Negara; Kami Sudah Sekolah

1
346
Foto: Maiton Gurik

Oleh: Maiton Gurik

MAJALAHWEKO, (OPINI) saya ingin mau cerita singkat tentang saya yang lalu, kemarin dan hari ini. Saya dilahirkan dari seorang Ibu Weyagwe yang cantik, tangguh, kuat, berani dan murah hati. Sedangkan Ayah seorang yang tidak kalah ganteng dengan saya, cakap, lemah lembut, suka humor dan tidak tahu marah. Saya dilahirkan dengan kondisi fisik cacat gagap suara.

Sewaktu saya disekolah dibangku studi SD sampai SMP saya ditertawain oleh beberapa teman-teman kelas saya, karena suara saya yang gagap dan tidak bisa mendengar dengan jelas, saat itu. Disekolah saya anak yang tidak dianggap dimata teman-teman sekolah dan teman-teman main. Sesudah tamat SMP lanjut SMA dan lulus, saya merasa tidak layak untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi (kuliah), walaupun disekolah saya sering mendapatkan juara olimpiade sains antar se-SMA di Kota Wamena, saat itu.

Namun, tetap saja saya merasa rendah diri, pesimis, minder, berlapis malu dan pokoknya saya merasa tidak dianggap orang yang punya masa depan dimata teman-teman dan orang-orang dekat disekitar saya. Setelah lulus SMA tahun 2009, saya tetap memutuskan untuk tidak lanjut kuliah karena saya berpikir kalau saya ke kota orang pasti lebih tidak dianggap, ditertawain dan dibuli sana-sini karena suara saya yang kedengarannya tidak jelas dan bahasa Indonesia juga dikit kaki-kepala membuat mereka pasti tersiksa dan emosi dalam perbincangan soal apapun, termasuk urusan diskusi-diskusian. Saya sudah meyakini itu.

Lalu, dua minggu kemudian, saya merasa gelisa, ganas, emosi dan campur aduk bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak teringat semua pembulian orang terhadap kondisi saya. Semua yang saya mengalami itu, satu pun saya tidak pernah cerita ke orang tua saya dan semua keluarga saya, termasuk kakak sepupu saya (TY) bahkan yang lain – cuman Tuhan dan saya saja yang tahu.

Tiga minggu kemudian, saya berkunjung ke perpustakaan daerah di Kota Wamena Kabupaten-Jayawi Jaya dan saya mendapatkan sebuah buku biografi tentang sosok Abraham Lichon (Presiden AS ke-16) dan Nelson Mandela (Pejuang Politik Apartheid Afrika Selatan). Lalu, saya pinjam dan mencoba menghabiskan waktu untuk baca tetapi tidak semua halaman yang saya baca, cuman ada beberapa halaman dan point-point penting saja yang saya buka dan baca.

Dari dua buku yang saya baca, saya mendapatkan sebuah kata-kata motivasi dari salah satu buku biografinya Abraham Linchon dengan tulisan yang sangat termotivasi bagi saya yakni: “saya adalah seorang pejalan kaki yang tidak pernah kebelakang”. Ketika membaca kutipan itu, saya merasa ada semangat baru yang saya dapati dan menyadari bahwa saya memang orang gagap suara yang tidak boleh mundur kebelakang.

Maju adalah jalan satu-satunya yang saya pilih, saat itu. Bahkan dengan bacaan itu, saya merasa ada sesuatu yang benar-benar memperlihatkan dan menunjukkan kepada diri saya, salah satunya apa yang disebut dengan ‘HOBI’ itu saya menemukan disana – hobi yang Tuhan taruh dan kasih dalam diri saya ternyata; BACA. Kedua buku biografi tersebut, buku pertama yang saya baca dalam hidup saya.

Singkat cerita, dari situ saya memilih untuk harus berangkat kuliah di Kota Jayapura walaupun dengan sedikit takut, malu dan tidak percaya diri. Sampai tiba di Jayapura, kampus pertama yang saya pilih dan ikut tes seleksi di Universitas Cenderawasih (Uncen), namun sayang saya tidak diloloskan oleh pansel dan pihak kampus.

Kemudian saya memilih salah satu kampus swasta yang ada di Kota Jayapura yakni, STIKOM Muhammadiyah Jayapura (tanah hitam kamkey). STIKOM meloloskan saya dan menerima saya sebagai Mahasiswa ‘Jas Biru’. Lama-lama, saya pun tidak mengerti dengan semua keajaiban yang terjadi dibangku perguruan tinggi termasuk bagaimana Tuhan mengungat kondisi fisik saya yang gagap suara itu. Dan kini anda tahu satu sedikitpun tidak ada sampah yang tersisa dalam kegagapan suara saya. Saya hanya bilang; ‘Tuhan Terima Kasih’ – dengan situasi terharu, saat itu saya diatas motor, helm berwana hitam tertutup dan cuman hanya air mata saja yang jatuh tercucur dipipi dan dengan kondisi mata yang kabur-kabur saya hampir saja menabrak truk besar yang ada didepan jalan raya dengan kondisi sedih dan terharu – dijalan raya juga mujizat Tuhan terjadi suadara.

Dengan mujizat itu, saya merasakan kehadirat Tuhan secara gratis disana. Pun, yang tadinya gagap dan kaku kini sudah tidak biasa-biasa sampai kita diminta dimana-mana diundang menjadi pembicara diberbagai seminar kecil-kecilan baik dipemuda Gereja hingga pada organisasi kemahasiswaan sampai detik ini. Tidak cukup dengan itu, Tuhan juga terus berperkara agar tetap konsisten belajar menulis untuk masa depan Papua yang lebih baik.

“Saya adalah orang yang gagap suara dan kini cakap dalam bersuara”. Mungkin begitulah kata-kata yang saya bisa berbagi bagi teman-teman semua termasuk mereka yang melihat orang lain tidak bisa dan tidak dianggap dimata mereka dan dihadapan mereka. Sebagaimana sebagian warga negara Indonesia menganggap orang Papua dengan istigma bodoh, bau, jorok, jelek, hitam, terbelakang, kampungan dan yang terbaru; ‘MONYET’ – lengkap sudah penderitaan ini.

Yang saya mau bilang terhadap siapapun termasuk sebagaian warga negara Indonesia bahwa: “bagi Tuhan tidak ada yang mustahil” dan selama Tuhan berperkara terhadap siapapun termasuk mereka yang dianggap cacat suara, lumpuh, tuli, bisu, buta, bodoh, jelek, jorok, kampungan dan terbelakang sekalipun, Tuhan mengugat itu semuanya dengan cara dan gaya-Nya. Karena itu, kami mau sampaikan kepada negara dan sebagaian warga negara yang bernama Indonesia bahwa: “KAMI SUDAH SEKOLAH”. Semoga!

_______________

Maiton Gurik, M.Sos. Waena, 14 September 2019. Waktu 18:25 Wit (Waktu Indonesia Timur)

Editor: Nuken/MW

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here