Penguasa Indonesia Memproduksi Hoax untuk Mengalihkan Akar Persoalan Rasisme yang Dialami Rakyat Papua Selama 58 Tahun

1
2865
Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua)

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

A. Pendahuluan

Para pembaca yang mulia dan terhormat, isi narasi artikel ini sebenarnya sudah disampaikan dalam bentuk Surat Terbuka kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada 3 Oktober 2019, tetapi penulis berusaha menyampaikan dalam bentuk artikel. Dalam artikel ini ada modifikasi cukup signifikan. Selamat membaca dan menikmatinya.

B. Berita Hoax Yang Membelokkan Akar Masalah RASISME

Sahabat-Sahabat yang terkasih, melalui narasi ini, saya menyampaikan tanggapan tentang pernyataan Kapolri di Metro TV Papua menanggapi demonstrasi damai di berbagai kota di Papua pada Agustus-September 2019 pada dasarnya menentang sikap RASISME yang terjadi pada 15-17 Agustus 2019 di Semarang, Malang dan Jogyakarta yang dilakukan oleh organisasi massa radikal seperti: Front Pembela Islam (FPI), Pemuda Pancasila (PP), Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI (FKPP) dan didukung oleh aparat keamanan.

Baca Juga: Surat Terbuka: Forum Oikumenis Gereja-Gereja Papua untuk Presiden Indonesia

Berita Hoax yang diproduksi penguasa melalui Kapolri yang disampaikan dalam upaya menggelapkan dan membelokkan akar persoalan RASISME sebagai berikut:

“Jadi apa yang terjadi saat ini dan di luar, itu semua yang disign (dirancang) oleh kelompok yang ada di sini. Dan itu saya kejar. Kita sudah tahu nama-namanya. Kami akan tegakkan hukum sama mereka. Karena sebagian mereka terus bermain seperti ini.

Ya, mengorbankan masyarakat ke depan berbenturan dan mereka-mereka bermain tangan bersih, tidak, kita tahu. Ini akan terus terjadi, kalau kita tidak akan bergerak keras, tegas, menegakkan hukum dengan cara-cara hukum pada mereka. Kami akan, tolong dicatat itu,teman-teman.

ULMWP dan KNPB bertanggungjawab atas insiden. Saya akan kejar mereka. Dan mereka juga produksi hoax-hoax itu.

Teman-teman wartawan di Papua faham. Benny Wenda main. Ya, mereka ini mau mengejar apa? Mengejar dalam rangka tanggal 9 September itu ada rapat Komisi HAM di Jenewa. Jadi bikin rusuh supaya ada suara.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Presiden Baptis Papua untuk Kapolri Jenderal Pol.Tito Karnavian

Tanggal 9, tanggal 23, 24 September ada Sidang Majelis Umum PBB. Di situ nanti semua negara-negara bisa menyampaikan pandangan-pandangannya. Tapi tidak ada agenda mengenai Papua. Tapi sengaja bola dilempar.

Ada bebarapa unsur internal. Ya, beberapa, ada satu, dua negara didekati untuk supaya nanti angkat isu itu supaya bikin rusuh di sini. Tapi kasihan, mengorbankan masyarakat. Nanti Tuhan yang membalasnya. Ya, ingat! Pembakaran, adanya korban, adanya meninggal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan yang Mahakuasa. Itu. Tujuannya itu. Tidak ada yang lain. Siapa yang bermain? Benny Wenda.”

C. Fakta-Fakta Dan Kebenaran

Sahabat-sahabat yang mulia, lebih elegan dan terhormat kalau penguasa menjadi terang dan pengayom rakyat. Tetapi, sangat disayangkan, bahwa apa yang disampaikan penguasa Indonesia selama 74 tahun ini kebanyakan berita HOAX. Berita KEBOHONGAN atau HOAX itu berjalan TELANJANG di siang bolong. Media yang berada dibawah kekuasaan dan kontrol militer dan Negara di Indonesia selama 74 tahun, media ini benar-benar dimanipulasi oleh para penguasa Indonesia dan mendidik seluruh rakyat Indonesia dengan berita HOAX yang diproduksi oleh para penguasa sendiri. Berita HOAX yang diproduksi penguasa melalui Kapolri yang dikutip tadi ada beberapa agenda dan tujuan terselubung yang saya tangkap dan mengerti sebagai berikut.

