West Papua, We Can

0
111

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman 

Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua)

1. Pendahuluan

Pada kesempatan ini saya rindu membagi tulisan dengan judul: WE CAN. Apa yang dimaksud dengan WE CAN? WE CAN Artinya KAMI BANGSA WEST DAPAT MELAKUKAN SESUATU.

Kami mampu melakukan sesuatu. Kami sebuah bangsa yang berdaulat. Kami bukan keturunan bangsa budak. Nenek moyang dan leluhur kami tidak pernah menjadi budak bangsa asing. Kami bukan bangsa yang terdampar dari Negeri yang jauh. Kami punya identitas. Kami punya yatidiri. Kami punya martabat. Kami punya bahasa. Kami punya sejarah. Kami punya tanah yang jelas. Kami punya dusun yang jelas. Kami miliki marga yang jelas. Kami suku bangsa yang jelas. Kami ada kehidupan dari turun-temurun. Kami mempunyai segala-galanya. WE CAN.

Saya sebagai orang Papua dari suku Lani, saya mau mengambil contoh suku saya. Apa maksud WE CAN dalam suku Lani. Sekaligus apa artinya suku Lani dalam konteks pengertian WE CAN

2. Arti Kata Lani.

Kata “Lani” memiliki arti yang lebih dalam dan luas, yaitu Orang-orang Otonom, mandiri, independen dan berdaulat penuh.

Dalam buku: Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri” (Yoman, 2010, hal. 92) penulis menjelaskan filosofi kata “Lani” sebagai berikut:

” Orang-orang independen, orang-orang yang memiliki otonomi luas, orang-orang yang merdeka, yang tidak diatur oleh siapapun. Mereka adalah orang-orang yang selalu hidup dalam kesadaran tinggi bahwa mereka memiliki kehidupan, mereka mempunyai bahasa, mereka mempunyai sejarah, mereka mempunyai tanah, mereka mempunyai gunung, mereka mempunyai hutan, mereka mempunyai sungai, mereka mempunyai dusun yang jelas, mereka mempunyai garis keturunan yang jelas, mereka mempunyai kepercayaan yang jelas, mereka mempunyai kemampuan untuk mengatur, dan mengurus apa saja, mereka tidak pernah pindah-pindah tempat, mereka hidup tertib dan teratur, mereka mempunyai segala-galanya.”

Contoh: Orang Lani mampu dan sanggup membangun rumah (honai) dengan kualitas bahan bangunan yang baik dan bertahan lama untuk jangka waktu bertahun-tahun. Rumah/honai itu dibangun di tempat yang aman dan di atas tanah yang kuat. Sebelum membangun honai, lebih dulu dicermati dan diteliti oleh orang Lani ialah mereka melakukan studi dampak lingkungan. Itu sudah terbukti bahwa rumah-rumah orang-orang Lani di pegunungan jarang bahkan tidak pernah longsor dan tertimbun tanah.

Contoh lain ialah orang Lani membangun dan membuat pagar kebun dan honai/rumah dengan bahan-bahan bangunan yang berkualitas baik. Kayu dan tali biasanya bahan-bahan khusus yang kuat supaya pagar itu berdiri kokoh untuk melindungi rumah dan juga kebun. Orang Lani juga berkebun secara teratur di tanah yang baik dan subur untuk menanam ubi-ubian dan sayur-sayuran.

Dr. George Junus Aditjondro mengakui: “…para petani di Lembah Baliem misalnya, memiliki budaya pertanian ubi-ubian yang tergolong paling canggih di dunia, hasil inovasi dan adaptasi selama 400 tahun tanpa bantuan sepotong logam” (Cahaya Bintang Kejora, 2000, hal. 50).

Suku Lani juga dengan kreatif menciptakan api. Suku Lani dengan cerdas dan inovatif membuat jembatan gantung permanen. Para wanita Lani juga dengan keahlian dan kepandaian membuat noken untuk membesarkan anak-anak dan juga mengisi bahan makanan dan kebutuhan lain.

Yang jelas dan pasti, suku Lani ialah bangsa yang bedaulat penuh dari turun-temurun dan tidak pernah diduduki dan diatur oleh suku lain. Tidak ada orang asing yang mengajarkan untuk melakukan dan mengerjakan yang sudah disebutkan tadi. Suku Lani adalah bangsa mempunyai kehidupan dan mempunyai segala-galanya.

