Mengapa Arnold Clemen Ap Bernyanyi untuk Hidup

0
162

Oleh : Ino Mote

Grup Mambesak

Tentu pada kesempatan ini alm Arnold clemen Ap bersama wartawan jubi papua oleh,Hengki Yeimo meminta saya menulis artikel ini,untuk meningkatkan kembali karya-karya “musik mambesak”yang pernah ia gagas pada 1945-1984an, sebagai perlawanan nasionalisme di papua, adalah sebuah karya yang pernah ia ukir di dinding dalam kehidupannya melalui musik,jasanya bukan hanya kini tapi sampai akhir masa. 

Artikel yang tidak berguna ini juga sebagai penjajahan akan jasa besar mambesak ini di asrama mahasiswa Yamee-Owaa paniai itu.Ia memang manusia kerdil pintar membacar situasi dan kondisi politik di sekitarnya.Saat itu akhirnya ia melancarkan sebuah aksi melalui grup mambesak untuk mengangkat budaya-budaya lokal dalam situasi itu sebagai perlawanan politik.

Aksinnya adalah menentang ideologi negara kesatuan republik indonesia (NKRI),dibalik itu tentu ada reaksi dari TNI/POLRI tang sebagai ketahanan dan pertahanan negara,Ia paham betul sistem politik saatbiru akhirnya jalan satu-satunya yang ia pilih adalah bernyanyi, “Bernyanyi untuk hidup”perlawanan itu dicetuskan dalam lagu-lagu mambesak sekaligus sebagai kehidupannya oleh anak negri cendrawasih.

Benyanyi untuk hidup adalah sebuah “ide”menjadi sebuah perlawanan yang ia kemukakan dalam perjuangan dengan tujuan membebaskan orang papua dari penindasan sekaligus mengankat harkat dan martabat sebagai orang papua yang sedang penuh dengan paham nasionalisme dari tni/polri yang tidak mendukung tujuan-tujuan hidup orang papua saat itu.Walaupun perjuangannya dihadang dan diancam oleh militer indonesia tapu ia tidak takut akan bahaya itu dan terus berjuang sampai titik penghabisannya ia bunuh pada tahun 1984,oleh pasukan khusus militer (Kopasus) atas perintah peresiden soeharto,walau ia dibunuh tapi perlawanannya masi tetap bernyanyu Sampai saat ini.

Sistem politik negara indonesia 1965-1984

System politik Negara saat itu sangat kacau sepertinya ada aksi-aksi tertentu yang menggerakan masa demi kepentingan politik, situasi itu seakan memancing menggantikan orde lama ke orde baru. Perwira tinggi angkatan darat (AD) saat itu adalah Soeharto Preseden kedua negara republik indonesia. Situasi politik dan ekonomi tidak stabil, pembunuhan dimana-mana, aksi-aksi tersebut mengatasnamakan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah aktor uatama pergerakan itu. Akhirnya pada tahun 1967, presiden Soekorno dilengserkan dari jabatan Presiden menggantikan Presiden baru yaitu Seoharto. Dalam masa jabatannya aksi-aksi politik dan nasionalisme dilancarkan dengan sistem kemiliteran sampai dipapua.

Sistem politik yang berlaku di massa itu “Berani bertindak berani mati” seakan masyarakat tidak mempunyai hak untuk bertindak pada hal paham negara tidak demiakian. Pada tahun 1969, sewenag-wenang pemerintah indonesia menarik Irian Barat masuk kedalam kesatuan republik indonesia dengan kepaksaan, dengan tujuan mengoprasi kekayaan alam dipapua, semenjak itu Arnol Klemen Ap dicari dan diancam oleh militer khusus (Kopasus) karena perjuangan menentang Ideologi bangsa indonesi, bukan Arnold saja dicari saat itu tapi orang papua lainnya juga dicari dan dibunuh langsung bila mereka mendapatkannya seperti orang-orang yang bergabung dalam Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

Situasi Papua Tahun 1970-1984 Kematian Arnold Clemen Ap

Perlawanan rakyat Papua yang memprotes  hasil  ‘Act of Free Choice’ dalam bentuk berdirinya ‘Organisasi Papua Merdeka’ (OPM) menjastifikasi berlangsungnya operasi-operasi militer di wilayah-wilayah yang diidentifikasi sebagai kantong-kantong gerakan OPM.

