Surat Terbuka Kepada Gubernur Papua Terkait Pentingnya Penyelamatan Lembaga KPA Provinsi Papua

0
244
Lukas Enembe. Sang Tokoh Pemecah Mitos

Kepada YTH Gubernur Papua: Bapak Lukas Enembe, S.IP,. MH

Di- Tempat.

Teriring salam dan doa, dari kami para pegiat/aktivis/ pemerhati masalah HIV-AIDS di tanah Papua. Kami berdoa bagi kesehatan bapak, semoga sehat walafiat selalu dan dilindungi oleh TYMK. Amin.

1. Latar Belakang

KPA Papua di bawah kepemimpinan, Yan Matuan kini telah memasuki genap 7 bulan, usai dilantik pada Desember 2018 lalu. Tak terasa lembaga kemanusiaan yang merupakan “leading sector” penanggulangan HIV-AIDS Papua ini telah tetap ada dan eksis walaupun di tingkat nasional lembaga ini telah dimerger oleh pemerintah ke dalam Kemenkes usai hadirnya Perpres 124/ 2016.

Eksisnya KPA Papua adalah berkat konsistensi dan komitmen Gubernur Papua dalam menyelamatkan rakyat Papua dari ancaman kepunahan akibat invasi dan gilasan pandemi HIV-AIDS. Dimana atas dasar komitmen tsb bapak Gubernur mempercayakan pembentukan pengurus KPA Papua di bawah kepemimpinan, Yan Matuan cs. Sehingga pada penghujung Desember 2018, Gubernur melantik pengurus baru KPA di hotel Aston Papua secara resmi melalui SK No. 188.4/471/Tahun 2018

Satu harapan gubernur Papua yang disampaikan kepada pengurus baru khususnya kepada ketua harian KPA adalah ” selamatkan sisa dari yang tersisa”.

Mandat” selamatkan sisa dari yang tersisa ini” bukanlah semata-mata suatu frasa tanpa makna mendalam yang turun dari langit, tetapi sejatinya adalah sebuah untaian kata, yang penuh harapan dan penuh makna sebagai “output” refleksi panjang melihat ekspansi HIV-AIDS sebagai faktor resiko dan penyebab serius kematian ribuan nyawa rakyat Papua.

Oleh sebab itu, mandat, harapan dan instruksi bapak gubernur tersebut, sudah mestinya diejahwantahkan melalui pengelolaan dan pengorganisasian KPA yang profesional menanggulangi masalah HIV di seluruh tanah Papua.

Namun, kondisi real dan objektif pasca pelantikan pengurus KPA baru di bawah nakhoda ketua harian yang baru nampaknya sudah keluar jauh dari harapan bapa gubernur tadi dan sangat tidak kena konteks, irama atau culture penanggulangan HIV sebagaimana yang biasanya ada. Hal ini disebabkan oleh berbagai kondisi berikut: 1) ketidakmampuan ketua harian KPA Papua mengelola dan menjalankan KPA sesuai SOP dan tupoksi; 2) adanya penggiringan KPA oleh oknum tertentu kepada bisnis MLM; 3) penunjukkan ketua harian KPA Papua berdasarkan kepentingan politik.

Secara garis besar dapat dipahami bahwa ketiga hal ini telah menjadi esensi causal kevakuman dan semakin jauhnya orientasi KPA di luar koridor eksistensinya sejak dahulu.

2. Ketidakmampuan Ketua KPA Papua mengelola dan menjalankan KPA sesuai SOP dan Tupoksi

Kekhawatiran besar atas penunjukkan ketua KPA Papua oleh gubernur sesungguhnya sudah diwanti-wanti banyak pihak sejak awal. Beberapa pegiat HIV-AIDS yang telah lama “malang-melintang” di bidang ini sudah mengkritik penunjukkan gubernur Papua kepada YM pasca dilantik tiba-tiba. Namun saat itu Gubernur sendiri justeru membela ybs. Keraguan tsb muncul mengingat “track record” ketua harian yang notabene adalah figur aktifis antikorupsi dan demokrasi, bukan aktifis HAM atau kesehatan, apalagi HIV-AIDS.

Keraguan yang muncul saat itu adalah menyangkut kompetensi, basis dan pengetahuan ybs terhadap dunia penanggulangan HIV-AIDS, bukan aktivisme. Namun apa boleh buat, bapak Gubernur tetap mempercayai YM sbg ketua harian. Kepercayaan bapak Gubernur sudah bulat bahwa beliau adalah sosok pilihan paling tepat untuk menjalankan amanat penanggulangan HIV-AIDS di tanah Papua. Dan itu nampaknya tidak bisa dirubah, sudah final dan palu sudah jatuh.

