Di Mata Klonial Indonesia, Orang Papua Memandan Monyek Atas Dasar Apa?

1
183
Simbol Perlawanan

Opini Oleh: Tua Gila Di Makassar

MAKASSAR, (OPINI) – Saya sebagai seorang anak laki-laki dari keluarga yang ditindas oleh kapilisme, militerisme, inpralisme serta klonialisme indonesia dan Amerika Serikat yang ada dalam seluruh nusantara ini. Dalam keluarga tersebut terdapat kita enam (6) bersaudara. Enam bersaudara, ada empat (4) laki-laki dan dua (2) perempuan. Lalu puji Tuhan saya terdapat anak laki-laki yang kedua dalam keempat laki-laki tersebut.

Setelah mama lahir saya pada tanggal, Diyeugi 21-02-1998 dari kampung diyeugi yang terletak di Distrik mapia Tengah Kabupaten Dogiyai Provinsi Papua. Setelah itu, kira-kira saya berumur enam (6) tahun, saya masuk SD Ipres Diyeugi. Ternyata saya selesai dalam enam tahun, karena kehendak Tuhan melalui perjuangan sendiri saya lulus pada tahun 2006. Setelah saya selesai SD, saya masuk ke sekolah menyenai pertama SMP di Bomomani Dogiyai papua.

Setelah itu, saya selesai SMP pada tahun 2009. Lalu waktu itu rencana saya mau pulang kampung karena saya meningat dengan ekonomi orang tua. Tetapi ternyata mama saya datang di bomomani sambil menangis lalu dia pernah berkata “anak, kenapa ko tidak kekampung setelah selesai SMP?

“Teman-temanmu ke orang tua masing-masing lalu mereka pergi sekolah ini, kata mama waktu, sambil menyeteskan air mata”. Lalu anaknya jawab dengan menangis saya berkata” mama, saya tau mama ada di kampung tetapi kenapa saya tidak kekampung, karena ada beberapa syarat:

  1. Saya tau bahwa mama ekonominya lemah maka saya tidak kesana.
  2. Jika mama tidak cari borongan, tidak mungkin mama dapat uang.
  3. Biarpun mama dapat borongan pun tidak mungkin dapat lebih dari (50.000) ribuh.
  4. Dapat uang seribu rupia pun bisa memakan hari, bulan, dan tahun.
  5. Yang mama pernah dapat berkat dari orang lain, baik itu 1000. (seribuh), dua ribuh (2000) rupiah,

Mama simpan untuk saya dalam dompet yang paling dalam. Pada hal, tetangga atau sekampung mereka jual sesuatu barang yang mama ingin membelinya. Untuk itu, saya mohon maaf kepada mama. Karena saya muncul keempat poin diatas itu maka saya tidak sempat ke kampung mama. Pada hal saya pun rasa rindu kepada mama itu bagaikan gunung DOGIYAI yang diatas itu, Kata saya kepada mama pada waktu itu”.

Setelah itu, saya turun ke serui untuk mau lanjutkan pendidikan, lalu saya masuk di SMA Onate Serui pada tahun 2013 lalu selesai pada tahun 2016.

Selama saya SMA perjuanganku sangat aneh tapi nyata atau fakta. Selama saya SMA, ada banyak yang saya mengalisa tentang perkembangan pembebasan papua barat karena saya adalah salah satu stafet.

Selagi saya menganalisa sambil membaca senioritas yang pernah memuat atau mencetak melaui media online, media massa, media cetak dan lain sebagainya tentang penindasan papua barat.

Itu berbagai macam idealis yang selalu muncul di benak saya. Yang pernah muncul itu baik rasa sedi, sakit, senang, bahkan ku pernah menangis atas semuanya itu.

Saat saya membaca berita, opini, artikel, puisi, cerpen tentang penentuan nasib sendir bagi bagi bangsa papua barat, saat diskriminasi atau ditindas oleh oknum yang tidak bertanggun jawab sepertinya kapitalisme, kloniaisme, militerisme klonial indonesia terhadap bangsa papua barat,ditulah tiba saatnya air mataku jatu.

