Jangan Takut kepada Mereka, Anda Kepala Suku Besar dan Pemilik Sah Tanah Ini

0
628

Oleh Gembala Dr. Socratez S. Yoman

Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua)

1. Pendahuluan

Topik ini saya mau tunjukan dan membagikan kepada Anda semua, terutama Penduduk Orang Asli Papua. Karena Anda semua sudah berada dalam penjara demam ketakutan. Anda sudah menjadi seperti orang pendatang, tidak berdaya dan sudah kehilangan pijakan dan dengan mudah diatur oleh penguasa Indonesia yang secara ilegal menduduki dan menjajah rakyat Melanesia di West Papua.

Pada 17 Februari 2019 jam 22.00 malam telepon saya berdering. Nama yang muncul adik Pendeta Esmond Walilo dari Wamena. Pendeta Esmond sampaikan:

EW: ” Selamat malam kaka Yoman. Maaf, adik mengganggu jauh malam.”

SSY: “Selamat malam adik Esmond. Bagaimana adik?”

EW : “Kaka Yoman, saya dengar pak Dandim dan Kapolres Jayawijaya melarang Delegasi Dewan Gereja Dunia (WCC) ke Sinakma untuk melihat anak-anak pengungsi dari Nduga yang sedang belajar di Sekolah Darurat.”

SSY: “Adik Esmond, JANGAN TAKUT KEPADA MEREKA, ANDA KEPALA SUKU BESAR DAN PEMILIK SAH TANAH WAMENA, WEST PAPUA.”

Pendeta Dorman Wandikbo Presiden GIDI dan Pdt. Yahya Lagowan mewakili Pdt. Dr. Benny Giay dan saya tiba pagi hari pada 18 Februari 2019 bersama Rombongan Delegasi Dewan Gereja Dunia. Kami bertiga Kepala Suku Besar dan Pemilik Sah Tanah Wamena, West Papua ini. Tidak ada yang perlu kita takuti dan tunduk. Kita sebuah bangsa yang bermartabat. Kami bukan bangsa budak dari para pendatang Indonesia di Tanah dan Negeri kami ini. Kami lebih berhak atas Tanah pusaka kami. Singkirkan dan kuburkan roh ketakutan. Bebaskan dirimu dari penjara ketakutan. Tidak benar dan tidak betul, kalau Tuan Rumah takut pada tamu/pendatang.”

2. Kami Dilarang Ikut Delegasi WCC untuk pertemuan dengan Bupati, Dandim dan Kapolres

Ketua Klasis GKI Balim-Yalimo sampaikan pesan bupati kepada kami. “Bapak-bapak minta maaf, dari staf bupati sampaikan bahwa pak Yoman, pak pdt. Dorman dan pdt. Yahya dilarang ikut delegasi ke kantor bupati untuk pertemuan dengan bupati, Dandim dan Kapolres.”

Saya sampaikan kepada Ketua Klasis GKI Balim-Yalimo. Pak Ketua sampaikan kepada mereka bahwa Delegasi WCC adalah tamu kami (tamu Gereja), maka tetap dampingi mereka. Kami tidak berbicara, yang berhak berbicara kepada bupati adalah Delegasi WCC.”

Akhir dari pertemuan antara bupati dengan Delegasi WCC di kantor bupati, pak Dandim Wamena bertanya kepada Delegasi WCC. “Bapak-bapak dan ibu-ibu, saya perlu tahu schedule/jadwal Delegasi WCC setelah pertemuan ini kemana lagi?”

Saya sampaikan adik Pendeta Dora Balubun untuk menjawab pertanyaan pak Dandim Jayawijaya. Ibu Pendeta Dora menjawab: “Dari sini kami putar-putar di Wamena kota dan kembali ke kantor Klasis untuk pertemuan dan makan siang.”

3. Rombongan Delegasi WCC ke Sinakma

Sesudah pertemuan delegasi dengan bupati kami keluar. Saya sampaikan adik Rosa Mawen dan Pdt Dora Balubun dan Pdt. Desmond kita ke Sinakma untuk melihat anak-anak pengungsi Nduga yang sekolah di tempat darurat.

Puji Tuhan. Kuasa Tuhan nyata dalam penderitaan umat Tuhan di Tanah ini. Para anggota Delegasi WCC mendengar langsung dari anak-anak pengungsi Nduga akibat Operasi Militer.

Anggota TNI-Polri yang bekerja sebagai intel hampir 10 orang datang dengan motor di Sinakma. Mereka rekam semua pembicaraan anak-anak pengungsi dan Delegasi WCC dan mengambil foto menggunakan handphone. Kami hargai mereka karena itu tugas dan pekerjaan mereka.

Saya tanya anggota intel. “Adik-adik kamu dari kesatuan mana? Namamu siapa? Kamu orang apa? Kamu dari mana? Kamu harus kerja baik dan benar ya.”

4. Saya Berasal dari Bangsa Merdeka dan Berdaulat Sebelum Indonesia Menjajah Kami.

Saya heran dan tidak habis pikir dan juga tidak masuk akal sehat saya. Mengapa? Karena Orang Asli Papua sebagai pemilik Tanah West Papua dari Sorong-Merauke takut kepada penguasa Indonesia sebagai tamu yang menduduki, menjajah, menjarah, merampok dan membunuh kami seenak hati dan semau mereka. Sesungguhnya Orang Asli Papua yang sudah punya pendidikan HARUS sadar keadaan tidak normal yang dialami rakyat dan bangsa West Papua. Kalau kesadaran Anda sudah dilumpuhkan maka Anda menjadi budak-budak kolonial Firaun moderen Indonesia. Sudah saatnya, Anda Sadar, Bangkit dan Lawan.

