Surat Terbuka: Forum Oikumenis Gereja-Gereja Papua untuk Presiden Indonesia

3
3926
Foto Dok MW/Nuken

FORUM OIKUMENIS GEREJA-GEREJA PAPUA

SURAT TERBUKA

Ibrani 4 : 13

“Dan tidak ada satu makhluk punyang tersembunyi dihadapan-Nya sebab segala sesuatu telanjang terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggunganjawab.”

Kepada Yang Terhormat.

Presiden Republik Indonesia

Hal •       Pembebasan terhadap semua tahanan di POLDA dan POLRES/Brimob di Seluruh Tanah Papua

Syalom…!

Bapak Presiden yang terhormat, melalui surat ini, kami mendesak Bapak Presiden segera membebaskan para tahanan yang dianggap sebagai provokator melalui Aksi Demo Damai (29 Agustus 2019); Mengapa?

1. PENGALIHAN DARI ISU RASISME

Ada beberapa alasan?

a. Kemungkinan keterlibatan mereka (kita tidak sangkal) tetap ada; tetapi kehadiran aparat dan ribuan pasukan yang sudah didrop setelah 19 Agustus 2019; apakah mereka hanya menonton serta membiarkan Barisan Merah Putih dan Milisi Nusantara; secara terang-terangan melaukan aksi anarkis, Barisan Merah Putih dan Milisi Nusantara pada tanggal 29 Agustus malam sampai tanggal 2 September: yang menewaskan beberapa warga di pihak Papua dan;

b. Hingga hari ini kami belum mendengar para anarkhis dari Barisan Merah Putih dan Masyarakat Nusantara di tahan;

c. Terlebih lagi pihak Keamanan yang membiarkan para Barisan Merah Putih dan Milisi Nusantara ini bertindak anarkhis, hingga hari ini belum di tahan di Polda. Apakah hukum yang dipakai di POLDA punya mata?

Baca Juga: Surat Terbuka dari Presiden Baptis Papua untuk Kapolri Jenderal Pol.Tito Karnavian

Sekali lagi kami meminta semua tahanan di Lingkungan POLDA Papua dan Papua Barat di bebaskan; sebelum ada Tim Investigasi Independen yang memastikan apakah para tahanan yang ikut dalam aksi Demo tanggal 29 Agustus lalu dan Para Barisan Merah Putih dan Milisi Nusantara ini memang tidak bersifat anarkhis dan provokatif (pasal berapa ayat berapa?)

Ini apabila tidak dilakukan kami menganggap semua ini hanya skenario Negara dan pemerintahnya sedang menyembunyikan wajah gelapnya: rasisme dari depan publik Papua dan dunia.

2. WAJAH RASISME PEMERINTAH NKRI

Simak bagaimana pemerintah Negara ini sejak 16 Agustus 2019 menyembunyikan wajah rasismenya terhadap Papua. Kita hanya sebutkan 3 pengalaman nyata terkini: apa yang kami maksud dengan Negara yang berwajah rasis”.

Baca Juga: Rasisme dapat Menghancurkan Negara yang kuat Menjadi Runtuh

a. Franz Kaisepo diangkat sebagai pahlawan NKRI tetapi banyak warga Indonesia meragukan hakekat kemanusiaan dia, karena dalam pandangan mereka, dia hanya seekor monyd’. Banyak warga Indonesia merasa terhina: tampilkan gambarnya dalam mata uang pecahan sepuluh ribu. Negara/Pemerintah ini; dan karena tidak ada langkah dari Pemerintah, sehingga rakyat merasa benar dalam anggapannya yang rasis terhadap Papua itu.

b. PERSIPURA Jayapura yang telah lama mengalami sejarah rasisme, sejak awal tidak di sikapi oleh Pemerintah dan rakyat Indonesia. Simak perlawanan Persipura terhadap rasisme itu yang adalah akar dari krisis kemanusiaan masyarakat Indonesia modern;

b.1. Kata Boaz yang diunggap dari media social tetapi kemudian dihapus. Lebih terhormat mana? monyet cari ilmu di rumah manusia atau 2 manusia mencari makan di rumah monyet.

b.2. Saat Boaz mencetak Goal dari bench dibentangkan tulisan STOP RASISME.

b.3 Lalu saat melawan Borneo FC, di Station Segiri Samarinda, Kalimantan Timur, pemain Persipura dan Borneo FC berfoto dengan membawa tulisan STOP RASISME. Borneo FC juga mengungga foto striker Persipura, Titus Bonay yang memegang tulisan Say No to Racism.

