Orang Asli Pegunungan Papua Sejak Dulu Hidup Bermartabat, Terhormat, Berbudaya Tinggi dan Cinta Kedamaian 

0
2426
Presiden Baptis di tenggah Umat di Lanny Jaya (Foto Dok)

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

A. PENDAHULUAN

Kita sama-sama mengutuk dengan keras pelanggaran berat HAM yang dilakukan negara berdasarkan ideologi RASISME selama 58 tahun sejak tahun 1961 dan juga pembunuhan yang terjadi terhadap kaum pendatang dan juga Orang Asli Papua pada 23 September 2019 di Wamena dalam demo melawan ujaran RASISME oleh seorang ibu guru di Wamena.

Dalam menyikapi apel besar gabungan TNI-Polri pada 14 Oktober 2019 di Tanah Agamua di depan kantor DPRD Wamena-Jayawijaya, penulis mengajukan tiga pertanyaan.

1. Siapa yang menjadi target pengejaran TNI-Polri yang menggelar apel besar-besaran di Wamena sejak 14 Oktober 2019?

2. Apakah target pengejaran TNI-Polri ialah United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) atau orang-orang gunung?

3. Siapa sebenarnya yang menjadi sumber konflik, kekerasan dan kejahatan di West Papua?

Jawabannya pertanyaan nomor 3 ialah Negara dan aparat keamanan TNI-Polri-lah yang menjadi sumber konflik, kekerasan dan kejahatan di West Papua.

Amiruddin al Rahab mengaminkan bahwa “Para pembunuh Theys oleh KASAD Ryamizard Ryacudu disebut sebagai pahlawan” (Sumber: Heboh Papua: Perang Rahasia, Trauma Dan Separatisme, 2010, hal. x).

Pernyataan ini menyuburkan, melestarikan dan melanggengkan konflik dan kekerasan negara di West Papua.

Amiruddin al Rahab dengan sempurna, tepat dan analisis terukur mengakui: “Papua berintegrasi dengan Indonesia dengan tulang punggungnya pemerintahan militer” (hal..42).

Lebih lanjut Rahab menegaskan: “Kehadiran dan sepak terjang ABRI, kini TNI, yang kerap melakukan kekerasan di Papua kemudian melahirkan suatu sikap yang khas Papua, yaitu Indonesia diasosiasikan dengan kekerasan. Untuk keluar dari kekerasan, orang Papua mulai membangun identitas Papua sebagai reaksi untuk menentang kekerasan yang dilakukan oleh para amggota ABRI yang menjadi representasi Indonesia bertahun-tahun di Papua. …dalam pandangan orang Papua ABRI adalah Indonesia Indonesia adalah ABRI” (hal. 43).

Baca Juga: ULMWP Pastikan Tak Ada Mobilisasi Massa Pada Peristiwa Wamena

Sangat menarik peran TNI-Polri di Papua yang diungkapkan oleh Amiruddin sebagai berikut: “Semakin menghujamnya cengkeraman militer terhadap kehidupan sosial politik di Papua juga tidak terlepas dari potensi ekonomi di daerah ini yang begitu besar. Hal itu terlihat ketika PT Freeport mulai menanamkan investasi di Papua. Untuk melindungi PT Freeport, militer di Papua mulai mengembangkan pengaruhnya dalam politik lokal dengan cara yang lebih keras. Selain itu, militer juga memperbesar kekuasaannya dengan menempatkan diri sebagai pelindung dari mengalirnya para migran dan transmigrasi dari luar Papua” (hal. 46).

Lebih jauh Amiruddin mengatakan: “..Sikap pemerintah yang selalu membantah dan menutup mata atas terjadinya berbagai bentuk kekerasan yang dilancarkan oleh anggota ABRI akan merugikan Indonesia sendiri. Selain itu, sikap merasa tak pernah bersalah dari pemerintah Indonesia juga akan menjauhkan orang Papua dari Indonesia” (hal. 64).

Tulisan Amiruddin al Rahab meyakinkan kita semua, memperjelas dan membenarkan bahwa Indonesia menduduki dan menjajah rakyat dan bangsa West Papua dengan KEKERASAN yang disemangati dengan dasar ideologi RASISME, KAPITALISME, IMPERIALISME KOLONIALISME, MILITERISME.