Ribuan pasukan militer diturunkan di wilayah-wilayah tersebut atas perintanya presiden Soeharto, kebebasan rakyat dipasung dan pembantaian terhadap rakyat pun digelar. Berkaitan dengan bergantinya orde lama ke orde baru presiden Soeharto menggerakan sistem militer dimana-mana terutama dipapua, operasi-operasi militer tersebut antara lain: Kasus Biak (1970/1980); Kasus Wamena (1977) dan Kasus Jayapura (1970/1980). Kasus 1984 di mana Arnold C. Ap dan Eduard Mofu, dua seniman Papua dibunuh dan 12 000  penduduk kemudian mengungsi ke Papua New Guinea arnold pun,

Arnold Pun Tokoh Budaya Dan Seniman Bangsa Papua

Arnold Clemens Ap, selesaikan studi sarjana geografi muda dari uncen.Sewaktu jadi.Setelah hasil Pepera memperoleh pengesahan oleh PBB, tampaknya ia menyadari bahwa pendirian suatu negara Papua Barat yang terpisah dari Indonesiaterlalu kecil “peluangnya.” Kemudian ia berusaha memperjuangkan agar orang Irian (sekarang Orang Papua) dapat mempertahankan “identitas” kebudayaannya, meskipun tetap berada dalam konteks negara RI. Dalam kapasitasnya sebagai ketua Lembaga Antropologi dan kepala museum yang diberi nama Sansakerta, Loka Budaya, iamendirikan sebuah kelompok seni-budaya yang mereka namakan “Mambesak”

Tujuan Mambesak sebagai suatu gerakan kebudayaan dan kesenian adalah untuk menyelamatkan seni dan budaya penduduk Irian Jaya (sekarang papua) agar tidak punah dimakan peradaban modern, akibat derasnya proses pembangunan. Namun Mambesak, sebagai gerakan kebudayaan yang ingin menyelamatkan serta melestarikan seni, budaya penduduk Irian, ternyata dipandangsebagai bahaya “laten” oleh aparat keamanan karena membangkitkan semangat nasionalisme Papua.

Walhasilnya, pada 30 Nopember 1983, Arnold AP ditahan oleh militer Indonesia. Sebelum dan sesudahnya, sekitar 20 orang Papua yang umumnya terdiri atas cendekiawan, dosen, serta, mahasiswa Uncen dan pegawai Kantor Gubernur Irian Jaya di Jayapura ditahan dan diselidiki karena oleh pihak aparat keamanan diindikasikan adanya aspirasi politik dalam kaitan dengan OPM.

Penahanan tokoh budayawan Irian Jaya ini berbuntut dengan “hijrahnya” sejumlah dosen, mahasiswa, maupun pegawai Pemda Tk I Irian Jaya menyeberang perbatasan menuju negara tetangga PNG, Februari1984. Hampir pada waktu yang sama, di Jakarta empat pemuda Papua — yang mempertanyakan nasib penahanan Arnold AP ke DPRRI, akhirnya terpaksa meminta suaka politik ke kedutaan besar Belanda.

Pada 26 April 1984, sang budayawan Arnold AP meninggal dunia ditembak oleh aparat keamanan yang diskenariokan melarikan diri dari LP Abepura di Jayapura (Robin Osborne, 1985 dan 1987: 152-153).