Baca Juga: Perlakuan Rasisme dan Diskriminasi Terhadap Bangsa Papua Telah, Sedang dan akan terus Berlanjut

b.4 terakhir, kemarin tanggal 16 Agustus 2019; dalam kasus ini, Anggota TNI/POLRI berseragam, Ormas semua di depan media menyuarakan dan ujaran rasis; dilempari 1 karung ular ke Asrama Mahasiswa Surabaya. Ini hanya pengulangan dari apa yang Mahasiswa dan warga Papua bertahun-tahun oleh Negara /Pemerintah ini; yang dibiarkan berkembang biak; dan ditangkap oleh rakyat dari TNI berpenduduk 250 juta yang mengkriminalisasi/mendiskrimanasi 1 juta Papua.

  1. BANYAK JALAN KE ROMA, BANYAK SIASAT PENGALIHSAN ISU RASISME.

Hari ini Forum berhadapan dengan system keamanan Negara ini yang amat rapih untuk menyembunyikan wajahnya yang bermain untuk terus (a) menjaga kepentingan ekonomi (b) politik dan geopolitiknya? Tetapi tidak, di mata Tuhan sebagaimana di kutip di atas (Ibrani 4:13).

BaGaimana Gereja di Tanah Papua.

Simak (a) siasat bagaimana Negara /pemerintah menyembunyikan wajah rasisme terhadap Papua yang sudah menjadi bagian dari Sejarah bangsa Papua di Indonesia yang rasis, tetapi secara sistematis membangun budaya “melempar batu sembunyi tangan”; dengan (b) menyembunyikan lembaga aparat Negara yang terlibat langsung dalam melempar ujaran rasis terhadap Mahasiswa Papua tanggal 16 Agustus dan (c) mengalihkan gugatan /protest mahasiswa terhadap rasisme Negara/Perintah ke masalah politik/konflik horizontal.

Baca Juga: Rasisme, Kolonialisme, Imperialisme, Kapitalisme, Militerisme Menjadi Akar Persoalan di West Papua 

Apa saja siasat-siasat itu?

3.1. Mulai pendropan pasukan yang berlebihan ke tanah Papua paska Aksi di Manokwari sejak malam 19 Agustus 2019, pendropan tentara yang berlebihan ini merupakan pengkondisian proyek — proyek Negara selanjutnya seperti berikut:

3.2. Tabrakan terhadap seorang warga ribuan warga Deiyai yang berdemo di depan kantor Bupati Deiyai yang menyebabkan/ menewaskan 7 orang dan belasan mengalami Iuka – Iuka.

3.3. Perilaku KaPorles Paniai yang memaksa pasien korban Penembakan Deiyai tadi (26 Agustus 2019 dari Rumah Sakit Paniai ke Polres tahanan Polres di Enarotali; siasat yang digunakan oleh Polda Papua dalam kasus Expo di Waena pada tanggal 23 September 2019).

3.4. Aksi demo damai tanggal 29 Agustus 2019 yang menentang rasis Negara Indonesia terhadap Papua disusupi oleh kelompok kelompok anarkis yang tidak di ketahui oleh Korlap Aksi.

Baca Juga: Diskriminasi Berupa Perbudakan Negara Terhadap Orang Papua

3.5. Siaran berita RRI pagi, 30 Agustus 2019 yang secara selektif (menurut kami) mewawancarai Kelompok pro NKRI/ Barisan Merah Putih yang mengedepankan Pernyataan 3 orang Tabi: (a) Rolo Abisay Ketua DPR Kota, (b) Tuan Mehue, Pansus Ekosoc MPR dan (c) Bupati Jayapura yang pada hakekatnya :

  1. mengklaim masyarakat Tanah Tabi sebagai masyarakat Pencinta Damai.
  2. mengkambing-hitamkan sebagai “Masyarakat GununX’ sebagai pihak yang bikin rusak Tanah Tabi.
  1. “masyarakat Gunung’ yang pada tanggal 30 Agustus menjadi sasaran pembacokan sejak tanggal 29 Agustus sore oleh Pihak Merah Putih dan Milisi Nusantara yang diback up POLRI mencari “Orang GununX’ : dengan memaksa membakar kendaraan yang lewat untuk menurunkan kaca mobil kalau ada orang gunung.

