Ikuti Wawancara AD dengan SSY pada 1 Juli 2019

1
284
Foto: Gembala. Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua) - Nuken Potret.

MAJALAHWEKO, – Simak wawancara AD dengan SSY pada 1 Juli 2019.

AD: Pak Socratez,  bagaimana tentang arah perjuangan kemerdekaan Papua sekarang ini?

SSY:  Maaf pak, hal  itu bukan domain saya,  tanyakan kepada pemimpin ULMWP pak Benny Wenda di Oxford, Inggris.

AD: Tetapi, saya baca buku-buku, opini, artikel  dan pernyataan pak Yoman isinya lebih mendukung Papua Merdeka.

SSY. Maaf, tidak ada dukung mendukung dalam semua tulisan saya, karya dan pengabdian kepada bangsaku dengan iman dan ilmu saya.

AD:  Lalu, tujuan tulisan-tulisan dan komentar  pak Socratez itu apa sebenarnya?

SSY: Ada 3 misi saya:

1. Membangun kesadaran sejarah rakyat dan bangsa West Papua.

2. Membangun kesadaran bangsa kolonial Indonesia bahwa ada kesalahan fatal dalam sejarah penggabungan West Papua ke dalam wilayah Indonesia. Katakanlah menggugat Indonesia.

3.  Buku-buku dan opini dan artikel saya itu merupakan suara rakyat dan bangsa West Papua yang terjajah dan tertindas.

AD: Bagaimana maksud pak Socratez,  buku-buku, opini dan artikel itu merupakan suara rakyat Papua.

SSY: Pak, silahkan tanyakan kepada  rakyat dan bangsa West Papua. Karena sebagian besar rakyat Papua sudah baca buku-buku saya dan mereka tahu dan mengerti.

AD: Maaf pak Yoman, saya tahu,  semua tulisan itu pikiran pak Yoman bukan pikiran rakyat Papua?

Baca juga Artikel Menarik Lainnya:

SSY: Ini kekeliruan besar banyak orang, penguasa kolonial Indonesia juga keliru dan tentu juga termasuk Anda keliru.

AD: Keliru bagaimana pak Socratez?

SSY:  Saya tidak punya ide pribadi. Saya dengar, saya lihat, saya tahu, saya alami dan karena itu saya menghimpun dan menulis pikiran dan suara rakyat dan bangsa West Papua yang  disuarakan selama ini. Supaya ada dokumen sejarah perjuangan bangsa West Papua  yang tertulis untuk anak dan cucu ke depan.

AD: Kalau begitu pak Socratez mendukung Papua Merdeka?

SSY: Masalah itu lebih baik Anda tanyakan saja kepada rakyat West Papua dan ULMWP. Itu hak rakyat dan ULMWP untuk menjawabnya. Saya hanya menggembalakan umat Tuhan dengan cara saya sebagai sahabat manusia.

AD: Alasannya apa pak Socratez?

SSY:  Anda perlu tahu, saya Gembala umat Tuhan yang tak bersuara, teraniaya dan tertindas.  Saya tidak urus West Papua merdeka. Saya hanya penyambung lidah rakyat Papua yang terabaikan.

AD: Bagaimana menurut pak Socratez tentang orang Papua dicap Separatis oleh pemerintah Indonesia dan TNI-Polri?

SSY:  Dulu kolonial Belanda juga cap Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta  sebagai gerakan separatis dan mereka diasingkan ke Pulau Ende dan Boven Digul. Itu memang watak sesungguhnya penjajah yang selalu buat mitos-mitos untuk jastifikasi menindas bangsa yang dijajah.

AD: Apakah menurut pak Socratez, pemerintah Indonesia menduduki dan menjajah rakyat Papua?

SSY:  Bagaimana menurut Anda, apakah bangsamu menjajah kami?

AD:  Waduh….saya tanya pak Socratez, koq saya ditanya?

SSY: Anda jawab dulu pertanyaan saya.

AD:  Saya minta maaf pak Yoman.

SSY: Saya mengerti Anda.

SSY:  Saya mengerti dan saya tahu,  100% Indonesia kolonial. Keyakinan rakyat dan bangsa West Papua, bahwa Indonesia menganeksasi Papua, ia menduduki dan menjajah dan menindas kami.

AD: Tapi, Papua sudah sah bagian Indonesia melalui Pepera 1969. Bagaimana menurut pak Yoman?

Baca juga Artikel Menarik Lainnya:

SSY:  Memang Pepera 1969 akar persoalan politik dan kejahatan kemanusiaan di West Papua.  Anda lihat dan saksikan bahwa mengapa TNI-Polri mengunakan kekerasan, kekejaman dan kejahatan di West Papua? Ya, karena ABRI (kini: TNI) yang memenangkan Pepera 1969. Rakyat dan bangsa West  Papua tidak pernah memilih dalam Pepera 1969. Moncong senjata yang merampas/merampok hak politik bangsa kami pada Pepera 1969.

