Ikuti Wawancara Eksklusif AD dengan SSY tentang Surat SSY kepada Panglima TNI dan Kapolri 

0
501
Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua)

MAJALAHWEKO,  – Simak Wawancara Eksklusif AD dengan SSY tentang Surat SSY kepada Panglima TNI dan Kapolri: 

AD: Pak Socratez, saya ada baca surat pak Yoman kepada Panglima TNI dan Kapolri tentang Ungkapan Hati Nurani Seorang Gembala dari Tanah Papua pada 6 Juli 2019. Saya membaca isinya pencerahan yang baik.

SSY: Benar, tapi Anda harus sebut topik itu yang lengkap dan utuh dan jangan hilangkan beberapa pesan penting dalam topik itu. Anda sama saja dengan pemerintahmu dan TNI-Polri yang suka dan gemar dan selalu kasih kabur dan kasih hilang nilai-nilai berharga dan penting yang dimiliki rakyat dan bangsa West Papua.

AD: Maaf pak Yoman, saya hilangkan apa?

SSY: Anda lihat kembali dan baca ulang topik surat saya.

AD: Maaf pak Socratez, ya topik surat: Ungkapan Hati Nurani Seorang Gembala dari Tanah Melanesia, West Papua.

SSY:  Topik ini yang lengkap dan penting. Karena dalam topik ini ada dua pesan mendasar bagi pemerintah, TNI, Polri dan rakyat Indonesia.

AD: Dua pesan mendasar itu apa pak Socratez?

SSY: Saya yakin Anda tahu. Tanya yang lain saja.

AD:  Jujur saja pak Socratez, saya belum tahu.

SSY:  Dalam topik surat saya itu ada dua pesan hakiki atau mendasar. Suara nurani rakyat dan bangsa West Papua dan  membedakan Anda dan bangsamu, bangsa Melayu Indonesia dan kami bangsa Melanesia yang berada dan hidup di Tanah West Papua.  Ada pergumulan hidup bangsa  Melanesia di West Papua. Singkat kata, Anda Melayu Indonesia dan kami  orang Melanesia bangsa West Papua.

AD: Itu surat pak Socratez, mengapa pak Yoman katakan surat itu nurani rakyat dan bangsa West Papua?

SSY: Itu surat suara nurani rakyat dan bangsa West Papua. Saya hanya seorang Gembala sebagai penyambung suara nurani mereka yang tersiksa dan terganggu. Ingat, saya tidak bicara atas nama pribadi. Surat itu merupakan ungkapan suara nurani umat Tuhan yang sedang mencari rasa keadilan dan menegakkan kebenaran demi perdamaian dan pengharapan abadi di atas tanah leluhur kami di Tanah West Papua ini.

AD: Pak Socratez bukan mewakili mereka. Itu surat pribadi pak Socratez.

SSY:  Kalau surat itu permohonan, isinya saya meminta uang kepada Panglima TNI dan Kapolri, itu yang disebut surat pribadi.  Tetapi, surat itu merupakan suara hati umat Tuhan di West Papua. Tanyakanlah kepada rakyat dan bangsa West Papua. Karena surat itu persoalan yang dialami dan diperjuangkan rakyat dan bangsa West Papua.

AD: Mengapa pak Socratez kirim surat itu kepada Panglima TNI dan Kapolri bukan kepada Presiden RI, Ir. Joko?

SSY: Apakah surat itu salah alamat menurut Anda?

AD: Tidak juga pak, tapi saya perlu penjelasan dari Socratez.

SSY:  Ada beberapa alasan subtansial yang perlu menjadi pengetahuan umum pemerintah, TNI-Polri dan rakyat Indonesia.

AD: Alasan-alasannya seperti apa itu?

SSY:  Anda dan bangsamu yang kolonial menduduki dan menjajah bangsa saya  ini perlu tahu, yaitu:

  1. Saya kirim surat ungkapan hati nurani kepada Panglima TNI dan Kapolri karena biang  kerok kekerasan, kekejaman dan  kejahatan kemanusiaan terhadap rakyat dan bangsa West Papua. Kata lain, sumber konflik dan kejahatan di West Papua dimulai dan ditanamkan oleh ABRI sejak tahun 1960-an.  Wajah kekejaman,  kejahatan dan brutalnya ABRI (sekarang: TNI) tergambar dengan sangat jelas dalam surat itu.