3.6. Mulai tanggal 29 Agustus sore para Milisi Merah Putih dan Nusantara mulai menguasai jalan jalan di sebagian jalan kota Jayapura khususnya Entrop dan dengan dukungan dari Polisi menguasai sebagian mencari Orang Gunung.

Baca Juga: Ini Kronologis Penikaman Terhadap Sembilan Orang di Kota Jayapura

3.7. Negara menghindar dari menyelesaikan masalah anggota TNI Polri yang terlibat dalam menyampaikan ujaran2 rasis di depan public seperti dalam kasus kasus TNI POLRI di depan Asrama Mahasiswa Papua Surabaya dan juga Malang.

3.8 Penangkapan /terror terhadap LSM atau aktivis Indonesia yang bersolidaritas dengan Papua yang terlihat dalam Kasus:

a. Surya Anta dari FRI West Papua.

b. Penahanan terhadap Veronika Koman yang melakukan pendampingan hukum terhadap AMP/aliansi mahasiswa Papua, dan KNPB.

c. Dan tekanan dan terror terhadap LSM lain di Jawa.

3.9. Pemerintah Pusat maupun Provinsi yang memposisikan semua berita dari Papua sebagai HOAX tetapi pada saat yang sama pihaknya, Pemerintah itu memproduksi HOAxnya sejak 19 Agustus 2019, dalam rangka menyembunyikan wajah rasisme Negara terhadap Papua. Simak yang berikut,

a. Kapolri Tito Karnavian mengklaim “akun akun” media social yang memproduksi dan menyebar luaskan berita – berita HOAX tentang asrama Mahasiswa katanya, yang menyebkan kerusuhan di Papua. Tapi seperti kata wakil KONTRAS, Peri Kusuma, “Pemerintah sendiri juga menyebar luaskan HOAX sebagaimana klaimnya.

Baca Juga: Tangkap dan Adili TNI, Polri dan Ormas Pelaku Rasisme dan Pemukulan Mahasiswa Papua di Malang

b. MENKOMINFO pada tanggal 15 September yang menyebutkan “20 negara terlibat berita hoax tentang Papua yang disebarkan dari 20 negara”.

3.10. Negara gunakan berbagai cara /Tekanan untuk memaksa ribuan Mahasiwa Papua kembali ke kota studi tanpa memberi jaminan konkrit.

a. Salah satu contoh konkrit ialah: Tekanan kepada Ketua MRP untuk menarik Maklumat agar mahasiswa pulang apabila terancam; mencabut mandat Ketua MRP sebagai Hoax mahlumat MRP tersebut.

b. POLRES Timika (cl)yang membubarkan secara paksa Acara Bakar Batu bagi Penyambutan Mahasiswa Papua dari luar Papua (Tabloid JUBI Edisi : 18/9/19) dengan menangkap 3 (tiga) orang dengan Kata-kata, “Silahkan tempat Mama Papua Cyang sedang siapkan bakar batu dengan kata-kata) Silahkan tinggalkan tempat…, sekali lagi tempat ini…. secara keseluruhan tempat sudah di kepung.. sampai hitungan 10, 9, 8, 7,6,5,4,3,2,1…” disusul tembakan … (c2) kemudian pergi melakukan Pengecatan dengan Merah Putih di makam pemimpin OPM, Kelly Kwalik di kota Timika.

Baca Juga: Keterlaluan, Polres Mimika Bubarkan Paksa Acara Adat Suku Amungme di Papua

c. Tidak ada proses hukum bagi Kelompok Milisi Nusantara Bersatu, Barisan Merah Putih yang di back up oleh polisi pada sore hari tanggal 19 Agustus — pada 1 September yang melakukan:

(c.l) Membunuh Efert Mofu (35) tahun) dan Marcelino Samon (15 tahun);

(c2.) Pembacokan/ penganiyaan terhadap 8 orang masyarakat Pegunungan Tengah di bawah pimpinan Pdt Daud Auwe pada tanggal 30 Agustus,

(c3) Atius Inup (26 tahun) , seorang anggota Dewan dari Yahukimo yang tangannya dipotong /putus di di Kantor Kantor Camat Entrop pada jam 19.00 malam, dll

3.11. Budi Gunawan [BIN yang memfasilitasi yang membawa 61 Tokoh ke Jakarta untuk menemui Presiden Jokowi dan membacakan 10 butir pernyataan oleh Abisai Rollo yang pada tanggal 30 Agustus menyebar opini pelaku kerusuhan “Orang Gunung’.

