Mata-mata Indonesia Asli Papua harus Bertobat

0
550

Oleh Marius Goo

MAJALAHWEKO, (OPINI) – Pasca rasisme di asrama Papua Surabaya, 16 sampai 18 Agustus 2019 saat merayakan hari Kemerdekaan Republik Indoensia ke 74, orang asli Papua [OAP] tidak terima dengan melakukan aneka aksi.

Dalam aksi penolakan, tidak satu saja aspirasi OAP yang disampaikan. Di antaranya; Papua Merdeka, Referendum dan berikan Penentuan Nasib Sendiri bagi Rakyat Bangsa Papua.

Mengapa orang Papua Menolak Rasis?

Ada banyak alasan dan yang paling mendasar adalah orang Papua adalah manusia, semartabat dengan manusia lain di dunia.

Distigma orang Papua adalah monyet adalah salah besar. Sejauh ini orang Papua menunjukkan eksistensi kemanusiaan yang paling dalam. Semua itu terbukti dalam bagaimana keramahan orang Papua menerima orang pendatang. Orang pendatang [non Papua] di Papua merasa at home di Papua karena cinta orang Papua yang begitu besar kepada semua manusia.

Baca Juga: Mereka Generasi yang tidak Biasa – Biasa (Sebuah Cacatan Kritis Bagi Generasi Papua Kekinian)

Dalam aksis rasis di Surabaya mengusir orang Papua dengan sebutan monyet, hampir semua orang Papua di seluruh pelosok Papua bersepakat untuk mengusir orang pendatang.

Orang Papua menuntut untuk orang pendatang segera dipulangkan dari Papua ke daerah masing-masing. Bahkan orang pendatang di Papua sangat kecewa kalau orang Papua dibilang monyet. Karena orang pendatang menyaksikan video rasis dan pengusiran terhadap rakyat Papua melalui aneka media baik secara online maupun offline, orang pendatang bersedia pulang kembali karena memang sudah salah.

Aksi penolakan rasis dari rakyat sampai pada pengusiran orang pendatang di Papua karena monyet tidak layak tinggal bersama manusia. Karena saat aksi rasis di Surabaya sampaikan yell-yell pengusiran bagi orang Papua.

Aksi penolakan rasis berujung permintaan Nasib Sendiri

Dalam aksi-aksi penolakan rasis, orang Papua merasa harga yang dibayar atas kasus rasis di Surabaya adalah “Penentuan Nasib Sendiri Bagi Bangsa Papua Barat.” Penentuan Nasib Sendiri bagi Bangsa Papua Barat merupakan permintaan dan penghargaan Negara Indonesia sebagai negara Demokrasi dan merupakan demokrasi tertinggi bagi negara Indonesia.

Baca Juga: Ketika ditanya Tujuan pengambilan gambar Mahasiswa Papua di Bandara Juanda Berulang kali, Apa Kata Orang ini?

Dalam menanggapi penolakan aksi rasis ini, negara Indonesia harus berani mengambil sikap, yakni memberikan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi Rakyat Bangsa Papua.

Langkah inilah yang paling tepat dan sesuai untuk mengobati luka rasis terhadap orang Papua dengan sebutan monyet. Maaf-maafan bukan solusi terbaik, pengiriman militer bukan solusi terbaik, menuduh sesama yang tak bersalah juga bukan jalan terbaik, bahkan menyebarkan hoax di media makin menambah luka dalam tubuh negara Indonesia. Negara Indonesia harus terbuka dan jujur mengungkapkan fakta yang sebenarnya dengan memberikan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi Rakyat Bangsa Papua Barat.

Rakyat Papua menyongsong dan menyambut Hak Penentuan Nasib Sendiri. Bagaimana rakyat Papua menyongsong dan menyambut Hak Penentuan Nasib Sendiri? Ada beberapa hal yang dilakukan:

Pertama, perlu adanya penyatuan massa. Seluruh rakyat bangsa Papua Barat dari Sorong hingga Merauke harus bersatu. Membangun gerakan massa, membangun kesadaran akar rumput akan pentingnya kemerdekaan.

Kedua, adanya kesadaran Intel-intel Papua untuk membela dan dusun serta rakyatnya sendiri. Apalagi hidup dan masa depan terancam jika Papua sudah merdeka.

Ketiga, perlu adanya rekonsiliasi. Rekonsiliasi harus dilakukan besar-besaran bagi seluruh suku bangsa rakyat Papua Barat. Jika masih ada duri (makan uang tanah, menjadi intel) harus segera berdamai dan meminta maaf kepada tanah Papua dan terlebih kepada pemilik tanah Papua juga manusia Papua.

Baca Juga: Kepulangan Mahasiswa Papua Bisa Menjadi Sorotan Dunia Internasional

Keempat, melakukan Hak Penentuan Nasib Sendiri sudah harus menjadi kesadaran bersama. Artinya, semua lapisan masyarakat harus mampu menyadari dan mengetahui syarat dan langka-langka referendum, paling kurang mental rakyat bangsa Papua sudah tercetak untuk melakukan Hak Penentuan Nasib Sendiri.

*) Penulis Mahasiswa Pasca Sarjana, Tinggal di Malang
Editor: Redaksi/MW.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here