Veronica dan Surya Anta jadi tersangka, ini kata Yunus Wonda

1
43
Dua tersangka terkait isu Papua, Veronica Koman dan Surya Anta Ginting, selfie di Bukit Jokowi di Jayapura, Papua. (Facebook/Veronica Koman)

MAJALAHWEKO, JAYAPURA – Dua aktivis dan pengacara publik yang kerap berhubungan dengan isu-isu Papua Veronica Koman dan Surya Anta Ginting ditetapkan sebagai tersangka dan dituding sebagai provokator gejolak di tanah Papua.

Veronica Koman menjadi tersangka provokasi melalui media sosial tentang isu-isu Papua, baik di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, pada 16 Agustus 2019, maupun terkait aksi demonstrasi rasisme berujung rusuh di Papua dan Papua Barat. Sedangkan Surya Anta Ginting menyandang status tersangka pengibaran bendera bintang kejora.

Surya Anta Ginting menjadi satu dari delapan tersangka pengibaran bendera Bintang Kejora saat aksi demonstrasi di depan Istana Negara, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Bebaskan Veronica Koman Tanpa syarat karena itu bentuk Kriminalisasi terhadap Pengacara HAM

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) Yunus Wonda menyayangkan kedua aktivis yang selama ini selalu membela hak-hak orang Papua akhirnya di tetapkan sebagai tersangka.

“Prediksi saya, anak-anak Papua yang saat ini memilih pulang ke Papua dari tempat study-nya masing-masing karena sudah tidak ada lagi orang yang membela mereka. Orang yang selama ini membela mereka dijadikan tersangka dan ditangkap,” kata Yunus Wonda menjawab pernyataan Jubi, Kamis (6/9/2019) di Jayapura.

Penetapan tersangka terhadap Veronica dan Surya Anta Ginting oleh pihak Kepolisian kemungkinan akibat polisi memiliki data sendiri terhadap kedua nama itu.

“Tetapi menurut saya, anak-anak (mahasiswa) akan merasa nyaman ketika ada orang-orang seperti itu yang selalu membela mereka di tanah rantau. Kalau ada orang-orang yang peduli dengan keadaan mereka, saya jamin, anak-anak mahasiswa tidak akan pulang ke Papua tetapi akan menetap dan melanjutkan kuliah mereka disana,” ujarnya.

Baca Juga: Blokir Internet di Papua, Bukti Negara Tidak Mampu Tangani Papua

Sementara, Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan, apabila ada anak-anak Papua yang mendapatkan perlakukan yang kurang wajar oleh oknum-oknum tertentu di daerah study-nya masing-masing agar dapat melapor ke pihaknya dalam hal ini Pemerintah Provinsi Papua.

“Kalau nanti ada (lagi), saya minta dilaporkan segera ke saya. Kami akan suruh aparat usut tuntas. Perlakukan seperti di Surabaya dan Malang sangat mencoreng citra orang Papua. Bicara nusantara, Papua juga bagian dari Nusantara, jadi jangan anggap kami lain dari warga Nusantara yang lain. Kita harus menjaga yang sudah ada menjadi baik, dan akan semakin baik dikemudian hari,” katanya dalam acara Deklarasi Kesepakatan Bersama dalam rangka menjaga Papua Tanah Damai di Jayapura, Kamis malam.

Sebelumnya puluhan Pelajar dan Mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan di  Provinsi Sulawesi Utara, terlihat mulai meninggalkan kota Manado menuju Papua.

Ketua Korwil Pelajar LPMAK SMA Lokon, Elian Magal mengatakan, puluhan pelajar dan mahasiswa Papua tersebut pulang ke tanah Papua karena mendapatkan ancaman dan intimidasi dari pihak pamong sekolah SMA dan SMP Lokon yang bekerjasama dengan aparat kepolisian. Para pelajar dipaksa membuat video tentang sekolah dan pernyataan NKRI Harga Mati.

Baca Juga: PBB Angkat Suara Tanggapi Kerusuhan di Papua

.“Kami akan berangkatkan adik-adik ke Papua karena kami sudah tidak nyaman sekolah di SMA Lokon maupun SMP Lokon,” kata Magal ketika ditemui jubi di Bandara Internasional Sam Ratulagi Manado, Di Sulawesi Utara, pada Kamis (5/9/2019),” ujarnya. (*)

 

________________________________________
Editor : Edho Sinaga
Sumber: Suara Papua

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here