Jadi, pelaksanaan Pepera 1969 cacat hukum dan moral. Dan juga melawan hukum Internasional dan Perjanjian New York 15 Agustus 1962 yang dtetapkan One Man One Vote.

AD:  Sepertinya buku-buku pak Socratez lebih banyak tulis tentang Pepera 1969.

SSY: Benar, seperti Anda tahu dan katakan itu.

AD: Apakah ada yang teror dan intimidasi pak Socratez karena buku-buku itu?

SSY: Siapa yang teror dan intimidasi saya?

AD: Penguasa Indonesia dan aparat keamanan TNI-Polri.

SSY:  Bukan eranya lagi untuk teror orang lain.  Anggota TNI-Polri juga saya didik secara tidak langsung melalui tulisan-tulisan saya  karena hampir 95% generasi muda dari anggota TNI-Polri  belum tahu sejarah proses pengintegrasian West Papua ke dalam wilayah Indonesia. Mereka tidak boleh mewarisi dan mempertahankan sejarah yang salah, bengkok dan miring. Atau mereka jangan memelihara sejarah yang busuk.

Dugaan saya, anggota TNI-Polri sudah tahu, mengerti dan sadar bahwa mereka mempertahankan sejarah yang tidak benar dan salah. Tetapi dalam hukum TNI-Polri ada ketaatan semu dan hampa yang diwarisi dan diterapkan. Artinya selalu siap atas perintah atasan. Tidak boleh melawan perintah. Sayang juga itu.

AD: Apakah pak Yoman tidak takut kepada penguasa, TNI dan Polri.

SSY: Takut kepada siapa?  Kalau bicara dalam konteks West Papua, Tanah Melanesia ini, justru TNI-Polri hormat dan hargai saya. Karena saya Tuan tanah dan pemilik sah tanah ini. Sebelum  penguasa Indonesia dan TNI-Polri datang menduduki dan menjajah dan menindas bangsa ini, kami sudah ada di sini. Kami bangsa berdaulat. SAYA TUAN. Tidak ada yang harus ditakuti dan tunduk. Tidak masuk akal orang pendatang mau atur tuan tanah. Dimana logikanya?

AD: Apakah perjuangan Kemerdekaan Papua itu tidak melawan pemerintah Indonesia?

SSY: Menurut keyakinan saya tidak.

AD: Mengapa pak Socratez?

SSY: Perjuangan West Papua Merdeka itu hak politik rakyat dan bangsa West Papua. Perjuangan itu melawan pendudukan dan penjajahan Indonesia dan melawan kejahatan 8kemanusiaan, ketidadilan dan diskriminasi dan  banyak kekejaman yang lain terhadap Orang Asli Papua.

AD: Apakah pak Yoman yakin Papua pasti Merdeka?

SSY: Orang luar Papua/Indonesia  menjawab pertanyaan ini.  Prof. Dr. Adnan Nasution Buyung, SH, dan Prof. Dr. Amin Rais dan juga Prof. Dr. William Liddle, Guru Besar Ohio State University menjawab pertanyaan Anda ini. Mereka mengatakan Papua Pasti Merdeka dan hanya persoalan waktu.

Dan juga, Anda perlu tahu para Jenderal dari TNI-Polri dan penguasa sudah tahu dan sadar bahwa rakyat dan bangsa West Papua pasti Merdeka. Mereka hanya pura-pura tidak tahu pada hal mereka tahu.

Contohnya: Ada seorang Jenderal,  pada awal April 2019,  sampaikan kepada seorang teman pemimpin Gereja di Papua,  begini:

“Pak pendeta, memang kami sudah tahu kebenaran sejarah Papua, tapi jangan terlalu kasar. Hargai perasaan kami juga. Kami juga manusia.”

Apa maksudnya ini? Anda sendiri tahu dan mengerti jawabannya kan?

AD: Ini pertanyaan terakhir.  Pak Socratez, bagaimana menurut pandangan gereja tentang perjuangan Papua Merdeka?

SSY:  Anda perlu tahu, Tuhan Allah tidak melarang West Papua Merdeka. Alkitab tidak melarang West Papua Merdeka. Gereja juga tidak melarang West Papua Merdeka.

Baca juga Artikel Menarik Lainnya:

Tetapi yang dilarang TUHAN Allah,  dilarang Isi Alkitab dan dilarang  Gereja ialah JANGAN MEMBUNUH? Ada  10 hukum TUHAN tertulis dalam  Keluaran 20:13.

Jadi,  yang melawan TUHAN, Alkitab dan Gereja itu siapa?

Sekarang sudah menjadi jelas, bahwa yang melawan TUHAN Allah, Isi Alkitab dan Gereja ialah pemerintah dan TNI-Polri.

Prof. Dr. Sahetapy mengatakan: “Kebohongan itu lari secepat kilat, suatu waktu kebenaran akan mengalahkannya. Kesombongan dan kejahatan terus dipelihara berarti kejatuhan sudah dekat.”

 

__________________________________________

Ita Wakhu Purom, 1 Juli 2019.

Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here