Ikuti Wawancara Eksklusif AD dengan SSY tentang Otonomi Khusus tahun 2001 pada 1 Juli 2019

1
487

MAJALAHWEKO, – Simak wawancara Eksklusif AD dengan SSY tentang Otonomi Khusus tahun 2001 pada 1 Juli 2019:

DA: Apakah pak Socratez boleh jelaskan kepada saya tentang Otonomi Khusus bagi Papua?

SSY: Maaf, saya bukan orang pemerintahan dan politisi. Karena proses lahirnya Otsus itu bisa dijelaskan oleh mereka yang berkompeten karena itu domainnya/ wilayah kerjanya orang-orang pemerintahan dan para politisi, bukan orang seperti saya. Karena, saya latar berbelakang pendidikan Keguruan. Saya dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Bahasa Inggris Uncen Jayapura, bukan Jurusan Sospol & Pemerintahan.

Lebih tepatnya juga kepada para cendikiawan dan ilmuwan dari Papua dan termasuk dari Uncen yang merancang dan membangun kerangka UU Otsus itu.

DA: Tapi, saya perlu komentar dari pak Socratez bukan mereka. Karena pak Yoman sudah tulis buku dengan judul: Otonomi Khusus Papua Telah Gagal. Buku itu terbit pada 2012. Saya sudah baca pak, dan isinya tentang latar belakang lahirnya Otsus ditulis dan diuraikan lebih menditail. Akhirnya saya mengerti karena sebelumnya saya belum tahu background Otsus.

Baca Juga: Ikuti Wawancara AD dengan SSY pada 1 Juli 2019

SSY: Kalau Anda sudah mengerti, Anda sudah buat apa untuk bangsa West Papua? Atau apakah Anda hanya tanya-tanya terus kepada kami? Anda bilang apa kepada pemerintahmu dan rakyat Indonesia?

AD: Pak Socratez, kalau menolong teman itu tidak usah promosikan di depan umum. Tuhan tahu dan saya sendiri yang tahu bagaimana caranya saya menolong teman-teman di Papua. Pak Yoman seperti baru kenal saya saja.

Banyak teman-teman dari luar Papua yang mendukung perjuangan rakyat Papua. Saudara-saudara di Papua dan pak Socratez tidak berjuang sendiri. Kami berdiri bersama teman-teman Papua dalam semangat solidaritas, demi rasa keadilan dan kemanusiaan.

SSY: Saya minta maaf. Saya membuat Anda tersinggung.

AD: Pertanyaan pak Socratez itu rasional, dan saya tangkap dan mengerti apa yang pak Yoman pertanyakan.

SSY: Terima kasih kalau Anda mengerti dan tangkap pertanyaan saya.

AD: Apakah pak Socratez boleh berikan gambaran sedikit tentang Otsus seperti dijelaskan dalam buku Otonomi Khusus Papua Telah Gagal?

SSY: Intinya Otsus itu tidak turun sendiri dari langit. Otsus lahir karena ada masalah.

AD: Pak Socratez bisa jelaskan masalah itu?

SSY: Otonomi Khusus lahir karena seluruh rakyat dan bangsa West Papua menyatakan merdeka keluar dari Indonesia pada 2008 bertepatan dengan runtuhnya kekuasaan Suharto sebagai Presiden otoriter berkultur militer. Saya pikir Anda tahu itu. Intinya, Otsus karena adanya tuntutan West Papua Merdeka. Bukan karena Kesejahteraan.

Otsus itu harga yang dibayar dan dikorbankan SANGAT mahal yaitu tuntutan Papua Merdeka. Otsus itu katanya Win Win Solution.

AD: Pak Socratez, Otsus sudah merupakan final dan diberikan oleh pemerintah pusat dengan uang yang cukup banyak. Tetapi rakyat Papua masih berteriak Papua Merdeka bahkan sampai sudah ada kemajuan di MSG, PIF, ACP, dan di PBB lewat wadah ULMWP. Bagaimana menurut pak Socratez?

