Pesawat MAF atau AMA Terbang untuk Menyelamatkan Orang Asli Papua, tetapi Helikopter TNI Terbang untuk Membantai dan Memusnahkan Penduduk Asli Papua

0
1832

Oleh Gembala Dr. Socratez S. Yoman (Ndumma Owaganak)

Photo Penulis, Gembala Dr.Socratez S.Yoman, M.A, di tenggah Umat Tuhan di Lanny Jaya. (Dok).

1. Pendahuluan

Sudah 164 tahun yang lalu, tepatnya di Manokwari pada hari Minggu pagi pada 5 Februari 1855, Pendeta Carl William Ottow dengan Pendeta Johann Gotlob Geisler (yang lebih populer: Ottow Geisler) memulai peradaban baru bagi Penduduk Asli Papua.

Mereka memberkati Papua: “Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami menginjak kaki di Tanah ini.” Ottow dan Geisler diutus oleh Yesus Kritus untuk menjangkau Penduduk Asli Papua dengan kuasa Injil. Yesus mendekati Ottow dan Geisler dan berkata:

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, (termasuk West Papua) dan baptilah Penduduk Asli Papua di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah Penduduk Asli Papua melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai Ottow dan Geisler senantiasa sampai akhir zaman.” (Matius 28:18-20).

Lebih lanjut, Tuhan Yesus Kristus berkata kepada Ottow dan Geisler:

” Tetapi Ottow dan Geisler akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas Ottow dan Geisler, kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke West Papua.” (Kisah Para Rasul 1:8).

Ottow dan Geisler membawa nama Tuhan Yesus Kristus yang disebut oleh rasul Paulus ialah Injil. Rasul Paulus mengatakan aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil karena Injil adalah kekuatan Allah, Injil menyelamatkan umat manusia, Injil menyatakan kebenaran Allah, (Roma 1:16-27).

Baca Juga: Situasi Wilayah Ndugama Masih Krisis Kemanusiaan Sejak 2018 Lalu Hingga Saat Ini 3 April 2019

Apa itu Injil?

Rasul Paulus dengan tegas meyakinkan kita semua bahwa Injil ialah berita kebenaran kekal tentang: Kelahiran Yesus, Kematian Yesus dan Kebangkitan Yesus.

“Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus, Tuhan” (Roma 1:1-4).

Ottow dan Geisler diutus Tuhan Yesus Kristus datang untuk sampaikan kabar Kerajaan Allah tentang keselamatan dan kebebasan manusia dari belenggu kekuasaan Iblis dan dosa, berita hidup kekal, kedamaian, sukacita, pengharapan kepada Penduduk Asli Papua.

Selain Ottow dan Geisler ada banyak missionaris asing dari Amerika, Eropa, Australia, Selandia Baru dan dari berbagai Negara datang ke Tanah Papua untuk melayani dengan kasih dan damai Penduduk Asli Papua.

Para Missionaris ini dari berbagai Gereja Tuhan dan bekerjasama dengan Gereja-Gereja Katolik dan juga Gereja-gereja Kristen Protestan.

Para missionaris asing ini datang di Tanah Papua, bertemu, bersahabat, tinggal, makan bersama, membagi cerita bersama tanpa ada jarak perbedaan latar belakang.

Para missionaris asing benar-benar menghargai menghormati hak hidup, martabat dan menghormati kesamaan derajat sebagai sesama manusia.

Para missionaris tidak pernah dan belum pernah melukai orang Papua secara fisik maupun non fisik. Para missionaris sungguh-sungguh menjadi sahabat setia orang Asli Papua dalam suka dan duka.

Ottow dan Geisler dan seluruh pasukan Kristus yang datang dari berbagai Negara tidak dan belum pernah memberikan stigma seperatis, makar, OPM dan KKSB.

Baca juga: Mitos KKSB di Era Moderen dan Informasi

Kalau Penduduk Orang Asli Papua sakit, para Pilot missionaris asing terbangkan pesawat MAF/AMA di daerah pedalaman, pegunungan, lembah dan pesisir pantai, hanya untuk jemput mereka yang sakit menderita dan diantar ke rumah sakit. Mereka yang sakit dirawat dan disembuhkan dari sakit. Setelah Orang Asli Papua sembuh dari sakit, Pilot pesawat MAF/AMA mengantar pulang ke kampung mereka dalam keadaan menikmati sukacita, kedamaian, persaudaraan dan penuh pengharapan.