Kematian sang budayawan, yang dianggap berhasil mengakumulasikan dan mengintegrasikan kebudayaan masyarakat Irian Jaya, dijadikan “simbol” pengukuhan terhadap identitas dan jati diri orang Papua, yang merupakan cikal bakal tumbuhnya rasa nasionalisme Orang Papua,

Mambesak adalah suatu Group kebudayaan/musik daerah Papua yang didirikan pertama kali di Universitas Cendrawasih Jayapura tahun 1978 yang di pelopori oleh Arnold C.Ap Kata “mambesak” di ambil dari bahasa Biak yang berarti burung suci (burung Cendrawasih) walaupun saat ini ada beberapa penulis yang mengartikan mambesak sebagai “burung nuri”.

Group Mambesak, membangkitkan kembali kesadaran masa akan jati dirinya sebagai Bangsa Papua yang di lakukan oleh Arnold Ap ini bagi Ibe Karyanto adalah berusaha membangun budaya pembebasan bagi rakyatnya yang tertindas dalam bidang seni sekalipun karena dominasi musik gereja dan musik melayu yang sedang melanda Tanah Papua saat itu.

Arnold Ap dengan Grup Mambesaknya yang terus menggeliat di Tanah Papua membangun begitu banyak kesadaran di tingkat masa rakyat mampu membangkitkan bukan cuma kesadaran dirinya tapi juga kesadaran politik. Sehingga tak heran kalau lagu-lagu mambesak pada tahun 80-an hingga tahun 90-an menyebar sampai ke daerah paling jauh di pedalaman Papua bahkan sampai disiarkan oleh siaran radio Papua Nugini (George Junus Aditjondro,2000),

Tentu kita tahu bahwa bernyanyi, berbicara dan menulis adalah tiga unsur yang paling penting dalam mengukir kisah atau karya seseorang yang diwariskan kepada generasi-kegenerasi dalam kehidupan disepanjang masa sementara langit dan bumi masih berputar.

Dari antara tiga unsur itu yang paling popular adalah “berbicara” sebab perkataan adalah Roh atau Jiwa Manusia, Ia tetap hidup walaupun bumi dan langit lenyap, tapi kedua unsur tadi bernyanyi dan Menulis mempunyai batas karena mempunyai alat bantu teknologi yang disebut Audio dan kertas maka pada waktu tertentu manusia tidak mengembangkannya lagi dan dunia kita bukan abadi melainkan hanya sekedar saja tentu yang abadi adalah perkataan.

Pada kesempatan ini Arnold Klemen Ap meminta saya menulis artikel ini, untuk mengingat kembali karya-karya “Musik Mambesak” yang pernah Ia gagas pada 1945-1984an, sebagai perlawanan nasionalisme di papua, adalah sebuah karya yang pernah Ia ukir  didinding kehidupannya melalui musik, jasanya bukan hanya kini tapi sampai akhir masa.

Artikel yang tidak berguna ini juga sebagai perpanjangan akan jasa besar mambesak ula Arnol Clemen Ap itu kepada mereka yang ingin mengenalnya siapa Arnold Kleman Ap itu. Ia memang manusia kerdil pintar membaca situasi politik saat itu akhirnya Ia melancarkan sebuah aksi melalui group mambesak untuk mengangkat budaya-budaya lokal dalam situasi itu sebagai perlawanan politik. Aksinyanya adalah menentang Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dibalik itu tentu ada reaksi dari TNI/POLRI yang sebagai ketahanan dan pertahanan Negara, Ia paham betul sistem politik saat itu akhirnya jalan satu-satunya yang Ia pilih adalah bernyanyi, “Bernyanyi untuk hidup”  perlawanan itu dicetuskan dalam lagu-lagu mambesak sekaligus sebagai kehidupannya.

Bernyanyi untuk hidup adalah sebuah “Ide” menjadi perlawanan yang Ia kemukakan dalam perjuangan dengan tujuan membebaskan orang papua dari penindasan sekaligus mengangkat harkat dan martabat orang papua yang sedang punah dengan paham nasionalisme yang tidak mendukung tujuan-tujuan hidup orang papua saat itu.