SSY: Anda jangan bikin kabur pokok akar masalah bangsa West Papua?

AD: Maaf pak Yoman, bikin kabur pokok akar masalah apa?

SSY: Anda perlu tahu bahwa Otsus itu bukan diberikan oleh Jakarta. Dan juga Otsus itu bukan identik dengan banyaknya uang. Itu yang saya maksudkan Anda jangan buat kabur latar belakang rancangan draft Otsus dan esensi Otsusnya.

Baca juga Artikel Menarik Lainnya:

Photo: Dr. Socratez S.Yoman  (The President of the Fellowship of Baptist Churches of West Papua)

Draft Otsus itu disiapkan oleh para intelektual bangsa West Papua. Nama-nama mereka: Pdt. Dr. Phil Karel Erari, Simon Patrice Morin, Alex Hesegem, Franz Wospakrik, Jaap Solossa, Dr. Moss’ad, Barnabas Suebu, Agus Sumule, Agus Kafiar, Michael Manufandu, dan masih banyak dari cendikiawan dan ilmuwan bangsa West Papua yang terlibat.

Ingat dan catat, Dratf Otsus dari bintang-bintang Papua ini diadopsi oleh teman-teman di Aceh. Otsus Aceh itu draft awalnya dari West Papua. Bangsa West Papua orang-orang cerdas dan pintar diplanet ini.

Selanjutnya harga diri dan martabat rakyat dan bangsa West Papua tidak dapat diukur dengan nilai uang. Itu salah dan keliru besar. Rakyat dan bangsa West Papua tidak minta uang. Bangsa berjuang supaya bangsa kolonial Indonesia hargai martabat kami dan hargai hak politik kami. Ingat, Otsus juga bukan merupakan final dalam penyelesaian persoalan pokok yang diperjuangkan rakyat dan bangsa West Papua.

AD: Pak Socratez, pemerintah biasa bilang Otsus adalah Final penyelesaian akar masalah Papua?

SSY: Itu menurut penguasa kolonial Indonesia. Tapi, bagi rakyat dan bangsa West Papua persoalan status politik sebagai pokok akar masalah belum diselesaikan atau belum final. Otsus bukan menyelesaikan pokok masalah dari tujuan awal tapi justru Otsus sudah membuat masalah lebih baru yang sangat rumit dan sangat kompleks. Masalah West Papua sudah menjadi spiral yang sulit diuraikan.

Dalam Otsus banyak Orang Asli Papua ditembak mati oleh TNI-Polri.

Contoh, Operasi Militer di Nduga atas perintah Presiden RI pak Ir. Joko Widodo sejak Desember 2018 dan sedang berlangsung. TNI menembak mati 4 siswa di Paniai ditembak pada 8 Desember 2014. Pelakunya TNI tapi tidak diproses hukum. Ini fakta-fakta kejahatan Negara dan tidak ada perlindungan (protection) sesuai amanat UU Otsus.

AD: Mengapa belum final pak Socratez?

SSY: Pemerintah selalu bilang persoalan bangsa West Papua sudah sudah Final melalui Pepera 1969 dan sudah disahkan lewat resolusi PBB. Tetapi mengapa ada Otsus No.21 Tahun 2001 merupakan solusi final status politik bangsa West Papua? Mengapa ada UP4B sebagai solusi final?

AD: Pak Socratez, masalah Papua berat dan rumit ya?

SSY: Exactly pak. Persoalan rakyat dan bangsa West Papua itu bukan masalah uang banyak, bukan bangunan jalan beraspal, bukan jembatan bagus, bukan soal masalah perut: makan dan minum

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya:

AD: Apakah tuntutan rakyat Papua.

SSY: Apakah Anda sudah baca buku Otonomi Khusus Papua Telah Gagal?

AD: Ya pak Yoman.

SSY: Lalu Anda baca dan tahu apa dalam buku itu tentang latar belakang Ostus?