Seringkali, Pilot Misionaris terbangkan pesawat walaupun sudah sore, matahari hampir terbenam. Mereka tidak pernah memikirkan keselamatan nyawa mereka dan nasib keluarga mereka. Sungguh indah dan pengorbanan mulia demi Orang Asli Papua.

2. Pilot Missionaris Rela Mati Untuk Orang Asli Papua

Ada kisah nyata yang perlu Anda dan saya belajar dari pengalaman Pilot Albert Lewis yang dikenal akrab Al Lewis.

Pada 20 April 1954 Pilot Al Lewis terbangkan pesawat dari Sentani menuju Lembah Wamena. Ini merupakan penerbangan pertama kali dalam sejarah Pekabaran Injil. Sebelum Pilot Al Lewis terbangkan pesawat di wilayah Lembah Balim Wamena, Al Lewis menyatakan imannya:

“Saya tidak tahu harga yang harus dibayar untuk memasuki Lembah Balim, tetapi saya bersedia membayar harga itu.” (Sumber: Sejarah Gereja Katolik di Lembah Balim: Pastor Frans Lieshout OFM, 2007, 21).

Sangat menyedihkan, pada tanggal 28 April 1955, Pilot Al Lewis mengalami kecelakaan pesawat dalam penerbangannya menuju Lembah Balim. Ia menabrak sebuah gunung tinggi di sebelan Sekan. Pesawat dan jenazahnya ditemukan satu bulan setelah terjadinya kecelakaan itu. Kematian Al Lewis merupakan suatu kehilangan besar bagi keluarga AMA dan bagi masyarakat Balim dan juga Papua Barat.

Banyak kisah nyata yang menyedihkan yang dialami keluarga Missionaris Asing di West Papua hanya untuk Orang Asli Papua.

Baca juga: Menulis untuk Keabadian Masa Depan Anak dan Cucu Bangsa West Papua

3. Apa Itu MAF dan AMA?

3.1. MAF kependekan dari Mission Aviation Fellowship. Persatuan Penerbangan Misi.

3.2. AMA kependekan dari Christian And Missionary Alliance. Persatuan Misi Kristen.

4. Orang Asli Papua Mati Dibunuh/dibantai untuk Indonesia/NKRI

Keadaan yang sangat paradoks tujuan Missionaris Asing dan pemerintah Republik Indonesia di West Papua. Memang kekejaman, kejahatan dan brutalnya Indonesia terhadap Orang Asli Papua sudah melewati batas-batas kewajaran dan kemanusiaan. Ditambah lagi janji-janji palsu yang merupakan kebohongan dan penipuan dalam sejarah pendudukan dan penjajahan di West Papua.

Pada waktu pelaksanaan Pepera 1969 di Merauke, Menteri Dalam Indonesia dari mimbar sampaikan kepada peserta Dewan Musyawarah Pepera yang sudah diseleksi dan diawasi ABRI.

“….pemerintah Indonesia, berkeinginan dan mampu melindungi untuk kesejahteraan rakyat Irian Barat; oleh karena itu, tidak ada pilihan lain, tetapi tinggal dengan Republik Indonesia.” (Sumber: Laporan Resmi PBB, 1812, Agenda 98, 19 November 1969, alinea 18, hal. 2).

Katanya Indonesia punya keinginan dan mampu melindugi untuk kesejahteraan rakyat Papua Barat, tetapi yang ada hanya penderitaan, kekerasan, penembakan, dan pembunuhan rakyat Papua Barat.

Sudah era perabadan tinggi, era globalisasi dan teknologi, tapi masih ada Operasi Militer atas perintah Presiden, contohnya kasus Nduga.

Missionaris Asing dengan Pesawat MAF/AMA melayani, melindungi dan menolong Penduduk Asli Papua Barat. Bahkan Pilot mati untuk Orang Asli Papua Barat. Tetapi, TNI-Polri dengan Helikopter menembak mati Penduduk Asli Papua demi NKRI.

Kekejaman dan kejahatan Penguasa kolonial Indonesia di West Papua dibenarkan dan diaminkan oleh Prof. Dr. Franz Mangnis-Suseno:

“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia (hal. 255)….kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam” (hal. 257). (Sumber: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme: Bunga Rampai Etika Politik Aktual: 2015).