Walaupun perjuangannya dihadang dan diancam oleh militer indonesia tapi Ia tidak takut akan bahaya itu dan terus berjuang sampai titik penghabisannya Ia dibunuh pada tahun 1984, oleh pasukan khusus militer (Kopasus) atas perintah presiden Soeharto, walau Ia dibunuh tapi perlawanannya masih tetap bernyanyi sampai saat ini.

Sistem Politik Negara Indonesia 1965-1984

Sistem politik Negara saat itu sangat kacau sepertinya ada aksi-aksi tertentu yang menggerakan masa demi kepentingan politik, situasi itu seakan memancing menggantikan orde lama ke orde baru. Perwira tinggi angkatan darat (AD) saat itu adalah Soeharto Preseden kedua negara republik indonesia.

Situasi politik dan ekonomi tidak stabil, pembunuhan dimana-mana, aksi-aksi tersebut mengatasnamakan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah aktor uatama pergerakan itu. Akhirnya pada tahun 1967, presiden Soekorno dilengserkan dari jabatan Presiden menggantikan Presiden baru yaitu Seoharto. Dalam masa jabatannya aksi-aksi politik dan nasionalisme dilancarkan dengan sistem kemiliteran sampai dipapua.

Sistem politik yang berlaku di massa itu “Berani bertindak berani mati” seakan masyarakat tidak mempunyai hak untuk bertindak pada hal paham negara tidak demiakian. Pada tahun 1969, sewenag-wenang pemerintah indonesia menarik Irian Barat masuk kedalam kesatuan republik indonesia dengan kepaksaan, dengan tujuan mengoprasi kekayaan alam dipapua, semenjak itu Arnol Klemen Ap dicari dan diancam oleh militer khusus (Kopasus) karena perjuangan menentang Ideologi bangsa indonesi, bukan Arnold saja dicari saat itu tapi orang papua lainnya juga dicari dan dibunuh langsung bila mereka mendapatkannya seperti orang-orang yang bergabung dalam Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

Situasi Papua Tahun 1970-1984 Kematian Arnold Clemen Ap

Perlawanan rakyat Papua yang memprotes  hasil  ‘Act of Free Choice’ dalam bentuk berdirinya ‘Organisasi Papua Merdeka’ (OPM) menjastifikasi berlangsungnya operasi-operasi militer di wilayah-wilayah yang diidentifikasi sebagai kantong-kantong gerakan OPM.

Ribuan pasukan militer diturunkan di wilayah-wilayah tersebut atas perintanya presiden Soeharto, kebebasan rakyat dipasung dan pembantaian terhadap rakyat pun digelar. Berkaitan dengan bergantinya orde lama ke orde baru presiden Soeharto menggerakan sistem militer dimana-mana terutama dipapua, operasi-operasi militer tersebut antara lain: Kasus Biak (1970/1980); Kasus Wamena (1977) dan Kasus Jayapura (1970/1980). Kasus 1984 di mana Arnold C. Ap dan Eduard Mofu, dua seniman Papua dibunuh dan 12 000  penduduk kemudian mengungsi ke Papua New Guinea.

MERAWAT harapan tak segampang menanam dan membunuhnya. Bila surga itu ada, saya yakin, para perawat harapanlah penghuninya. Perawat harapan bukan pemberi harapan palsu, karena yang terakhir ini sebetulnya hanya penipu. Yang merawat adalah mereka yang bekerja, sebodoh apapun orang-orang lain menganggapnya, dengan tekun dan antusias untuk hari depan lebih baik bagi banyak manusia. Tak jarang mereka sendiri pun, mungkin, tak punya bayangan yang pasti, bagaimana masa depan lebih baik itu. Karena yang lebih penting justru kepastian tak menyerah untuk membangun kehidupan.