Namun seiring berjalannya waktu, apa yang diragukan beberapa pihak tadi mulai terbukti dan terlihat. Ada beberapa indikator utama yang menunjukkan ketidakmampuan ketua harian KPA saat ini yang dianggap menjadi faktor mandeknya kinerja KPA sejak awal pelantikan.

2.1. Melakukan Perekrutan Relawan Tanpa Raker dan Koordinasi

Kesalahan fatal yang dilakukan oleh Ketua harian KPA Papua yang utama adalah melakukan kebijakan sepihak menggelar perekrutan relawan tanpa kordinasi, konsultasi secara baik dan detail kepada Gubernur, maupun kesepakatan bersama internal pengurus KPA. Sebab proses perekrutan relawan yang jumlahnya diduga telah mencapai 50 ribu orang menyisahkan banyak tanda tanya. Untuk apa perekrutan relawan sebanyak itu, dari sumber dana mana akan dibiayai, dan atas saran siapa perekrutan harus dilakukan di Provinsi bukan di Kabupaten/Kota?

Walaupun belakangan telah beredar spekulasi bahwa perekrutan merupakan langkah yang sesuai dengan petunjuk Gubernur dan mulai beredar isu bahwa perekrutan tsb sbg upaya mendata jumlah populasi OAP, setidaknya sudah jelas bahwa instruksi gubernur sekalipun, tidak mungkin menghendaki rekruitmen relawan yang tidak rasional dan asal-asalan tanpa analisis dan konsepsi yang matang.

Walaupun hal tsb bisa dibelokkan sebagai upaya sensus OAP, sangat jelas bahwa domain kerja dan tupoksi KPA Papua bukan seperti lembaga statistikal atau lembaga surveiyor yang tugasnya melakukan cacah jiwa, maka upaya perekrutan tsb sudah sangat salah kaprah dan merupakan indikator ketidakmampuan ketua Harian KPA Papua saat ini.

2.2. Pembelian Stem Cell (Purtier Plasenta) dan pembelian Mobil Secara Pribadi

Indikator berikutnya yang sangat menggemparkan kultur dunia penanggulangan HIV/AIDS adalah pembelian produk suplemen Purtier Placenta yang diaktori oleh dr. John Manangsang, juga pembelian mobil dinas tidak sesuai skala prioritas atau bahkan tanpa melalui kesepakatan bersama. Sesuai dengan catatan yang ada pembelian steam cell dilakukan secara sepihak tanpa mengetahui pengurus harian KPA lainnya. Padahal purtier placenta merupakan salah satu produk suplemen yang dikemas dalam rupa bisnis Multi Level Marketing (MLM) dan dalam konteks ini individu ketua harian KPA dan bberapa koleganya sudah terlibat dalam bisnis MLM menggunakan anggaran KPA tanpa kesepakatan bersama. Di sini nampak bahwa ada penyalahgunaan wewenang dan anggaran yang tidak sesuai mekanisme organisasi.

2.3. Penyangkalan terhadap Sistem Kerja Organisasi, manajemen dan SOP penanggulangan HIV Nasional dan Global

Sebagai bagian aktivis HIV-AIDS yang sudah bekerja dan mengamati lama di bidang kesehataj khususnya penanggulangan penyakit tiga huruf ini, adalah sesuatu yang sangat aneh dan mengejutkan jika, ketua KPA Papua hari ini menyatakan tidak mau urus dan pusing menjalankan roda organisasi KPA sesuai dengan koridornya. Dalam banyak kesempatan ketua KPA selalu menyatakan tidak mau berurusan dengan sistem birokrasi organisasi KPA yang berbelit-belit dan maunya jalan pintas–instan semaunya. Selain itu, ketua harian KPA juga pasca pelantikan selalu mengutamakan pendekatan kerohanian dan steam cell sebagai senjata utama untuk mengobati ODHA–padahal domain utama kerja KPA hanya sebatas pencegahan tidak pada pengotan pasien ODHA. Ketua Harian KPA dan kelompoknya menolak ARV dengan dalih ARV sudah tidak bisa diharapkan. Padahal sesuai rekomendasi dan anjuran WHO- UNAIDS, ARV merupakan terapi lini pertama di seluruh dunia. Ironisnya bahkan pasca pelantikan ketua KPA sangat jarang hadir di kantor. Beliau lebih banyak menghabiskan waktu di luar kantor. Proses organisatoris tidak terjadi baik. Kebanyakan yg stay di kantor hanya staf dan sekretaris. Semua surat masuk keluar dan hampir dipastikan bahwa kantor vakum sekitar 7 bulan ini.