Betitik tolak dari apa yang disampaikan Amuruddin al Rahab yang dikutip ini, kalau misi pemerintah dan TNI-Polri mengkriminalisasi ULMWP dan KNPB itu sebagai sumber kekerasan dan juga ia hanya ada di wilayah Pegunungan, itu merupakan kekeliruan besar, tidak rasional dan juga tidak realistis. Karena Amiruddin al Rahab dalam bukunya dengan tegas mengatakan bahwa sumber konflik dan kekerasan di Papua adalah negara dan TNI-Polri.

ULMWP dan KNPB tidak turun sendiri dari langit. ULMWP dan KNPB tidak lahir di pegunungan. ULMWP dan KNPB lahir di Tanah Melanesia dari Sorong-Merauke. Ia lahir karena pengalaman ada kekerasan, penindasan, dan kekejaman yang brutal serta kejahatan negara yang menyebabkan pelanggaran berat HAM yang dilakukan TNI-Polri selama 58 tahun sejak tahun 1961 yang sudah dijelaskan baik oleh Amiruddin Rahab.

Terutama, ULMWP sudah diakui, diterima dan didukung oleh komunitas Internasional. ULMWP telah berada di forum-forum resmi: MSG, PIF, ACP, PBB. ULMWP juga didukung oleh Dewan Gereja Dunia (WCC) dan Dewan Gereja Pasifik (PCC). ULMWP tidak berjuang di hutan-hutan, di rumput-rumput, dan juga bukan sembunyi-sembunyi. ULMWP juga berada dalam protokoler Negara Vanuatu.

Baca Juga: TNI- Polri akan Patroli dan Razia Skala Besar di Jayawijaya

B. KAMI BANGSA YANG BERMARTABAT, TERHORMAT, BERKEBUDAYAAN TINGGI DAN CINTA KEDAMAIAN

Kami orang pegunungan Papua punya tanah yang jelas. Dusun yang jelas. Marga yang jelas. Keturunan yang jelas. Memiliki bahasa yang jelas. Mempunyai sejarah yang jelas. Kami tidak pernah pindah-pindah. Kami mampu dan sanggup buat kebun. Kami mampu dan sanggup buat honai. Kami mampu dan dan sanggup buat pagar. Kami mampu dan sanggup memimpin rakyat dan bangsa kami. Kami bangsa,otonom, berdaulat dan independen. Kami keturunan orang-orang mencintai KEDAMAIAN dan Martabat kemanusiaan.

Para pembaca yang terkasih, ijinkan saya mengutip ulang tulisan pada selasa, 9 Oktober 2019 dengan topik: “MENGENAL SIAPA SEBENARNYA ORANG PEGUNUNGAN PAPUA DENGAM WARISAN NILAI- NILAI KEBUDAYAAN.”

Jujur saja, penulis sebagai anak asli Papua yang lahir dan dibesarkan di lingkungan orang-orang pegunungan, saya tidak menerima 100%, karena selama ini penguasa pemerintah Indonesia dan aparat TNI-Polri mengkriminalisasi kami dan kami dibuat seperti tidak punya martabat dan nilai-nilai kebaikan dalam kebudayaan kami.

Dalam berbagai kesempatan di media cetak, elektronik: TV, Radio dan dalam sambutan-sambutan resmi serta pengarahan, kami orang pegunungan dikambing-hitamkan, direndahkan martabat kami dan kami dibuat manusia-manusia yang tidak ada nilai dan martabat sebagai manusia.

Dengan tepat dan sempurna Dr. George Junus Aditjondro mengaminkan dan membenarkan kejahatan penguasa penjajah Indonesia dalam menghilangkan nilai kebudayaan Papua, lebih khusus kebudayaan orang-orang pegunungan.

“Pada saat penjajah tidak bisa lagi meniadakan penduduk jajahannya secara fisik, dia kemudian mengeliminir mereka secara kultural, dengan mengatakan bahwa kebudayaan mereka lebih rendah. Jadi mitos tentang koteka, Zaman Batu dan lain-lain itu, memang senjaga dipupuk karena mendukung cara berpikir penguasa” (hal. 197). “…kekayaan kultural yang memperkuat identitas kepapuaan sengaja dimatikan dan warga pendukungnya diintimidasi dan diteror agar ia meninggalkan jati dirinya (hal.107)” (Sumber: Cahaya Bintang Kejora, 2000).

