Petrus : Polda Papua Harus Bertanggung Jawab Terhadap Kasus Penembakan Yang Menewaskan Yulianus Mote

0
305
Yulianus Mote (25 Thn) Korban Penembakan Aparat Kepolisian di Waghete Deiyai Papua. (FOTO/DOK)

MAJALAHWEKO, JAKARTA-  27/5/19, Kasus penembakan terhadap dua warga sipil di Waghete, Kabupaten Deiyai, Melianus Dogopia dan Yulianus Mote pada selasa sore (21/5/2019) diminta segera diungkap kepublik, Permintaan tersebut diungkapkan Petrus Badokapa,S.Th, anggota Dewan dan Wakil Ketua II DPRD Kab. Deiyai, Papua. 

“Polda Papua harus segera mengungkapkan peluru milik siapa yang melukai Melianus Dogopia dan menewaskan Yulianus Mote di Waghete, Kabupaten Deiyai,” ujarnya petrus

Petrus menilai hal ini lah yang paling utama ketimbang polisi menggiring publik untuk mendiamkan kasus utama dan hanya fokus siapa pelaku pembakaran Polsek Tigi, pembakaran kios dan dugaan pelecehan seksual terhadap tiga orang perempuan di sekitar kios.

Petrus Badokapa,S.Th, anggota Dewan dan Wakil Ketua II DPRD Kab. Deiyai, Papua.

Menurut Petrus Pihak penyidik, seharusnya fokus pada kasus pertama untuk mengungkapnya sesuai prosedur yang berlaku di negara ini.

“Sekali lagi, tolong jawab peluru siapa yang menembak Melianus Dogopia? Karena penembakan inilah yang menjadi pemicu amukan massa dan oknum siapa yang menembak Yulianus Mote yang tewas di depan Bank Papua Waghete,”Ujar Petrus Badokapa.

Jenazah Yulianus Mote telah dikebumikan di halaman kantor Polsek Tigi, Kamis (23/5/2019) siang, sesuai kesepakatan pihak keluarga korban. Petrus juga akui beberapa foto korban penembakan sudah didapatnya saat berkunjung ke Waghete.

“Hari Senin besok kami akan lapor ke Kapolda Papua,” Ujarnya. Selain itu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) diminta segera menurunkan tim investigasi terhadap kasus penembakan dan pembakaran Polsek Tigi.

“Polda Papua harus bertanggung jawab terhadap kasus itu. Oknum polisi yang terlibat harus dipecat di depan rakyat, dan diborgol lalu diseret ke penjara,” ujarnya lagi.
Perlunya penyelidikan kasus penembakan terhadap Yulianus Mote dan Melianus Dogopia, menurut dia, untuk membuktikan apakah para pelaku penembakan sudah menerapkan prosedur tetap Kepolisian Republik Indonesia.

Penggunaan alat negara yang berlebihan dengan sasaran korban warga sipil, patut disesalkan karena kasus serupa selalu terjadi berulang kali di Tanah Papua.

“Aparat keamanan harus mengedepankan pendekatan persuasif kalau ada masalah di tengah masyarakat, tidak boleh langsung ambil senjata dan tembak orang,” ujar Petrus

Jika senjata api tidak dijadikan penyelesai masalah, dia yakin kasus penembakan yang mengakibatkan satu orang tewas tertembak dan seorang lainnya terluka di Waghete, tidak akan terjadi. Tetapi karena sudah terjadi yang meninggalkan kesedihan dan trauma bagi keluarga korban termasuk masyarakat Papua, Petrus berharap kasusnya segera diungkap karena cara polisi tidak profesional dalam menangani persoalan di Waghete.

“Masyarakat Papua sampai hari ini masih sangat trauma dengan aparat keamanan akibat rangkaian kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di masa lampau. Jadi, sebaiknya stop gunakan senjata dalam menghadapi apapun persoalan di tengah masyarakat Papua,”Tambah Petrus.

Sebelumnya Polda Papua membantah tak ada korban jiwa di Waghete. Meski jenazah Yulianus Mote dimakamkan di halaman markas Polsek Tigi.

 

Editor: Admin MW

Sumber: https://dnewsradio.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here