Seluruh staf kantor KPA tdk lagi menjalankan tupoksi karena ketua harian sbg kepala tidk pernah hadir sejak cairnya anggaran tahap 1 sebesar 6 milyar dan aktivitas promosi Purtier Plasenta yang intens dilakukan keluar masuk kota dan luar negeri.

Kantor KPA kini bagaikan gedung kosong tak berpenghuni, apalagi pada beberapa bulan terakhir karena sepinya aktivitas kantor dan tingginya hutang yang melilit, maka aliran air telah dimatikan pihak PDAM, Wifi kantor telah dicabut pihak telkom dan Listrik juga dicabut pihak PLN.

Semuanya kondisi ini merupakan dampak dari ketidakmampuan ketua harian memahami dan mengikuti serta membuka diri dalam memimpin tata kelola organisasi KPA yang baik dan benar.

2.4. Lemahnya Leadership

Kekacauan dan kehancuran di KPA hari ini juga terjadi utamanya karena lemahnya “Leadership” pimpinan KPA Papua. Banyak anggota dan staf yang ditambahkan pasca pelantikan sesuai SK Gubernur menjadi indkator utama. Jumlah dan komposisi anggota dan staf KPA yang gemuk dan tidak rasional dimana menghabiskan pagu anggaran yang besar adalah wujud ketidakmampuan pimpinan KPA. Akibatnya dana banyak terserap dan habis hanya dengan membayarkan dua-tiga bulan gaji staf sedangkan sisanya 4 bulan dana sudah habis– apalagi untuk jalankan program kerja dana sudah nihil. Peningkatan staf dan hancurnya manajemen dan kredibilitas KPA hari ini merupakan dampak dari lemahnya leadership pimpinan KPA.

3. Adanya Penggiringan KPA Pada Bisnis MLM: Purtier Placenta

Sesuai kronologis lengkap yang ada, penggiringan KPA kepada bisnis MLM disponsori oleh dr. John Manansang cs dari PT. Riway Papua ketika pak YM dilantik oleh Gubernur Papua yang awalnya melalui sebuah chatingan di salah satu group WAG. Yang mana setelah itu, dokter ybs terus melakukan pendekatan secara personal kepada ketua harian KPA Papua mulai dari hotel Sahid, Hotel Enang, saat seminar Uncen-Expo hingga ke kantor KPA Papua dalam rangka promosi suplemen PL tsb.

Dan diduga karena diiming-imingi benefit dari bisnis tersebut dan ajakan pihak perusahaan ke luar Papua dan luar negeri, maka ketua Harian KPA Papua telah melakukan transaksi pembelian suplemen PL dimaksud secara sepihak dengan menghabiskan anggaran sekitar 1, 5 milyar lebih. Padahal sebagai organisasi, keputusan pembelian PL mestinya dibicarakan dan dibahas terlebih dahulu dalam rapat kerja. Bahkan mestinya melalui pengkajian yang komprehensif atas kehadiran PL tsb.

Sebab dana KPA yang akan dipakai merupakan dana hibah yang adalah dana milik rakyat, khususnya ODHA. Berbicara tentang Odha maka jelas atensinya adalah tentang masalah empati sosial– kemanusiaan, maka memakai dana hibah sosial–kemanusiaan dalam suatu kegiatan bisnis demi keuntungan pribadi merupakan sebuah tindakan biadab dan bertentangan dengan hukum maupun norma-norma moral.

Banyak Odha meninggal dunia secara cuma-cuma karena pengurus KPA memakai jubah PL sementara orientasinya adalah benefit MLM untuk kantong pribadi dan kelompok.

Kemudian keeggangan sikap dan hati ketua Harian untuk keluar dari member Bisnis tsb merupakan kondisi yang sudah sulit diatasi. Apalagi ada upaya-upaya penjualan aset KPA untuk investasi bisnis dimaksud menjadikan masalah leadership KPA semakin rusak. Satu-satunya solusi menghentikan cekikan bisnis MLM terhadap KPA Papua adalah menggantikan ketua harian KPA Papua sdr. YM secepat mungkin demi menyelamatkan banyak orang, khususnya ODHA dan demi menekan lajunya invasi transmisi HIV yang sudah eksis di populasi umum rakyat Papua.