Karena masalah ini, tulisan ini merupakan pertanggugjawaban iman, moral dan ilmu penulis sebagai Orang Asli Papua yang berasal dari pegunungan. Melalui narasi ini, penulis ingin menyampaikan kepada:

“PENGUASA PEMERINTAH INDONESIA, APARAT KEAMANAN TNI-POLRI-BRIMOB HARUS BERGURU DAN BELAJAR KEPADA ORANG ASLI PAPUA, LEBIH KHUSUS ORANG PEGUNUNGAN

Mengapa saya mengatakan Penguasa Pemerintah Indonesia, TNI-Polri dan BRIMOB harus berguru dan belajar kepada Orang Asli Papua, lebih khusus Orang gunung?

Baca Juga: Awas! Hati-Hati! Waspada! Jangan Lengah! Jangan Buta! Jangan Tuli!

Kami mempunyai kekuatan nilai-nilai ketulusan, kebenaran, kejujuran, keterbukaan, kasih, kedamaian, rela berkorban dan pengampunan serta keberanian demi nilai KEMANUSIAAN dan KESAMAAN DERAJAT.

Orang-orang Asli Papua dari pegunungan tahu, sadar dan mengerti dan percaya bahwa manusia merupakan gambar dan rupa Allah sehingga kemanusiaan dan martabat setiap manusia HARUS dihormati. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” (Kejadian 1:26).

Seperti Pastor Frans Lieshout, OFM mengakui: “Saya sendiripun belajar banyak dari manusia Balim yang begitu manusiawi. Saya masih mengingat masyarakat Balim seperti kami alami waktu pertama datang di daerah ini. Kami diterima dengan baik dan ramah, tetapi mereka tidak memerlukan sesuatu dari kami, karena mereka sudah memiliki segala sesuatu yang mereka butuhkan itu. Mereka nampaknya sehat dan bahagia, …Kami menjadi kagum waktu melihat bagaimana masyarakat Balim hidup dalam harmoni…dan semangat kebersamaan dan persatuan…saling bersalaman dalam acara suka dan duka…” ( Sumber: Kebudayaan Suku Hubula Lembah Balim-Papua, 2019, hal. 85-86).

Sumber ini dikutip pandangan seorang misionaris yang hidup lama dengan orang gunung. Dengan tujuan memperbaiki dan meluruskan pemahaman keliru dan miring para penguasa Indonesia dan TNI-Polri terhadap Orang Asli Papua dari Pegunungan.

C. PERISTIWA 23 SEPTEMBER 2019 DI WAMENA BERTOLAK BELAKANG 

Hemat saya, jika demonstrasi damai melawan ujaran RASISME di Wamena itu dikawal dengan baik, kita sangat bisa menghindari konflik dengan korban nyawa dan harta benda. Tetapi, demonstrasi damai itu dihadapi dengan kekerasan penembakan, maka emosi dan kemarahan dipihak demonstran dibangkitkan dan terjadi pembalasan spontan dengan pembunuhan dan pembakaran pada 23 September 2019 terjadi di Wamena. Kejadian yang memilukan hati ini sangat kita sesalkan bersama. Karena pembunuhan terhadap orang-orang tidak bersalah itu SANGAT…SANGAT…SANGAT bertentangan dan berlawanan nilai-nilai luhur kebudayaan orang-orang Papua gunung.

“Karena itu dalam dan melalui tulisan ini, atas nama masyarakat dari gunung saya menyampaikan permohonan maaf dari dasar hati saya yang terdalam kepada saudara-saudara non Papua dan kaum Muslim yang meninggal maupun luka-luka.

Saudara-saudara, ketika Anda datang ke rumah kami, honai kami atau tanah leluhur kami di Papua, lebih khusus di Lembah Balim, kami sudah terima Anda semua dan kami sudah sambut dipaha kami. Kami hidup bersama, hidup harmoni dan damai, saling mengasihi dan saling menopang sudah bertahun-tahun. Anda adalah saksi. Anda telah mengukir sejarah hidup bersama kami. Kami tidak pernah dan belum pernah marah dan mengusir Anda. Kami kasih tanah kami dengan cara Anda membeli.

