Gubernur Lukas Enembe Selamat dari Skenario Jahat, tugas pertama Kapolda Papua harus ungkap siapa yang Melakukan ini?

3
27083
Gubernur Papua henda memberikan sambutan dalam acara lempas sambut Kapolda Papua.

MAJALAHWEKO, JAYAPAURA – Ancaman keselamatan nyawa terhadap Gubernur Lukas Enembe semakin nyata. Kita masih ingat beberapa peristiwa ancaman kriminalisasi oleh KPK, Polda Papua, Polri, BIN kemudian KPK yang ia alami selama 2017-2019. Belakangan ini, bukan hanya ancaman kriminalisasi melalui hukum melainkan ancaman nyawa.

Kali ini ancaman keselamatan nyawa dialami Gubernur Lukas Enembe terjadi pada 2 Oktober 2019, sekitar pukul 21.35 WP di depan Hotel Horizon, jalan raya Abepura – Kotaraja, Kotaraja, Jayapura, Papua.

Peristiwa ini berawal ketika Gubernur Papua Lukas Enembe hendak pulang ke kediamannya setelah menghadiri acara serah-terima jabatan Kapolda Papua dari Irjen Drs. Rudolf Alberth Rodja kepada Irjen Paulus Waterpauw.

Baca Juga: Lukas Enembe, Sang Tokoh Pemecah Mitos

Pada pukul 21.35 Waktu Papua, setelah acara Gubernur Lukas Enembe naik Mobil Dinasnya, untuk tujuan pulang kegedung negara [rumah dinas].

Ban Mobil Gubernur Papua setelah kejadian, besih baja masih tercantap di roda Ban Mobil

Mobil Gubernur yang telah diparkir paling depan di depan hotel, ketika itu atrik mundur kemudian mau jalan ternyata Ban Mobil terkena benda besi baja, yang telah diruncing sedemikian rupa kemudian diletakan dengan sengaja dibelakang Ban Mobil bagian belakang.

Menyadari ban mobil tertancap benda aneh, secara spontan Gubernur bersama Istri dan Sopir serta ajudan turun dari mobil dan melihat apa yang terjadi. Ternyata ban mobil sudah tertikam besih baja dan mulai keluarkan angin.

Melihat peristiwa yang mengancam nyawa tersebut,  Gubernur terpaksa pindah mobil Sekretaris Pribadi [Sespri]. Anggota yang menjaga maupun tamu undangan menyaksikan peristiwa ini termasuk Kapolda Papua.

Baca Juga: Gubernur Papua, Lukas Enembe, Saya Bersedia Diberhentika  oleh Negara karena Saya Melingungi Rakyat Saya Dimomen Natal 2018

Sebelum naik mobil Sespri, Gubernur Lukas Enembe berpesan kepada Kapolda Papua “ apa yang kalian saksikan ini ancaman terhadap saya. Maka ini tugas pertama yang Kapolda harus ungkap siapa yang menlakukan ini.

Besi Baya, yang diletakan diroda Ban Mobil Gubernur Papua

Peristiwa ini benar-benar mengherankan sebab petugas keamanan hotel maupun dari masing-masing ajudan berada di lokasih, bagaimana mereka tidak bisa memperhatikan orang yang sedang merancang niat jahat ini terhadap Gubernur Papua? Disamping itu, peristiwa ini juga terjadi di depan mata pimpinan Polda Papua juga pimpinan Kodam XVII/Cenderwasih.

Semua pengamanan secara protokol namun aparat yang mengawasi acara ini terkesan membiarkan pelaku melakukan aksi dan niat jahatnya terhadap Gubernur Papua.

Baca Juga: 5 Kebijakan Gubernur Papua Lukas Enembe Yang Patut Dibanggakan

Pra Kondisi

Sebelum terjadi peristiwa pada 2 Oktober 2019, ada beberapa peristiwa yang kami kategorikan sebagai pra-kondisi terhadap Gubernur Papua.

Berikut ini adalah beberapa peristiwa yang kami menilai patut di duga sebagai pra kondisi ancaman terhadap Gubernur Lukas Enembe.

Terbangun isu aksi penyerangan orang Gunung di Kota dan Kabupaten Jayapura. Sejak akhir September pihak tertentu membangun isu “ perihal pelintasan warga OAP Pegunungan dari arah hutan Arso 4 menuju kota sentani melewati jalan setapak pingir hutan di arso 4 Kabupaten Keerom.”

Dijelaskan bahwa sejumlah pemuda [bapak] dari gunung sekitar 20-25 orang setiap malam selama beberapa hari berturut-turut melewati jalan setapak di Arso 4 menuju Sentani dengan membawa senjata tajam.