Beberapa catatan penting, anjuran, warning, saran dsb yang baik kepada ketua harian KPA sudah sangat sulit didengar dan dilaksanakan karena adanya sikap defensif akibat tergiur benefit MLM PL, maka banyak pegiat aktivis HIV/AIDS menyimpulkan demi nama baik gubernur dan juga demi memaksimalkan upaya menyelamatkan sisa dari tersisa, maka perlu dilakukan intervensi bapak Gubernur LE segera.

4. Penunjukkan Ketua Harian KPA berdasarkan hitung-Hitungan Politik Balas Budi

Salah satu penyebab hancur sebuah pemerintahan adalah langgengnya KKN dan politik bertipe dinasti. Maka dalam penunjukkan ketua KPA Papua patut pula diduga bahwa ada dimensi kepentingan politik masa lalu. Dan hal tsb merupakan sesuatu yang mudah diamati, sebab penunjukkan ketua harian saat ini yang merupakan bukan seorang aktivis HIV-AIDS memiliki arti yg lain. Arti tsb yakni sebagai bentuk balas budi karena ybs pernah menjadi tim sukses saat pemilu.

Akan tetapi yang kurang dari proses spt ini adalah unsur kompetensi dan kemampuan ybs yg luput/ tdk diperhitungkan sehingga berdampak pada kemajuan organisasi yang diemban. Akibatnya kini jelas sudah terjadi ketimpangan, stagnansi dan kehancuran dalam organisasi yang akhirnya justeru berpretensi merusak nama baik Gubernur sendiri.

Dalam konteks ini, kami menilai kegagalan kepemimpinan ketua harian KPA Papua adalah wujudnyata dampak dari bagi-bagi jabatan dalam rangka politik balas budi. Padahal sejatinya KPA Papua sbg organisasi sosial–kemanusiaan yang urgen determinatif co- eksistensi OAP mestinya diberikan kepercayaan kepada kalangan profesional– aktivis yang sarat pengalaman dalam dunia pengentasan masalah HIV-AIDS dan medis. Sehingga upaya penanggulangan HIV di Papua dapat berjalan sungguh-sungguh dan serius.
Oleh sebab itu, dengan mencermati insiden dan konsidi matinya marwah KPA Papua hari ini, dibutuhkan reevaluasi segera terutama menggantikan ketua Harian KPA Papua tanpa merevisi struktur KPA yang ada sehingga dapat mengembalikan KPA ke arah terciptanya organisasi yang bersih, sehat, transparan dan merupakan “leading sector” dari KPAD Kabupaten/Kota se–tanah Papua juga LSM–LSM yang banyak tersebar di seluruh tanah Papua. catatan: sesungguhnya, menghindarkan dunia kesehatan dan pendidikan dari unsur-unsur kalkulasi politik pragmatis merupakan sebuah keharusan jika kita ingin benar-benar membawa tanah Papua ini ke arah yang baik.

5. Penutup

Belum terlambat bagi bapak gubernur Papua *untuk” menyelamatkan yang sisa dari yang tersisa”*, masih ada waktu dan kesempatan, melalui intervensi pembenahan yang cepat, sehingga KPA Papua bisa tetap menyematkan rakyat Papua, sebab jika tidak, maka 40 ribu kasus HIV-AIDS yang sudah terdeteksi hingga akhir triwulan pertama 2019 ini akan semakin meningkat dan upaya mewujudkan kebagkitan dan kemandirian bagi OAP akan dikenang sebagai mitos dewasa indah dari anak koteka.

Catatan penting dari siapapun yang masih nemiliki hati dan jiwa untuk bekerja dalam memerangi HIV–AIDS dan juga siapapun orang Papua yang membaca tulisan ini khususnya para pejabat teras utama Kantor Gubernur Dok 2 bahwa semua pihak saat ini, khususnya seluruh staf KPA sudah bulat menunggu upaya penyelesaian dan penyelamatan dari bapak Gubernur sebagai Ketua Umum KPA. Bukan oleh siapapun. Hanya dengan intervensi bapak Gubernur, persoalan KPA diyakini akan selesai dan dapat dikembalikan kepada koridornya.

 

__________________________________________

Penulis Adalah Pemerhati Masalah HIV-AIDS Tinggal Jayapura.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here