Baca Juga: ULMWP Ungkap, Aksi Wamena Berdarah adalah Murni, Tindakan Spontanitas para Pelajar

Waktu Anda ke kampung-kampung, kami makan ubi bersama, kami duduk cerita dan tertawa bersama, kami sama-sama tidur dalam honai kami. Di sana Anda tidak temukan OPM, di sana Anda tidak temukan orang jahat. Anda melihat manusia-manusia bermartabat yang penuh dengan kasih sayang dan persaudaraan. Anda disapa dan dipeluk seperti saudara-saudara kandung. Kami tidak pernah melihat Anda rambut lurus,kami belum pernah membedakan Anda Muslim. Kami melihat Anda manusia sama seperti kami.

Kadang-kadang kami bergurau dengan Anda yang Muslim: ” Hei ko (kamu) makan daging babi ini, di sini tidak ada yang lihat kau (kamu) to?” Karena gurauan segar dan tulus seperti itu, kita sudah membangun rasa persaudaraan yang kuat diantara kita.

Sering Anda bilang malam-malam mau kembali ke Wamena dari kampung kami, kami ijinkan Anda kembali ke Wamena kota. Tetapi, Anda tidak pernah ketemu OPM dan orang-orang jahat. Anda terlindung dan terjaga sampai tiba di Wamena.

Pada saat pagi hari Anda kembali datang menjemput kami, kami bertanya, apakah ada OPM tahan, interogasi dan siksa Anda? Anda menjawab dan mengatakan: “Di sini tidak ada OPM. Semua orang baik dengan saya kok.”

Kalau tulisan ini dibaca oleh anak-anak Non Papua, terutama Muslim yang lahir dan besar di Pegunungan, penulis meminta untuk tambahkan dan juga membagikan secara luas. Supaya Anda dan kami sama-sama sampaikan kepada penguasa Indonesia, aparat TNI-Polri dan semua orang Indonesia bahwa Anda semua salah dan keliru menilai dan merendahkan martabat kami.

Harapan penulis, sebenarnya saudara non Papua yang Muslim dan Kristen harus bersuara untuk mengungkapkan dan menyapaikan kebaikan-kebaikan dan nilai-nilai luhur yang diwarisi orang pegunungan Papua. Karena ada yang hidup 30-50 tahun dan anak-anak dan juga cucu-cucu lahir dan besar di pegunungan. Tapi, sayang, teman-teman non Papua yang kami pernah terima di paha kami, di rumah kami, di tanah kami, semua memilih diam dan mengalami “demam ketakutan moncong senjata” kalau buka mulut bersuara sisi baik orang pegunungan Papua. Karena penguasa pemerintah Indonesia, TNI-Polri bekerja sekuat tenaga, dengan cara wajar atau tidak wajar mau kriminalkan kami orang-orang Papua gunung.

Tetapi, minta maaf, kami masih ada di atas tanah warisan leluhur kami. Kami ada bersama roh leluhur kami. Kami hidup dengan martabat kami. Kami hidup dengan kuasa Tuhan Yesus Kristus. Kami hidup dan berdiri di atas otoritas Alkitab kami. Kami bediri dengan sejarah kami. Kami berdiri dengan nilai kebudayaan kami. Kami berhak membela martabat dan kehormatan kami.

D. MEMANG SUNGGUH ANEH, TAPI MEMANG KENYATAAN YANG TERJADI

Norma-norma/nilai-nilai kebudayaan Orang Asli Papua, terutama orang pegunungan ialah dilarang keras membunuh anak-anak, perempuan, orang-orang tua, orang-orang lumpuh dan dilarang membunuh pemimpin. Pembunuhan terjadi harus dengan dasar yang jelas, dilarang keras dan tidak boleh membunuh orang sembarang tanpa ada dasar atau alasan kuat.