Entah kenapa orang-orang seperti ini tidak banyak muncul di dalam situasi tanpa ancaman. Mereka justru hadir dalam situasi perang, konflik tak berkesudahan, pendudukan, atau penjara. Merekalah perawat harapan, orang-orang yang membuat kita berani hidup sebagai manusia, bukan ternak.

Yang menungu putusan politik yang menguntungkan yang akan mandirikan salah satu negara untuk menigkatkan budaya orang papua.Guna memberi kesempatan putra putri cendrawasih Papua semakin tidak dijamin. Menurunnya jumlah penduduk asli dibanding penduduk pendatang (58%:42 persen) adalah hal yang dibiarkan. Masyarakat pendatang dengan gampang dijumpai menguasai sektor-sektor ekonomi perdagangan dan menengah ke atas, tinggal di perkotaan, sementara masyarakat pribumi Papua umumnya tidak menguasai sektor ekonomi menengah atas dan tinggal di pedalaman, tanpa jaminan akses pendidikan dan kesehatan.

Namun justru, perasaan dan pengalaman disingkirkan, terpojok, tersudut, dan tak terlindungi menjadi sumber gerakan perlawanan rakyat Papua (Hernawan, 2006). Berbagai ungkapan perasaan berani maju, siap mati, adalah representasi dari perasaan dan pengalaman tersingkir itu.

Arnold Ap adalah martir yang mengobati perasaan tersebut menjadi kekuatan penyatu. Dan kebudayaan asli Papua adalah obatnya.

Karna Arnold dibunuh 26 April 1984 oleh Kopassandha, sebutan untuk Kopassus di masa itu, karena memiliki cita-cita dan berjuang mewujudkannya. Melalui Mambesak, kelompok musik yang ia dirikan, mengutip ‘mengangkat kesenian rakyat Papua yang berakar pada lagu-lagu dan tari-tarian rakyat yang hidup pada keseharian rakyat Papua… memperkenalkan bahasa Indonesia dengan logat Papua dan menguraikan beberapa unsur kebudayaan Papua.’

Sambutan terhadap Arnold Ap dan Mambesak yang besar di kalangan masyarakat Papua era 1970-80an, siaran radionya yang didengar banyak orang, lima volume kaset lagu-lagu Papua yang diaransemen ulang laris manis, menjadi semacam medium dimana orang-orang Papua merasa satu nasib dan satu rasa.

Yang mengetahui peristiwa pembunuhan Arnold, mengonfirmasi bahwa pejabat kemiliteran memang menganggap Ap sebagai ‘orang yang sangat berbahaya karena aktivitas-aktivitas para pemain kelompok Mambesaknya dan menghendaki ia dihukum mati atau dihukum seumur hidup, namun tidak punya bukti untuk dibawa ke peradilan.’

Arnold juga seorang kurator Museum Antropologi di Jayapura. Rektor Universitas Cendrawasih memberhentikannya sementara sebagai kurator karena penahanan tersebut atas ‘dugaan subversi’. Ketika harian Indonesia, Sinar Harapan melaporkan bahwa keluarga Ap tidak diberikan hak untuk berkomunikasi, surat kabar itu diancam dibredel jika tidak menyuarakan keterangan versi tentara.’ Melalui pesan-pesan kebudayaan dalam nyanyian dan tari, Arnold Ap dan kawan-kawannya telah mengguncang stabilitas pilar-pilar kuasa nasionalisme berdarah Orde Baru di Papua.

Begitu besar harapan yang sedang ditanam dari proses itu ke dalam pikiran dan hati orang-orang Papua. Seperti mottonya, ‘kita bernyanyi untuk hidup yang dulu, sekarang dan nanti’Mambesak hendak mengatakan nyanyiannya adalah perawat kehidupan orang Papua.

Namun yang lebih penting bagaimana harapan yang telah ditanam pergerakan kebudayaan Arnold Ap bisa diteruskan. Dengan musik, lagu, dan tari, ‘kami mengetuk pintu keadilan’, demikian Max Binur, seorang perawat budaya Papua yang banyak mengangkat kembali semangat pergerakan budaya Arnold Ap.