Baca Juga: Pemerintah Dinilai tak adil tangani Pengungsi Nduga dan Wamena

C.1. Pembelokkan AKAR persoalan RASISME yang telah menjadi TELANJANG/TERBUKA dan dilakukan perlawanan dari seluruh rakyat Papua dan masyakarat Internasional. Karena RASISME adalah musuh TUHAN. RASISME juga musuh seluruh umat manusia. RASISME ialah kejahatan kemanusiaan terberat. Pelaku RASISME tidak ada kawan dan sahabat di planet ini.

C.2. Kriminalisasi United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Sahabat-sahabat yang terkasih, perlu mengetahui dan mengerti bahwa ULMWP adalah payung resmi perjuangan politik rakyat dan bangsa West Papua yang dibentuk atas dukungan Koferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC) yang mempersatukam rakyat dan bangsa West Papua. ULMWP diakui dan diterima oleh Negara-Negara merdeka, yaitu anggota Melanesia Spearhead Group (MSG) dan Negara-Negara Kepulauan Pasifik (PIF) dan Negara-Negara Afrika dan Karabia. Bahkan Dewan Gereja Dunia (WCC) mendukung 100% keberadaan ULMWP.

C.3. Pernyataan Hoax penguasa Indonesia yang disampaikan Kopolri ini juga mengkriminalisasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB). KNPB tidak seperti yang Kapolri dan para penguasa berpikir dan menilai. KNPB adalah wadah perjuangan dan perlawanan perilaku RASISME penguasa Indonesia di atas Tanah Melanesia West Papua selama 58 tahun sejak tahun 1961. KNPB wadah perjuangan keadilan, perdamaian dan hak-hak politik rakyat dan bangsa West Papua. Orang-orang dalam KNPB adalah Pencinta dan Pejuang PERDAMAIAN.

C.4. Sahabat-sahabat yang terhormat, ULMWP dan KNPB tidak turun sendiri dari langit atau ia tidak terbang dengan sayap dari negeri yang jauh. ULMWP dan KNPB lahir di Tanah Melanesia sebagai hasil dari perjuagan panjang dan merupakan jawaban adanya persoalan-persoalan berikut:

C.4.1. Kolonialisme dan penjajahan Indonesia berdasarkan roh RASISME.

C.4.2. Kekerasan, kekejaman, kebrutalan Indonesia berdasarkan nafas RASISME.

C.4.3. Pemusnahan etnis Melanesia-Papua berdasarkan semangat nasionalisme sempit yang RASIS.

C.4.4. Ketidakadilan dan diskriminasi yang didorong oleh RASISME.

C.4.5. Perilaku Indonesia yang RASIS ini sudah berlangsung selama 58 tahun sejak tahun 1961.

C.4.6. Pelaksanaan Pepera 1969 yang dimenangkan dengan moncong senjata ABRI (sekarang:TNI) yang berideologi RASISME.

C.5. Sahabat-sahabat yang terkasih, Benny Wenda, Ketua ULMWP adalah pemimpin rakyat dan bangsa West Papua yang terhormat dan mulia sebagai pahlawan pejuang keadilan, perdamaian, kesamaan hak bangsa West Papua dan ia cinta PERDAMAIAN.

Baca Juga: Diskriminasi Berupa Perbudakan Negara Terhadap Orang Papua

Sebagai buktinya, Benny Wenda mendapat penghargaan dan penghormatan Komunitas Internasional: Oxford Freedom Reward pada 17 Juli 2019. Benny Wenda dihormati dan diakui serta sejajar dengan para tokoh dunia yang mempunyai peran dan andil memberikan kontribusi PERDAMAIAN dunia. Benny Wenda mendapat tempat yang terhormat di hati rakyat Papua dan komunitas global. Benny Wenda menjadi kawan, sahabat, teman dan saudara bagi orang-orang yang setia dan membaktikan iman, ilmu, kemampuan, karunia-karunia, dan posisi mereka untuk memperjuangkan keadilan demi mewujudkan dunia yang adil, harmoni dan PERDAMAIN permanen. Bukan seperti yang penguasa Indonesia berfikir, menafsirkan dan menilai miring dalam ruang lingkup sempit NKRI harga mati yang berwatak RASISME dan juga FASIS.