Baca Juga: Hubungan Harmonis Guru Muslim dengan Murid Kristen di Pedalaman Papua Tahun 1977-2019

Dalam buku berjudul: Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri digambarkan dengan jelas. “Orang Lani dalam hidupnya tidak boleh membunuh orang secara sembarangan. Membunuh orang harus mempunyai alasan yang jelas dan dasar yang jelas pula.” (Yoman, 2010, hal. 94).

Apa yang terjadi pada 23 September 2019 adalah perbuatan terkutuk, biadab dan tindakan tidak manusiawi. Memang diakui jujur, di Tanah ini sepertinya banyak Orang Asli Papua yang dibantai penguasa pemerintah Indonesia, TNI-Polri selama 58 tahun sejak tahun 1961. Pembantaian dan pembunuhan keji terhadap OAP jarang dan tidak pernah ada reaksi keras dari saudara kita Indonesia. Mereka membisu dan diam 1000 bahasa. Namun, ketika saudara-saudara kita dari luar Papua dibunuh, langitpun ikut runtuh. Tetapi, itu realitas hidup Orang Asli Papua yang dianggap MONYET menurut ukuran Indonesia, tetapi bukan menurut ukuran TUHAN Allah.

E. SEBANYAK 1.315 ORANG NON PAPUA DAN MAYORITAS MUSLIM DILINDUNGI DAN DISELAMATKAN

Nilai-nilai luhur kebudayaan seperti : Kebaikan, ketulusan, kejujuran, kebenaran kebersamaan, kedamaian, kasih, dan rela berkorban, nilai kemanusiaan dan kesamaan derajat yang dimiliki dan diwariskan oleh Orang Asli Papua yang berasal dari gunung dan Gereja-gereja di Papua terbukti pada demonstrasi melawan RASISME yang terjadi pada tanggal 23 September 2019 di Wamena. Aksi demonstrasi damai ini dilakukan oleh siswa dan pelajar di Wamena karena adanya ucapan RASISME oleh salah seorang ibu guru SMA PGRI Wamena.

Beberapa orang bersaksi bahwa aksi tanggal 23 Sepetember 2019 itu terjadi secara spontanitas dan murni dari siswa dan pelajar, tidak ditunggangi dari pihak manapun. Dan kekacauan ini meledak secara tiba-tiba dan tak terencana, karena semua orang terutama masyarakat umum tidak tahu dan tidak mendengar informasi tentang aksi demo damai oleh siswa dan pelajar ini.

Dalam peristiwa ini terjadi pembakaran ruko, kios, mobil, motor, bengkel dan beberapa tempat usaha.

Baca Juga: Gereja Baptis Papua Lindungi 370 Kepala Keluarga Muslim di Wamena

Warga pendatang ditolong, dilindungi dan dijamin kenyamanan oleh Orang Asli Papua dan para pendeta. Mereka dilindugi di rumah, di dalam gedung gereja, di kandang atau ternak babi.

Tempat usaha seperti ruko, kios dan beberapa rumah juga dikarang untuk dibakar. Sebagai tanda larang, Orang Asli Papua memotong daun pisang dan menempelnya di gedung tersebut bahkan beberapa pendeta dan masyarakat berdiri di pintu rumah para pendatang sehingga anak-anak sekolah tidak membakar gedung atau ruko atau kios itu.

Berikut jumlah pendantang atau Non Papua yang dilindungi oleh pendeta dan Orang Asli Papua.

1. Bapak Namigak Kogoya, anggota jemaat gereja Baptis Wesaroma Pikhe melindungi dan selamatkan 15 orang warga Muslim, tidak termasuk anak-anak kecil. Mereka di sembunyikan di kamar rumah dan kamar mandi beberapa jam.

2. Bapak Pendeta Des Tabuni (Gembala Sidang Gereja GKII “Allah Ninom” ia selamatkan dan melindungi 20 orang dewasa, tidak termasuk anak-anak kecil. Mereka disembunyikan di rumahnya dan di kamar mandi.

3. Bapak Yason Yikwa ( Gembala Sidang gereja baptis Panorama Pikhe, selamatkan dan melindungi saudara/i nonpapua sebanyak 250 orang, tidak termasuk dengan anak-anak kecil. Mereka dilindungi di kompleks dan di dalam gereja Baptis panorama pikhe.