Kalau hati bergerak seketika saya membaca saat mereka melakukan suatu hal bersifat perikemanusiaan dan prikeadilannya. Waktu itu sampai saat ini setelah saya menganlisa lebih kedalamnya tentang penindasan papua barat dalam elemen apapuan, air mataku jatuh sangat banyak.

Karena namanya penindasan semakin naik namun perikeadilannya dan kemanusiaan semakin menurun itulah realita yang sedang terjadi sejak tahun 1961 sampai saat ini 2019.

Karena dulu sampai saat ini, klonial indonesia memakai berbagai metode yang untuk menghabiskan orang asli papua (OAP) sejak klonial indonesia merdeka 17 agustus 1945 sampai saat.

Salah satu fakta yang sedang terjadi saat ini, kemarin tanggal 17 agustus 2019 tiba saatnya hari kebahagiaan klonial indonesia tetapi mereka dibilang kami bangsa papua adalah bangsa monyet.

a. Kenapa NKRI Menyebut Bangsa Papua Itu Monyet.

Saya sebagai salah satu generasi penerus dari bangsa papua barat, sangat tidak terimah dengan baik apa dikatan oleh kaum penjaja. Karena kata itu sangat tidak logis atau tidak layak disampaikan kepada suatu bangsa baik itu lisan maupun tulisan. Sebab itu menjatukan harkat dan martabat suatu bangsa.

“Untuk itu, permintaan dari kami, hal itu (rasisme) Presiden Reepublik Indonesia JOKO WIDODO harus menangkap oknum-oknumnya lalu mengadili ke pengadilan hukun nasional maupun internasional di New Hord Agrement.

“Jika kawan presiden tidak bertanggun jawab atas problematik ini berarti, kami mahasiswa/i papua yang ada diluar papua mengambil sikap dengan tegas, bahwa kami akan pulang ke tana airnya sendiri demi menuju kemerdekaan papua barat sebagai solusi demokratis.

“Karena kami bangsa papua barat, allah menciptakan kami serupa segambar dengan dia sendiri. Namum engkau dibilang kami monyet, berarti engkau bilang allah Bangsa papua dan Maha pencipta maka selamat menunggu untuk reaksi dari mereka dua, Jelasnya”.

b. Apa Yang Harus Dilakukan Oleh Orang Papua Atas Problem Rasisme Ini
Menurut saya hal yang layak kami lakukan terhadap penjaja klonial indonesia adalah orang asli papua tidak ada yang terkecuali meminta refrendum bagi bangsa papua barat pada tahun 2019/2020.

“Karena kami hidup dengan, kapitalis, militerisme, klonial indonnesia dan amerika serikat sangat tidak efektif dan efisien. Cobah kawan-kawan mengalisis lebih kedalamnya tentang rasisme yang sedang goyang diseruh nusantara ini!

“Mereka hidup diatas hasil kekayaan alam kami sepertinya PT. Freeport milik Klonial Indonesia dan kapitalis Amerika Serikat. Diatas tanah kami, mereka ditindas, diperkosa, menghina, memaki, menyolok, mentimidasi, dan lain sebagainya. Apakah kawan anda tidak sakit atas semuanya ini?

Kita sebagai generasi penerus terutama kaum Mahasiswa/i dari bangsa papua barat wajib berfikir kritis dan melaui rasionalisme yang sehat. Sebab kemerdekan suatu bangsa tidak mungkin datang dari diluar papua bahkan diluar klonial indonesia.

“Namun segalah sesuatu yang ada dibawa kolom langit tidak mungkin datang dari sendirnya, tanpa kita berjuang dengan sunggu-sunggu.

Untuk itu, marilah kawan-kawan dari bangsa papua barat satukan barisan, satu komando demi menuju pembebasan papua barat itu sangat penting. Karena kalau anda dan saya tidak bergerak, siapa dia yang akan bersuara demi untuk anda dan saya serta alam dan kekayaan kami yang masih sisa di atas tanah papua.

Penuis adalah salah satu mahasiswa kritus yang sedang menimba illmu di kota study makassar bernama Sumber Badaki Bomaibo, Tua Gila Di Makassar.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here