Rakyat dan Bangsa West Papua Jangan Kehilangan Harapan (HOPE)

0
167

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

Dr.Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua)

1. Pendahuluan

Seorang wartawan bertanya pada Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, yang memimpin Kerajaan Inggris dalam masa-masa kegelapan Perang Dunia II, senjata terberat apa yang dimiliki negerinya melawan rezim Nazi, Hitler. Tanpa ragu-ragu sedikitpun, Churchill berkata:

“Senjata paling berat yang selalu dimiliki Kerajaan Inggris adalah HARAPAN (HOPE).”

“Angkatan Udara Inggris dan pemimpin-pemimpin besar mereka pantang menyerah. Jumlah tentara Angkatan Udara Inggris yang lebih kecil dari jumlah musuhnya mempertahankan bangsanya dengan gagah berani, lebih berani dan mampu daripada yang dibayangkan Hitler, dan ini telah menyelamatkan Negara Inggris dari pendudukan musuhnya. Hitler membatalkan rencana pendudukannya ke Inggris pada bulan September 1940.” (Sumber: John. C. Maxwell: The Maxwell Daily Reader, 2007, hal. 94, 84).

Kutipan ini mengingatkan rakyat dan bangsa Papua yang diduduki, dijajah dan ditindas Penguasa kolonial Indonesia berwajah seperti Nazi, Hitler di Jerman dan juga berwatak seperti raja Firaun di Mesir. Mereka tampil seperti raja Goliat yang sombong dan angkuh dengan perlengkapan perang dan didukung oleh pasukannya dan rakyatnya.

Penguasa Indonesia merendahkan martabat rakyat dan bangsa West Papua dengan seenaknya dan semaunya dengan berbagai bentuk yang wajar dan tidak wajar. Manusia-manusia Papua ditembak mati dengan stigma amggota OPM, separatis, makar dan KKSB.

Contoh terbaru ialah Operasi Militer yang sedang berlangsung di Nduga TNI telah mengusir Penduduk Asli Nduga dari tanah milik mereka. Beberapa orang telah ditembak mati, termasuk tokoh gereja yang dihormati dan disegani, Pdt. Geyimin Nigiri.

2. Pemusnahan Etnis Melanesia

Pemusnahan etnis Papua ialah Program penguasa kolonial Indonesia. Ini fakta di depan mata dan kita alami setiap hari. Proses pemusnahan etnis Papua sudah berlangsung lama secara sistematis, terstruktur, terprogram dan masif.

Hermanus Wayoi (Herman) pernah mengabadikan satu pernyataan sebagai berikut:

” Secara de facto dan de jure Tanah Papua atau Irian Barat tidak termasuk wilayah Indonesia berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945. Jadi, Tanah Papua bukan wilayah Indonesia, melainkan dijadikan daerah perisai/tameng atau bemper bagi Republik Indonesia.”

Lebih jauh Wayoi menegaskan:

“Pemerintah Indonesia hanya berupaya menguasai daerah ini, kemudian merencanakan pemusnahan Etnis Melanesia dan menggantinya dengan Etnis Melayu dari Indonesia. Hal ini terbukti dengan mendatangkan transmigrasi dari luar daerah dalam jumlah ribuan untuk mendiami lembah-lembah yang subur di Tanah Papua.

Dua macam operasi yaitu, Operasi Militer dan Operasi Transmigrasi menunjukkan indikasi yang tidak diragukan lagi dari maksud dan tujuan untuk menghilangkan Ras Melanesia di tanah ini. Rakyat Papua yang terbunuh dalam operasi-operasi militer di daerah-daerah terpencil atau pelosok di pedalaman dilakukan tanpa prosedur dan pandang bulu apakah orang dewasa atau anak-anak. Memang ironis, ketidakberpihakan hukum yang adil menyebabkan nilai orang Papua dimata aparat keamanan Pemerintah Inodonesia tidak lebih dari seekor binatang buruan.” (Sumber: Tanah Papua (Irian Jaya) Masih Dalam Status Tanah Jajahan. Dikutip dalam buku: Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat: Yoman, hal. 137-138, 143).

3. Berjuang Dengan Kebenaran

Rakyat dan bangsa West Papua sekarang sedang mengalami dan menghadapi apa yang ditegaskan oleh Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno.

” Situasi Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia” (hal. 255). ….kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam” (hal. 257). Sumber: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme : Bunga Rampai Etika Politik Aktual (2015).