Dalam semangat ini, saya sebagai asli putra daerah papua berna RONI MOTE merasa, pergerakan semacam Al-Kamandjati ala Papua pasca Arnold Ap, bisa menjadi semacam oase yang merawat harapan kehidupan orang-orang Papua. Bagaimana ia dilakukan bukanlah otoritas saya untuk bisa mengatakan.

Perjuangan sosial politik yang sedang dilakukan hari ini oleh berbagai kelompok sipil dan politik di Papua adalah salah satu jalan agar keadilan tegak. Namun perjuangan kebudayaan adalah obat atas dirusaknya aspek-aspek kemanusiaan orang Papua akibat sejarah kekerasan dan carut marutnya otonomi khusus. Dan obat itu dibutuhkan sekarang.

Mengenang Arnold Ap pada 26 April, adalah momen untuk menggugat kekerasan militer di Papua sekaligus merajut kembali harapan kehidupan. Baginya, dengan bernyanyi kita memberikan spirit pada hidup.

Jika tidak ada nyanyian, musnah pula kehidupan. Arnold Ap dan Mambesak telah memberi bekal orang-orang Papua untuk tidak saja berani berhadapan pada kematian, namun hidup demi merawat harapan. Harapan untuk dapat bangkit, memimpin dirinya sendiri, di tanah. papua Cendrawasihnya sendiri,

Mohon dimaafkan atas berdasarkan,artikel ini saya sedikit pencerahan soal asrama

Apa itu Asrama….?

Ini adalah sebuah pertannyaan konyol bagi semua penghuni untuk direfleksikan sedalam batinnya tentang apa pentingnya manusia harus hidup berpola Asrama.Kehidupan manusia dalam lingkungan Asrama tak semudah pemikiran yang ada dalam benak kita selama ini, yang bertumbuhkembang dalam diri setiap penghuni maupun pandangan public luar lain terhadap asrama (tak semuda membolak telapak tangan). Paradigma kita terhadap asrama selama ini, kebanyakkan orang berpikiran bahwa asrama adalah tempat yang sudah diperuntuhkan sebagai hidup bersandiwara saja, bersenang-senang, tidur-bangun dan keluar masuk saja seperti mess kos-kosan; ’tidak’ memang tidak begitu jika orang hidup di berpola asrama, tetapi jikalau penataan kehidupan berasrama secara komprehensif maka asrama adalah satu dunia kampus tersendiri.

Satu Universitas atau kampus yang akan mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan, kampus yang membentuk manusia-manusia berwibawa, berkarakter, bermoral, beretika dan berintelektual, dan tempat yang memperkokohkan keutuhan manusia di dalam dunia asrama tersebut.

Berbagai mata kuliah yang tersedia di lingkungan Kampus Asrama, sehingga tergantung, bagaimana setiap orang yang hidup di asrama untuk mengkaji berbagai mata kuliah yang terpendam dalam setiap individu maupun dalam setiap aspek yang ada di lingkungan asrama untuk menjadikan penghuni sebagai dosen dan mahasiswa tersendiri.

Karena, realitanya bahwa sebagian orang yang sudah jatuh bangun sekian tahun di dalam asramapun, sejauh ini; tak mengerti dan memahami akan makna dan arti sebagaimana cara hidup berpola asrama.; “Asrama adalah tempat tinggal sekelompok orang yang bersifat homogen yaitu sifat, watak yang sama, guna saling membentuk manusia-manusia berkarekter, berdisiplin, tranginas, tatas, dan bermoral, dan menanggung segala beban bersama entah dalam suka-duka kehidupan setiap penghuni” seperti pepatah kuno mengatakan “beban sama-sama dijunjung, berat sama-sama dipikul”. 

