Pemerintah Dinilai tak adil tangani Pengungsi Nduga dan Wamena

0
2303
Pengungsi Nduga

MAJALAHWEKO, JAYAPURA – Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di Papua dinilai tak adil dalam penanganan konflik pengungsi Nduga dan Wamena.

Aleks Giyai, Pegiat Sastra Papua menilai, penanganan pengungsi Wamena relatif lebih cepat dan tanggap dibanding pengungsi Nduga. Padahal pengungsi Nduga sudah terbengkalai selama sembilan bulan.

“Kami melihat Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah salah dalam menangani warga pengungsi dari Wamena dan warga masyarakat dari Nduga yang sudah sejak sembilan bulan lalu hingga kini tidak ada bantuan dari pemerintah,” kata Giyai, Rabu (2/10/2019).

Baca Juga: Pelajar dan Mahasiswa Nduga di Jawa Timur sepakat pulang ke Papua

Ia mengatakan, seharusnya penanganan pada pengungsi dilakukan secara adil dan merata. Ini sesuai dengan prinsip negara Indonesia yang mengaku akan mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat.

“Pengungsi Nduga dan Wamena sama-sama mencari perlindungan dan kenyamanan yang sama di mata pemerintah dan hukum Pancasila yang berlaku di Republik Indonesia,” katanya.

Sementara itu Benyamin Lagowan, mahasiswa di Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura menambahkan, konflik bersenjata yang sudah terjadi sejak Desember 2018 masih membuat ribuan warga mengungsi.

Baca Juga: Korban meninggal akibat konflik di Nduga, Papua 182 orang: ‘Bencana besar tapi di Jakarta santai-santai saja’

Tim kemanusiaan lokal melaporkan bahwa 184 pengungsi Nduga sudah meninggal dan 41 di antaranya adalah anak-anak berusia sekolah.

“Demonstrasi besar-besaran dan kericuhan (akibat rasisme) bukanlah satu-satunya isu mendesak di Papua. Setelah konflik bersenjata di Kabupaten Nduga berlangsung sembilan bulan lamanya, masa depan sekolah ratusan anak-anak (dari wilayah ini) masih suram. Kehidupan yang memprihatinkan di Wamena membuat mereka kesulitan untuk bertahan hidup, apalagi belajar,” katanya.

Ia mengatakan, bantuan pejabat pemerintah pusat dan daerah untuk kasus Nduga hampir tidak jelas, sedangkan untuk Sentani miliaran rupiah sudah masuk. Apalagi bantuan untuk para pengungsi dari Wamena yang ada di Jayapura di posko pengungsian maupun pengungsi yang ada di Wamena.

Baca Juga: Apakah Kekerasan Rasialisme di Surabaya, Malang dan Semarang  sebagai Upaya TNI untuk Mengalihkan Operasi Militer yang masih  Berlangsung di nduga yang sudah menjadi Persoalan Internasional?

“Manusia zaman sekarang lebih suka menolong sesama karena alasan persamaan ideologi dan politik, ketimbang karena nilai kemanusiaan. Manusia zaman sekarang rupanya hampir semuanya penakut dan mendukung para pembunuh kemanusiaan yang penuh impunitas yang di sisi lain berlaku seperti superman sementara di sisi lain berlagak seperti setan pembunuh,” tegasnya. (*)

 

Reporter: Agus Pabika

Editor: Edho Sinaga

Sumber: jubi.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here