Sejarah Mencatat: Orang Papua Bukan Bagian dari Indonesia

9
6936

Oleh: Sepi Wanimbo

Suasana menjelang Pepera tahun 1969 (IST)

MAJALAHWEKO, (OPINI) – Sejarah orang Papua sudah tertatat, rapi, lurus, baik, terstruktur, dan jelas tidak ada yang miring, bengkok sebab kami orang Papua rambut keriting, kulit hitam, budaya, dan bahasa kami orang Papua tidak bisah samakan dengan daerah lain di Indonesia.

Dr. George Junus Aditjondro mengatakan, ” dari kaca mata yang lebih netral, hal – hal apa saja yang dapat membuat klaim Indonesia atas Daerah Papua Barat. Ini pantas untuk dipertanyakan kembali ( 2000 : hal. 8 ) Robin Osbon mengukapkan, bahwa pengambungan daerah bekas Jajahan Belanda itu ke dalam Wilayah Indonesia di dasarkan pada premis yang keliru yaitu ketika 1.025 orang delegasi yang di pilih Pemerintah Indonesia memberikan suara mereka di bawah pengawasan PBB di artikan sebagai aspirari politik dari seluruh rakyat Papua Barat. Kini premis ini diragukan keabsaannya berdasarkan Hukum Internasional ( Juli, 2000: hal.xxx ).

Baca Juga: Perlakuan Rasisme dan Diskriminasi Terhadap Bangsa Papua Telah, Sedang dan akan terus Berlanjut

Sedangkan kedua Tokoh peduli HAM di West Papua Barat, Theo P. A. van den Broek OFM dan J.Budi Hermawan OFM dalam karya mereka juga menyatakan: bagi siapa pun yang mengetahui serba – sedikit situasi di Tanah Papua, bukan rahasi lagi kalao masyarakat asli tanah Papua menderita akibat sering terjadinya manipulasi politik dan kekerasan.

Setelah kehilangan status sebagai jajahan Belanda pada 1962, Papua bagian dari wilayah Republik Indonesia lewat manipulasi politik Internasional dan secara dramatis habislah harapan untuk menjadi negeri sendiri. Walaupun diadakan referendum di bawah pengawasan PBB tahun 1969, tetapi rakyat Papua tidak memiliki pilihan sama sekali.

Aksi penghianatan internasional ini menyiksakan pengalaman mendalam, kalau bukan traumatis, dan terpatri di dalam hati masyarakat Papua. Integritas ini diikuti oleh pengalaman penindasan lebih dari 30 tahun, termasuk pembunuhan semena – mena, penyiksaan, dan penghilangan paksa…bahwa pelangaran – pelangaran itu tidak bisah dilihat sebagai kasus – kasus terpisah semata – mata kejahatan individu. Semua ini bagian dari pola struktural.

Baca Juga: Rasisme, Kolonialisme, Imperialisme, Kapitalisme, Militerisme Menjadi Akar Persoalan di West Papua 

Kekerasan terlihat dengan tindakan – tindakan militer dan polisi Indonesia terhadap orang – orang Papua sejak Papua di masukkan secara paksa ke dalam wilayah Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963 secara administratif dan melalui rekayasa PEPERA 1969. Istilah dimasukan dengan paksa juga sebagaimana diakui oleh Pemerintah Inggris melalui Jurubicara House of Lord, Symon Barroness pada tanggal 13 Desember 2004.

Symon Barroness mengatakan bahwa, ” Papua dimasukkan dengan paksa ke dalam wilayah Indonesia melalui rekayasa PEPERA 1969 dan akibatnya bagimana keadaan orang Papua sekarang dan kelangsungan hidup masa depan orang – orang Papua ”

Dari kedaulatan dan perpektif Tuhan Allah sudah sangat jelas dan sempurna. Kita semua adalah dijadikan oleh Tuhan Allah sesuai gambar dan rupa-nya sendiri. Karena keyakinan Iman kita nilai kemanusiaan lebih tinggi dalam perpektif Allah maka tindakan rasisme dan kekerasan terhadap mahasiswa Papua di Malang, Surabaya, Jogjakarta dan Semarang pada tanggal, 15-17 Agustus 2019 yang di lakukan oleh organisasi massa radikal ( FPI), pemuda pancasila ( PP ), forum komunikasih putra – putri purnawirawan TNI ( FKPP ), dan kemarahan rakyat dan bangsa Papua dengan kelompok solidaritas dengan demokrasi damai di tanah West Papua, kota – kota study di luar Papua hingga beberapa kota di luar negeri, di Eropa, Afrika, dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Benny Wenda Meminta PBB segerah Turun Tangan dan Menghentikan Pertumpahan Darah di West Papua

Perilaku rasisme terhadap pemain Persipura di luar Papua terjadi di depan negara dan aparat keamanan TNI-Polri selalu diam seperti mata buta. Ujaran rasisme terhadap Pahlawan Nasional, katanya menurut Indonesia: Frans Kaisepo dalam mata uangnya Indonesia Rp. 10.000

Rasisme terhadap Natalis Pigai: foto monyet yang sudah viral tapi negara dan anggota keamanan TNI – Polri membisu 1000 bahasa. Ujaran rasisme yang dilandasi kebencian ini yang sudah menjadi viral, tetapi aparat keamanan TNI- Polri membiarkan dengan diam dan membisu saja.