Dari uraian singkat ini memberikan gambaran yang jelas bahwa pada prinsipnya orang Lani itu memiliki identitas yang jelas dan memelihara warisan leluhur dengan berkuasa dan berdaulat penuh sejak turun-temurun.

Dalam suka Lani ada tingkatan dalam penggunaan dan pemanggilan nama orang. Contoh: Panggilan terhormat bagi orang berbadan tinggi ialah Owakelu. Owakelu ada dua kata: Owak dan Elu. Owak artinya tulang dan Elu artinya tinggi. Jadi tidak bisa disebut orang tulang tinggi.

Panggilan terhormat bagi orang badan besar ialah anugun nggok. Anugun artinya perut. Nggok artinya besar. Jadi bukan orang perut besar. Dalam suku Lani juga ada panggilan orang-orang terpandang dan pemimpin yang dihormati dan didengarkan. Misalnya: Ndumma artinya pemimpin pembawa damai, pembawa kesejukan dan ketenangan, pelindung dan penjaga rakyat. Ndumma itu gelar tertinggi dan terhormat dalam suku Lani. Suara Ndumma tidak biasa dilawan oleh rakyat karena ada nilai-nilai kebenaran, keadilan, kasih, kedamaian dan pengharapan.

Ap Nagawan, Ap Wakangger, Ap Nggok, Ap Nggain, Ap Akumi Inogoba. Ini semua pangkat dan sebutan orang-orang besar dan pemimpin yang digunakan dalam bahasa Lani. Semua pemimpin ini suara dan perintahnya selalu dipatuhi dan dilaksanakan karena ada wibawa dalam kata-kata. Mereka semua pelindung dan penjaga rakyat.

3. WE CAN dalam Konteks West Papua

Penguasa Indonesia sebagai kolonial moderen dengan rakyatnya yang menduduki dan menjajah rakyat dan bangsa West Papua perlu diajar, dididik dan disadarkan bahwa kami bangsa West Papua ada kedaulatan penuh sebelum kolonial Indonesia menjajah dan menjarah apa yang kami miliki.

Rakyat dan bangsa West Papua layak mengatakan: WE CAN.

Kesempatan ini perlu ditulis sedikit sejarah tentang kemajuan dibidang ekonomi rakyat dan bangsa West Papua. Seperti dikatakan Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti, ” Karena dalam menuliskan sejarah masa lalu itulah sebuah identitas ditemukan padananannya dan setiap orang bisa belajar darinya.”

Sementara Dr. George Junus Aditjondro menegaskan: ” Sejarah satu komunitas adalah jati diri dan sekaligus imajinasi mengenai hari depan dari komunitas itu sendiri. Atas nama sejarah dan bayangan masa depan itu pula-lah kini masyarakat Papua menggugat pemerintah Indonesia” (Sumber: Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat: Yoman, 2007, hal. 104-105).

Filep Karma pejuang sejati Papua Mereka dalam bukunya: Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Tanah Papua dengan jelas mengatakan WE CAN sebagai berikut:

“…Mereka (penguasa kolonial Indonesia) memandang, menganggap dan mempelakukan orang Papua sebagai setengah manusia, tidak diakui sebagai pada umumnya.

Kemudian terjadi perampasan hak-hak orang Papua, antara lain tanah, posisi di pemerintahan, ataupun perusahaan-perusahaan swasta, yang dimiliki oleh orang Papua. Perusahaan-perusahaan kadang-kadang diambil alih.

Contoh, dulu di Papua, ada perusahaan Nieuwenhuijs, yang dimiliki oleh keluarga saya, Rumpaisum. Itu diambil alih oleh orang asal Manado. Sekarang perusahaan itu milik mereka, bergerak dalam ekspedisi muatan kapal laut.

Contoh lain, di Jayapura, di Jalan Irian—kalangan pejuang sebut Jalan Merdeka—hampir semua toko dimiliki oleh orang Papua pada 1960-an, sekarang bukan milik orang Papua lagi. Toko-toko tersebut sudah berpindah tangan kepada non Papua. Diambil alih dengan cara kasar. Kadang dengan menuduh orang Papua tersebut OPM, maka saat orang itu ditangkap, semua asetnya berpindah tangan ke non-Papua.