Andakan sendiri lihat selama ini, Negara tidak hadir dengan nilai-nilai luhur Pancasila tapi  pemerintah dan TNI-Polri hadir di West Papua dengan wajah kekerasan dan kekejaman dan kejahatan-kejahatan kemanusiaan yang diluar batas-batas kemanusiaan. Terlihat TNI dan Polri kriminal dan membantai rakyat dan bangsa West Papua dengan ringan hati, ringan pikiran dan ringan tangan. Orang-orang ini seperti sudah kehilangan hati nurani kemanusiaan.

Pemerintah, TNI dan Polri memelihara, mewarisi, melestarikan dan melanggengkan sejarah Pepera 1969 yang salah, penuh dengan darah dan air mara, bengkok, miring, dan busuk.  Bagaimana TNI dan Polri orang-orang berbintang tapi hati mereka tidak seperti bintang yang bercahaya dan bersinar. Tetapi hati mereka gelap, mata mereka buta dan telinga mereka tuli.

  1. Surat ungkapan hari nurani itu tidak perlu kirim kepada presiden RI, Ir. Joko Widodo karena pak Jokowi itu berada dibawah ketiak TNI-Polri. Pak Jokowi secara personal orang hebat dan luar biasa, tetapi beliau powerless karena pak Jokowi berada dipunggungnya TNI-Polri. Pak Jokowi juga belum banyak mengetahui busuknya sejarah Pepera 1969.  Tapi surat ini bersifat terbuka, saya harap beliau membacanya.
  2. Melalui surat saya mau sampaikan kepada Panglima TNI dan Kapolri bahwa KAMI SUDAH SEKOLAH. Artinya kami sudah ada kesadaran sebagai sebuah bangsa yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia dengan cara-cara tidak beradab, cara-cara yang tidak terhormat.
  3. Singkat kata, Anda TNI dan Polri STOP atau BERHENTI memelihara dan mewariskan sejarah Pepera 1969 yang busuk itu. Bukan eranya lagi untuk memelihara dan mempertahankan sejarah yang busuk. Ini sangat memalukan kita semua.
  4. Surat terbuka ini supaya semua rakyat dan bangsa  Indonesia membaca, belajar dan mengetahui bahwa selama ini pemerintah, TNI-Polri menipu mereka tentang status politik rakyat dan bangsa West Papua dalam wilayah Indonesia. Karena proses pengintegrasian melalui Pepera 1969 dengan cara-cara kejam dan brutal. Semoga berguna dan bermanfaat membuka mata, hati dan pikiran rakyat dan bangsa Indonesia.
  5. Dalam surat ini ditegaskan bahwa pokok akar masalah yang memicu kekerasan di West Papua itu bukan KESEJAHTERAAN. Rakyat dan bangsa West Papua tidak minta makan dan minum. Bangsa West Papua adalah bangsa yang kaya tapi dimiskinkan oleh kolonial Indonesia. Akar masalah sudah ditemukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, yaitu: 1. Sejarah Pepera 1969. 2. Pelanggaran berat HAM. 3. Peminggiran Orang Asli Papua. 4. Kegagalan pemerintah dalam pembangunan.

AD: Apakah TNI/Polri akan marah dan tangkap pak Socratez karena membongkar kesalahan sejarah?

SSY: Silahkan tanya pak Panglima TNI dan Kapolri, bagainana tanggapan beliau berdua tentang surat itu.

AD: Pak Socratez sepertinya rong-rong keberadaan NKRI di Papua?

SSY:  Maksudnya?

AD: Pak sudah menulis beberapa buku tentang Pepera 1969 dan sekarang sudah tulis surat ungkapan hati nurani juga isinya tentang Pepera 1969 yang sangat mengganggu NKRI.

SSY:   Yang benar ialah yang merong-rong dan mengganggu hidup dan martabat kami adalah Anda dan bangsamu. Leluhur dan nenek moyang kami tidak kenal Anda dan bangsamu. Dan juga Anda dan bangsamu  tidak pernah diundang untuk datang menjajah kami. Yang benar ialah bangsa saya yang dirong-rong dan dibantai atas nama NKRI oleh TNI-Polri seperti hewan dan binatang koq, Anda bilang saya menganggu dan merong-rong NKRI. Anda dan bangsamu sudah membuat kami susah, jadi Anda  dan bangsamu harus sadar dan mengakui dengan jujur dan terbuka  atas kekeliruan selama ini. Apakah bangsamu ini kumpulan orang-orang kriminal? Apakah bangsamu kumpulan orang-orang pembunuh, perampok dan pencuri? Sadarlah.

