Pemerintah Indonesia Jangan Sibuk Mengejar untuk Menghalau atau Mengusir Asapnya di Luar Rumah, tapi lebih Baik Fokus Memadamkan Bara Apinya dalam Sendiri di NKRI

0
294

Oleh Gembala Dr. Socratez S. Yoman

Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua)

1. Pendahuluan

Logikanya ialah supaya asap apinya tidak terus-menerus mengganggu kita, langkah terukur dan tepat yang dilakukan, yaitu dengan cara memadamkan apinya dengan air. Dengan demikian,  kita mematikan bara apinya dan bara api itu tidak memproduksi asap lagi. Gangguan yang selalu ada kita dapat atasi, maka dalam rumah dan juga di luar rumah tidak ada asap yang mengganggu kita.

Aneh dan lucunya bagi penguasa kolonial moderen Indonesia  yang menduduki, menjajah dan menindas rakyat dan bangsa West Papua lebih profesional dan bergairah mengejar dan menghalau asap yang timbul di West Papua, di Indonesia, di Pasifik, di Australia, di Eropa, di Afrika dan Amerika.

Ketika asap mulai muncul di Luar Negeri, penguasa kolonial moderen Indonesia berteriak, bergerak, menggerakkan semua kekuatan TNI-Polri, diplomat, media, akademisi, politisi dan juga mengeluarkan biaya yang  tidak sedikit hanya  untuk sibuk kejar dan menghalau asapnya.

Apakah cara yang tidak efektif  ini dengan senjaga atau memang tidak tahu jalan penyelesaian dengan mematikan bara apinya?

2. Apa itu bara api?  

Yang punya masalah itu pemerintah Indonesia dengan bangsa West Papua. Pembuat masalah dan punya masalah itu penguasa kolonial moderen Indonesia. Masalah yang tidak normal itu ada di tangan Indonesia. Kekerasan dan Kejahatan terhadap kemanusiaan itu ada di tangan Indonesia. Persoalan yang membusuk itu ada dalam tubuh Indonesia. Yang menembak mati rakyat West Papua itu TNI-Polri di dalam Indonesia.

Prof. Dr. Franz Magnis sudah sampaikan dengan jelas dan terang-benderang.

“Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia. Kita teringat pembunuhan keji terhadap Theys Eluay dalam mobil yang ditawarkan kepadanya unuk pulang dari sebuah resepsi Kopassus.”

“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” (hal.255).

“…kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.” (hal.257). (Sumber: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme: Bunga Rampai Etika Politik Aktual, 2015).

Bara api itu adalah akar persoalan bangsa West Papua terletak pada status politik dengan penggabungan West Papua ke dalam wilayah Indonesia dan pelanggaran berat HAM dilakukan Negara selama 57 tahun terhadap bangsa West Papua.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai Think- Thank-nya Indonesia telah menemukan akar masalah konflik vertikal antara penguasa kolonial Indonesia dengan rakyat West Papua. Akar pokok persoalan yang penulis analogikan dengan ‘bara api’ yang perlu dipadamkan oleh penguasa kolonial Indonesia.

Tri Nugroho, Direktur Eksekutif LIPI, dalam kata pengantar buku Papua Road Map, dengan tepat mengatakan: “Tim LIPI, yang melakukan penelitian serius tentang akar persoalan konflik Papua dan berbagai problematika dalam relasi Papua-Jakarta, merekomendasikan suatu paket penyelesaian secara menyeluruh atas masalah Papua….” (Tim LIPI, 2009, hal.xxvii).

LIPI telah menemukan  empat akar masalah sebagai bara api yang harus dipadamkan oleh penguasa Indonesia.

2.1. Sejarah dan status politik Papua Barat ke dalam Indonesia menjadi persoalan yang belum final sampai saat ini. Karena proses pengintegrasian West Papua ke dalam wilayah Indonesia hanya dimasukkan paksa oleh ABRI dengan moncong senjata. Rakyat dan bangsa West Papua tidak pernah ikut terlibat, walau ada perwakilan tapi mulut mereka ditutup dengan moncong senjata oleh ABRI.