Penghargaan bergengsi Internasional yang diterima Benny Wenda di Oxford Inggris, itu juga pernah diterima Admiral Lord Nelson pada 22 Juli 1802; The Rt. Hon. Arthur Annesty, Vicount Valentia pada Desember 1909; Prof. Christopher Brown CBE pada 2 Juli 2016; Lesley Dewhurst pada 14 September 2016 dan Nelson Mandela dan beberapa tokoh yang dinilai layak dan berhak untuk memperoleh penghargaan terhormat dan mulia ini.

Sahabat-sahabat yang terhormat, Benny Wenda adalah tokoh besar dan pemimpin besar, seperti Ir. Soekarno dulu dinilai kolonial Belanda sebagai Separatis, sedangkan seluruh rakyat Indonesia menghormatinya sebagai pemimpin dan pahlawan bangsa Indonesia. Saya pikir sejarah selalu mengulangi peristiwa yang sama tapi dalam waktu yang berbeda, orang yang berbeda dan bangsa yang berbeda dengan mengukir sejarah peradaban pada masanya masing-masing. Ada legacy dari mereka bagi generasi penerus sebagai warisan berharga dalam sebuah bangsa. Benny Wenda Tokoh Pecinta dan Pejuang PERDAMAIAN dunia. Komunitas internasional mengakui itu, kecuali penguasa Indonesia sebagai produser dan penyebar berita HOAX. Anjing menggonggong, Saudagar Berjalan Terus Menuju pada Destinasinya yang pasti.

Penguasa dan pihak Kepolisian gagal tegakkan hukum dengan mengejar pembunuh 4 siswa di Paniai pada 8 Desember 2014 dan ribuan kasus pembantaian rakyat Papua yang lain. Dimana mata hukum Indonesia? Dimana keadilan hukum bagi rakyat Papua? Hukum di Indonesia berwajah ganda, yaitu rakyat Papua selalu disalahkan dan dikalahkan, hukum dan rasa keadilan tidak pernah berpihak kepada rakyat Papua karena penguasa Indonesia berideologi RASISME.

Baca Juga: Perlakuan Rasisme dan Diskriminasi Terhadap Bangsa Papua Telah, Sedang dan akan terus Berlanjut

Pihak Kepolisian memelihara dengan cara membiarkan dan tidak tangkap dan adili dan penjarakan Kelompok Barisan Merah Putih, Milisi dan Kelompok Masyarakat Nusantara yang membacok dan membunuh Orang Asli Papua dengan keji pada September 2019

Kapolri dengan anggota Kepolisian hanya berani kejar, tangkap, siksa dan membunuh anggota KNPB, mahasiswa dan rakyat yang mengadakan demonstrasi damai melawan RASISME.

Saudara-saudara yang mulia, persoalan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran berat HAM yang dilakukan Negara berdasarkan RASISME selama 58 tahun sudah menjadi persoalan Internasional, bukan karena adanya demonstrasi damai menentang RASISME pada bulan Agustus-September 2019.

Sahabat-sahabat yang terhormat, rakyat dan bangsa West Papua tidak mempermasalahkan persoalan West Papua menjadi agenda PBB atau belum menjadi agenda. Yang penting dan jelas bagi rakyat Papua ialah persoalan kejahatan Negara berdasarkan RASISME selama 58 tahun sudah menjadi persoalan komunitas internasional.

C.6. Saudara-saudara para pembaca artikel ini dimana saja Anda berada, perlu Anda tahu bahwa akar persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsa West Papua selama ini ialah RASISME dari pihak Penguasa pemerintah Indonesia. Penguasa Indonesia dengan gigih mengarahkan dan membawa kita semua ke cara berpikir dan kepentingan mereka, yaitu ke arah politik, separatisme, makar dan OPM, KKSB dan stigma-stigma yang menakutkan sehingga penguasa pemerintah Indonesia, TNI-Polri dengan bebas tanpa hambatan membantai Orang Asli Papua selama 58 tahun. Penguasa pemerintah dan TNI-Polri berlindung dibalik menjaga keutuhan NKRI, keamanan Nasional dan kedaulatan Negara Sebenarnya dan sesungguhnya akar persoalan yang dibuat Orang Asli Papua menderita ialah RASISME yang dikaburkan dalam bentuk KOLONIALISME, IMPERIALISME, KAPITALISME DAN MILITERISME.

Baca Juga: Perlakuan Rasisme dan Diskriminasi Terhadap Bangsa Papua Telah, Sedang dan akan terus Berlanjut

TUHAN Yesus Kristus telah membuka tabir gelap, kabut dan rahasia kolonialisme yang ditutup rapat oleh penguasa Indonesia, TNI-Polri selama 58 tahun sejak 1961 pada 15-17 Agustus 2019 di Surabaya, Malang dan Jogyakarta. Sekarang, hari ini, kita sudah tahu dan mengerti bahwa akar persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsa West Papua ialah RASISME.