Baca juga: Kita harus Menggali, Menjelamatkan dan Menulis Sejarah Bangsa West Papua yang Digelapkan atau Dihilangkan oleh Kolonial Indonesia

Kejahatan penguasa kolonial Indonesia paling terbaru ialah pada 19 Desember 2018, TNI menembak mati Pendeta Geyimin Nigiri (83) Tokoh Gereja dan Perintis Gereja Kemah Injil di Kabupaten Nduga. Dan masih banyak korban lain akibat perintah Operasi Militer oleh Presiden RI, Ir. Joko Widodo.

Ada kisah seorang ibu hamil yang sangat menyedihkan dan menyentuh hati nurani kita semua akibat Operasi Indonesia Militer di Nduga yang menggunakan Helikopter TNI.

“Saya melahirkan anak di tengah hutan pada 4 Desember 2018. Banyak orang berpikir anak saya sudah meninggal. Ternyata anak saya masih bernafas. Anak saya sakit, susah bernafas dan batuk berdahak. Suhu di hutan sangat dingin, jadi waktu kami berjalan lagi, saya merasa anak bayi saya sudah tidak bergerak. Kami pikir dia sudah meninggal. Keluarga sudah menyerah. Ada keluarga minta saya buang anak saya karena dikira dia sudah mati.

Tetapi saya tetap mengasihi dan membawa anak saya. Ya, kalau benar meninggal, saya harus kuburkan anak saya dengan baik walaupun di hutan. Karena saya terus membawa bayi saya, saudara laki-laki saya membuat api dan memanaskan daun pohon, dan daun yang dipanaskan itu dia tempelkan pada seluruh tubuh bayi saya. Setelah saudara laki-laki tempelkan daun yang dipanaskan di api itu, bayi saya bernafas dan minum susu.

Kami ketakutan karena TNI terus menembak ke tempat persembunyian kami. Kami terus berjalan di hutan dan kami mencari gua yang bisa untuk kami bersembunyi. Jadi, saya baru tiba dari Kuyawagi, Kabupaten Lanny Jaya. Kami berada di Kuyawagi sejak awal bulan Desember 2018. Sebelum di Kuyawagi, kami tinggal di hutan tanpa makan makanan yang cukup selama beberapa minggu. Kami sangat susah dan menderita di atas tanah kami sendiri.” (Sumber: Suara Papua, 8 Juni 2019).

Pembunuhan rakyat sipil, penderitaan rakyat sipil, pengusiran Penduduk Asli Papua di Nduga dari kampung halamannya yang menggunakan Helikopter TNI disebabkan perintah Presiden RI, Ir. Joko Widodo untuk diadakan Operasi TNI-Polri di Nduga untuk mengejar Organisasi Papua Merdeka yang menembak mati 16 orang Indonesia pada 2 Desember 2018 di Nduga.

“Tangkap seluruh pelaku penembakan di Papua. Tumpas hingga akar” (Sumber: DetikNews/5/12/2028).

Wakil Presiden H.Jusuf Kalla memerintahkan:

“Kasus ini ya polisi dan TNI operasi besar-besaran, karena ini jelas mereka, kelompok bersenjata yang menembak.” (Sumber: Tribunnews.com/6/12/2018).

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo: “…DPR usul pemerintah tetapkan Operasi Militer selain perang di Papua.” (Sumber: Kompas.com/13/12/2018).

Menkopolhukam, H. Dr. Wiranto: “Soal KKB di Nduga Papua, kita habisi mereka.” (Kompas.com/13/12/2018).

Sementara Kapolri Jenderal Dr. Muhammad Tito Karnavian lebih cerdas, intelektual, rasional, berhikmat dan memberikan nasihat bijak: “Kasus tersebut jangan dibesarkan dinasionalisasi, karena itu yang ditunggu oleh pihak mereka (OPM). Untuk memancing penetapan sebagai Operasi Militer melawan gerakan separatis.”

Baca Juga: Identitas Bangsa dan Kenangan Kemajuan pada Kekuasaan Pemerintah Belanda yang Dilenyapkan oleh Bangsa Kolonial Moderen Indonesia

Lebih lanjut disarankan dalam aspek historis: ” Menurut sejarah, Papua masuk ke Indonesia melalui proses resolusi PBB. Sehingga untuk memudahkan mengangkat Papua ke Sidang PBB adalah dengan dalil terjadinya pelanggaran HAM, terjadi pembantaian oleh militer dan bahkan genosida.”

“Bila itu terjadi, maka ditetapkan darurat militer, kemudian terjadi pelanggaran HAM, kemudian itu maju ke Sidang PBB dan voting, maka dipastikan Indonesia bakal kehilangan Papua.” (Sumber: Swararakyat.com/06/12/2018).