Baca Juga: Mengejutkan, Pengakuan Peserta yang dipaksa ikut pertemuan 61 “tokoh Papua” dengan Jokowi

3.12. Penangkapan terhadap Agus Kosay Ketua KNPB sebagai Provokator.

3.13. Tanpa Menkolpolhukam yang menanggapi SURAT GEMBALA dari Forum Oikumenis pada tanggal 26 Agustus 2019, butir 6 agar pemerintah mengundang OPM dan ULMWP untuk berunding demi perdamaian Papua yang permanen, sebaliknya Kapolri dan MENKOPOLHUKAM langsung menuduh Benny Wenda/ ULMWP sebagai provokator sebagai dalang Kerusuhan tanggal 29 Agustus 2019 di Jayapura.

4. AKAR PERSOALAN KONFLIK PAPUA SUDAH BERLANGSUNG LAMA: LIPI & FORUM OIKUMENIS GEREJA PAPUA

Apa akar persoalan yang terus memporak-porandakan Papua dari tahun hingga ke tahun sejak awal tahun 1960an?

a. Menurut kami, Forum Oikumenis: akar persoalan semua konflik di Tanah Papua ini, adalah rasisme dan diskriminasi terhadap Papua yang menyemangati / mendasari pembangunan dan militerisme di Tanah Papua sejak awal tahun 1960an hingga hari ini.

Baca Juga: Akar Persoalan Papua Ialah Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, Militerisme, Pelanggaran Berat Ham dan Sejarah Pepera 1969

b. Tetapi Bagaimana LIPI? Setali tiga uang. Dalam pandangan LIPI: TIM KAJIAN PAPUA ada empat hal yang menjadi Akar Persoalan masalah Papua: sebagaimana yang diungkapkan Putri Budia Tri (Kompas com. Sabtu 31 Agustus 2019). Keempat masalah tersebut :

b.1. Diskriminasi Rasial terhadap Papua,

b.2. Masalah rasisme ini yang berhubungan dengan tiga masalah lain yaitu: pelanggaran HAM yang terjadi di Wasior, Wamena, Paniai yang terjadi Papua di era reformasi yang belum diselesaikan,

b.3. Pemerintah menutup diri terhadap status dan sejarah politik di Tanah Papua.

b.4. Perilaku Pemerintah yang represip yang menyebabkan kegagalan pembangunan di Tanah Papua.

5. REKOMENDASI

Berhadapan dengan tembok realita di atas sebagai akar persosalan konflik selama ini, kami sebagai Gereja melalui Forum ini, kami mendesak :

a. Agar masalah Papua diselesaikan dengan perundingan damai sebagai mana yang Pemerintah Indonesia sudah melakukan dengan Aceh/GAM yang berakhir dengan Perjanjian Helsinky. Dalam semangat demikian kami sudah menyerahkan Surat Gembala kami tertanggal 26 Agustus 2019 kepada Kapolri dan Panglima TNI; butir 6 Surat Gembala mendesak agar Pemerintah Indonesia bertindak adil terhadap Papua dengan berunding dengan ULMWP dan OPM yang bisa melahirkan Perjanjian Sydney, New York atau Washington atau Amterdam (tergantung tempat mana yang disepakati oleh ULMWP dan NKRI).