2. 2. Kekerasan Negara dan Pelanggaran berat HAM yang berlansung bertahun-tahun. Kekerasan Negara sampai memasuki tahun 2019 di Ndugwa yang sedang berlangsung Operasi Militer atas perinntah Presiden RI, Ir. Joko Widodo.

2. 3. Marjinalisasi atau peminggiran Penduduk Asli West Papua.

2. 4. Kegagalan pembangunan di West Papua.

Dari empat akar masalah ini  yang dipromosikan hanya pembangunan atau kesejahteraan.  Sedangkan pokok masalah sebagai ‘bara api’ sebenarnya pemerintah berusaha keras untuk membelokkan dan menghilangkan dengan cara sibuk-sibuk menghalau dan mengusir asap di Luar Negeri.

Apa yang dimaksud dengan pemerintah kolonial Indonesia sibuk  menghalau dan mengejar asap?

Ketika ULMWP atas nama rakyat dan bangsa West Papua mendaftar sebagai anggota MSG, penguasa Indonesia sibuk menghalangi ULMWP menjadi anggota dan Indonesia menjadi associate member. Ketika ULMWP berjuang menjadi anggota PIF, penguasa Indonesia pergi menghalangi di sana. Ketika Jeremy Corbyn Ketua Partai Buruh Inggris buat pernyataan mendukung Self Determination of West Papua, pak Luhut Panjaitan, pak Fadli Zon, pak Jenderal Pol. Dr. Karnavian Tito berangkat membawa setumpuk kertas laporan serahkan kepada Hon. Lord Harries di London, Inggris.  Ketika komunitas Selandia Baru dan beberapa Anggota Parlemen Nasional dengan gigih mendukung West Papua, penguasa Indonesia mengadakan Expo Indonesia 2019 di Auckland. Ketika Dewan Oxford memberikan Penghargaan kepada Benny Wenda Ketua ULMWP, pemimpin Perjuangan Kemerdekaan bangsa West Papua, pemerintah dan anggota DPRRI memberikan reaksi dan ancaman-ancaman.

Yang perlu disadari oleh penguasa Indonesia bahwa pokok masalah atau ‘bara api’ itu  ada di dalam rumah Indonesia atau rumah NKRI.

Sepanjang dan selama akar masalah sebagai ‘bara api’ itu masih menyala dan membara, asap itu selamanya tidak pernah hilang. Bara apinya tetap ada maka ia tetap menghasilkan asapnya lebih banyak,  lebih tebal dan lebih gelap lagi.

Jadi, apakah pemerintah kolonial Indonesia hanya mau menyibukkan diri dengan pergi menghalau, mengusir dan mengejar asapnya dengan mengeluarkan biaya besar atau dengan jiwa besar duduk bersama ULMWP untuk memadamkan ‘bara api’ dengan cara menggunakan air dingin.

Karena bara api harus dipadamkan dengan air dingin. Sebab bara api tidak dapat memadamkan bara api. Artinya, perundingan damai, setara, manusiawi dan bermartabat harus ditempuh antara pemerintah Indonesia dengan ULMWP yang dimediasi pihak ketiga di tempat yang netral.

Yang jelas dan pasti: Akar persoalan konflik vertikal antara  bangsa Indonesia dengan bangsa West Papua ialah status politik sejarah penggabungan ke dalam wilayah Indonesia dan pelanggaran berat HAM yang merupakan kejahatan Negara. BUKAN Kesejahteraan atau Pembangunan jalan dan jembatan.

Doa dan harapan saya, tulisan ini menjadi berkat.

Waa….kinaonak.

 

__________________________________________

Ita Wakhu Purom, 2019

Penulis adalah Gembala Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua).

Editor: Weko/Admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here