4. Ibu Anike Gombo, selamatkan dan sembunyikan saudara/i nonpapua di rumahnya sebanyak 20 orang.

5. Bapak Epius Yigbalom, anggota jemaat baptis Wesaroma Pikhe sembunyikan sebanyak 100 orang dewasa termasuk dengan anak-anak kecil. Mereka di lindungi dan disembunyikan di rumahnya.

6. Bapak Simet Yikwa, S.Th, selamatkan dan melindungi 230 orang nonpapua (pendatang). Mereka di lindungi dan diamanakn di dalam Gereja Baptis Wesaroma Pikhe, tidak termasuk dengan anak-anak kecil.

7. Bapak Nakason Yikwa dan Hengky Yikwa selamatkan dan melindugi 150 orang nonpapua. Mereka diamankan dan disembunyikan di rumahnya.

8. Ibu Alfrida Hubi selamatkan dan lindungi 30 orang nonpapua atau pendatang di rumahnya. Mereka di sembunyikan di kandang atau ternak babi. Alfrida Hubi adalah seorang perempuan anak dari kepala Desa/Kampung Dokopku.

9. Gembala, Badan Pelayan Jemaat dan Anggota Jemaat Gereja Baptis Walani Yafet Wakur selamatkan dan lindungi di rumah da dikompleks gereja Baptis.

10. Jemaat dan gembala gereja baptis Agamua selamatkan dan lindungi hampir 500an orang ( data lengkap akan menyusul). Mereka di sembunyikan di Halaman Kepala kampung. Mereka dilindungi beberapa titik, sebagian di gereja Katolik dan sebagian besar di Pak Marian.

11. Ada keluarga Muslim yang dimasukkan dan disembunyikan dalam gedung Gereja GKI Wamena.

12. Laporan lengkap sedang diolah dan disusun dan akan dipublikasi kepada publik.

Mereka yang disembunyikan dan dilindungi itu diungsikan di Polres Jayawijaya dan Kodim 1702 Jayawijaya.

Baca Juga: Mengenal Siapa Sebenarnya orang Pegununggan Papua dengan Warisan Nilai-Nilai Kebudayaannya

Melihat dari tulisan ini, penulis merekomendasikan kepada teman-teman Muslim yang tergabung dalam Jihad ke Papua, lebih baik, lebih terhormat, lebih adil dan lebih bermartabat TANYAKAN kepada Saudara-Saudara MUSLIM yang sudah lama hidup dan tinggal di Papua dan lebih khusus di pedalaman. Supaya Anda mendapat informasi yang benar, jujur dan bertanggungjawab. Anda jangan menerima informasi dari orang-orang atau lembaga yang mempunyai kepentingan di Papua.

F. KESIMPULAN

1. Orang Asli Papua dari gunung adalah orang-orang cinta damai, pejuang keadilan, kesamaan hak dan martabat manusia.

2. Penguasa pemerintah Indonesia, TNI-Polri dan Brimob selama ini sangat keliru dengan melabelkan orang gunung radikal. Tapi, fakta pada 23 September 2019 MERUNTUHKAN semua penilaian miring selama ini.

3. Saudara-saudara Kaum Muslim di seluruh Indonesia, kami Orang Asli Papua bukan musuh Saudara-Saudara Muslim. Kami sudah membuktikan bahwa kami Pelindung dan Penjaga Saudara-Saudara Muslim. Kami Sahabat, Teman dan Saudara Anda. Kami bukan MUSUH Anda.

5. Gereja-gereja di Papua, termasuk Gereja Baptis Papua adalah tempat yang paling aman, nyaman, damai dan adil bagi Saudara-saudara Muslim. Anda tidak menjadi Kristen ketika dilindungi oleh Gereja-gereja. Kami hargai agama Anda. Kami menjaga dan melindungi Saudara-Saudara Muslim karena KEMANUSIAAN.

Doa dan harapan penulis, supaya semua orang mengerti dengan benar dan jujur, siapa sesungguhnya orang Papua pegunungan.

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua..

Ita Wakhu Purom, Senin, 14 Oktober 2019.

Penulis: Presiden Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua.

Editor: Nuken/MW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here