas tadi mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di disana.? Tidak akan pernah terjawab, bahkan tidak akan pernah ditemukan kebenaran tentang papua oleh manusia luar papua baik dari media-media cetak online maupun televisi indonesia. Maka secara datarnya dapat dikatakan bahwa luka busuk negara dibungkus dalam kedok yang tidak manusiawi.

Manusia Tanpa ekspresi

Setelah internet dan jaringan telephone (seluller)  di blok out, manusia melanesia seakan mati tanpa bersuara. Dalam artian untuk meneriakkan ketidak adilan dan pelanggaran kemanusiaan yang dilakuka oleh negara terhadap manusia papua tidak ada suara yang dapat tersampaikan kepada pihak yang netral dan independent dalam negeri maupun diluar negeri. Semuanya dibungkam habis-habisan.

Media-media lokal yang selalu mewartakan kebenaran tentang kejadian pelanggaran HAM diblokir situs webnya, serta direktur yang memimpin redaksi-redaksi tersebut di intimidasi, diterror dan dan berbagai macam bentuk kekerasan lainnya agar tidak mengungkap fakta lapangan  yang sedang terjadi disana.

Aksi Mahasiswa DI Se-jawa dan Bali (Ils Foto)

Dari hal-hal diatas kita dapat lihat bahwa negara ini, seakan kehilangan nakoda kapal sehingga teromang-ambing di tengah samudera.

Negara menghalalkan segara macam cara untuk mewujudkan rencana busuknya dari belakang layar, dengan tujuan asap dan api dalam sekam tidak terlihat di mata dunia internasional.

Baca Juga: Urgent..!! Mahasiswa Exsodus Terjebak dalam Dilema Permainan Elit Kolonial Papua dan Papua Barat

Mahasiswa Tanpa Pena

Malah mahasiswa sendiri baku batasi (saling Membatasi) untuk berekspresi sesuai dengan kelebihannya masing-masing untuk menyatakan sesuatu yang benar agar pertanyaan publik terjawab. Dan lebih jauh dari pada itu agar orang-orang luar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi disana (tanah air) melalui dunia tulisan yang ditulis oleh anak negeri sebagai suatu jalan tempu menuju suatu tujuan yakni pembebasan. Pembebasan orang luar dari budak media manipulasi beserta pembebasan anak manusia dari jarahan kolonial.

Namun, dengan berbagai macam tekanan dari pihak luar organisasi maupun dari dalam organisasi sendiri, membuat seluruh anggota tegang dan penuh khawatir akan keadaan dan situasi Kenapa sampai kejadiannya bisa separah seperti yang keluar di TV ataupun media kolonial.? Disini muncul lagi sebuah pertanyaan, jika bukan kita yang mewartakan apa yang sedang terjadi disana, kita mau berharap siapa lagi.?

Jujur waktu saya menyaksikan sendiri pembatasan ruang demokrasi itu, saya teringat akan kata seseorang figur aktivis  yang pernah berkata dari tempat itu juga “jika kamu takut angkat toa, angkatlah Pena”.

Melawan suatu rezim yang menjajah yang mengorbankan banyak pihak, kita bisa melawan hal itu dengan berbagai macam cara. Baik melalui media, aksi dan lain sebagainya sebagai bentuk dari pernyataan ketidak terimaan suatu perbuatan yang melanggar hukum serta menjatuhkan harkat dan martabat seseorang apalagi menghilangkan nyawa seseorang.

Baca Juga: Mahasiswa Papua pulang ke Papua dan Referendum

Oleh sebab itu, untuk mencapai suatu kebebasan yang di cita –cita kan bersama, tidak perlu hanya lewat satu cara, melainkan dengan berbagai maca cara. Agar manusia tidak krisis kebebasan,  maka dalam memimpin suatu organisasi, harus jelas tujuannya berdasarkan acuan bersama atau AD/ART yang telah disepakati bersama agar dalam pengembangan dan perjalanan roda organisasi tetap berjalan sesuai koridor untuk mencapai visi bersama melalui misi yang telah ditetapkan.

Seorang pemimpin juga harus tahu membedakan mana organisasi yang politik dan sosial budaya (arah pergerakan Oranisasi) agar tidak tercampur aduk dan agar tidak terjadi peralihan wewenang. Harus juga menjadi pemimpin yang handal bukan menjadi Otoriter.

 

(* Artikel Ini Sepenuhnya Tanggung Jawab Penulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here