Para tokoh Papua yang Menemui Presiden Jokowi Dipertanyakan

1
363
Anggota DPR Papua, Nioluen Kotouki

MAJALAHWEKO, JAYAPURA – Sejumlah orang yang disebut tokoh dan mewakili masyarakat Papua serta Papua Barat bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta pada Rabu (10/9/2019). Dalam pertemuan itu, mereka menyampaikan sepuluh poin catatan penting yang diharapkan untuk dipenuhi Presiden Jokowi.

Akan tetapi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Nioluen Kotouki menilai ada pihak yang memanfaatkan situasi di balik kisruh ujaran rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Surabaya, Jawa Timur, berikut rentetan unjukrasa anti rasisme dan amuk massa di Tanah Papua, untuk bertemu Presiden Joko Widodo. Hal itu dikatakan Nioluen kepada Jubi pada Selasa petang (10/9/2019).

“Kami ikuti akhir-akhir ini, masing-masing kelompok jalan sendiri. Memanfaatkan momentum ini bertemu presiden. Banyak yang mengaku diri tokoh adat, tokoh masyarakat, namun tidak mewakili unsur dari lima wilayah adat,” kata Nioluen Kotouki.

Menurutnya, jika ada kelompok yang mengatasnamakan perwakilan adat atau perwakilan masyarakat, semestinya kelompok itu terlebih dahulu duduk bersama dengan para pengambil kebijakan di Papua semisal Gubernur Papua, DPRP, Majelis Rakyat Papua atau MRP. Hal itu penting untuk menyatukan pendapat di antara berbagai pemangku kepentingan di Papua, agar tidak bias kepada hal yang tak jelas.

“Ini sama saja penyamaran. Hanya mewakili kelompok tertentu. Sama saja menciptakan perselisihan antara masyarakat [adat yang ada] di kelima wilayah adat Papua sendiri. Sebagai orang berbudaya, semestinya [mereka] duduk bersama, satukan barisan [untuk] memulihkan kondisi di Papua,” ujarnya.

Kata Kotouki, sepuluh poin yang disampaikan kepada Presiden Jokowi mencerminkan jika para tokoh ini tidak mewakili masyarakat adat dari lima wilayah adat di Papua, ataupun masyarakat Papua secara umum. Tak satupun poin yang disampaikan tersebut menyentuh akar masalah yang memicu gelombang unjukrasa dan amuk massa di Papua, yaitu ujaran rasis.

Kotouki mempertanyakan bagaimana sepuluh poin yang disampaikan kepada Presiden Jokowi itu bisa tersusun, di mana tempat pembahasannya, berikut siapa dan kapan pembahasan 10 poin tersebut. “Kalau masing-masing jalan dengan kepentingannya, tak akan ada hasil. Kelompok yang jalan ini saya pikir hanya dari satu wilayah adat,” ucapnya.

Sementara itu, pimpinan rombongan, Abisai Rollo seperti dikutip dari setkab.go.id mengatakan kedatangan pihaknya ke Istana Negara untuk menyampaikan harapan, kecemasan dan kebutuhan serta beberapa pemikiran ke depan untuk Papua yang lebih baik.”Kami fokus pada sumber daya manusia karena Papua disebut kaya akan sumberd daya alam, namun tak sebanding dengan kualitas sumber daya manusia orang asli Papua,” kata Abisasi Rollo.(*)

_____________________

Editor: Aryo Wisanggeni G
Sumber: jubi.co.id

1 KOMENTAR

  1. Tokoh adat papua dr sudut mana, papua itu banya kepala suku, jagan jual nama rakyat papua krn kami tdk butuh yg namanya Abisai Roro, yg namanya tokoh itu:
    1. MRP krn lembaga ini semua perwakilan suku adat baik itu laki2 maupunnperwmpuan ada, dan mereka adalah perwakilan berbagai kabupatrn d papua yg merupakan kepercayaan rakyat
    2. DPRP merka jg perwakilan rakyat dr semua kabupen dan kota d papua yg merupakan org2 kepercayaan rakyat
    3. Pemerintah provinsi, penyelenggaran pemerintahan di papua.

    3 unsur ini ada tp kok Abisai Roro lompat pagar, klu mau cari nasi 1 piring jgn jual nama rakyat papua bos.
    Kau penghianat, kau penjilat dasar tdk tahu malu,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here