Benarkah Anak Aibon di Papua tidak punya Masa depan?

0
402
Ilustrasi

MAJALAHWEKO, – Kalau di luar Papua seperti: Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera, anak-anak terlantar yang terpengaruh karena lingkungan yang sangat buruk biasanya disebut sebagai anak jalanan atau preman. Dan ini stigma yang cukup krusial disana.

Tetapi di Papua: anak aibon. Dan ini stigma yang paling buruk untuk mereka. Mereka bahkan dikatakan tidak memiliki harapan hidup alias tunggu mati. Tidak ada pilihan lain. Mereka hidup bergerombolan dan berkelompok.

Di usia mereka yang sangat muda (dari usia 6 tahun hingga 25 tahun), kehidupan mereka tercermin dengan kekacauan, pencurian, hisap-hisap aibon, miras hingga kelewatan batas, dan lain-lain. “Dan mereka bahkan dianggap sebagai binatang peliharaannya para aparat keamanan di Nabire.” Salah satu kawan bercerita kepada saya beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Sex Bebas Putra Putri Kaum Muda di Kota Nabire Menghancurkan Generasi Bangsa Kedepan

Dengan stigma negatif yang dibangun masyarakat, membuat mereka tidak punya siapa-siapa. Tidak punya keluarga dan kerabat. Mereka beranggapan keluarga mereka adalah kelompok mereka sendiri.

Jembatan Bumiwonorejo (jembatan kali Nabire: sebutan masyarakat sekitar) hingga depan gapura jalan Batalyon Kodim 753 Nabire merupakan markas terbesar mereka.

Mereka hidup tanpa ada sedikit pun perhatian dari semua pemegang hukum dan uang di negeri Seantero ini. Jangankan itu, masyarakat mereka sendiri tidak ada yang mau perhatikan mereka. Sedikit pun tidak ada. Wajar? Tidak. Inilah ketidakadilan!

Baca Juga: Jangan Malu Terhadap Mereka

18 tahun lalu, saya masih ingat waktu SD kelas 4. Sesudah sepulang sekolah, saya bersama dua kawan saya: Carles dan Yusak pergi mencari kaleng Almanium keliling distrik kota Nabire. Selain untuk mencari uang jajanan sekolah, tidak lain juga untuk membeli aibon untuk dihisap. Dan ini dilakukan setiap hari pada saat itu.

Kisah ini cukup krusial, bagaimana merasakan menjadi bagiam seperti mereka pada saat itu? Dibenci, dicaci maki, dituduh sana sini, distigma buruk, dianggap tidak mampu belajar, dianggap tidak memiliki masa depan, dan dipelihara oleh oknum-oknum tertentu.

Yang terbangun dalam pikiran hanya bagaimana hari ini mendapatkan aibon dan miras dan menikmati kehidupan yang sudah tidak ada apa-apa buat kita.

Di Nabire dari tahun ke tahun tidak ada satu pun masyarakat, komunitas gerakan, atau pemerintah yang punya inisiatif untuk memberantas ini. Jangankan memberantas, meminimalisir saja belum sama sekali.

Baca Juga: 10 Tahun Kepemimpinan JWW di Wamena, Nasib Anak-Anak Aibon diabaikan

Dari tingkat diskusi-diskusi formal hingga non formal, seminar-seminar komunitas hingga seminar publik hampir sering sekali mewacanakan persoalan ini. Tapi hanya di bibir, di dengar semua kalangan, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.

Tidak ada yang tertanan di otak dan yang punya inisiatif untuk memikirkan langkah-langkah kongkrit untuk berantas persoalan ini.

Anak-anak Papua berjumlah bahkan ratusan lebih tidak memiliki cita-cita dan impian mereka untuk tanah ini. Semua dikuburkan oleh stigma-stigma dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang sampai saat ini tidak satu pun mereka nikmati.

Aku Papua – seperti kata Franky Shilatua: “Hitam kulit, keriting rambut aku Papua,” tidak lagi dimiliki dan dihayati oleh mereka.

Baca Juga: Lem Aibon Suatu Ancaman Bagi Generasi Muda Papua

“Hitam kulit, keriting rambut, aku anak aibon.” Kata mereka sambil bernyanyi menyambut tahun baru 2018 di samping jembatan Bumiwonorejo, Nabire. Dibalik ratapan itu, hanya ini cara mereka melawan stigma saat bernyanyi sambil tertawa.

Artikel ini sudah dimuat diblog pribadi dengan judul : Hitam Kulit, Keriting Rambut, Aku Anak Aibon”

Penulis: Mikael Kudiai

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here