AD: Rakyat Papua berjuang untuk merdeka dan tidak mau hidup dengan Indonesia.

SSY: Sekarang Anda sendiri jawab pertanyaan Anda. Kalau Anda sudah tahu jangan berwatak seperti penguasa Indonesia yang selalu pura-pura dan menipu dirinya sendiri dan menjadi telinga tuli dan hati nurani yang mati.

AD: Tapi, sekarang gubernur dan para bupati dan walikota dan para pejabat hampir sebagian besar Orang Asli Papua. Mengapa rakyat Papua masih menuntut Papua Merdeka?

SSY: Maaf, ada hubungan apa dengan para pejabat putra daerah dengan Papua Merdeka?

AD: Ya, sekarang pemerintah Indonesia sudah kasih semua jabatan kepada putra-putra asli Papua?

SSY: Apakah Anda bilang pemerintah Indonesia kasih jabatan kepada Orang Asli Papua? Apakah Anda tidak salah tanya kepada saya bagian ini?

AD: Maaf, saya tidak salah pak Socratez.

SSY: Maaf, Anda salah dan juga penguasa pemerintah Anda juga salah.

AD: Salahnya apa?

SSY: Jabatan itu bukan diberikan oleh pemerintah kolonial Indonesia. Orang Asli Papua berhak untuk menjadi pemimpin di atas tanah leluhur mereka. Mereka menjadi pemimpin karena mereka sudah berpendidikan, memenuhi syarat, mereka mampu dan sanggup, mereka bisa.

Sangat lucu, Orang Pendatang kasih jabatan dan kedudukan kepada Orang Asli Papua. Sebelum kolonial Indonesia datang menduduki dan menjajah kami, kami sudah biasa menjadi pemimpin bangsa kami, rakyat kami. Kami sanggup dan mampu hidup tanpa penguasa kolonial Indonesia. Kami bangsa berdaulat. Kami tidak pernah menjadi budak bangsa lain.

AD: Pak Socratez, saya sering dengar dan baca bahkan komentar pak Yoman, pejabat Papua ini boneka-boneka dan budak-budak Indonesia. Bagaimana menurut pak Yoman tentang label seperti ini?

SSY: Tidak boleh buat sama rata atau generalisasi. Hanya ada beberapa orang yang berwatak rendah dan tidak punya martabat: Contohnya: Mau menjadi bupati atau walikota selalu bilang NKRI Harga Mati….NKRI Harga Mati. Dia kutuk-kutuk OPM, kutuk Perjuangan Papua Merdeka, bahkan cium bendera merah putih dan di halaman rumahnya kibarkan bendera merah putih ukuran besar-besar. Inikan orang-orang yang sudah dilumpuhkan, tidak punya martabat dan harga diri. Orang model begini yang digambarkan sebagai boneka dan budak Indonesia di Papua.

Kebanyakan pejabat adalah pribadi-pribadi yang kredibel dan punya integritas. Orang-orang mulia dan terhormat dalam tugas dan profesi mereka. Mereka tahu diri dan kenal diri. Mereka ada kesadaran. Dalam kesadaran mereka membangun bangsa dengan iman, ilmu pengetahuan dan skill mereka. Mereka menjadi wajahnya Tuhan yang nyata dalam tugas dan tanggungjawab mereka. Mereka memainkan peran positif dan signifikan dalam membangun bangsa mereka.

AD: Bagaimana ada dana Otsus banyak tapi kemajuannya tidak kelihatan?

SSY: Kemajuan rakyat dan bangsa West Papua itu tidak tergantung sepenuhnya pada dana Otonomi Khusus. Kita jangan memuliakan Otsus. Otsus tidak bisa dijadikan seperti dewa penyelamat. Tanpa Otsus juga bangsa West Papua ini bisa dibangun.

Ingat, yang bekerja dan membangun bukan Otsus. Yang membangun dan memajukan bangsa West Papua ialah manusia-manusia yang punya hati dan komitmen untuk memajukan bangsa ini.