D. Hidup Harmoni, Damai dan Bersaudara

Akhir dari narasi ini, saya sampaikan kepada penguasa Indonesia, TNI-Polri dan saudara- saudara, bahwa
Pemerintah Indonesia mempunyai kekuatan senjata, pasukan TNI-Polri jumlanya ribuan, memiliki pesawat tempur, kapal perang/tempur, tank-tank tempur/perang yang kuat dan canggih yang dapat menekan, menindas, dan membunuh kami, Orang Asli Papua dengan ideologi RASISME.

Tapi, kami, orang Asli Papua, rumpun Melanesia ada di atas tanah leluhur kami. Sebelum Indonesia menduduki dan menjajah kami, leluhur kami ada di atas tanah ini. Jadi kami ada di sini dengan roh-roh, tulang belulang leluhur dan nenek moyang kami. Kami ada di sini bersama Tuhan kami. Kami ada bersama Yesus Kristus adalah TUHAN kami, Juruselamat kami, Pemimpin kami, Gembala kami, Penolong kami, Penjaga dan Pelindung kami. Kami berdiri dengan Undang-Undang dan Otoritas kami, yaitu ALKITAB yang membuat kami hidup yang layak, damai, adil dan bermartabat. Kami juga berdiri pada sejarah kami. Kami ada norma-norma dan hikmat dari nilai-nilai budaya kami, bahasa kami. Di sini Tanah kami. Kami bukan tamu. Kami bukan pendatang. Kami Tuan dan lebih berhak di atas Tanah leluhur. Ini hukum TUHAN. Ini hukum Alam. Ini hukum leluhur kami yang tertulis di atas Tanah ini.

Kami juga bersama solidaritas saudara-saudara Non-Papua yang datang mengadu nasib ekonomi, membangun dan memajukan dalam segala bidang di atas tanah kami. Mereka sahabat dan saudara-saudara kami. Kami mengasihi dan mencintai mereka. Kami tidak pernah dan belum pernah marah. Kami tidak pernah dan belum pernah usir mereka. Lihatlah banyak saudara-saudara pendatang ada di kampung-kampung, daerah-daerah terpencil dengan bebas, damai dan kami hidup bersama, makan bersama, cerita bersama, senyum bersama, tertawa bersama sudah bertahun-tahun. Kami hidup dalam harmoni dan damai selama ini dari Sorong-Merauke. Kami tidak berdebat dan marah-marah. Kami hidup dengan kasih dan semangat solidaritas saling membagi suka dan duka. Kami tidak pernah membeda-bedakan. Ada makna dan arti hidup yang kami menikmati bersama dengan cinta kasih dan damai.

Baca Juga: Kita Semua Waspadan dan Menghindri Konflik Horizontal Antara Orang Asli Papua dengan Pendatang

TETAPI, belakangan dan baru-baru ini, SETAN dan IBLIS siapa yang mengusik, merusak dan mengganggu kami dengan munculkan ide-ide jahat dan memecah belah kami yang membentuk: Masyarakat Nusantara, Milisi dan Barisan Merah Putih di Tanah Papua? Cara-cara ini telah merusak modal sosial persaudaraan dan persahabatan yang terbangun dan terpelihara selama ini di Tanah kami.

Para penguasa Indonesia, aparat TNI-Polri yang terkasih, apapun dalih, alasan, skenario, sandiwara dan HOAX penguasa Indonesia di atas hidup dan tanah leluhur kami, kami BERHAK dan TETAP berdiri TEGUH untuk membela MARTABAT dan HARGA DIRI kami sebagai manusia bukan monyet menurut Indonesia tapi bukan menurut TUHAN dan leluhur kami.

TULISAN ini wujud dan bukti pertanggungjawaban iman percaya saya kepada TUHAN Yesus Kristus yang mengajarkan saya untuk menyampaikan kebenaran.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

Terima kasih. Salam damai dari Tanah Melanesia, West Papua.

Waa…waa…kinaonak.

 

_________________________________________

Ita Wakhu Purom, 4 Oktober 2019

Penulis: Presiden Badan Pelayan Pusat
Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua,

Editor: Nuken/MW

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here