Menghening dari kata “Seakan Torang Stenggah Binatang”

0
764
Rakyat Papua Demonstran dari Koalisi Peduli HAM Papua melakukan aksi damai di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Senin (15/12).

Menghening dari kata ”Seakan kita stenggah binatang” (Pilep Karma), adalah suatu gambaran umum yang dinyatakan kepada dunia atas pemusnahan etnis yang sedang dialami oleh rakyat Papua pada umumnya. di bantai seakan orang Papua bukan manusia.

Orang Papua seakan diperlakukan bukan seperti manusia. Orang Papua dipandang sebagai makluk evolusi sesuai teori darwin, ini kalau ditinjau dari tindakan manusia-manusia monopoli melalui Negara sebagai topengnya. Suku aborijin mengalami genocide selama 120 thun karena dianggap bukan manusia dari para jelajah inggris yang menganut teori Darwin saat itu.

Kalau bicara teori Darwin bukan zamannya saya pikir, nilai manusia lebih dari segalanya yang patut dihormati, bukan kepentinganlah yang harus dihormati. Dalam artikel singkat ini, saya ingin lebih dulu berkata bahwa; orang Papua itu sedang digenosidakan karena memiliki daerah yang mengkagumkan. tidak ada sebab lain yang dapat diprediksi selain digenosidakan oleh manusia monopoli alias kapitalis, klonial Negara Indonesia.

Baca Juga: Otier Wenda, Mahasiswa Exodus dari Jawa Gugur kena Peluru Militer Indonesia

Kematian orang Papua semakin terbiasa. Bukan lagi sesuatu yang harus dihebohkan atau dipertanyakan. Hal ini terjadi karena, manusia Papua mati secara sistematik tanpa henti, artinya orang Papua mati semakin terbiasa dan sedang menuju kepunaan.

Jangan bertanya kepada saudara anda, kalau kita sedang musna atau tidak. Pergilah ke makam lalu lihat orang Papua yang lebih banyak mati atau pendatang, disana akan jelas kalau kita orang Papua lebih menonjol kematianya. Padahan kalau melihat dari populasi penduduknya non Papua lebih banyak dari pada kita orang Papua.

Coba dengarkan ambulan membawah mayat orang Papua mati tiap hari kita dengar, itulah bukti kalau kita sedang digenosidekan oleh Negara demi kepentingan besar di Papua.

Orang Papua mati tidak ada factor lain selain kita dibunuh secara sistematik, ada secara langsung kita ditembak maupun secara konspirasi makan, minuman, donor darah dan lain sebagainya.dengan tidak disadari Negara menggangap kita hanya sebatas makluk yang tidak memiliki nilai kemanusian.

Otinus Lokbere Meninggal, kena peluru Senjata. Senin 23 September 2019

Baca Juga: Korban kena Tembakan Pelajar dan Mahasiswa di Makamkan hari ini di Jayapura

Coba lihat setiap kebijakan selalu lompat sana, lompat sini anggap kita orang Papua tidak punya hak di tanah kita sendiri. Inikan kita bisa merasakan bahwa Negara punya skenario besar dibalik itu semua.

Semua sudah jelas kenapa masih ada orang Papua yang mengenakan gelar yudas, apakah tidak punya mata dan hati seketika saudara kita diperlakukan seperti bukan manusia oleh negara ini. Apakah kalian bangga dengan kesejahteraan masyarakat Papua yang masih tertinggal jauh dari non Papua yang saat ini sedang hidup di tanah Papua dengan foya-foya?

Jawabanya adalah, semua dari kita dan oleh kita, orang diluar sana akan lihat keoptimisan kita baru akan membantu kita untuk keluar dari keintimidasi negara penguasa ini (Indonesia). Saling sadar akan kloni dari Negara ini lebih baik. Apabila kita takut bersuara dijalan seperti (KNPB, AMP, DLL).

Baca Juga: Aksi di Wamena, Sejumlah Pelajar Kena tertembak Peluru di wamena

Bangun nasionalisme Papua melalui teman bermain kita tiap hari. Saat duduk bercanda seharian, ceritakan kematian orang Papua dan kejahatan Negara terhadap Orang Papua saat ini. Hal sederhana ini lebih dari kita orasi dijalan, karena filofofi orang Papua ”satu jiwa sadar, kita sudah menangkan seribu jiwa untuk Papua”.

(ND)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here