Apa yang disampaikan Prof. Magnis ini harus harus disampaikan kepada komunitas internasional dengan jujur, kebenaran fakta dan bukti yang terjadi terhadap Penduduk Asli Papua sekarang ini.

Prof Magnis mengatakan: “…bangsa yang tidak tahu apa itu JUJUR pasti akan hancur” (baca di hal. 26).

Penguasa Indonesia yang tidak tahu kebenaran, kejujuran, hidup dalam kekerasan ini sedang mengantarkan rakyat dan bangsa Indonesia sedang menuju kehancuran dan terkeping-kepingnya NKRI. Jadi, kita tunggu dan lihat. Karena bangsa yang dibangun dan dipertahankan dengan kekerasan biasanya hilang sebagian wilayah, bahkan hancur-lebur seluruhnya.

Rakyat dan bangsa West Papua jangan pernah berjuang dengan penipuan/kebohongan. Berjuanglah dengan jujur dan benar. Berjuang dengan takut kepada Tuhan Yesus Kristus. Berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus meminta hikmat dan pengetahuan sempurna daripada-Nya.

Jangan pernah takut, Jangan pernah ragu, dan Jangan pernah bimbang dalam memperjuangkan keadilan dan menegakkan kebenaran dengan jalan JUJUR. Berjuanglah dengan martabatmu dan integritasmu. Jangan berdiri di zona nyaman yang semu dan hampa. Jangan menjadi manusia munafik berwajah dua dalam memperjuangkan martabat rakyat dan bangsamu West Papua yang sudah menderita.

“Seperti mata air yang keruh dan sumber yang kotor, demikianlah orang benar yang kuatir di hadapan orang fasik” (Amsal 25:26).

Para pejuang keadilan, perdamaian, hak asasi manusia, kemerdekan Rakyat dan bangsa West Papua perlu belajar contoh para pejuang keadilan dan hak asasi manusia di berbagai Negara. Salah satu contohnya.

Gerry Adam, pejuang Hak Asasi Manusia dari Irlandia dalam bukunya: “Hope dan History” mengabadikan pernyataan imannya, moralnya, integritasnya, martabatnya sebagai berikut:

“….dalam seluruh perjuangan dan pekerjaan saya dalam upaya penegakkan hak asasi manusia, martabat manusia, keadilan dan perdamaian dengan pemerintah Inggris, pemerintah Irlandia, pemerintah Amerika dan juga dengan kelompok-kelompok politik, perwakilan politik, pekerja Hak Asasi Manusia dan Gereja, saya bekerja dalam dua jalan yang sederhana.

Pertama, saya tidak akan menipu mereka tentang Irlandia. Kedua, saya tidak akan menipu rakyat Irlandia apa yang dikatakan komunitas Internasional kepada saya tentang Irlandia.” (Sumber: Hope dan History, 2003, hal. 33)

Akhir dari tulisan ini saya mau sampaikan rakyat dan bangsa West Papua tidak selamanya menangis, tidak selamanya mencucurkan air mata, tidak selamanya mengalami penderitaan di atas tanah leluhur sendiri. Karena rakyat dan dan bangsa West Papua masih dan tetap mempunyai PENGHARAPAN (HOPE). Mengapa? Karena Yesus Kristus telah mengatakan: Jangan takut. Aku telah bangkit dari kubur. Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Aku tidak akan membiarkan kamu dan meninggalkan kamu seperti anak yatim piatu. Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman. Percayalah kepada Tuhan dan kebenaran-Nya. Kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Rakyat dan bangsa West Papua akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu=rakyat Papua” (Yohanes 8:32).

Perlu diketahui bahwa betapun sulit dan beratanya masalah yang dialami dan dihadapi rakyat dan bangsa West Papua, kunci untuk mengatasinya TIDAK terletak pada mengubah keadaan sulit ini. Kuncinya terletak pada mengubah diri, kesadaran diri dalam cara memandang persoalan berat ini. Perubahan dan kesadaran adalah sebuah proses, dan proses itu harus dimulai dari keinginan keluar dari tempurung NKRI. Rakyat dan bangsa West Papua PASTI menang. Karena rakyat dan bangsa West Papua memiliki HARAPAN BESAR.

Doa dan harapan saya, tulisan ini berguna bagi para pembaca. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.

Waa….kinaonak o Nowe Nawor.

 

 

Ita Wakhu Purom, Jumat, 21 Juni 2019.

Penulis adalah Dr. Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua).

Editor: Redaksi MW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here