Pesta Demokrasi yang tidak Dewasa

0
118

Negara Indobesia adalah sering orang bilang negara

  1. Demokrasi
  2. Negara hukum

Kedua nomor di atas betul-betul belum terwujud di Indonesia. Di tahun 2019 bangsa indonesia telah menunjukan dirinya bahwa kami  bukan negara yang demokrasi dan Negara hukum.

Orang berjuang mengurus sebuah negara itu sangat baik, sehingga orang-orang yang ada didalamnya termasuk sumber daya alamnya yang harus   dilindungi 100 %. Mungkin masyarakat awam pasti mengerti apa itu Demokrasi, tetapi Mungkin intelektual kadang tidak bisa mengerti dengan baik apa itu kata demokrasi.

Saya punya catatan dalam otak beberapa waktu yang lalu, terjadi konflik di beberapa tempat di papua.tentang pesta Demokrasi pemilihan Bupati, dàn DPRD, masayarakat sebagai pemilih menyampaikan hak suaranya kepada orang yang mereka percaya dan itu mutlak dan tidak bisa di ganti gugat suara mereka du lapangan.

Yang sering melakukan   kesalahan adalah PPD dalam perhitungan suara, disitulah terjadi permainan dan terjadi permulaan awal masalah, mungkin karena PPD di bayar atau di suap oleh orang-orang tertentu demi kepentingan politiknya.

Demokrasi yang sudah berjalan dengan baik di tingkat kampung, kemudian orang-orang yang ingin merusak demokrasi itu masuk tengah-tengah dan bikin kacau suarah itu sebabnya saya bilang masyarakat lebih mengerti dan memahami demokrasi dari pada Intelektual. Saya juga  sering lihat dan mendengar bahwa orang berpolitik juga dengan cara tipu-tipu untuk memenangkan dirinya.

Pesta demokrasi di tahun ini, pemilihan DPRD, DPRP, DPD dan pemilihan Presiden telah menyakiti hati rayat dan memakan korban jiwa. Setiap kandidat yang bertarung dalam proses pesta Demokrasi juga ada sebagian yang tidak menerima karena tidak lolos.

Misalnya di jakarta pada tanggal 21 dan 22 Mei 2019 terjadi tindakan anarkis dan memakan korban jiwa, sedangkan  kedua kandidat tinggal tenang-tenang saja.  Kemungkinan kedua kandidat itu akan berdamai tetapi masyarakant yang mengalami korban. Masyarakat yang tadinya sudah melaksanakan demokrasi dengan baik justru mereka di giring untuk menjadi korban.

Menurut saya pemimpin atau intelektual yang tidak bisa menghargai Pesta demokrasi dengan baik, dan ingin mau menang dengan cara kekerasan justru tidak akan berhasil. Disini perlu di catat bahwa kandidat yang bertarung dengan kekerasan tidak pernah akan berhasil ketika kau jadi pejabat dan semua rencana akan gagal.

Menurut saya kedua pasangat calon kandidat tidak menghargai dan menghormati pesta demokrasi, pesta demokrasi di kotori dengan bertumbahan darah.

Pesta demokrasi pemilihan presiden  Kali ini terkesan yang sangat buruk di mata internasional. Untuk di Papua beberapa calon kandidat di DPRD yang tidak lolos juga sakit, mungkin di duga ada permainan oknum-oknum tertentu untuk mendorong kepentingannya melalui partai, contoh yang lain, dibeberapa kahupaten orang-orang Papua  asli kurang lolos memiliki kursi terhormat itu..

Sehingga yang terjadi adalah

  1. Demo-demo
  2. Alas tikar
  3. Tidak senang satu, sama yang lain
  4.  Dll

1, Pemimpin yang hebat dan bijaksana

Pemimpin itu akan penganggap bahwa pertarungan politik itu suatu hal yang biasa, sekalipun ia korban dalam pertarungan itu. Dan di anggap menang kalah itu suatu hal yang biasa dalam pertarungan itu baru pemimpin yang bijak sana

2, Pemimpin yang tidak bijak sana

Yang paling buruk lagi misalnya ada sorang bupati yang bermain di lapangan untuk demi kepentingan partainya lalu memenangkan partainya itu yang pemimpin yang tidak cerdas dan bijaksana. Dan seorang bupati itu tidak mengerti bahwa dia adalah sorang pembina partai politik, kalau dia tau itu sebenarnya lebih menghargai dan menghormati semua Partai. Kadang-kadang bupati itu tau tetapi bikin pura-pura tidak tau yang penting bikin masalah dulu.  Urusan hukum dari belakang.

Akhirnya semua orang tidak percaya, dan selama ini yang terjadi adalah saling  baku benci dan tidak senang.  Orang-orang yang kalah juga sering protes-protes melalui demo dan dalam bentuk aksi lain.

Sebenarnya ada mekanisme hukum sesuai dengan jalur yang ada, saya setuju memo supaya di ketahui publik dan itu hak untuk mentampaikan pendapat di mukan umum dengan terbuka.Tetapi jawaban hanya satu saja yang kita sering dengar jawaban itu adalah bagi kamu yang tidak puas dengan pesta demokrasi silakan mengunakan jalar hukum, tidak ada jawaban yang lain.

Maaf ini pikiran saya yang sangat dangkal tetapi kalau  ada yang mau masukan saran, atau kritis tulisan ini  saya senang. (Hesegem Theo/MW)

🔥0

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here