Nah..inilah makna atau arti bagi setiap orang yang hidup di asrama.Dalam kehidupan berpola asrama, tak sebandingnya (tidak sama) dengan orang-orang yang hidup di mess kos-kosan, hidupnya hanya mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan kepentinngan sesama tetangganya demi saling membantu dalam hal-hal kekurangan yang di gumuli oleh sesama tetangganya.

Nah…setelah mengetahui bahwa Asrama adalah satu dunia kampus “satu rumah berpendidikan” yang ada dalam kehidupan nyata kita, maka ada beberapa pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul dalam diri kita bahwa; apa yang harus perbuat di asrama? Kehidupan semacam apakah di asrama itu? Pedoman seperti apakah jika hidup di asrama? Siapa yang akan menjadi dosen dan siapakah yang wajib menjadi mahasiswa? Bahan materi pengajarannya siapa yang akan mengkaji? Mata-mata kuliah seperti apa yang akan di berikan oleh pemateri? Dimana dan kapan semua akan di laksanakan? Semua pertanyaan-pertanyaan inilah yang penulis ingin memaparkan dalam tulisan ini.

Pola hidup berasrama.

Perbedaan yang sangat fundamental antara hidup di asrama dengan di luar asrama. Jika kita hidup di asrama nilai-nalai kehidupan seperti kebersamaan, kebela rasaan, kepedulian terhadap kesusahan yang digumuli sang penghuni tersebut, pergumulan akan menjadi ringan apabila sesama penghuni saling berpengertian.

Itulah Perbedaan fundamental yang ada diasrama dengan di luar asrama. Ketika kehidupan dalam asrama menjadi efektif maka kehidupan kehormonisan, kebersamaan dalam suka-duka hidup, saling memperhatikan penderitaan, kesusahan sesama penghuni.Semua dinamika problema kehidupan perorangan maupun kelompok diasrama bisa menyelesaikannya dalam kebersamaan, mencari solusi penyelesaian bersama atas masalah-masalah yang menimpah penghuni, demikianlah satu keunikan yang ada di asrama.

Dalam kehidupan berpola asrama tidak ada kepentingan perorangan yang terlansir, tidak ada oknum-oknum tertentu yang bermain di belakang layar untuk mencari kepuasaan diri , namun yang ada hanya kepenuhan dan kepuasan antar penghuni demi saling mengangkat, saling membina dan berjuang guna kemajuan bersama.

Demi kemajuan bersama, hal yang sangat terpenting untuk para penghuni mengetahui dan menyadari ialah eksistensi diri (Keberadaan diri) artinya saya ada di kota jayapura untuk apa? Dalam kehidupan di asrama saya sedang hidup dengan siapa? Ketika semua penghuni mengumuli keberadaannya bahwa saya datang ke jayapura untuk membekali ilmu (datang mencari pengetahuan) maka kondisi asrama harus diciptakan sebagai tempat kita belajar, sebagaimana seperti suasana kita belajar di kampus.

Karena dalam kehidupan kita di asrama tak ada orang- orang diluar dari kampus artinya kita hidup di asrama ialah berstatus mahasiswa dan pelajar sehingga sangat terpenting untuk menciptakan situasi dan kondisi kehidupan berasrama seperti kita sedang belajar di kampus atau sekolah disana.

Berbagi aturan di asrama.

Dalam setiap organisasi mempunyai struktural atau Pedoman yang di atur ketentuan-ketentuan guna menimalisir kelancaran suatu organisasi atau lembaga dalam upaya proses pematokan roda keorganisasian yaitu Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD & ART) sebagai pondasi organisasinya. 

Begitulah halnya dengan kehidupan berpola asrama, asrama mempunyai suatu pondasi yang mengatur tentang semua tatanan kehidupan berasrama sendiri yaitu “Pedoman Asrama” sebagai jantung kehidupannya. Di dalam Pedoman asrama termuat mengenai struktural kepengururasan, tata cara pengunaan dan tata tertib asrama guna memaksimalkan pola kehidupan berasrama.

