Kita harus Menggali, Menjelamatkan dan Menulis Sejarah Bangsa West Papua yang Digelapkan atau Dihilangkan oleh Kolonial Indonesia

1
318

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

1. Pendahuluan

Menurut saya, untuk menggali dan menulis kebenaran dan fakta sejarah rakyat dan Melanesia di West Papua yang digelapkan dan dihilangkan penguasa kolonial Indonesia merupakan kewajiban dan keharusan bagi saya. Ini hati nurani sebagai anak bangsa. Ini pertanggungjawaban moral bagi anak bangsa. Ini juga tanggungjawab asasi bagi anak bangsa yang telah terdidik.

Anda dan saya tidak bisa bangga dengan kita mempelajari sejarah bangsa kolonial. Anda dan saya seperti orang mata buta dan telinga tuli karena kita tidak tahu sejarah bangsa kita sendiri. Anda dan saya sudah kehilangan pijakan dan pegangan hidup. Karena Anda dan saya dipaksa belajar sejarah perjuangan bangsa kolonial Indonesia yang tidak ada hubungan historis dengan bangsa West Papua.

Anda dan saya di SD-PT dipaksa belajar 17 Agustus 1945. Dipaksa hafal Pancasila, UUD45, Bhineka Tunggal Ika. Anda dan saya dipaksa menghafal Sumpah Pemuda. Anda dan saya dipaksa menghormati bendera Merah Putih. Anda dan saya dipaksa menghafal nama-nama pahlawan kolonial. Semuanya semu, hampa dan kosong.

Anda dan saya sebagai bangsa dibuat tidak punya martabat dan tidak punya apa-apa. Padahal, Anda dan saya adalah sebuah bangsa berdaulat di atas tanah leluhur kami di Tanah Melanesia di West Papua.

Foto: Gembala. Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua) – Nuken Potret.

2. Pesan Bapak Enos Runabari

Anda dan saya perlu belajar pesan yang dititipkan oleh bapak Enos Runabari sebelum meninggal. Beliau cerita dan titip pesan kepada Anda dan saya. Kisah ini dipesan pada tahun 1980.

Dulu tahun 50an pada penguasa Belanda, saya kerja di Biak di jembatan pelabuhan Biak dan di lapangan terbang Mokmer. Kesejahteraan kami terjamin dengan baik. Bangun pagi makan roti, keju, daging susu. Setiap bulan dapat gaji uang gulden dan kami mendapat jatah makanan dan minuman. Kami sangat sejahtera. Kami tidak kekurangan. Sampai saya lupa pulang kampung.

Tetapi akhir tahun 1950an memasuki tahun 1960an teman saya yang bernama Geradus Dimara menawarkan untuk masuk gerakan merah putih pimpinan Silas Papare. Mereka berjanji bahwa dengan gerakan ini kita merdeka dan akan lebih sejahtera dari pada dengan Belanda. Akhirnya saya bergabung dalam gerakan merah putih.

Akhirnya setelah 6 bulan kemudian ketahuan penguasa Belanda. Saya diasingkan di penjara Samofa. Saya tidak bekerja lagi setelah 6 bulan diasingkan dan saya di pulangkan ke kampung Wansma Yapen Timur

Walaupun saya sudah pulang kampung tapi gerakan merah putih pimpinan Silas Papare berlanjut di Sawendui Yapen Timur pantai Lori. Mereka menjanjikan hidup sejahtera. Namun ternyata cuma cuma cerita kosong tidak ada kenyataan.

Pada saat Pepera 1969 saya di datangi petugas yang diutus Silas Papare, teman saya yang bernama Geradus Dimara, tapi karena saya sudah kawin, maka saya mengurus keluarga. Saya dengar kabar dari pak Geradus Dimara dari Biak, pelaksanaan Pepera kacau- balau dan banyak korban nyawa.

Bapak Enos pesan kepada anak-anaknya, kekacauan pelaksanaan Pepera itu saya tidak bisa sampaikan, tapi anak-anak akan tahu sendiri setelah memperoleh pendidikan baik. Kami gerakan merah putih menang, dan saya senang. Tetapi lama-lama kesejahteraan yang dijanjikan tidak terwujud justru saya harus kerja keras membiayai 7 (tujuh) anak saya.

