Rasisme, Kolonialisme, Imperialisme, Kapitalisme, Militerisme Menjadi Akar Persoalan di West Papua 

0
1222
Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua)

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

1. PENDAHULUAN

Penulis sudah menulis tulisan ini dengan topik : Rasisme, Kolonialisme, Kapitalisme dan Militerisme minus Imperialisme pada 23 September 2019. Walaupun sudah ditulis, penulis kembali menulis dengan menambah satu topik, yaitu Imperialisme.

Tujuan dari tulisan ini ialah untuk mempetegas kembali bahwa akar persoalan yang dialami rakyat dan bangsa West Papua, yaitu RASISME. Karena selama ini, penguasa Indonesia berusaha keras menyembunyikan watak RASIS dengan pendekatan kolonialisme, imperialisme, kapitalisme, militerisme.

Dengan kata lain, para penguasa Indonesia yang berwatak RASIS ini dengan sangat ketat dapat menonjolkan persoalan politik dalam berbagai kesempatan selama 57 tahun, yaitu separatisme. Penguasa Indonesia dan aparat TNI-Polri dapat berlindung dibalik seperatisme dan dengan mudah menembak dan membunuh Orang Asli Papua yang dianggap melawan negara Indonesia yang sudah merdeka dan berdaulat.

Baca Juga: Sang Bintang Dua Dikembalikan ke Tanah Manusia Monyet

2. RASISME

RASISME itu musuh TUHAN. RASISME itu musuh semua umat manusia. RASISME adalah kejahatan kemanusiaan. RASISME musuh dunia. RASISME tidak ada ruang bagi komunitas global.

RASISME yang dimusuhi dan dilawan oleh semua umat manusia inilah menjadi akar persoalan yang dialami rakyat dan bangsa West Papua selama ini.

Tindakan rasisme dan kekerasan terhadap mahasiswa Papua di Malang, Surabaya dan Jogyakarta dan Semarang yang terjadi pada tanggal 15-17 Agustus 2019 oleh organisasi massa radikal: seperti Front Pembela Islam (FPI) Pemuda Pancasila (PP), Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI (FKPPI) dan didukung oleh aparat keamanan TNI-Polri membuktikan bahwa rakyat dan bangsa West Papua diduduki dan dijajah dan dimusnahkan dengan pandangan RASISME.

Baca Juga: Senjata dan Orang Papua

DISKRIMINASI RASISME terhadap Orang Asli Papua berjalan TELANJANG yang dilakukan oleh penguasa Indonesia. Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo mendemonstrasikan watak RASIS dengan memandang masalah sangat diskriminatif.

“Innalillahi, saya atas nama pemerintah menyampaikan dukacita yang mendalam atas meninggalnya Randi dan Yusuf, dua mahasiswa Universitas Halu Olea Kendari. Semoga perjuangan mereka (korban) mendapatkan tempat yang mulia.”

Presiden menambahkan: “Saya juga sudah sejak awal ulangi ke Kapolri agar jajarannya tidak represif. Saya perintahkan dilakukan investigasi dan jajarannya Kapolri bilang tidak ada apapun dalam demo ini bawa senjata. Jadi, akan ada investigasi lebih lanjut.” (CNN Indonesia, 27/09/2019).

Bsca Juga: Kita Semua Waspadan dan Menghindri Konflik Horizontal Antara Orang Asli Papua dengan Pendatang

Lalu bagaimana dengan kematian Marselino Samon, Evert Mofu, Maikel Kareth, Otinus Lokmbere, Tery Wenda yang ditembak dan ditikam mati oleh aparat TNI-Polri bekerja sama dengan Masyarakat Nusantara, Barisan Merah Putih dan Milisi di Papua pada Agustus-September 2019?

Masih banyak kisah sedih yang belum mendapat perhatian penguasa. Termasuk pembunuhan rakyat sipil asal Papua dan non Papua di Wamena pada 23 September 2019. Kekerasan di Wamena menjadi misteri bagi kita semua dan perlu ada investigasi independen yang kredibel.

3. RASISME DIBUNGKUS DALAM SEPARATISME

Rakyat dan bangsa West Papua selama ini tidak sadar bahwa pendudukan dan penjajahan di West Papua berdasarkan watak dan nafas RASISME yang dikemas dalam stigma Separatis. Watak dan semangat RASISME dari penguasa Indonesia juga dikemas dengan baik dalam bentuk Kolonialisme, Imperialisme, Kapitalisme dan Militerisme.

Baca Juga: Akar Persoalan Papua Ialah Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, Militerisme, Pelanggaran Berat Ham dan Sejarah Pepera 1969

Selama 74 tahun Indonesia, Penguasa Indonesia mendidik seluruh rakyat Indonesia melalui berbagai media massa dan kesempatan dengan kebohongan-kebohongan tentang persoalan rakyat dan bangsa West Papua. Sehingga sebagian rakyat Indonesia memandang rakyat dan bangsa West Papua dengan kerangka berpikir penguasa Indonesia yang berwatak RASIS. Sehingga seluruh rakyat Indonesia menjadi korban kepentingan penguasa Indonesia. Sebagian besar rakyat Indonesia ikut-ikutan atau meng-ekor menghina dan membenci rakyat Papua dengan watak RASISME.

Seluruh rakyat dan bangsa Indonesia dan juga seluruh rakyat dan bangsa West Papua, kita sama-sama menjadi korban kepentingan penguasa yang berwatak RASISME.

Penguasa pemerintah Republik Indonesia menindas dan menjajah dan memusnahakan Penduduk Asli Papua, Ras Melanesia dengan semangat dan watak RASISME yang selama ini berlindung dan bersembunyi dan menyelamatkan wajah mereka dengan stigma SEPARATISME.

Baca Juga: Polisi Jemur Mahasiswa Papua, DPR Papua: Anak Kami Bukan Ikan Asin!

Sesungguhnya ialah RASISME, Kolonialisme, Imperialisme, Kapitalisme, Militerisme yang dipelihara penguasa Indonesia selama ini. Jadi, penguasa Indonesia menindas rakyat dan bangsa West Papua karena faktor RASISME.

Pelanggaran berat HAM yang dilakukan Negara selama 57 tahun karena RASISME. Penguasa Indonesia dan aparat TNI-Polri merasa terganggu dengan keberadaan ras Melanesia di West Papua. Ras ini harus dimusnahkan dengan stigma separatis, makar dan OPM. Sebenarnya pandangan rasis tapi dikemas dengan baik dalam stigma politik supaya rakyat Indonesia mendukung penguasa rasis ini.

Sekarang kita sudah sadar, mengerti dan mengetahui bahwa akar penjajahan terhadap rakyat West Papua ialah RASISME. RASISME musuh TUHAN dan musuh semua umat manusia. Karena TUHAN Allah berfirman: ” Baiklah Kita menjadikan manusia sesuai gambar dan rupa Kita” (Kejadian 1:26).

Baca Juga: Empat korban Meninggal pasca Pembubaran Mahasiswa di Uncen Jayapura

Doa dan harapan penulis supaya para pembaca mendapat pencerahan dan pengertian yang baik.

 

______________________________________________

West Papua, Jayapyra. Senin, 30 September 2019.

Penulis: Gembala Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua).

Editor: Nuken/MW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here