Baca Juga: Pemuda Papua: Jokowi Membangun Papua itu tugas, Tidak ada Hubungan dengan Papua Merdeka

Dalam pesan tertulis yang beredar di publik tersebut disebutkan juga bahwa ada kemungkinan lewat jalur lain terjadi pengerahan orang gunung masuk Sentani dan Jayapura. Kemudian dikembangkan isu juga bahwa orang gunung sedang mobilisasi untuk melakukan aksi di Sentani dan Jayapura. Isu ini membuat, banyak orang panik dan mengungsi.

Sebaliknya, akhir September keluarga orang Wamena di Yahim Sentani mendapat telepon dari salah satu ibu yang mengaku korban pengungsian dari Wamena [ibu tersebut memperkenalkan nama lengkapnya].

Melalui telepon, ibu tadi menyampaikan, “kemarin saya diselamatkan oleh orang Wamena khususnya dari keluarga Bapa jadi saya perlu menyampaikan, ada rencana penyerangan oleh warga pendatang kepada orang Gunung. Jadi Bapak sampaikan kepada keluarga Bapa dan orang Wamena di Sentani supaya segera mengungsi keluar Sentani.”

Baca Juga: Respon atau Tanggapan Teror Terbuka Terhadap Gembala Dr. Socratez S.Yoman oleh 4 Orang Tak Dikenal 

Disamping itu dikomunitas orang gunung dibangun isu penyerangan oleh kelompok milisia/jihat Islamiah bersama aparat keamanan kepada orang gunung.

Akibat isu tersebut, banyak basis-basis orang gunung di kota dan kabupaten memilih mengungsi ke luar Jayapura  khususnya di Kabupaten Keerom, dan distrik terluar di Kabupaten Jayapura.

Penempatan 50 personil TNI di Gedung Negara. Setelah kejadian 29 Agustus 2019, diperkirakan sekitar 50 personil Polisi (Brimob) yang baru datang dari luar Papua menempati gedung Negara [rumah dinas] Gubernur Papua.

Pada 30 September sekitar pukul 02.00 subuh waktu Papua, ditempatkan 25 personil TNI, kemudian pada 31 September sekitar pukul 09.00 waktu Papua ditempatkan 25 personil TNI lagi.

Baca Juga: Main Kejar, Tangkap dan Bunuh Macam Binatang Buruan

Dengan demikian, terjadi penambahan 50 personil anggota TNI di kediaman Gubernur Papua yang  berlokasi di Dok 5 Kota Jayapura Papua. Kehadiran 50 personil ini tanpa diberitahukan terlebih dahulu kepada Gubernur Papua.

Dua peristiwa ini, patut diduga saling terkait dengan ancaman keselamatan nyawa  yang dialami oleh Gubernur Lukas Enembe pada 2 October 2019, pukul 21.43 di Hotel Horizon Kotaraja Kota Jayapura. Ketika peristiwa ancaman ini benar terjadi, diduga orang gunung akan melakukan protes dan gedung negara menjadi salah satu tempat kosentrasi masyarakat.

Untuk antisipasi amukan protes massa orang Papua dari gunung, dibangun isu penyerangan terhadap orang gunung yang mengakibatkan pengungsian basis-basis orang gunung di Kota dan Kabupaten Jayapura.

Baca Juga: Bantuan Sosial untuk Pengungsi rakyat Pendatang di Wamena Negara cepat Turun tangan, Pengungsi rakyat Nduga tidak, Mati dibiarkan

Hal ini dilakukan untuk mengosongkan basis orang gunung dan meminimalisir jumlah protes orang gunung. Sedangkan tempat menjadi pusat kosentrasi massa rakyat Papua telah dijaga oleh 100 personil TNI/Polri yang sudah ditempati sebelumnya.

Beryukur, bahwa peristiwa naas itu tidak menimpa Gubernur Papua, Lukas Enembe.

3 KOMENTAR

  1. Kepada seluruh saudara/i ku sebangsa dan setanah air,
    Pada jaman kolonial belanda,bangsa kita mudah ditaklukan dengan politik adu domba (devide it impera).belajarlah dari pengalaman itu.
    Marilah kita rapatkan barisan,
    Hanya ada satu kata untuk setan HOAX , yaitu LAWAN !!!
    Solusi : perlunya koordinasi warga masyarakat terhadap setiap permasalahan dan situasi gangguan hingga ke pejabat/aparat ruang lingkup terkecil. (RT/RW/dusun/Lurah/babinsa/dll)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here