Sebanyak 1.315 Orang Non Papua dan Mayoritas Muslim Dilindungi dan Diselamatkan oleh Orang-Orang Gunung dan Gereja-Gereja

0
2244

Laporan Singkat Peristiwa Wamena, 23 September 2019.

“Sebanyak 1.315 Orang Non Papua dan Mayoritas Muslim Dilindungi dan Diselamatkan oleh Orang-Orang Gunung dan Gereja-Gereja”.

“Penguasa Pemerintah Indonesia, Aparat Keamanan TNI-Polri-Brimob harus Berguru dan Belajar Kepada Orang Asli Papua, lebih khusus Orang Pegunungan”

A. Pendahuluan

Mengapa saya mengatakan Penguasa Pemerintah Indonesia, TNI-Polri dan BRIMOB harus berguru dan belajar kepada Orang Asli Papua, lebih khusus Orang gunung? Anda akan belajar banyak kepada mereka karena Orang Asli Papua dari gunung dan Gereja-gereja melindungi dan menyelamatkan 1.315 nyawa orang-orang Non Papua yang mayoritas kaum Muslim bukan dengan kekuatan MONCONG SENJATA. Tetapi mereka mempunyai kekuatan nilai-nilai ketulusan, kebenaran, kejujuran, keterbukaan, kasih, kedamaian, rela berkorban dan pengampunan serta keberanian demi nilai KEMANUSIAAN dan KESAMAAN DERAJAT.

Orang-orang Asli Papua dari pegunungan tahu, sadar dan mengerti, bahwa saudara-saudara Non Papua dan kaum Muslim datang ke rumah/honai atauTanah kami, maka harus menyambut mereka dipaha mereka dan lindungi mereka. Mereka harus dihormati karena mereka datang untuk hidup bersama dalam harmoni.

Seperti Pastor Frans Lieshout, OFM mengakui:

“Saya sendiripun belajar banyak dari manusia Balim yang begitu manusiawi. Saya masih mengingat masyarakat Balim seperti kami alami waktu pertama datang di daerah ini. Kami diterima dengan baik dan ramah, tetapi mereka tidak memerlukan sesuatu dari kami, karena mereka sudah memiliki segala sesuatu yang mereka butuhkan itu. Mereka nampaknya sehat dan bahagia, …Kami menjadi kagum waktu melihat bagaimana masyarakat Balim hidup dalam harmoni…dan semangat kebersamaan dan persatuan…saling bersalaman dalam acara suka dan duka…” ( Sumber: Kebudayaan Suku Hubula Lembah Balim-Papua, 2019, hal. 85-86).

Baca Juga: Gereja Baptis Papua Lindungi 370 Kepala Keluarga Muslim di Wamena

Dalam laporan ini dikutip pandangan seorang misionaris yang hidup lama dengan orang gunung. Dengan tujuan memperbaiki dan meluruskan pemahaman keliru dan miring para penguasa Indonesia dan TNI-Polri terhadap Orang Asli Papua dari Pegunungan.

B. Sebanyak 1.315 Orang Non Papua dan Mayoritas Muslim Dilindungi dan Diselamatkan

Nilai-nilai luhur seperti : Kebaikan, ketulusan, kejujuran, kebenaran kebersamaan, kedamaian, kasih, dan rela berkorban, nilai kemanusiaan dan kesamaan derajat yang dimiliki dan diwariskan oleh Orang Asli Papua yang berasal dari gunung dan Gereja-gereja di Papua terbukti pada demonstrasi melawan RASISME yang terjadi pada tanggal 23 September 2019 di Wamena. Aksi demonstrasi damai ini dilakukan oleh siswa dan pelajar di Wamena karena adanya ucapan RASISME oleh salah seorang ibu guru SMA PGRI Wamena.

Beberapa orang bersaksi bahwa aksi tanggal 23 Sepetember 2019 itu terjadi secara spontanitas dan murni dari siswa dan pelajar, tidak ditunggangi dari pihak manapun. Dan kekacauan ini meledak secara tiba-tiba dan tak terencana, karena semua orang terutama masyarakat umum tidak tahu dan tidak mendengar informasi tentang aksi demo damai oleh siswa dan pelajar ini.

Baca Juga: KNPB Lapago tolak Tuduhan aparat Kepolisian Sebagai Dalang Rusuh Wamena

Dalam peristiwa ini terjadi pembakaran ruko, kios, mobil, motor, bengkel dan beberapa tempat usaha. Warga pendatang ditolong, dilindungi dan dijamin kenyamanan oleh Orang Asli Papua dan para pendeta. Mereka dilindugi di rumah, di dalam gedung gereja, di kandang atau ternak babi.