Para gubernur, bupati dan walikota dan para pejabat telah dan terus dan akan menjadi bintang-bintang dalam tugas dan posisi mereka. Mereka duta-duta Kristus dan duta-duta bangsanya.

AD: Mengapa pak Socratez katakan tanpa Otsus Papua bisa bangun?

SSY: Rohnya Otsus sudah dibuang oleh penguasa kolonial Indonesia. Seperti: Bendera, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Sejarah Politik Papua. Afirmasi / keberpihakan sudah tidak efektif, Empowering / pemberdayaan tidak ada, dan proteksi hilang. Contohnya: Penerimaan IPDN Papua, Calon Anggota TNI/Polri 95% didominasi orang-orang Indonesia dan kita lihat anggota DPRD tahun 2019 di beberapa kabupaten dan kota wajah-wajah orang-orang asing rakyatnya bangsa kolonial Indonesia. Pasal-pasal krusial dalam Otsus sudah dihilangkan oleh penguasa kolonial Indonesia. Bangsa Indonesia memang paling kejam dan brutal.

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya:

AD: Pak Socratez, dikemanakan dana Otsus yang jumlahnya banyak itu?

SSY: Anda masih bicara uang. Saya sudah bilang harga diri dan martabat bangsa West Papua tidak boleh diukur dengan uang. Saya mau bilang Anda, uang Otsus itu juga dinikmati semua orang, termasuk TNI-Polri juga. Ada proposal dari pihak TNI dan Polri juga ada di kantor gubernur dan bupati dan walikota. Aneh dan Lucukan? Jadi, kalau mau bangun infrastruktur TNI-Polri dibagun megah di kampung-kampung dan di kota-kota itu uang dari mana? Saya pernah dengar langsung ada pimpinan dari pihak keamanan minta uang kepada gubernur Papua, Lukas Enembe. Saya pernah lihat ada anggota diperintah atasan bawa proposal di kantor gubernur di bagian keuangan.

Pertanyaannya ialah apakah kantor aparat keamanan TNI-Polri di kantor gubernur, kantor bupati dan walikota?

AD: Apakah dalam Otsus ada campur tangan pihak lain?

SSY: Otsus itu sesungguhnya ditolak oleh rakyat dan bangsa West Papua. Tetapi,
Negara-negara Uni Eropa, Amerika, Australia dan New Zealand berkunjung ke West Papua silih berganti hanya untuk menekan dan memaksa rakyat dan bangsa West Papua untuk menerima Otsus sebagai jalan penyelesaian yang menguntunglan bangsa West Papua.

Saya pernah diminta oleh Ketua Delegasi Uni Eropa untuk ikut delegasi Uni Eropa ke Wamena. Saya dihalangi oleh anggota BIN diruang VIP di airport Sentani waktu berangkat ke Wamena. Saya sampaikan Ketua Delegasi Uni Eropa. Dan beliau sampaikan kepada saya: “Pak Socratez, kami bayar tiket untuk Anda. Tidak usah dengar mereka.”

Kami ke Wamena dan pertemuan di Aula kediaman bupati. Rakyat dan bangsa West Papua hadir dan menyatakan Papua Merdeka di depan delegasi Uni Eropa. Besok paginya kami ke Piramid. Delegasi pemerintah Uni Eropa diterima oleh rakyat dengan pesta daging babi dengan bakar batu.

Saya lihat rombangan hampir 27 orang dari 27 Negara Uni Eropa itu menikmati daging babi dan ubi manis yang dimasak dengan pola orang-orang gunung.

Dalam pertemuan itu saya usir anggota BIN yang berusaha masuk dalam pertemuan tertutup. Saya bilang kalau Anda keamanan jaga di luar bukan ikut pertemuan. Nama saya disiarkan di RRI pusat kekuasaan kolonial di Jakarta, bahwa pak Socratez menghalangi anggota BIN untuk mengawal delegasi di Pirmit Jayawijaya. Saya tidak halangi, saya bilang tunggu di luar.