Tindakan dan perilaku rasisme negara dan aparat TNI-Polri terbuka dan telanjang perilaku kriminal dari TNI-Polri dan barisan nusantara/milisi merah putih dibiarkan begitu saja sebaliknya para pemprotes rasisme dan pemimpin pejuang keadilan, kedamaian, kesamaan derayat dan martabat manusia di kejar – kejar di tangkap di penjarakan dan dikriminalisasi kejahatan negara dan keamanan TNI-Polri berjalan telanjang di siang bolong.

Baca Juga: Menolak Budaya Rasisme, Kosok Paniai Bakal gelar aksi Kemanusiaan

Demo melawan rasisme di Wamena dan Jayapura pada tanggal 23 September 2019 dalam menjinkapi demo damai melawan rasisme ini di sikapi dengan sikap aparat keamanan yang rasis dan represif watak dan peripaku rasisme aparat TNI-Polri/Brimob terlihat pada hari ini beberapa siswa SMP dan SMA dan Mahasiswa di tembak mati dan lain luka – luka.

Selain di tembak mati aparat keamanan dengan watak rasisme menyemur mahasiswa di depan matahari dengan mata menghadap matahari perbuatan sangat tidak manusiawi dengan ras malanesia yang sama dengan monyet, anjing, babi, dan kera karena itu di tembak mati tidak ada masalah di jemur di matahari, tidak berdosa, karena ras Papua rambut keriting kulit hitam bukan manusia di mata Negara Republik Indonesia ini. Sebab ras bangsa Papua bahasa, budaya sangat tidak sama lebih jauh beda dengan orang lain karena itu orang Papua Stop mengaku diri saya bagian dari Indonesia.

Semoga artikel kecil ini menjadi bermanfaat dan membuka mata hati telingga Rohani rakyat West Papua.

 

_____________________

Tiom : 01 Oktober 2019
Penulis : Sepi Wanimbo, (Ketua Pemuda Baptis Di Tanah Papua)

9 KOMENTAR

  1. Papua NKRI,hanya orang2 yg ingin berkuasa di Papua yg membuat kerusuhan,tembak mati pak perusak papua,TNI POLRI rakyat Indonesia percaya dengan kalian

    • Betul sekali bung comen anda…mrk” itu hanya berambisi berkuasa dipapua mengatasnamakan ham atao lainya…ujung”nya rakyat papaua tetap aja menderita…kloo keadaan skr papua dlm bingkai nkri…rakyat papua bebas mau jd apa aja asal punyak kemampuan serta kopetensi…contohnya bpk ali mochtar ngabalin bs jd staf khusus presiden…bpk pow jd kapolda papua dn msk byk lg pss strategis yg dijabat oleh org papua…masak melihat kondisi skr ini masih ada yg bilang papua dijajah sama indonesia….capek deachhhh

  2. tolong yah jgn memperkeruh situasi, dengan postingan2 yg menpropagandakan, inti dari permasalahan ini bukan menyangkut rasisme. toh di setiap pendukung Dri masing2 suporter bola semua ada julukan dan ejekan masing2. isu rasisme di anggap paling tepat untuk menyuarakan pembebasan Papua merdeka. padahal sebenarnya Papua adalah bagian, dan Keluarga dari indonesia. kalian yg sekelompok dan sekumpulan orang2 anti indonesia bisa saja tidak suka dengan indonesia, tp bukan berarti kalian membuat postingan2 yg berisi ujaran kebencian. salam damai Tuhan memberkati Tanah papua.

  3. Ada dua alasan papua tdk bisa lepas dari NKRI. Pertama tanah papua sejarah mencatat milik kesultanan tidore. Kedua papua bahagian dari bekas jajahan kolonial. Ketiga sdh sdh sah di PBB. Jadi jangan memfitnah dgn cara propaganda. NKRI harga mati.

    • Sejarah mencatat bahwa, Uni Soviet tampak perkasa pada pertengahan ’80-an. Lantas, mengapa negara itu runtuh hanya dalam beberapa tahun?. Apalagi Indonesia. Nilai NKRI sudah mati, Harga mati berarti semuanya akan berakhir, karena kata matikan bukan awal untuk maju tetapi akhir menuju kematian atau kepunahan. NKRI tidak akan bisah mempertahankan papua dengan nilai kebohongan, diskriminasi, dan pelangaran berat Ham.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here