Apakah Kekerasan Rasialisme di Surabaya, Malang dan Semarang  sebagai Upaya TNI untuk Mengalihkan Operasi Militer yang masih  Berlangsung di nduga yang sudah menjadi Persoalan Internasional?

1
234
Berlebihan tindakan aparat Keamanan NKRI terhadap Mahasiswa Papua di Surabaya.

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

  1. Pendahuluan

Penulis menyadari bahwa perlakuan kekerasan yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh aparat keamanan dan juga ormas Indonesia terhadap anak-anak mahasiswa  dari West Papua di Surabaya, Malang dan Semarang memang membangkitkan amarah semua orang terhadap pelaku kejahatan ini. Semua orang yang menghargai martabat kemanusiaan dengan pasti tidak terima dan juga tidak setuju dengan perlakuan rasisme yang menciptakan suasana diharmoni, disintegrasi sosial dan menuju pada disintegrasi bangsa.

Api kejahatan Negara di Nduga tetap dan terus membara karena Operasi Militer Indonesia sedang berlangsung atas perintah Ir. Joko Widodo Presiden Republik Indonesia. Karena itu, apakah kejahatan rasisme di Surabaya, Malang dan Semarang ini bagian dari skenario TNI untuk mengalihkan perhatian kita semua supaya tidak ada tekanan persoalan Operasi Militer di Nduga?

Dalam keadaan yang melukai secara fisik,  mencederai hati nurani dan melukai perasaan kemanusiaan seperti ini, rakyat dan bangsa West Papua tidak harus membalas dengan cara-cara mereka. Karena rakyat dan bangsa yang beriman, yang punya Tuhan selalu tampil dengan kekuatan moral sebagai bangsa yang bermartabat.  “Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, segala langkah orang diawasi-Nya” (Amsal 5:21).

Baca Juga: LBH Surabaya Mengecam Penyerangan dan Tindakan Represif terhadap Mahasiswa Papua Surabaya

Lagi pula, “Orang benar tidak terombang-ambing untuk selama-lamanya” (Amsal 10:30). Lebih jauh, “Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa” (Amsal 14:34). Ingat pula nasihat lain, “Kecongkakan mendahului kehancuran dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Amsal 16:18).

Rakyat dan bangsa West Papua, terutama mahasiswa di Surabaya, Malang dan Semarang berdirilah teguh, kuat dan kokoh. Bersabarlah untuk martabat dan kehormatan bangsamu. Anda telah menarik banyak simpati dan dukungan di seluruh Indonesia, bahkan secara global. Kalau Anda sabar dan menguasai diri dalam situasi yang kejam seperti ini, Anda membangun kedamaian dan persahabatan abadi diantara bangsa-bangsa di planet ini. Ingatlah pesan ini.

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16:32).

Rakyat dan bangsa West Papua sabar dan menguasai diri dalam menyikapi penghinaan dan pelecehan ini, Anda telah berhasil memadamkan api dengan air. Karena api tidak pernah memadamkan api. Karena, “Orang bijak dapat memanjat kota pahlawan-pahlawan, dan merobohkan benteng yang mereka percayai” (Amsal 21:22).

Ingat dan pegang dan jangan lupa. “Jangan menjadi marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang fasik. Karena tidak ada masa depan bagi penjahat, pelita orang fasik akan padam” (Amsal 24:19). Lagi pula, “Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sama dengan dia” (Amsal 26:4).

Baca Juga: Sikap Ormas dan TNI-Polri Tidak Profesional Terhadap Mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang

Kejahatan rasialis di Surabaya, Malang dan Semarang sedang mengubah wajah peta perpolitikan Indonesia. Karena, secara langsung dan juga tidak langsung peristiwa diskriminasi rasial terhadap mahasiswa West Papua di Surabaya, Malang dan Semarang telah mengubah peta politik Indonesia dalam perspektif global. Komunitas internasional akan melihat perilaku kejam dan tidak beradab di Surabaya, Malang dan Semarang  sebagai kejahatan kemanusiaan dalam perspektif hukum Hak Asasi Manusia global.