Tempat usaha seperti ruko, kios dan beberapa rumah juga dikarang untuk dibakar. Sebagai tanda larang, Orang Asli Papua memotong daun pisang dan menempelnya di gedung tersebut bahkan beberapa pendeta dan masyarakat berdiri di pintu rumah para pendatang sehingga anak-anak sekolah tidak membakar gedung atau ruko atau kios itu.

Berikut jumlah pendantang atau Non Papua yang dilindungi oleh pendeta dan Orang Asli Papua.

1. Bapak Namigak Kogoya, anggota jemaat gereja Baptis Wesaroma Pikhe melindungi dan selamatkan 15 orang warga Muslim, tidak termasuk anak-anak kecil. Mereka di sembunyikan di kamar rumah dan kamar mandi beberapa jam.

2. Bapak Pendeta Des Tabuni (Gembala Sidang Gereja GKII “Allah Ninom” ia selamatkan dan melindungi 20 orang dewasa, tidak termasuk anak-anak kecil. Mereka disembunyikan di rumahnya dan di kamar mandi.

3. Bapak Yason Yikwa ( Gembala Sidang gereja baptis Panorama Pikhe, selamatkan dan melindungi saudara/i nonpapua sebanyak 250 orang, tidak termasuk dengan anak-anak kecil. Mereka dilindungi di kompleks dan di dalam gereja Baptis panorama pikhe.

Baca Juga: Sekelompok orang Minta Aparat Senjata untuk Melawan Orang Papua, Lihat Video ini..!!

4. Ibu Anike Gombo, selamatkan dan sembunyikan saudara/i nonpapua di rumahnya sebanyak 20 orang.

5. Bapak Epius Yigbalom, anggota jemaat baptis Wesaroma Pikhe sembunyikan sebanyak 100 orang dewasa termasuk dengan anak-anak kecil. Mereka di lindungi dan disembunyikan di rumahnya.

6. Bapak Simet Yikwa, S.Th, selamatkan dan melindungi 230 orang nonpapua (pendatang). Mereka di lindungi dan diamanakn di dalam Gereja Baptis Wesaroma Pikhe, tidak termasuk dengan anak-anak kecil.

7. Bapak Nakason Yikwa dan Hengky Yikwa selamatkan dan melindugi 150 orang nonpapua. Mereka diamankan dan disembunyikan di rumahnya.

8. Ibu Alfrida Hubi selamatkan dan lindungi 30 orang nonpapua atau pendatang di rumahnya. Mereka di sembunyikan di kandang atau ternak babi. Alfrida Hubi adalah seorang perempuan anak dari kepala Desa/Kampung Dokopku.

9. Gembala, Badan Pelayan Jemaat dan Anggota Jemaat Gereja Baptis Walani Yafet Wakur selamatkan dan lindungi di rumah da dikompleks gereja Baptis.

10. Jemaat dan gembala gereja baptis Agamua selamatkan dan lindungi hampir 500an orang ( data lengkap akan menyusul). Mereka di sembunyikan di Halaman Kepala kampung. Mereka dilindungi beberapa titik, sebagian di gereja Katolik dan sebagian besar di Pak Marian.

11. Beberapa tempat belum ditanyakan dan ambil data.

Baca Juga: Bantuan Sosial untuk Pengungsi rakyat Pendatang di Wamena Negara cepat Turun tangan, Pengungsi rakyat Nduga tidak, Mati dibiarkan

Mereka yang disembunyikan dan dilindungi itu diungsikan di Polres Jayawijaya dan Kodim 1702 Jayawijaya.

C. Kesimpulan

1. Orang Asli Papua dari gunung adalah orang-orang cinta damai, pejuang keadilan, kesamaan hak dan martabat manusia.

2. Penguasa pemerintah Indonesia, TNI-Polri dan Brimob selama ini sangat keliru dengan melabelkan orang gunung radikal. Tapi, fakta pada 23 September 2019 MERUNTUHKAN semua penilaian miring selama.

3. Saudara-saudara Kaum Muslim di seluruh Indonesia, kami Orang Asli Papua bukan musuh Saudara-Saudara Muslim. Kami sudah membuktikan bahwa kami Pelindung dan Penjaga Saudara-Saudara Muslim. Kami Sahabat, Teman dan Saudara Anda. Kami bukan MUSUH Anda.

5. Gereja-gereja di Papua, termasuk Gereja Baptis Papua adalah tempat yang paling aman, nyaman, damai dan adil bagi Saudara-saudara Muslim. Anda tidak menjadi Kristen ketika dilindungi oleh Gereja-gereja. Kami hargai agama Anda. Kami menjaga dan melindungi Saudara-Saudara Muslim karena KEMANUSIAAN.

Baca Juga: Befa Yigibalom: Tidak Semua Orang Papua Benci Pendatang

Laporan lengkap akan disampaikan. Ini laporan pendahuluan.

 

Ita Wakhu Purom, Selasa, 8 Oktober 2019.

Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua,

Presiden

Gembala Dr. Socratez S.Yoman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here