5. Suara Nubuatan Nabi untuk bangsa West Papua.

Pendeta Isaac Samuel Kijne menyatakan nubuatan sebagai suara kenabianya:

“Di atas batu ini, saya meletakkan Peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” ( Wasior, 25 Oktober 1925).

Di Holandia, Binnen, pada Kijne juga menyatakan imannya:

“Di Tanah ini, kita bekerja di antara satu bangsa Papua yang kita tidak tahu apa maksud TUHAN untuk bangsa ini. Di Tanah ini, kita boleh pegang kendali tetapi kita tidak menentukan arah angin, arus dan gelombang di laut serta tujuan yang hendak kita capai di Tanah ini. Siapa yang bekerja dengan jujur, setia, dan dengar-dengaran pada Firman Allah di Tanah ini, maka ia berjalan dari satu pendapatan heran yang satu ke pendapatan heran yang lain.” (26 Oktober 1956).

Isi Pesan dari Bapak Peradaban Orang Papua ini memiliki arti bahwa suatu saat nanti Orang Papua akan tampil sebagai pemimpin di atas tanah leluhurnya sendiri, meskipun, penguasa kolonial moderen Indonesia menggunakan Helikopter TNI mengejar, menembak mati, dan mengusir Penduduk Asli Papua dari Tanah leluhur mereka.

6. PESAN Kepada Keluarga Missionaris di Amerika, di Eropa, di Australia, di Selandia Baru dan di Kawasan Asia dan Pasifik.

Kalau masih ada dan hidup anak-anak dan cucu dari para Missionaris yang pernah melayani dengan kasih Kristus dan hidup bersama dengan Orang Asli Papua, saya pesan melalui tulisan ini kepada Anda semua:

6.1. Berdoa untuk kami supaya Penguasa Kolonial Indonesia dengan kekuatan TNI-Polri tidak musnahkan kami semua dari Tanah leluhur kami. Doakan TNI-Polri supaya diberkati oleh Tuhan, supaya jangan ada kutuk dan murka dari Tuhan kepada anggota TNI-Polri dan anak-cucu mereka.

6.2. Sampaikan surat kepada anggota Parlemen dan Pemerintah Anda supaya mereka juga bersuara kepada penguasa kolonial Indonesia tidak membunuh dan mengusir kami dari Tanah leluhur kami.

6.3. Berdoa dan dukung Perjuangan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) di Negara Anda. Dukung dalam doa, moril dan dana Benny Wenda dan kawan-kawan di Inggris dan di berbagai Negara.

6.4. Anda perlu tahu dan berdoa karena rakyat dan bangsa West Papua berjuang untuk Penentuan Nasib Sendiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Untuk West Papua Merdeka juga sudah disadari oleh tokoh-tokoh Indonesia. Contohnya, Dr. Adnan Buyung Nasution, S.H. pernah menubuatkan dan mengaminkan:

“Tinggal soal waktu saja kita senang atau tidak, mau atau tidak, akan kehilangan Papua karena kita gagal merebut hati orang Papua dan itu kesalahan bangsa Indonesia sendiri dari awal,” (Sumber: Detiknews, Rabu, 16 Desember 2011).

Pernyataan Adnan Buyung tidak bisa dipersahkakan. Yang patut dipersalahkan dan introspeksi diri ialah aparat keamanan TNI-Polri. Karena merekalah yang memelihara, melestarikan dan mewarisakan kesalahan dan kepalsuan sejarah Pepera 1969 dengan kekerasan dan kejahatan-kejahatan dengan moncong senjata.

6.5. Kampanyekan untuk penghentian Operasi Militer di Nduga yang sedang berlangsung atas perintah Presiden Indonesia.

Baca Juga: Isu Jurnalis dan Konflik Bersenjata di Papua jadi Perhatian Parlemen Inggris

6.6. Bersuaralah untuk kami dan datanglah Selamatkan kami, karena kami sedang dimusnahkan penguasa kolonial Indonesia dari Tanah luluhur kami. Terbanglah Pesawat MAF/AMA ke Tanah Papua untuk kedamaian dan pengharapan bagi rakyat dan bangsa West Papua. Supaya kita akhiri tetesan darah, cucuran air mata dan penderitaan umat Tuhan di Tanah ini.

Waa….Kinaonak O Nowe Nawot.

 

__________________________________________

Ita Wakhu Purom, Sabtu, 29 Juni 2019.

Penulis adalah Gembala Dr.Socratez S.Yoman, M.A. (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua).

Editor: Admin/MW.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here