Surat Terbuka untuk SKPD Kabupaten Pegununggan Bintang

0
355

Di tulis oleh Yuspani Asemki Mahasiswa Asal Pegunungan bintang

Foto: Yuspani Asemki

Banda Aceh 7 Juni 2019

Kepada Yth.

  1. Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang
  2. Wakil Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang
  3. Kepala Dinas Kabupaten Pegunungan Bintang
  4. BPSDM (Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Kabupaten Pegunungan Bintang

Dengan hormat,
Surat terbuka ini, saya tujukan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang.

Salam hormat saya, semoga Bpk/Ibu senantiasa dalam lindungan Sang Maha Pencipta dan tetap berkarya untuk membangun manusia Pegunungan Bintang yang berkualitas guna menjadikan Kabupaten bersaing/berkompetisi di tingkat lokal, nasional bahkan internasional.

Melalui surat terbuka ini, ijinkan saya untuk sampaikan beberapa hal penting, menyangkut masa depan Kabupaten yang kita cintai dan kita banggakan bersama.

Dengan melihat sejarah dan latar belakang Kabupaten Pegunungan Bintang yang dimekarkan dari Kabupeten induk Jayawijaya pada tahun 2003. Jika dihitung sampai dengan saat ini, umur Kabupaten sudah dibilang dewasa. Sudah semestinya maju dalam segi pemberdayaan sumber daya manusia dan juga maju dalam segi pendidikan dan lain sebagainya.

Saya pribadi mengapresiasi langkah demi langkah, kerja dan upaya yang Pemerintah daerah sudah lakukan dalam beberapa tahun silam. Diantaranya, mengirim siswa/i ke IALF Bali dan Sekolah Jenius Jakarta.
Fokus pendidikan adalah kunci utama untuk mengurangi kebodohan, ketertinggalan dan kemiskinan.
Dengan pendidikan yang baik akan berdampak positif untuk kemajuan dan kesejahteraan daerah.

Maju atau tidaknya suatu daerah salah satu faktor penyebab utamanya adalah pendidikan. Karena dengan perhatian di bidang pendidikan secara jelas dan transparan akan memberikan dampak positif terhadap SDM (sumber daya manusia) masyarakat Pegunungan Bintang.

Akan tetapi dimasa jabatan Bapak Bupati yang terhormat, Bapak Kostan Oktemka dan rombongan, saya belum merasakan pemerataan fasilitas pendidikan yang baik. Banyak kasus yang ditimpah oleh saudara/i dan rekan-rekan seperjuangan saya dari Kabupaten Pegunungan Bintang. Dan juga termasuk saya sendiri.

Terlatarnya Mahasiswa /I Pegunungnan Bintang

Jika Pemerintah Daerah melihat pendidikan, maka harapan saya lihatlah secara keseluruhan (umum) dan bukan dengan kepentingan tertentu. Satu hal yang tidak diperhatikan oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini adalah *TERLANTARNYA* Mahasiswa/i putra-putri terbaik asli daerah Pegunungan Bintang yang berstudi di luar pulau Papua.

Banyak sekali kondisi kritis yang dialami atara lain : seperti mengalami cuti kuliah, diusir karena tidak membayar uang kos/kontrakan, kelaparan, utang menumpuk di warung makan, sampai dengan kurangnya uang biaya pengobatan rumah sakit mengakibatkan beberapa aset putra-putri terbaik daerah meninggal dunia.
Dengan mengalami kondisi tersebut, maka banyak Mahasiswa/i yang memutuskan untuk tidak lanjut kuliah lalu balik ke Papua. Dan ada juga yang tetap mempertahankan diri dengan apa adanya demi menyelesaikan studinya.

Dengan melihat kondisi ini, pertanyaan yang sering muncul dibenak saya adalah sebagai berikut : Berapa banyak sarjana atau magister asal Pegunungan Bintang yang sudah dicetak? Berapa banyak Dokter dan Doktor bahkan Profesor orang asli putra daerah Pegunungan Bintang? Berapa Pengusaha Sukses orang asli Pegunungan Bintang? Dll.

Mungkin pertanyaan seperti di atas hanya dapat dijawab oleh Kepala Dinas Pendidikan dan BPSDM ataukah Bupati Pegunungan Bintang sebagai orang nomor satu di Kabupaten?.

Harus diketahui bersama, bahwa pendukung perubahan atau kemajuan suatu daerah, salah satunya adalah Mahasiswa. Karena Mahasiswa adalah *Agent Of Change* .

Mahasiswa juga dapat merasakan, melihat, mempelajari, meneliti, dan mengkritik suatu pembangunan ataupun kebijakan yang tidak relevan dengan kehidupan sosial masyarakat secara keseluruhan dalam suatu daerah.

Setelah melihat, meneliti atau bahkan mengkritik, Mahasiswa akan berani memberikan pendapat, saran dan solusi dari problem yang dinilai tidak relevan tersebut. Dengan demikian pembangunan suatu daerah akan maju jauh lebih baik dari sebelumnya. Maka dari itu, sebagai Mahasiswa yang terpelajar, saya merasa bahwa masa depan kemajuan daerah Kabupaten Pegunungan Bintang juga ada di pundak saya dan sodara-sodari saya yang berasal dari seluruh Tanah Papua atau khususnya Pegunungan Bintang.

Saya juga merasa bahwa saya bersama seluruh Mahasiswa/i dan Pelajar Aplim-Apom adalah aset daerah. Saya pribadi, memohon kebijaksanaan Pemerintah Daerah, dalam hal ini terlebih kepada Bapak Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang untuk segera mengatasi persoalan-persoalan tersebut, karena akan berdampak buruk pada masa depan Kabupaten Pegunungan Bintang nantinya.

Saran saya

  1. Melanjutkan MoU dengan mitra kerjasama.
  2. Memfasilitasi Mahasiswa/i yang melanjutkan S2 & S3.
  3. Memberikan penghargaan kepada Pelajar dan Mahasiswa/i yang berprestasi di bidang akademik.
  4. Menghidupkan kembali seluruh Organisasi Mahasiswa Pegunungan Bintang di Papua maupun luar Papua.
  5. Memberikan bantuan kepada seluruh Mahasiswa yang tidak termasuk dalam penerima beasiswa melalui mitra kerja sama.

Akhir kata, sekian dan terimakasih.
YETELAS

Yuspani Asemki
Ketua Himpunan Mahasiswa Papua – Aceh ( HIMAPA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here