Saya percaya bahwa Tuhan Yesus memberkati perjuangan Papua merdeka. Dulu saya anggota gerakan merah putih pada tahun 1950 an tapi pemerintah tidak kasih saya apa-apa kepada saya. Saya berdoa supaya anak dan cucu bangsa Papua nikmati kebebasan Papua nanti. Anak-anak harus kerja baik, jujur, tidak ganggu istri, jangan mencuri gaji orang. Beribadah percaya Tuhan Yesus saja dan jangan percaya yang lain dan lain-lain kepercayaan harus kamu buang.

Saya mau sampaikan bahwa Papua akan merdeka. Anak-anak lihat kalau ada tanda-tana di mana mana bendera naik Bintang Kejora, orang-orang Papua dibunuh hanya karena bintang gejora, maka itu tandanya Papua Merdeka.

Ada kesaksian anaknya bapak Enos sebagai berikut:

“Pada suatu jamuan makan malam keluarga , mama masak daging mambruk dan papeda dan sagu bakar. Kami 7 bersaudara dengan papa dan mama sambil makan, bapa beri nasihat bahwa hidup manusia ini terbatas tidak seperti batu yang bertahan lama berabad-abad.

Jadi anak-anak miliki Kristus, harus kuat, hidup tidak asal-asal. Anak-anak, bapa mau kasitahu kamu bahwa bangsa yang pegang kita ini bangsa yang kotor dan bangsa yg jahat. Jadi hati-hati merantau. Jangan bicara sembarang nanti kamu susah. Bapa sudah jalan salah, kita menderita. Tapi ingat kamu harus kerja keras, berkebun atau sekolah untuk kamu punya masa depan. Kamu hidup harus taat, jujur, berdoa. Kamu jangan lupa Tuhan Yesus karena berkat pertolongan-Nya bikin bapa dan mama berhasil besarkan kamu semua. Walaupun kamu punya mama tidak sekolah.”

Dari kisah nyata dan pengalaman bapak Enos Runabari, saya memberikan kesimpulan bahwa, rakyat West Papua adalah sebuah bangsa. Ia bukan sebuah provinsi. Pendudukan dan penjajahan Indonesia di West Papua ialah ilegal. Penguasa Indonesia adalah penjajah dan kolonial moderen. Proses pengintegrasian juga dengan proses ilegal. Penggabungan West Papua ke dalam wilayah Indonesia melalui Pepera 1969 yang cacat moral dan hukum. Pepera 1969 dimenangkan dengan moncong senjata yang brutal dan sangat tidak manusiawi.

Hermanus Wayoi (Herman) menegaskan dengan satu pernyataan penting sebagai berikut:

” Secara de facto dan de jure Tanah Papua atau Irian Barat tidak termasuk wilayah Indonesia berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945. Jadi, Tanah Papua bukan wilayah Indonesia, melainkan dijadikan daerah perisai/tameng atau bemper bagi Republik Indonesia.”  (Sumber: Tanah Papua (Irian Jaya) Masih Dalam Status Tanah Jajahan. Dikutip dalam buku Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat: Yoman, 2007

Menurut Dr. George Junus Aditjondro, bahwa, “Dari kaca mata yang lebih netral, hal-hal apa saja yang dapat membuat klaim Indonesia atas daerah Papua Barat ini pantas untuk dipertanyakan” (2000, hal.8).

Sementara Robin Osborn berpendapat: “…bahwa penggabungan daerah bekas jajahan Belanda itu ke dalam wilayah Indonesia didasarkan pada premis yang keliru….Kini, premis ini diragukan keabsahannya berdasarkan hukum Internasional” (2000, hal. xxx).

Pdt. Dr. Karel Phil Erari menegaskan: “Secara hukum, integrasi Papua ke dalam NKRI bermasalah” (2006, hal. 182).

Doa dan harapan saya, Anda semua yang membaca tulisan ini sadar, keluar dari zona nyaman yang semu dan hampa dan juga hidup dalam ketaatan buta. Sadarlah dan bangunlah dari ketiduranmu untuk menggali sejarah bangsamu sendiri dan menuliskannya.

Waa….Nowe Nawor Kinaonak

__________________________________________

Ita Wakhu Purom, 26 Juni 2019.

Penulis adalah Grmbala Dr.Socratez S.Yomsn, M.A. (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua).

Editor: Nuken/MW.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here