Contoh lain lagi. Sebuah pompa bensin Samudra Maya di Dok V Bawah, Jayapura, milik seorang Belanda. Ketika Belanda pulang, sekitar tahun 1961 dan 1962, pemiliknya menyerahkan pompa bensin kepada Herman Wayoi, lengkap dengan semua surat-surat hak kepemilikan dan izin usaha. Sewaktu masuk tentara Indonesia, pompa bensin tersebut diambil paksa dari Herman Wayoi. Dia dituduh OPM, ditahan oleh militer, lalu tanpa sidang, beliau dipenjara dalam penjara militer beberapa tahun. Perusahaan tersebut tetap jadi milik Angkatan Darat.” ( Karma: 2014, hal.7).

Lazarus Sawias dalam wawancara pada 26 Juni 2019 juga memperkuat WE CAN. Para pembaca dapat mengikutinya sebagai berikut:

Kita pernah punya Perusahaan Pengadaan Kayu di Kota Manokwari untuk mensuply kebutuhan Kayu buat rumah-rumah di Papua. Rumah-rumah Papan yang ada di Bhayangkara adalah kayu asal Zacharey (Penggergajian) Kayu di Kota Manokwari.

Disini juga ada galangan atau Doking Kapal terbesar di Pasifik Selatan. Disini di New Guinea sekarang West Papua tepatnya di Hamadi ada sekolah Zeevaart (Sekolah Pelayaran) pemuda-pemudi dari Pasifik Selatan menimbah ilmu di sekolah ini.

Kita juga punya Rumah Sakit di Dok 2 Hollandia termewah dan terlengkap di Pasfik Selatan, dimana pasien-pasien dari Pasifik Selatan dapat dirujuk di sini di Hollandia skarang Jayapura.

Di Kota Biak terdapat Lapangan terbang terbaik dan terpanjang di kawasan Asia Pasfik yakni Lapangan terbang Mokmer, dan juga landasan AU Belanda di Boroku Biak yg sempat membuat Gergetan Jakarta ketika perang Trikora 1961-1962 karena dilengkapi Radar Pengintai tercanggih dan pesawat pesawat Tempur MIG 21 dan Neptune.. Schoutbeynacht (Laksamana Dereizer mengatakan bahwa :”BIAK IS ON NEEMBAAR”=BIAK TAK AKN PERNAH BISA DIREBUT..

Didang Pertanian, kita punya Perkebunan Cacao terbesar yg ada di Serui, Ransiki dan Genyem.

Dibidang Pertambangan kita punya NNGPM (Nederlands New Gunea Petroleum Maschpay).

Semuanya menunjang Kemakmuran buat Sebuah Negara yg lahir pd 1 Des 1961. Kemakmuran dan Harapan itu Pupus karena digagalkan oleh SOEKARNO. Katanya Negara Boneka.

Saya ikut nenikmati yang disebut adil dan makmur itu. Betapa tidak. Sekolah-sekolah berbasis asrama: Antara lain PMS =P rimery Midelbarese School du kota Biak dan Kota Hollandia. ODO = Opleiding Dorps Onderweys juga berbasis asrama di Kota Serui.

Ketika kami masuk PMS hanya yang dapat kami bawa adalah Pakaian, handuk odol dan sabun..Tidak bayar SPP dan lain-lain. Masuk sekolah: buku, pensil alat-alat tulis lainnya sudah disiapkan oleh Sekolah. Bahkan kami mendapatkan UANG SAKU EINREYKSDALDER = 1 RINGGIT = 2,5 GULDEN..

Manfaatnya bisa mandiri, disiplin, belajar bersama dan pagi, malam berdoa benar-benar menyembah Tuhan Yesus dan ucap syukur atas nikmat yg diberikan TUHAN. Kita menjemur Pakaian ditempat jemuran selama sebulan, TAK ADA PENCURI. Tidak ada miras, narkoba dan lain-lain.

Tulisan ini tidak sempurna. Doa dan harapan saya melalui tulisan ini menyadarkan Anda semua yang terlena dan tertidur dengan permaian sandiwara penguasa kolonial Indonesia.

Finally, I would say to all of you that YOU SHOULD GO UP Because WE CAN.

 

__________________________________________

Ita Wakhu Purom, 27 April 2019

Penulis adalah Gembala Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua).

Editor: Admin/MW.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here