Urgent..!! Mahasiswa Exsodus Terjebak dalam Dilema Permainan Elit Kolonial Papua dan Papua Barat

8
25411

MAJALAHWEKO, (OPINI) – Mahasiswa eksodus di luar pulau West Papua yang saat ini berada diatas tanah cendrawasih mendapatkan godaan dilema sangat besar baik secara sadar maupun tidak sadar oleh pihak sistem Negara kolonial Indonesia bahkan mahasiswa eksodus yang tidak sependat.

Pertama; Mahasiswa pernah dengan tegas menolak tawaran apapun dari kolonial Gubernur Papua dan Papua Barat dan meminta untuk Gubernur lepas Garuda kolonial sebelum itu tidak dizinkan datang Menemui mahasiswa tujuan untuk membuat drama seolah-olah mahasiswa Papua aman-aman saja juga mengembalikan mahasiswa eksodus ke kota studi masing-masing.

Kedua; Apalagi pemerintah daerah Bupati/Walikota mengatakan mahasiswa jangan eksodus, dengan alasan akan membagun komunikasi pemerintah setempat untuk memberi kenyamanan kepada mahasiswa Papua pada hal Gubernur saja tidak pengaruh atau mampu untuk memberikan kenyamanan apalagi Bupati/Walikota dengan kapasitas terbatas sangat mustahil untuk memberikan kenyamanan.

Baca juga: Belum Ada Kata Sepakat Ribuan Mahasiswa Papua Tolak Pertemuan Bersama Gubernur

Terus upaya Pemerintah kolonial daerah  itu gagal maka, sekarag mendesak kepalah distrik bahkan orang tua untuk menyucikan otak mahasiswa eksodus meminta data dengan tujuan mengembalikan mahasiswa kembali ke kota Studi dengan untuk menghalikan isu yang berkembag di dunia Internasioal mengam Negara colonial Indonesia.

Papua saat ini masuk status daerah konflik oleh Sidang umum PBB 2019. kawan-kawan mereka adalah penindas yang sebenarnya.

Ketiga; Masalah West Papua dianggap selesai dan aman upaya colonial untuk menghalikan isu yang sebenarnya.

Keempat; Membuat mahasiswa trauma untuk membicarakan keadilan diatas tanah sendiri apalagi diluar Papua (Negara colonial Indonesia).

Kelima; memuat mahasiswa Memecah belah pendapat pro dan kontra dan berusaha mempertahankan argument tanpa ada yang mengalah demi solusi terbai.

Baca Juga: Polisi Jemur Mahasiswa Papua, DPR Papua: Anak Kami Bukan Ikan Asin!

Pertanyaan dalam benak kita harus kita merefleksi.

Pertama; Apakah kami akan terus berteriak dengan yel yel “Papua Merdeka” setiap hari pada momentum bersejarah, di daerah kolonial bahkan dibumi cendrawasih dan setelah itu biasanya kami ditangkap dipenjarakan disiksa, dubunuh, dan diintimidasi lalu kami akan berkoar-koar seperti pejuang musiman di media minta pertolongan hanya sesaat lalu tunggu waktu yang sama sebagai melapetaka berteriak “Papua Merdeka” dan melakukan hal itu berulang ulang?

Kedua; Apakah kami generasi yang polos seperti Babi yang tidak tahu rencana mau dibunuh, lalu makan makanan sebelum bunuh? Kita harus sadar bahwa nenek moyang kami pernah digodain pada saat aneksasi dengan hal hal sepeleh semacam itu dan waktu itu mereka meneria karena didepan raasanya enak dan nyaman padahal itu racun buat bangsanya sendiri West Papua yang menderita sampai saat ini

Ketiga; Kawan penjajah itu siapa apakah Pemerintah pusat atau orang non West Papua sajakah? atau termasuk Gubernur Papua dan Papua Barat dan jajarannya sampai Desa tergolong dalam sistem Kolonial Indonesia?

Baca Juga: Aksi di Wamena, Sejumlah Pelajar Kena tertembak Peluru di wamena

Keempat. Apakah kami pulang karena
– harga diri dan mau menentukan nasib sendiri
– hanya ikut ikutan orang colonial bilang nasi bungkus
– Cuman cari aman sajakah

Kelima; Apakah kita harus kembali ke negara kolonial dengan menghidupkan nafas kolonial itu sendiri, dengan alasan aman aman saja, atau menyesal kenapa pulang ke Papua pada hal aman aman saja dengan pikiran dangkal hanya sebata membaca situasi di luar kulit saja, dan Mahasiswa West Papua haruskan buat drama seolah oleh menghilangkan urat maluh pada saat kami pamit sama dosen Teman sahabat lainnya menginkari pernyaan sikap jadi penyilat setia kolonial ?

Keenam; Bagaimana dengan kawan kawan kami rakyat kami ditangkap diculik dibunuh tanpa ada keadilan sampai saat ini?