Kekerasan dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan  Negara seperti ini  hanya peristiwa pengulangan yang dilakukan pemerintah Indonesia secara sistematis dan terstruktur selama 57 tahun. Artinya Negara sendiri sedang mempromosikan,  menginternasionalisasi dan memperkenalkan kejahatan-kejahatanyang dilakukan Negara selama ini di West Papua.

  1. Apakah Ada Upaya Pengalihan Operasi Militer Indonesia  Nduga ke kejahatan rasialis?.

Kita perlu cermati dan hubungkan operasi militer di Nduga yang sedang berlangsung dan  kejahatan rasial di Surabaya,Malang dan Semarang. Kalau rakyat dan bangsa West Papua tidak bijak dan tidak hati-hati, maka Operasi Militer di Nduga bisa dialihkan dan ditenggelamkan dengan peristiwa di Surabaya, Medan dan Semarang.

Perlu dicatat bahwa kasus Operasi Militer di Kabupaten Nduga tidak akan lenyap dan dialihkan karena kejahatan rasisme di Surabaya, Malang dan Semarang. Kejahatan kemanusiaan di Nduga merupakan kejahatan Negara atas perintah Ir. Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia.

Kejahatan kemanusiaan di Nduga dan kejahatan rasialis di Surabaya, Malang dan Semarang ini sepertinya Negara dan pemerintah Republik Indonesia benar-benar dan serius berperang melawan  rakyat dan bangsa West Papua.

Baca Juga: Tidak Semua Rakyat dan Bangsa Indonesia Menghina Rakyat dan Bangsa West Papua: Monyet, Separatis, Makar, Pemberontak, OPM dan KKSB

Sangat aneh dan lucu. Mengapa Ir. Joko Widodo presiden Republik Indonesia tidak menarik pasukan dari Nduga dan juga tidak menghentikan kejahatan rasialisme di Surabaya, Malang dan Semarang.

Dua wajah kejahatan Negara di Nduga dan di Jawa ini memperlihatkan bahwa Ir. Joko Widodo benar-benar powerless dan berada dibawah ketiaknya TNI.

Keadaan ini menjadi kebenaran karena pada 16 Desember 2011 di Cikeas, ada 4 Sinode di West Papua pernah bertemu dengan Presiden H. Dr. Bambang Susilo Yudoyono yang dimediasi oleh Ketua PGI.

Pak Yudoyono pernah menyampaikan kepada kami bahwa ” saya berkeinginan untuk menyelesaikan persoalan Papua dengan pendekatan dialog damai. Tetapi ada kelompok hardliner menekan dan melarang saya.” Pesan ini jelas untuk para pembaca bahwa militer masih berkuasa di West Papua.

Sebagai kesimpulan dari tulisan penulis ingin sampaikan pesan moral sebagai berikut:

Operasi Militer di Nduga dan Operasi Rasialis di Surabaya, Malang dan Semarang sebagai upaya-upaya sistematis Negara melalui TNI untuk memprovosi rakyat dan bangsa West Papua. Diharapkan kepada seluruh rakyat dan bangsa West Papua berjuang dengan cara-cara damai dan terhormat. Karena api tidak pernah dipadamkan dengan api. Kesabaran dan kedamaian  adalah senjata kita dan kunci keberhasilan. Anda telah membangun simpati dan dukungan banyak orang karena Anda berjuang dengan pendekatan damai. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9).

Berjuanglah dengan kebenaran. “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:32). Jauhkanlah kebencian, dan berdirilah dan berjuanglah dengan kekuatan nilai keadilan.”…biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” (Amos 5:24).

Ingat! Perjuangan berdasarkan keadilan, kebebaran, kasih dan kedamaian selalu mengukir sejarah kemenangan gemilang. Rakyat dan bangsa West Papua tidak sendirian.

Doa dan harapan saya supaya tulisan ini menjadi berkat kekuatan dan juga pencerahan.

_________________________

Ita Wakhu Purom, 18 Agustus 2019.

Penulis: Gembala Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Gereja-Gereja Baptis West Papua)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here