Baca Juga: Surat Terbuka: Ungkapan Hati Nurani Seorang Gembala dari Tanah Melanesia, West Papua

b. Menghentikan semua upaya pengalihan isu rasime ke soal lain (butir 2 dan 3 diatas) dan membebaskan tahanan yang ada di Polda Papua yang kami lihat sebagai bagian dari (bl) pengalihan terhadap isu/ akar persoalan yang kami sebutkan diatas tadi. (b2) Pembicaraan langsung ke akar soal tidak menyebar masalah lain: seperti Pemekaran Propinsi dan pembangunan Istana, dll dan (c) tidak melayani pihak2 yang terus sibuk ment’kambinghitamkan” Papua yang dianggap separatis menuding Benny Wenda sebagai provokator atau ULMWP.

c. Kami sampaikan dalam rangka mencari solusi “Perdamaian yang Permanen di Tanah Papua” agar generasi keturunan kami ke depan bisa bersekolah dalam keadaan damai tidak seperti generasi kami dan generasi2 sebelumnya sejak tahun 60 terakhir di Tanah ini.

d. Dalam doa dan semangat ini kami meminta agar sekarang dan ke depan semua kebijakan pembangunan di Tanah Papua, langsung ke akar persoalan tadi.

e. Gereja-gereja/Sekolah Sekolah Teologi di lingkungan Gereja Gereja aktif dalam menghadapi 4 (empat) akar persoalan tadi, demi terwujudnya Papua Damai Sejahtera.

Baca Juga: Tidak Semua Rakyat dan Bangsa Indonesia Menghina Rakyat dan Bangsa West Papua:  Monyet,  Separatis, Makar, Pemberontak, OPM dan KKSB

  1. Harapan ke Kapolda Baru

Mengakhiri surat terbuka ini kami mendengar bapak Paulus Waterpauw dilantik sebagai Kapolda tepat pada saat ( hari-hari, bulan-bulan, dekade forum Gereja-gereja ini menyaksikan satu juta orang Papua sedang berhadapan dengan Pemerintah Republik Indonesia yang rasis yang mengayomi 250 juta rakyat Indonesia). Dalam 50 tahun lebih pemerintah ini telah melaksanakan kebijakan dan kerangka pembangunan yang dinafasi rasisme, sehingga pelantikan Bapak Kapolda baru ini kami terima dalam harapan akan bergabung dengan forum gereja-gereja Papua menjawab kegelisahan satu juta warga Papua

a. Jakarta menghentikan pasukan ke Papua, sebaliknya bersama forum mendesak Pemerintah Pusat untuk menarik pasukan dari seluruh Papua termasuk dari Nduga

b. Memberikan kesempatan kepada jemaat untuk mendapat pelayanan truma healing mulai di Jayapura:

  1. Keluarkan 24 tahanan dari Papua lantaran aksi 29 Agustus 2019
  2. Menangkap dan menahan para pelaku kekerasan dari barisan Merah Putih dan Gerakan Nusantara yang sudah menebar teror, membacok orang, membunuh warga Papua, Mencari orang gunung pada tanggal 29 Agustus sore sampai dengan 2 September 2019
  3. Bekerjasama dengan forum untuk memastikan bahwa tidak ada granat yang ditinggalkan di Nduga ( mencegah insiden belasan anak yang korban pasca penyanderaan Mapenduma 1996)
  1. Dan bekerjasama mengirim pastoral healing ke Nduga dan kemana saja, ke Deiyai, Puncak dan Puncak Jaya.

Baca Juga: Apakah Kekerasan Rasialisme di Surabaya, Malang dan Semarang  sebagai Upaya TNI untuk Mengalihkan Operasi Militer yang masih  Berlangsung di nduga yang sudah menjadi Persoalan Internasional?

7. PENUTUP

Dalam semangat demikian kami sadar bahwa :

a. Semua yang kami bahas diatas adalah “terbuka dan telanjang terbuka di hadapan kita semua terlebih Tuhan, sehingga kita wajib mempertanggung- jawabkan iman (Ibrani 14 : 13) secara nyata dalam dunia Papua yang sedang bergejolak.

b. Ini juga kami lakukan dalam memperjuangkan impian kami untuk mengenang para pemimpim dan tokoh Gereja dan masyarakat kami yang telah berdoa, bergumul pada generasi lalu “agar Papua pulih dan damai yang permanen bisa”;

c. Memungkinkan anak anak generasi Tanah Papua ke depan sehingga mereka bisa mendapat pendidikan yang layak, makan minum secukupnya sehingga ke depan mereka bisa bersaing dengan bangsa Iain Indonesia, Pasifik ditingkat global.

Terima kasih atas perhatiannya.

                                 Jayapura, 01 Oktober 2019

 

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here