Jika asrama hidupnya tanpa suatu ‘pedoman’ yang berlaku bagi setiap penghuni maka kehidupan asrama di ibaratkan seperti “kapal berlayar tanpa kompas atau nahkoda” sehingga yang perlu dipahami oleh setiap penghuni ialah kehidupan berpola asrama tak sekedar hidup, makan minum seperti mess kos-kosan.

Bagaimana kalau kehidupan berasrama yang sudah sekian tahun hidupnya tanpa suatu pedoman dan kehidupan asramanya tak berjalan sesuai dengan mekanismenya? seperti Penulis ulaskan disini. Mungkin inilah yang menjadi sebuah pertanyaan dan perenungan bagi setiap penghuni untuk mencari solusi dengan berbagai cara untuk merumuskan Pondasi Asrama (Pedoman) guna memaksimalkan kehidupan asrama supaya berjalan secara normal dan efektif.

Ketika kehidupan berasrama tidak berjalan sesuai mekanisme (Pedoman) yang berlaku maka kehidupan akan berjalan tak sesuai keinginan kita bersama, sehingga membutuhkan suatu terobosan baru yang mampu menciptakan kondisi asrama untuk menormalisasikan setiap aspek kehidupan di asrama agar impian yang kita idamkan bersama menjadi sebuah kampus atau Universitas di asrama.

Asrama adalah satu dunia yang bisa berperang.

Jika di lihat secara kasat mata terhadap kehidupan berpola asrama, memang satu dunia kampus/universitas tersendiri. Kampus yang mampu menciptakan (SDM). Kampus dari segala kampus yang mampu membina pengetahuan dari berbagai aspek-aspek nilai hidup yang ada dalam diri manusia seperti; etika, karakter, moral, wibawa, dan sopan santun dan lainnya yang bersangkut paut dengan nilai hilarki manusia. Nilai-nilai diri manusia yang tak pernah di ajarkan oleh para dosen di kampus.Ketika asrama menjadi sebuah rumah pendidikan (kampus), maka yang muncul pertanyaannya adalah siapakah yang berhak menjadi seorang dosen di asrama dan siapakah yang akan menjadi mahasiswa di asrama…? untuk menjawab dua pertanyaan diatas; mari kita refleksi diri tentang eksistensi (keberadaan) kita di kota jayapura.

Mari membuka paradigma keliru yang sekian tahun dibungkam oleh wawasan kerdil terhadap cara pandang hidup berasrama, karena kehidupan berpola asrama sangat terpenting untuk di bangun melalui terobosan-terobosan kita sendiri.Pembangunan asrama di setiap kota study semakin gencar oleh pemerintah daerah paniai saat kepemimpinannya Bapak NAmelalui Otonomi Daerah guna membangun Sumber Daya manusia (SDM) melalui berpola asrama.

Namun semua pembangunan asrama sangat jauh dari harapan mahasiswa, karena fasilitas dan atribut perlengkapan asrama kurang memadaikan oleh pemerintah bahkan setelah dibangunpun pembiaran terhadap asrama semakin menjadi-jadi. Jika realitas pembiaran orang tua (Pemerintah) terhadap kita selama ini, maka yang terpenting mahasiswa harus menyadari bahwa merehabilitasi kehidupan berasrama dan menata asrama dengan efektif secara komprehensif adalah peran konsep kita sendiri guna membangun kehidupan yang baik dan benar didalam asrama.

Semoga artikel yang kurang ilmiawih, bahwakan kurang sedap di baca karena serangkaian kata ini, bermakna bagi setiap orang yang hidup dan menikmati kehidupan di gubuk asrama dalam seniman masing-masing dengan terobosan konsep kita sendiri guna menata diri kita sendiri demi masa depan bangsa dan tanah air kita papua.Salam anak bumi cendrawasih di negeri papua ini.

Penulis: Ino Mote

Jayapura 28 april 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here