Waktu kami kembali ke Wamena, dalam perjalanan saya sampaikan kepada Ketua Delegasi: ” Rakyat West Papua hampir 100% mendukung West Papua Merdeka dan menolak Otsus.”

Ketua Delegasi Uni Eropa sampaikan: “Socratez, rakyat Papua harus terima Otsus karena ada tujuan baik. Kami dukung Otsus.”

AD: Ternyata pak Socratez turut memikirkan Otsus?

SSY: Saya tidak bisa pasif. Umat Tuhan bisa korban kalau saya tidak mengikuti semua proses. Saya sebagai pemimpin umat setidaknya tahu perkembangan yang ada.

AD: Bagaimana nasib rakyat Papua setelah Otsus selesai?

SSY: Tanya kepada rakyat dan bangsa West Papua. Apakah masih percaya kepada Indonesia?

AD: Bagaimana pendapat pribadi pak Socratez nasib rakyat Papua setelah Otsus berakhir?

SSY: Saya tidak punya pendapat pribadi. Saya akan dengar suara dan pendapat rakyat dan bangsa West Papua. Karena saya sahabat mereka, saya bagian dari mereka dan saya hanya seorang gembala seperti Yohanes Pembatis yang berseru-seru di atas tulang belulang yang berserakkan, penderitaan, tetesan darah dan cucuran air mata. Hanya saya sebagai sahabat rakyat dan bangsa West Papua, saya tahu, saya melihat, saya dengar, saya merasakan, saya alami bahwa bangsa ini cukup lama sangat menderita dibawah kekuasaan bangsa kolonial Indonesia yang bertangan besi.

Kami hidup bukan karena Otsus. Leluhur dan nenek moyang dan orang tua kami pernah hidup tanpa Otsus dan tanpa penguasa kolonial Indonesia. Penguasa kolonial bilang PEPERA 1969 final tapi ada Otsus 2001. Penguasa kolonial bilang Otsus 2001 final tapi ada UP4B.

Penguasa kolonial Indonesia tidak padamkan bara apinya. Tapi sibuk kejar dan usir-usir asapnya. Mereka sibuk ke Pasifik, ke Eropa, ke Amerika dan ke Afrika hanya kejar-kejar atau menghalau asapnya.

Mereka tidak sadar, bahwa masalahnya ada di Indonesia. Bara apinya ada di Indonesia. Kesalahan ada di Indonesia. Kejahatan dan kekejaman ada di Indonesia. Perlakuan diskriminasi ada di Indonesia. Operasi militer terjadi di Nduga di Indonesia.

Saya ikuti beberapa hari ini beberapa menteri ada di Selandia baru mempromosikan pembangunan. Saya dengar dan dapat informasi Indonesia mau membantu dan membangun ekonomi di Negara-Negara Pasifik Selatan. Heran juga, negara ini sepertinya sudah panik dan para pemimpin yang diliputi roh PARANOID.

Rakyat Indonesia 80% hidup dibawah kemiskinan. Pemerintah hanya sibuk urus pertahankan West Papua dengan berbagai bentuk kebohongan di komunitas internasional. Para penguasa kolonial Indonesia menjadi para. Pemimpin HYPOCRISY. Artinya para pemimpin menufik dan bermuka.

Jadi yang jelas dan pasti: Rakyat dan bangsa West Papua sudah belajar dari pengalaman Pepera 1969; Otsus 2001, UP4B dan masih banyak lagi yang merugikan rakyat dan bangsa West Papua.

Jadi, masalah Otsus itu bukan masalah antara bangsa Indonesia dan bangsa West Papua, tetapi antara bangsa West Papua dengan komunitas internasional.

Selamat menikmati.

 

__________________________________________

Terima kasih. Ita Wakhu Purom, 1 Juli 2019.

Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here