Teror, Ancaman dan Tekanan Penguasa Kolonial Indonesia selalu Menjadi Kekuatan, Roh dan Senjata untuk Melawan Pendudukan dan Penjajahan Indonesia atas Tanah Leluhur Kami

0
163

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

Photo: Dr. Socratez S.Yoman  (The President of the Fellowship of Baptist Churches of West Papua)

1. Pendahuluan

Tidak selamanya kita sebagai bangsa terus-menerus menerima diperlakukan tidak adil oleh bangsa kolonial moderen Indonesia yang sedang menduduki dan menindas bangsa kami. Sudah saatnya kita melawan teror, intimidasi, ancaman dan tekanan yang telah dan terus merendahkan martabat kami hampir lima dekade lebih sejak 1961-2019.

Ancaman teror dan intimidasi publik yang dikembangkan dan dipelihara para penjajah yang menduduki dan menindas rakyat dan bangsa West Papua yang penulis pilih sebagai topik artikel ini hanya merupakan ancaman pengulangan yang sudah menjadi pola bangsa kolonial.

Teror, ancaman dan tekanan Kapolda Papua, Irjen.Pol Martuani Sormin yang sebagai penguasa kolonial sbb:

“Kalau ada yang berteriak Merdeka di Negara Kesatuan Republik Indonesia Kita Tangkap” (Cepos, 27/02/2019).

Menanggapi teror dan intimidasi ini, penulis telah katakan tadi, bahwa ancaman ini hanya merupakan peristiwa pengulangan. Karena, ancaman, teror dan intimidasi bagian dari watak dan bagian dari hidup para kolonial. Contoh lain sbb:

Pada 12 Mei 2007 DANREM 172/PWY Kol. Kav. Burhanudin Siagian pernah meneror rakyat Papua:

“Pengkhianat Negara Harus Ditumpas. Jika saya temukan ada oknum-oknum orang yang sudah menikmati fasilitas Negara, tetapi masih saja mengkhianati bangsa, maka terus terang saya akan tumpas. Tidak usah demonstrasi-demonstrasi atau kegiatan-kegiatan yang tidak berguna. Jangan lagi mengungkit-ungkit sejarah masa lalu.”

Komentar ini menanggapi tuntutan Orang Asli Papua untuk meninjau kembali Act of Free Choice of 1969 (Pepera), penyelesaian pelanggaran berat HAM dengan jalan dialog Nasional dan Internasional. (Sumber: Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat, Yoman, 2007, 382, ed.1).

Baca Juga:

2. Bangsa Pendatang yang Tidak Tahu Diri dan Tidak Tahu Berterima Kasih

Menanggapi dari dua teror, ancaman dan tekanan dari pemimpin kolonial yang dikutip tadi, penulis ingin memberikan pelajaran berharga kepada pemerintah Indonesia, TNI AD, AL, AU, Kepolisian Republik Indonesia dan seluruh orang-orang Melayu, pendatang:

Anda semua, tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih kepada kami, rakyat dan bangsa West Papua dari Sorong-Merauke, bahkan dari Sorong-Samarai. Karena, kami telah mengijinkan Anda datang, tinggal, hidup, memperbaiki kehidupan ekonomi dan beranak-pinang di atas tanah warisan leluhur kami.

Anda semua yang penulis sebutkan tadi, tidak punya hak satu pun mengatur kami dan memerintah kami. Karena Anda semua pendatang dan tamu di atas tanah ini. Anda tidak pernah diberikan mandat dan kuasa oleh leluhur dan nenek moyang kami.

Nenek moyang dan leluhur kami tidak pernah mewariskan nama dan marga Budi, Hasan, Joko, Bambang, Dewi, Tono, Mujahiddin, Hutabarat, Hatagalung, Pasaribu, Siburian, Simbiring, Silalahi, Simatupang, Rande, Sirandan dan masih banyak yang lain.

Anda semua, selama ini, secara iman sangat berdosa, secara etika sangat salah, secara moral, Anda orang-orang bermoral rendah, secara politik, Anda penipu, Anda pembohong, Anda perusak bangsa kami, Anda pembunuh bangsa kami, Anda perampok dan pencuri sumber daya alam kami. Anda kumpulan para penjarah harta benda dan warisan leluhur kami. Anda merampok dan merampas tanah kami.

Anda telah merampas dan menghancurkan kemerdekaan kami. Yaitu, hak hidup kami, hak politik kami, hak kemerdekaan kami, hak kebebasan kami, hak ekonomi kami, hak kesehatan kami, hak pendidikan, hak budaya kami, hak bahasa kami, hak sejarah kami dan hak masa depan kami.

Anda perlu tahu dan sadar bahwa sebelum Anda (penguasa kolonial Indonesia) datang menduduki dan menjajah kami, kami bangsa merdeka dan berdaulat dalam segala hal. Tidak ada orang dan bangsa lain memerintah dan mengatur kami.

Anda memaksa kami menerima sejarah Anda yang tidak ada hubungan dengan bangsa kami. Anda memaksa kami menerima ideologi Anda: Pancasila yang tidak pernah dirumuskan oleh leluhur dan nenek moyang kami. Anda memaksa kami untuk menerima UUD45 dan Bhineka Tunggal Ika sebagai undang-undang kami.

Anda semua adalah orang-orang yang sangat tidak tahu diri, tidak punya etika dan bermoral rendah, karena Anda memaksa kami untuk menjadi seperti diri Anda. Anda seenaknya saja dan semaunya saja menangkap, menculik, menyiksa, menghilangkan, memenjarakan dan membunuh kami atas nama keamanan nasional. Apa itu nasional? Karena leluhur kami tidak wariskan kata nasional.

Anda dengan seenak perut, seenak pikiran, memberikan stigma GPK, GPL, separatis, makar, OPM, KKB dan KKSB.

Anda dengan seenaknya paksakan kami untuk hafal lagu Indonesia Raya, Pancasila, UUD1945, akui bendera merah putih, disuruh hormat bendera merah putih, dipaksa akui dan ikut upacara pada 17 Agustus 1945, dipaksa hafal Sumpah Pemuda, dipaksa akui pahlawan Indonesia yang kami tidak tahu. Semua ini tidak pernah diwariskan leluhur dan nenek kami, bangsa West Papua di Tanah Melanesia ini.

Baca juga: 

3. Tangkap dan Tumpas

Kami bukan burung, hewan dan binatang. Kami manusia sama seperti Anda.

3.1. Apakah Tuhan Allah memberikan mandat kepada Anda untuk tangkap, tumpas dan membunuh kami?

3.2. Bagi Anda, orang Kristen, apakah Anda diutus Iblis/Setan ke Papua untuk menangkap, menumpas dan membantai Orang Kristen di West Papua?

3.2. Bagi Anda, orang Kristen apakah Anda diajarkan oleh TUHAN, Alkitab dan Gereja bahwa pada hari Minggu pura-pura menjadi orang Kristen ke Gereja dan hari lain dari Senin-Sabtu menjadi alat Iblis/Setan untuk tangkap dan membunuh Orang Asli Papua pemilik Tanah & Negeri ini?

Semua perlakuan Anda tidak manusiawi, kriminal, kejam, brutal & tidak bermoral. Anda HARUS berhenti kalau masih ada hati nurani. Hanya bukan manusia yang merendahkan martabat manusia dan merampas hak orang.

 

__________________________________________
Ita Wakhu Purom, Sabtu, 2 Maret 2019.

Penulis adalah Gembala Dr.Socratez S.Yoman, M.A. (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua).

Editor: Admin/MW.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here