Ketujuh; Sesuai pertanyaan kelima diatas apakah kita menabah lukah dalam dengan kawan kawan dan masyarakat kami sendiri?

kedelapan; Apakah sodara kami di Nduga Puncak Jaya, Puncak Papua, Wamena dan lainnya dibunuh saat ini kami biarkan saja Tanpa menyuarakan lantang

kesembilan; Apakah kita jadi penjilat kolonial dengan hilangkan jati diri lalu harus bertahan dengan alasan pendidikan?

kesepuluh; Dimana harga dirimu kawan?10 apakah perlawanan kami kendor beri kesempatan kolonial masuk memusnahkan kami karena ada pro dan kontra?

kesebelas; bukankah pemerintah kolonial daerah seharusnya menyelesaikan kejahatan dan melepaskan kawan- kawan ditangkap kenapa harus kembalikan mahasiswa kembali ke daerah kolonial?

Solusi mengakhiri Kolonialisme diatas tanah West Papua
1. Berbeda bedah boleh namun menjaga kekompakan
2. lumpuhkan total perekonomian
3. Mogok

Untuk apa balik kembali ke luar West Papua negeri Kolonial hanya Kalau recehan mementingkan diri silahkan saja dengan alasan pendidikan. Namun Berharap kami tidak lagi ikut pendidikan sistem Kolonial Indonesia

Kawan kami harus tahu Pemerintah daerah adalah Penjajah sebenarnya mereka mengupayakan dan melemahkan kekompakan perjuangan dengan alasan pendidikan pendataan. Kalau pemerintah daerah benar benar niat membantu masyarakat maka sebelum kirim mahasiswa kuliah luar negeri atau di West Papua

Selesaikan masalah kejahatan negara dari tahun pertama masuk di Indonesia sampai saat ini.

Penulis: Dan Lee
Sorong 12 Oktober 2019

8 KOMENTAR

  1. Sebenarnya yang membuat kebodohan masyarakat Papua bukanlah orang pendatang ,akan tetapi orang / masyarakat Papua sendiri…!!
    Hal ini di karenakan mereka” Muda terprofokasi dengan pernyataan ” Yang kebenaranya di ragukan..!!
    Di tambah lagi dengan aparatur pemerintahan yang ada di Papua ..yang tdk beroreantasi pada kesejahteraan dan kemakmuran akan tetapi beroreantasi pada kepentingan pribadi / golongan.
    Ini PR bukan pemerintahan pusat yg harus menyelesaikan akan tetapi PR buat masyarakat untuk bertindak bijak sesuai dengan norma & etika berbangsa & bernegara serta bermartabat..!!

    • Bagamanapun dan kapanpun, Konflik di papua tidak akan pernah berakhir. Dengan segala penawaran gula-gla manis dari Jakarta.
      tidk ada cara lain untuk menghakiri selain referendum di Papua.

  2. Jangan percaya!!! Ini hanya tulisan yang sangat jelas sifatnya tergolong kebenaran level egoistik emosional , terlihat dengan teguhnya sekonyong konyong melesakan emosionalnya penulis membentuk opini. Orang itu bisa mikir sendiri mana yang baik buat hidupnya. Percayalah kalau semua ngikutin pikiran penulis ini hidupnya akan susah, ini termasuk propaganda belum tentu cocok buat anda para pembaca. Bijaklah!!!

    • Hahahaha pasti anda dan negaramu mulai menunjukkan ketakutamln karena terbongkar aib negaramu sangat penuh dengan akting ini.

      Dunia modern saat ini anda dan negaramu tidak bisa menutupi kebohongan lagi

      Sudahlah jangan berbohong terus orang Papua saat ini mau merdeka dari penjajahan Indonesia.

  3. our comment is awaiting moderation
    Hahahaha pasti anda dan negaramu mulai menunjukkan ketakutamln karena terbongkar aib negaramu sangat penuh dengan akting ini.

    Dunia modern saat ini anda dan negaramu tidak bisa menutupi kebohongan lagi

    Sudahlah jangan berbohong terus orang Papua saat ini mau merdeka dari penjajahan Indonesia.

  4. kasihan mahasiswa papua klo termakan provokasi pembuat artikel ini… diberi fasilitas sekolah d luar pulau agar maju, eh malah kembali. sebenarnya masih banyak yg pengen sekolah tinggi karna hasutan jadi nya terputus sekolahnya. model artikel yg dibuat menghasut bukan utk mencerdaskan pembacanya, sy rugi waktu baca artikel ini.

  5. Trlihat sekali kebodohan si pnulis berita dlm menyusun kalimat yg provokatif,anda harus blajar biar emosional yg anda rasakan tdk trlihat jelas pada tulisan anda.
    Belajar dulu yg pinter baru merdeka paham nt?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here