Mereka Generasi yang tidak Biasa – Biasa (Sebuah Cacatan Kritis Bagi Generasi Papua Kekinian)

1
179

Oleh: Maiton Gurik

MAJALAHWEKO, (OPINI) – Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh disekolah, pulang kerumahnya membawah secarik kertas dari gurunya. Ibunya membaca kertas tersebut ‘tommy anak ibu yang sangat bodoh, kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah.

Sang ibu terhenyak membaca surat itu, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ‘anak saya Tommy bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia’. Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang, salah satu penemu terbesar didunia – ia hanya sekolah sekitar tiga bulan dan secara fisik agak tuli namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.

Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah itu ahkirnya bisa menjadi seorang jenius. Jawaban adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya. Anda tahu kini Thomas Alva Edison merupakan sosok seorang tokoh terkenal dan penemu Lampu Listrik dunia yang kita selalu dikagum-kagumkan.

Baca Juga: 

  1. Negara; Kami Sudah Sekolah
  2. Para tokoh Papua yang Menemui Presiden Jokowi Dipertanyakan

Belajar dari kisah seorang anak penjual koran itu. Saya meyakini, si Alva Edison walaupun agak tuli namun semangat untuk belajar dan ingin mau tahu sesuatu terus ada dalam dirinya. Mungkin ia pernah mendalami buku-buku klasik pemikiran para filsuf Yunani kuno seperti Plato, Aristoteles dan Socrates. Pun, saya beri jempol dan angkat topi kalau soal belajar masa generasinya mereka itu sungguh tajam dan kuat.

Dari mereka banyak hal yang memberikan kontribusi besar buat dunia hari ini. Mereka mencoba sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa dan menemukan sesuatu yang tidak ada menjadi ada sebagaimana si Alva Edison menemukan Lampu Listrik yang hari ini hampir seluruh negara dunia mengkomsumsinya sebagai alat penerang. Kuncinya hanya satu: belajar, belajar dan belajar – artinya kondisi cacat fisik apapun bentuknya bukanlah penghalang.

Bagaimana Dengan Generasi Papua Kekinian?

Saya tidak mau bilang generasi Papua kekinian bodoh, terbelakang, monyet, dan kampungan yang sering dicap oleh sebagian orang Indonesia. Tetapi, saya hanya mau bilang apa yang saya lihat dan apa yang saya dengar sendiri bahwa generasi Papua kekinian itu ‘APATIS dan PEMALAS’.

Saya sudah beberapa kali diminta untuk hadir dalam diskusi kecil-kecilan dan disana mayoritasnya mahasiswa tapi juga generasi Papua. Saya membaca psikologi setiap peserta diskusi dan hampir sebagian saya melihat jarang membaca buku tetapi mimpi mereka untuk menjadi orang terkenal atau pemimpin besar itu ada dalam diri mereka.

Baca Juga: Rakyat Papua Wajib Waspadai Gejala Konflik Horizontal!

Anda bahyangkan bermimpin untuk menjadi orang besar dan terkenal itu ada tetapi pemalas belajarnya minta ampun. Dalam hati kecil saya bilang; ‘itu mimpi omong kosong’ dan percuma bermimpin tanpa mencoba sesuatu yang bisa belajar (minimal ia pernah baca buku).

Jadi, kalau gaya generasi Papua kekinian yang serba hedonisme dan tidak radikal terhadap masa depan dirinya dan masa depan Papua. Saya berani mau katakan; ‘BERHENTI TERIAK MERDEKA’. Papua itu pasti akan Merdeka – hanya saja tunggu waktu. Pertanyaannya? Generasi Papua kekinian sudah siap belum? Sebab, yang akan bekerja dalam sebuah negara berdaulat adalah orang-orang yang berkualitas, pintar dan bersekolah. Israel saja Merdeka tidak gratis dan ada harga yang mereka bayar terhadap negara ‘polisi dunia’ yakni; Amerika Serikat. Israel merdeka dengan jualan Bom Atom yang dibuat oleh Albert Einstein dan diuji pada saat perang dunia II di Wirosima dan Nawasaki, Enarotali Paniai.

Jadi, anda tahu Amerika Serikat memerdekakan Israel karena jasanya sosok jenius Albert Einstein dan bukan karena kuatnya perang melawan berbagai negara di dunia melainkan karena kejeniusan atau kepintaran orang Israel itu sendiri.

Dalam konteks itu, Papua mau menentukan nasib sendiri tidak cukup dengan gerakan masa (kuantitas). Papua butuh sosok generasi yang berpikir radikal, tajam dan berprestasi seperti Prof. George Saa (penemu dunia rumus fisika formula), Dr.Socrates Sofyan Yoman (penulis produktif kekinian), Victor Yeimo (aktivis kemanusiaan yang kritis), Samuel Tabuni (Tokoh Papua yang potensial), Lukas Enembe (tokoh pembela hak-hak politik orang Papua), Dr.Beny Giay (tokoh gereja pembela kemanusiaan) dan masih banyak yang kita tidak sebut satu-persatu.

Tetapi, sekali lagi dengan adanya mereka tidak cukup dan tidak lengkap untuk menyambut masa depan Papua yang lebih baik. Semoga!

 

_______________________________________

Maiton Gurik, M.Sos. Waena, 17 September 2019. Waktu 17:56 Wit (Waktu Indonesia Timur)
Editor: Nuken/MW.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here