Gus Dur, Bukan Bertujuan untuk Mengindonesiakan OAP di Tanah Papua

0
368

Oleh Willem Wandik

Gus Dur dan teys H. Heluway (Dok. istimewa)

MAJALAHWEKO, – Kita Harus Mengakui cara Gusdur bersikap sebagai kepala Negara dan Sekaligus Kepala Pemerintahan pada saat menjadi Presiden RI ke 4, pada masa itu, adalah hal yang sangat baru.. Sebab, selama lebih dari 32 Tahun, kekuasaan pusat di pimpin rezim yang serba tertutup. 

Definisi separatisme pada zaman Orba menjadi “sesuatu” yang sangat dilarang, serupa dengan gerakan terorisme global pada saat ini. Namun, Gusdur memulai “pendekatan yang tidak lazim” untuk membuka pintu dialog dengan Tanah Papua.

Rasa rasanya, apa yang dilakukan oleh Gusdur, bukan bertujuan untuk “mengindonesiakan” OAP di Tanah Papua, sebab, identitas, ideologi, dan sejarah, tidak akan mungkin bisa dinegosiasikan, sekalipun dengan pendekatan “dialog”.

Hal yang justri terjadi, selama berpuluh puluh tahun, Tanah Papua dan rakyatnya, seperti berada di negeri asing, satu satunya pendekatan yang dikenali di Tanah Papua, adalah Militerisme, status darurat, DOM, dan lain lain.

Istilah diatas, selama berpuluh tahun, menjadikan rezim Pusat hanya mengenali satu pendekatan saja, “Datang Dengan Penaklukan di Tanah Papua”. Padahal, sekuat apapun upaya untuk menduduki Tanah Papua, dengan jalan militeristik, toh suatu hari nanti, kebangkitan kesadaran kolektif rakyat OAP, akan merobohkan tembok tiranisme di Tanah Papua.

Era Reformasi menjadi momentum terbaik Tanah Papua, untuk bangkit dan mempertanyakan segala hal terkait “eksistensi Tanah Papua di Republik”. Dan terbukti, perubahan yang dikehendaki oleh zaman, reformasi hadir, Otsus Papua akhirnya di hadirkan pada Tahun 2001 (sekalipun dinilai sebagai upaya politis meredam referendum), namun, ini menjadi pertanda baik, adanya pengakuan Pusat terhadap eksistensi Bangsa Papua. lalu, seorang Gusdur, tidak akan mungkin bisa menolak kehendak sejarah dan zaman yang sudah berubah.

Maka dari itu, Gusdur berusaha untuk membangun “jembatan” yang selama ini tidak pernah hadir di Tanah Papua.. Jembatan itu bukan berbentuk “infrastruktur bernilai Triliunan rupiah”.. akan tetapi jembatan yang dibangun Gusdur itu adalah “Jembatan Pikiran”..

Infra fisik boleh jadi dapat dibangun dengan megah, namun akan lapuk dimakan waktu.. berbeda dengan “bangunan pikiran” yang akan bertahan hingga 7 generasi sesudahnya.. sehingga, Gusdur sejatinya adalah “bapak pembangunan pikiran kebangsaan” yang tidak mau terjebak pada warisan konflik masa lalu.

Gusdur tidak menawarkan apa apa ke Tanah Papua, karena tidak ada yang perlu ditawarkan, rakyat OAP memiliki kehendaknya sendiri, namun, Gusdur membangun “jalan pikiran baru” agar Negara dan Pemerintah, dapat memperlakukan seluruh identitas di Tanah Papua dengan adil, equal, humanis, dan melihat dalam sudut pandang saudara sebangsa di negeri ini.. wa wa

 

Penulis: Willem Wandik Anggota DPR RI Fraksi P. Demokrat
Ketua Dept PU & PK DPP PD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here