Kritik Keras Pemuda Baptis, TNI-Polri tidak terdidik dan tidak terpelajar di Papua

4
22485
https://www.google.com/search?

MAJALAHWEKO, WAMENA – Sepi Wanimbo, Ketua Pemuda Baptis Papua menanyakan, Mengapa aparat TNI/Polri Tidak Tangkap pelaku Kejahatan kepada orang Asli Papua selama 58 tahun lamanya? Terutama Kasus di kabupaten paniai pada 8 Desember 2014 dan 26 September 2016 dimana para anggota keamanan TNI- Polri yang menembak mati kepada rakyat sipil pada siang bolong sampai detik ini pelaku tidak tangkap, tidak dipenjarakan hanya dibiarkan begitu saja.

Pihak korban sampai detik ini tunggu – tunggu  janji dari Presiden Republik Indonesia (Ir.Joko Widodo, Jokowi ) untuk selesaikan, namun pada akhirnya belum selesai.

“Saya sudah belajar, sudah sekolah, apa itu hukum, dan prosesnya seperti apa, namun hukum ini seolah-olah dijadikan seperti bisnis. hukum menjadi lahan usaha untuk mendapatkan uang, yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Kata Sepi Wanimbo. kepada majalahwekonews.com. Hari ini Kamis, 10 Oktober 2019.

Baca Juga: Pemkab Jayawijaya menyebutkan total Kerusakan di Wamena Papua

Hal ini tidak benar. Lanjut Sepi, Saya minta aparat penegakan hukum harus jujur dan terbuka. Apalagi Dasar Negara Indonesia adalah Pancasila dan UUD 1945. Mengaku diri Negara hukum namun prakteknya di papua Nol. Apakah hukum ini hanya berlaku di Pulau Indonesia Lainnya. Keamanan negara harus tegakan hukum dengan baik supaya anak cucu dapat di berkati dari Tuhan Allah.

Baru-baru ini kasus di wamena, dimana awalnya aksi demonstrasi damai ini dilakukan oleh siswa dan pelajar di Wamena karena adanya ucapan RASISME oleh salah seorang ibu guru SMA PGRI Wamena.

Beberapa orang bersaksi bahwa aksi tanggal 23 Sepetember 2019 itu terjadi secara spontanitas dan murni dari siswa dan pelajar, tidak ditunggangi dari pihak manapun. Dan kekacauan ini meledak secara tiba-tiba dan tak terencana, karena semua orang terutama masyarakat umum tidak tahu dan tidak mendengar informasi tentang aksi demo damai oleh siswa dan pelajar ini.

Baca Juga: Bantuan Sosial untuk Pengungsi rakyat Pendatang di Wamena Negara cepat Turun tangan, Pengungsi rakyat Nduga tidak, Mati dibiarkan

Dalam peristiwa ini terjadi pembakaran ruko, kios, mobil, motor, bengkel dan beberapa tempat usaha. Warga pendatang ditolong, dilindungi dan dijamin kenyamanan oleh Orang Asli Papua dan para pendeta. Mereka dilindugi di rumah, di dalam gedung gereja, di kandang atau ternak babi.

Tempat usaha seperti ruko, kios dan beberapa rumah juga dikarang untuk dibakar. Sebagai tanda larang, Orang Asli Papua memotong daun pisang dan menempelnya di gedung tersebut bahkan beberapa pendeta dan masyarakat berdiri di pintu rumah para pendatang sehingga anak-anak sekolah tidak membakar gedung atau ruko atau kios itu.

Kasus ini ditunduh kelompok sparatis yang turun gunung. Hal ini di benarkan oleh Presiden Jokowi dodo.

Presiden Jokowi menyatakan, kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua karena adanya kelompok sparatis yang turun gunung. Mereka membakar rumah-rumah warga di sana.

“Ini adalah kelompok kriminal bersenjata yang dari atas di gunung turun ke bawah dan melakukan pembakaran rumah warga,” kata Jokowi di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Senin (30/9/2019). Sumber: https://www.liputan6.com/news

Baca Juga: Pemerintah Dinilai tak adil tangani Pengungsi Nduga dan Wamena

Benarkah Orang gunung turun kota bunuh dan Bakar segala kerusakan di wamena?. Disisi lain, Kenapa polisi tidak menangkap dan menunduh ibu guru yang mengeluarkan Rasisme pada anak-anak pelajar sebagai pelaku atau aktor awal peristiwa ini?

Peristiwa di Wamena ini tidak terlepas dari kejadian di Surabaya. Dimana para penegak hukum TNI- Polri sampai hari ini tidak tangkap dan ormas reaksioner yang bermulut busuk, tidak terdidik, tidak terpelajar, tidak sopan menyebut mahasiswa Papua monyet.

Apakah mereka ini sudah di tangkap di proses hukum dan di penjara ataukah hanya dibiarkan begitu saja. Kemarahan ini meludak di seluruh Tanah Papua.

Gaya dan cara anggota penegak hukum seperti kanak – kanak ini macam tidak terdidik, tidak terpelajar, tidak sopan  dan tidak beretika betul membuat rakyat susa percaya hukum Negara ini.

Sepi Wanimbo, Ketua Pemuda Baptis Papua

Baca Juga: Aksi di Wamena, Sejumlah Pelajar Kena tertembak Peluru di wamena

Sebabnya saya selaku ketua pemuda baptis di tanah Papua minta kepada Pimpinan Panglima TNI, POLRI dan Presiden Republik Indonesia ( Ir. Joko Widodo, Jokowi ) segera tangkap dan proses hukum pelaku kejahatan di Paniai dan di Wamena, dan beberapa kota lain di Papua.

Harap juga kepada negara harus memberikan treining atau memberikan pelatihan – pelatihan khusus kepada anggota keamanan biar mereka tidak melangar hukum, tidak melalai hukum dan tidak salah mengambil tindakan dalam kebijakan sebagai anggota TNI-Polri.

 

Pewarta: Nuken/MW

4 KOMENTAR

  1. Ga percaya saya sama sepi…ga bisa cuy pernyataan sepihak gitu.pernyataan hrs bnyk lbh saksi dr polisi juga dimasukan.mmg opm dan organisasi luar negeri jg turut campur kan…ga bisa lu hubungin satu org warga sipil tewas Trus berhak rusuh anarkis d membabi buta?..ga bener tuh!

  2. Forum Dialog Terbuka sebaiknya dikemas seperti program”Superdeal Indonesia Ada hadiah nya” Demo Bukan Adat dan Tradisi yang luhur dan bijaksana.Mari Bangun Indonesia dengan “Musyawarah dan Bermufakat” Solusi Pasti Ada , Indonesia Maju Nan Jaya.

  3. Itu Yang Punya Pendapatan Angkasa Harus Di Usut” Selalu Membawa” Nama Manusia. Programnya bilang bilang Sumber Daya Manusia,Hukum, Padahal Ujung”nya Cuma Di Jadikan Lahan Bisnis Individu Sendiri. Semua Negara Belum Pernah Menikmati Bagaimana Itu Hasilnya Pendapatan Luar Angkasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here