Mengapa saya katakan dari bangsa yang merdeka dan berdaulat sebelum kolonial Indonesia menduduki dan menjajah kami?

Kata ” Ap Lani” memiliki arti yang lebih dalam, yaitu Orang-orang Otonom, mandiri, independen dan berdaulat penuh.

Dalam buku: Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri” (Yoman, 2010, hal. 92) penulis menjelaskan sebagai berikut:

Kata Lani itu artinya: ” orang-orang independen, orang-orang yang memiliki otonomi luas, orang-orang yang merdeka, yang tidak diatur oleh siapapun. Mereka adalah orang-orang yang selalu hidup dalam kesadaran tinggi bahwa mereka memiliki kehidupan, mereka mempunyai bahasa, mereka mempunyai sejarah, mereka mempunyai tanah, mereka mempunyai gunung, mereka mempunyai hutan, mereka mempunyai sungai, mereka mempunyai dusun yang jelas, mereka mempunyai garis keturunan yang jelas, mereka mempunyai kepercayaan yang jelas, mereka mempunyai kemampuan untuk mengatur, dan mengurus apa saja, mereka tidak pernah pindah-pindah tempat, mereka hidup tertib dan teratur, mereka mempunyai segala-galanya.”

Contoh: Orang Lani mampu dan sanggup membangun rumah (honai) dengan kualitas bahan bangunan yang baik dan bertahan lama untuk jangka waktu bertahun-tahun. Rumah/honai itu dibangun di tempat yang aman dan di atas tanah yang kuat. Sebelum membangun honai, lebih dulu dicermati dan diteliti oleh orang Lani ialah mereka melakukan studi dampak lingkungan. Itu sudah terbukti bahwa rumah-rumah orang-orang Lani di pegunungan jarang bahkan tidak pernah longsor dan tertimbun tanah.

Contoh lain ialah orang Lani membangun dan membuat pagar kebun dan honai/rumah dengan bahan-bahan bangunan yang berkualitas baik. Kayu dan tali biasanya bahan-bahan khusus yang kuat supaya pagar itu berdiri kokoh untuk melindungi rumah dan juga kebun.

Orang Lani juga berkebun secara teratur di tanah yang baik dan subur untuk menanam ubi-ubian dan sayur-sayuran.

Dr. George Junus Aditjondro mengakui: “…para petani di Lembah Baliem misalnya, memiliki budaya pertanian ubi-ubian yang tergolong paling canggih di dunia, hasil inovasi dan adaptasi selama 400 tahun tanpa bantuan sepotong logam” (Cahaya Bintang Kejora, 2000, hal. 50).

Suku Lani juga dengan kreatif menciptakan api. Suku Lani dengan cerdas dan inovatif membuat jembatan gantung permanen. Para wanita Lani juga dengan keahlian dan kepandaian membuat noken untuk membesarkan anak-anak dan juga mengisi bahan makanan dan kebutuhan lain.

Yang jelas dan pasti, suku Lani ialah bangsa yang bedaulat penuh dari turun-temurun dan tidak pernah diduduki dan diatur oleh suku lain. Tidak ada orang asing yang mengajarkan untuk melakukan dan mengerjakan yang sudah disebutkan tadi. Suku Lani adalah bangsa mempunyai kehidupan dan mempunyai segala-galanya.

Dari uraian singkat ini memberikan gambaran yang jelas bahwa pada prinsipnya orang Lani itu memiliki identitas yang jelas dan memelihara warisan leluhur dengan berkuasa dan berdaulat penuh sejak turun-temurun.

Orang Lani juga mempunyai norma dan tingkatan dalam penggunaan dan pemanggilan nama orang. Contoh:

Panggilan terhormat bagi orang berbadan tinggi ialah Owakelu. Owakelu ada dua kata: Owak dan Elu. Owak artinya tulang dan Elu artinya tinggi. Jadi tidak bisa disebut orang tulang tinggi.

Panggilan terhormat bagi orang badan besar ialah anugun nggok. Anugun artinya perut. Nggok artinya besar. Jadi bukan orang perut besar.
Dalam suku Lani ada panggilan orang-orang terpandang dan pemimpin yang dihormati dan didengarkan.

Ndumma artinya pemimpin pembawa damai, pembawa kesejukan dan ketenangan, pelindung dan penjaga rakyat. Ndumma itu gelar tertinggi dan terhormat dalam suku Lani. Suara Ndumma tidak biasa dilawan oleh rakyat karena ada nilai-nilai kebenaran, keadilan, kasih, kedamaian dan pengharapan.

Ap Nagawan, Ap Wakangger, Ap Nggok, Ap Nggain, Ap Akumi Inogoba.

Ini semua pangkat dan sebutan orang-orang besar dan pemimpin yang digunakan dalam bahasa Lani. Semua pemimpin ini suara dan perintahnya selalu dipatuhi dan dilaksanakan karena ada wibawa dalam kata-kata. Mereka semua pelindung dan penjaga rakyat.

Harapan dan doa saya bahwa sudah saatnya kita sadar dan bangkit untuk menulis tentang siapa diri kita. Orang asing sudah banyak menulis dengan cara pandang mereka tentang kita untuk mereka mendapat gelar, polularitas, dan uang. Kita hargai karya mereka. Sekarang sudah waktunya kita menulis tentangi bangsa di planet ini.

Doa dan harapan saya, tulisan ini menjadi cahaya lilin kecil yang menerangi hati dan pikiran yang sudah dilumpuhkan dan digelapkan penguasa kolonial Indonesia.

 

 

Waa…kainaok o nore nawot.

Ita Wakhu Purom, Jumat 21 Juni 2019

Penulis adalah Gembala, Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua)

Editor: Admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here