Sedangkan yang menulis kesalahan dan kekejaman dalam proses  Pepera 1969 itu bukan saya. Orang-orang yang menulis itu ada, yaitu: Dr. John Saltford, seorang akademisi Inggris dan Prof. Dr. P.J.Drooglever sejarawan Belanda dan bahkan ribuan orang mempersalahkan Pepera 1969 yang cacat hukum, moral dan melawan standar hukum Internasional.

AD: Walaupun Pak Socratez sudah bilang TNI-Polri sumber konflik di Papua dengan sejarah yang salah tapi kenyataanya kekuatan TNI dan Polri sudah menggurita di  Papua sulit dilawan dan diruntuhkan. Bagaimana menurut pak Yoman?

SSY:  Pemazmur memberikan nasihat: “Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.” Amsal 14:34).

Menurut saya, bahwa sebuah Kerajaan dan Pemerintahan yang didasari dan dibangun berdasarkan keadilan dan kebenaran tetap kokoh dan kuat selama-lamanya.

Dan juga kita belajar dari pengalaman:  Pangkalan militer yang dibangun Belanda di Indonesia runtuh juga. Kerajaan Romawi tinggal dalam kenangan sejarah. Tembok Berlin runtuh juga. Kekuasaan Apartheid di Afrika Selatan runtuh juga. Kekuasaan Kerajaan di India tidak abadi juga. Yang kekal hanya TUHAN dan kebenaran-Nya dan juga perubahan itu sendiri.

AD: Pak Socratez itu sepertinya Separatis karena melawan pemerintah yang sah?

SSY: Jadi, Anda punya pahlawan, pendiri bangsamu Indonesia, Ir. Sukarno itu  juga dianggap separatis dan ditangkap dan dibuang di Pulau Ende dan Boven Digul West Papua. Sejarah selalu terjadi pengulangan saja. Jadi, Anda dan bangsamu jangan pikir kami ini bangsa bodoh. Kami bangsa berdaulat, punya peradaban dan bermartabat.

AD: Sepertinya pak Socratez sangat menguasai tentang sejarah Pepera 1969. Apakah pak Socratez ada studi khusus tentang ini?

SSY:  Saya Sudah Sekolah. Ada hikmat sempurna dari Tuhan Yesus Kristus sebagai sumber hikmat dan pengetahuan. Saya tahu, saya mengerti dan saya mendegar doa-doa orang yang menderita dan tak bersuara dan terabaikan di Tanah ini menyertai saya. Saya ada di hati mereka dalam doa setiap waktu. Tulang belulang, tetesan darah, cucuran air mata dan penderitaan rakyat dan bangsa saya selalu menjadi cahaya hati, jiwa dan pikiran saya. Saya ada untuk mereka yang terabaikan.

Ini hanya upaya dan usaha kecil sebagai pertanggungjawaban iman dan ilmu saya kepada rakyat dan bangsa saya yang sudah cukup lama menderita di tangan kolonial Indonesia. Saya datang dari bangsaku yang tertindas sehingga ilmu saya baktikan untuk mereka, walaupun usaha yang tidak berharga dan juga tidak berdampak. Karena bangsaku menghadapi kekejaman bangsa yang besar dan mempunyai kekuatan TNI-Polri.

Saya hanya mau bilang sama Mama dan Papa saya yang sudah tiada, bahwa saya sangat berhutang budi kepada Mama dan Papa yang hebat yang melahirkan dan membesarkan saya. Saya mau bilang sama Mama dan Papa, walau saya lahir di honai di kampung tanpa ventilasi tapi saya sudah menjadi cahaya lilin kecil atau cahaya bintang kecil untuk bangsaku. Apapun kata orang tentang karya-karya dan pengabdian untuk bangsaku, saya tidak peduli, saya tetap menulis dan bersuara.

Mama dan Papa, kalau saya harus korban atau mati karena bersuara bagi bangsaku yang tak bersuara, Mama dan Papa harus merelakan itu. Karena saya akan jadi korban bukan karena membunuh, melukai sesamaku, merendahkan martabat sesamaku, saya juga bukan pencuri dan koruptor hak orang.

“Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan? …dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 1:23; 8:32).

____________________________

Ita Wakhu Purom, 8 Juli 2019.

Gembala Dr. Socratez S.Yoman (Ndumma Owaganak). 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here